The Cursed Prince

The Cursed Prince
Maaf~


__ADS_3

Menggunakan minibus Rei tak berdesak-desakan dan meraih pegangan yang berada diatasnya. Ia tak kebagian kursi.


"Kenapa ga naik ojeg online atau taxy aja sih" Gumam Rei sedikit menyesal. Kakinya begitu lelah dengan sepatu wedges yang dipakainya.


"Kenapa aku berubah begitu banyak" Ucap Rei menyadari jika kini ia banyak mengeluh hanya karena ingin dipandang mampu.


Rei tersenyum tipis mencoba untuk mensyukuri segala yang ada.


"Rei ! Be and love yourself" Ucap Rei mengingatkan dirinya. Rei turun tepat didepan kampus setelah menyebrang dari halte bus. Rei memasuki kawasan kampus yang sudah lama tak dilihatnya.


Rei menuju bank kampus. Rei berjalan memasuki bank kampus. Kampus memang memiliki bank sendiri yang mengurus segala keperluan kampus.


Tanpa mengantri Rei menyelesaikan registrasi dalam waktu kurang dari sepuluh menit setelah dua puluh menit ia habiskan untuk perjalanan.


Rei tak langsung pulang, ia memilihi untuk ke toko buku langganannya untuk sekedar untuk melihat-melihat judul novel yang mungkin akan dibelinya nanti. Hampir setengah jam Rei berputar mengelilingi rak-rak dan keluar tanpa membawa apapun. Ia memang tak berniat untuk membeli, Ia hanya ingin berkeliling.


Setelah itu ia pergi ke rental komik kesukaannya. Komik lebih disukai olehnya daripada Novel. Rei membaca blurb cerita dan membawa 5 komik untuk dibacanya dirumah nanti.


"Kak.. mau langsung rental buat dua minggu bisa?" Tanya Rei yang tak yakin bisa mengembalikannya minggu depan.


"Bisa" Ujar Kakak penjaga yang sudah dikenalnya. Rei memang langganan komik disini. Namun ia sempat berhenti saat ia benar-benar tak memiliki uang. Tak terasa arloji telah menunjukan pukul 10.30 dan Rei bergegas untuk pulang dengan taxi. Ia tak mau kerepotan berdesak-desakan didalam bus. Rei memesan taxi hingga cafe yang tak jauh dari mansion.


"Karena ga keburu masak, setidaknya aku harus beli makan" Ucap Rei dan memasuki cafe yang didominasi oleh para remaja. Entah bagaimana bisa cafe itu cukup ramai di jam kerja seperti ini.


"Apa pekerjaan mereka ya?" Batin Rei memandang ke sekeliling. Jelas mereka bukan pelajar karena tak ada satupun yang mengenakan seragam. Namun tidak mungkin juga pekerja kantoran yang memiliki jadwal sibuk dikantornya.


"Bungkus paket 3 dua porsi" Ucap Rei memesan makanan dan Rei menunggu dibangku yang tak jauh dari meja kasir.


Setelah menunggu 15 menit Rei bergegas ke mansionnya.


"Hampir jam 12" Ujar Rei sedikit berlari karena takut tuannya murka. Tuannya memang tidak galak, namun hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja akhir-akhir ini.


Rei membuka pintu mansion secara perlahan dan menuju dapur.

__ADS_1


"Omo!" Rei dibuat terkejut melihat tuannya kini berada di dapur dengan wajan penggorengan ditangan kirinya dan spatula di tangan kanannya.


"Kau memasak?" Tanya Rei melupakan hubungan mereka yang sedang tak akur. Rei menghampiri tuannya yang kini sedang memasak telor mata sapi.


"Kau harus membaliknya" Ucap Rei dan Philip tanpa menjawab langsung membalik telor dengan spatulannya dan gagal. Telor mata sapi itu koyak berantakan.


"Kau bisa menunggu di ruang makan" Pinta Rei memberikan eyesmile terbaik nya. Ia merasa tak enak pada tuannya.


Rei memindahkan telor mata sapi yang Philip buat pada piring putih datar sekaligus menyiapkan makan siang yang di belinya.


"Aku merasa bersalah membuatmu memasak karena aku datang terlambat" Ujar Rei yang terlalu asik berkeliling


"Maafkan aku" Ucap Philip tiba-tiba saat Rei tengah menata piring-piring di meja makan.


"Aku akui, tak ada yang bisa kulakukan jika aku sendiri, aku minta maaf karena keegoisanku" Ucap Philip menghindari kontak mata sedangkan Rei masih tak menyangka dengan pendengaran nya. Tuannya, Majikannya meminta maaf padanya.


"Kau juga harus meminta maaf pada kakakmu, dia sudah merawatmu dengan baik dan itu tidak sebentar" Rei memberi nasihat , Philip akan mengabaikan sakit hatinya. Toh yang dikatakan Rio memang benar. Philip yang asli telah mati. Philip yang orang lain kenal sudah tak ada lagi didunia ini.


"Aku yakin kau tak begitu lapar, kenapa kau memasak?" Tanya Rei membuat Philip terdiam.Tak ada yang tahu jika Philip memasak dalam sedih, bahkan ia mengeluarkan air mata memikirkan semua orang akan pergi meninggalkannya. Membayangkan ia harus hidup mandiri seorang diri. Philip menyimpan kesedihannya seorang diri. Philip bahkan berlari menuju kamar Rei saat tak didapati makan siang di depan kamarnya, ia bahkan tak mendapati Rei dikamarnya.


"A...aku .. terlalu lapar" Ucap Philip berbohong


"Ah, kalu gitu makanlah" Rei menyodorkan sendok setelah mengelapnya dengan tissue.


Philip mencicipi telor buatannya dan dibuat merintis oleh rasanya.


"Tak layak dimakan" Ujar Philip dengan nada sedih, Itu usaha terbaik nya untuk belajar memasak dengan panduan internet. Dan gagal. Makanan sesederhana inipun gagal.


"Kau mau belajar masak? kau bisa membantuku memasak" Ujar Rei yang membuatnya tersadar.


'Aku hanya pembantu' Batin Rei menyadarkan diri.


"Ah.. Aku bisa mengajarimu memasak" Ralat Rei terkekeh memamerkan deretan giginya dan eyesmilenya.

__ADS_1


"Katakan pada mas Rio jika dia boleh datang" Ucap Philip membuat mata Rei berbinar. Ia benar-benar terkejut dengan sisi lain tuannya.


"Kau mau minta maaf?" Tanya Rei yang tak di jawab oleh Philip


"Tapi aku mengerti rasa sedih mu, kau akan merasa canggung nantinya jika bertemu istri dari mas Rio"


"Mantan kekasihku" Philip menjawab dengan nada tak habis percaya


"Bagaimanapun juga yang diucapkan mas Rio tidak salah" Jawab Philip memaksakan senyumnya.


Rei mengambil sendok dan garpu untuknya. Philip menatap Rei bingung. Ia ingat saat Rei hampir muntah saat makan bersamanya. Ia tahu cara makannya menjijikan namun Philip tak bisa mencegahnya.


"Aku sudah selesai" Ucap Philip menyisakan makanan yang masih banyak


"Kau menyudahi saat aku baru hendak makan?" Tanya Rei


"Kau ingin makan bersama?" Tanya Philip lagi


"Aku harus membiasakannya bukan?" Ucap Rei tersenyum lebar dan mulai menyantap makanannya mengabaikan Philip yang masih terdiam.


"Kau darimana?" tanya Philip


"Aku.?" Rei kembali bertanya memastikan, Rei hanya mengangguk


"Aku registrasi kuliah, tiga minggu lagi kuliahku dimulai" Jawab Rei menyuapkan makanannya membuat mulutnya penuh.


"Kau.. kau akan berhenti bekerja disini?" Tanya Philip perlahan, ketakutan menjalari dirinya. Ia belum sanggup untuk hidup sendiri. Rio akan menikah tak mungkin tinggal bersamanya dan Rei akan di sibukan dengan perkuliahannya.


"Kau mengkhawatirkan dirimu?" Tanya Rei memahami kegelisahan Philip.


"Aku masih butuh uang" Jawab Rei bermaksud untuk tidak meninggalkannya. Mendengar itu cukup membuat Philip lega. Setidaknya ia tak akan kesepian dalam waktu dekat.


'Aku juga punya kepedulian terhadapmu' Batin Rei.

__ADS_1


__ADS_2