
Freissy menatap ragu pintu yang menjulang tinggi, Pintu tuannya yang kini tertutup rapat. Ia menahan rasa takutnya.
"Aku harus kuliah" Gumam Rei meyakinkan diri
tok
tok
tok
Rei memutar knop pintu perlahan, troli makan yang dibawanya masih disana, makanannya juga belum tersentuh. Rei menatap sendu.
"Pasti ada alasan" Ujar Rei dan menatap ke sekeliling. Menuju balkon Rei melihat sosok itu tengah berdiri dengab menunduk lesu.
"Tuan, makanannya" Ujar Rei membawa Trolinya. Rei hanya tak perlu menatapnya. Ia ingat taring panjang yang menakutinya.
"Taruh disitu" Ujar Philip menunjuk meja yang ada didekat Rei berdiri. Rei hanya mengangguk paham. Philip membalikan badannya, menatap langit yang begitu cerah.
'Sudah berapa lama' batin Philip mengingat dirinya hingga saat ini tak mendapatkan cara untuk kembali seperti dulu.
Orang tuanya bahkan kini tak pernah menghubungi lagi.
"Silahkan tuan" Ujar Rei saat selesai menata makanannya.
"Pergilah" Titah philip mengingat ketakutan Rei saat melihatnya beberapa saat lalu.
"Aku akan menunggu" Jawab Rei sambil menunduk. Rei mengira jika tuannya mengusirnya dan tak berkenan dirinya bekerja.
"Dan datang satu jam lagi" Ujar Philip membuat Rei menatap majikannya sekilas
"ah, baiklah" Ujar Rei keluar dengan sedikit berlari. menutup pintu dengan keras tanpa sengaja. Kakinya gemetaran.
"aku bisa, aku bisa" Ujar Rei yang kini kakinya tak bisa menumpu dirinya. Ia memilih duduk di depan pintu, Nafasnya memburu. Rei belum terbiasa, Rei masih ketakutan.
Rio yang melihat Rei hanya tertawa kecil, Rio sangat ingat bagaimana dia dulu pertamakali melihat Philip berubah.
"Masih mau lanjut?" Ujar Rio menggoyahkan Rei, Rei mengangguk. Ia bisa sejauh ini walau cukup berat walau hanya untuk menatap tuannya. Tapi pekerjaan ini tak melelahkan dengan gaji yang akan diterimanya.
Rio masuk ke tempat Philip dengan nyaman, Rei menatapnya dengan penasaran. Rio tak menutup pintu, membiarkan Rei melihat interaksinya, Untuk meyakinkan jika Philip juga manusia yang tak berbahaya.
"Ayo makan" Ujar Rio memanggil Philip, Philip tanpa menyahut masuk ke dalam ruangannya.
"Dia yang mau bekerja?" tanya Philip
"Kenapa emang?" Tanya Rio meminta pendapat
"Sepertinya masih muda" Ujar Philip melihat tubuh Rei yang begitu mungil
"Itumah kamunya aja yang besar" Jawab Rio membuat Philip terdiam.
"Dia.. takkan membocorkan yang dia lihat kan?" Tanya Philip
"tanyakan saja langsung" Jawab Rio membuat Philip menghela nafas kasar
"Dia bahkan teriak begitu keras saat melihatku" Alasan Philip keluar dari ruangan menuju balkon begitu mendengar suara ketukan pintu.
"Mas ga cape, ngerawat aku terus, mas juga pasti" Ucapannya terpotong oleh Rio
"Pengen nikah? emang. tapi belum nemu, santai aja" Ujar Rio mengetahui kekhawatiran adiknya.
Rio menyadari Rei tengah mengamati keduanya.
"Kalau mau masuk, masuk aja" Teriak Rio membuat Rei langsung terburu-buru pergi, Ia malu ketahuan. Setelah makan Rio tampak asyik dengan ponselnya, ia tengah belajar edit gambar sedangkan Philip hanya menatap layar TV dengan bosan. Rei menuju lantai 3 setelah satu jam. Rei menatap troli itu sudah di depan pintu.
"Mungkin memang tak berbahaya" Ujar Rei mengambil troli dan membawanya kelantai satu.
Kini Rei hanya tiduran di sofa setelah mencuci piring, Ia tak paham dengan jobdesknya. Bahkan vacum cleaner di rumah ini begitu banyak ditemukan, dalam satu ruangan bisa memiliki 2-3 vaccum cleaner.
"Ini bukan penipuan kan?" Gumam Rei mengingat Rio tak balik lagi setelah masuk kekamar Philip. tuannya.
'Jangan -jangan dimakan?' Batin Rei mendelik menakuti diri sendiri.
__ADS_1
Rei bergidik dan meringkuk tanpa sadar.
"Gimana mau teken kontrak?" tanya Rio saat melihat Rei yang menggeleng-geleng sendiri. Siapapun yang melihat pasti tahu jika Rei sedang membayangakan hal yang membuatnya takut.
"Bisa bicara sebentar?" Tanya Rei tak ingin berspekulasi sendiri.
"Tanyakan saja" Ujar Rio santai, Ia bahkan bersandar nyaman pada sofa diruang tamunya.
"Apa yang terjadi?" pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Rei membuat Rio berfikir cara menjelaskannya. Namun selama apapun Rio berfikir, Selama 7 tahunpun ia tak tahu apa yang terjadi dengan Philip, adiknya.
"terjadi begitu saja" Jawab Rio akhirnya membuat Rei menghela nafas saat tahu ia tak mendapatkan jawaban yang diinginkan.
"Jelaskan sedikit saja, yakinkan aku. Aku butuh pekerjaan" Ujar Rei putus asa.
"Tanyakan saja langsung" Ujar Rio
"Mana berani" Rei menunduk
"Kenapa?" Tanya Rio perlahan, Tentu saja Rio tahu alasannya. Butuh waktu lama bagi Rio menghadapi ketakutannya pada Philip adiknya.
"Kau juga pasti tahu alasannya"
"Hmmm,,, dia lelaki berusia 25 tahun, namanya Philip Anderson" ujar Rio mengenalkan adiknya.
"Kau lihat foto di dinding kan? kau pasti lihat, itu wajah asli adikku" Jelas Rio yang didengarkan Rei dengan seksama.
"Kau bilang kau hanya pekerja" Ujar Rei lagi ingat pertemuan diawal
"aku menghabiskan waktu hampir 20 tahun dengannya" Jawab Rio
"Orang tuanya?"
"Jangan pernah sekalipun membahas ini dengannya dan jangan mencari tahu" Rio khawatir dengan adiknya. Sampai saat ini Rio bahkan sulit bertemu dengan kedua orang tua Philip meski pun Rio bekerja di perusahaan Philip.
"okey"
"apalagi?" Tanya Rio saat pertanyaan Rei telah terjawab
"Melayaninya" Jawab Rio membuat Rei menatap Rio jengah.
"Selain itu" jawab Rei
"bersih-bersih"
"Rumah ini sudah cukup mengkilat" Jawab Rei menatap dua vaccum cleaner yang saling bertabrakan seperti sedang menyapa.
"Terserah kau saja, bebas"
"jam kerja?"
"jam 8 pagi sampai 9 malam"
"malam sekali, bagaimana aku pulang?"
"banyak kamar kosong disini"
"Kau bisa pulang sekarang, untuk berfikir"
"Aku tak tahu besok kerja jam berapa, yang jelas uang harian ada di meja ini besok"
"aku harus belanja?"
"terserah kau saja"
"Kau bisa pulang sekarang"
"Aku akan memikirkannya sekali lagi" Ujar Rei mempertimbangkan pekerjaannya.
"Aku mau tanya sekali lagi" Ujar Rei saat baru melangkah
"Dia tak berbahaya?"
__ADS_1
"aman"
"Dia manusia?"
"manusia"
Rei menghela nafas
"Oke , aku pulang dulu kak" Ujar Rei berjalan gontai keluar mansion, Sepasang mata dari lantai 3 menatapnya. Rei terdiam sebelum keluar gerbang utama, menatap mansion mewah itu dan ia menyadari sosok itu. tuannya, tengah memperhatikannya. Rei membungkuk sopan dari kejauhan saat menyadari tuannya melihatnya.
-
-
-
Rei memandangi langit-langit kamarnya, masih mempertimbangkan pekerjaan yang kini didapatkannya.
"kucoba sajalah" ucap Rei mencoba meyakinkan diri. Rei berusaha memejamkan matanya, mencoba untuk tidur, namun pikirannya masih memikirkan langkahnya.
-
-
-
Efek insomnia dadakan yang dialaminya, Rei kini setengah berlari menuju mansion tempat kerjanya. Jaraknya cukup jauh untuk dijangkau dengan jalan kaki.
Rei membuka pintu, memutar knop secara perlahan agar tak ketahuan
"Telat 15 menit" Ujar Rio muncul dari balik lift dengan kemeja dan dasi yang dikenakannya.
"Aku berangkat kerja dulu, kau bisa bawakan camilan jam 10 nanti. udah sarapan soalnya" Ujar Rio menghampiri Rei.
"Aku bangun kesiangan"
"Uang harian ada di meja, kau bisa belanjakan untuk kebutuhan hari ini"
"Makanan kesukaannya apa?"
"daging"
'glek'
"ikan, ayam, udang atau cumi dia suka, aku juga suka"
"Kalau gitu aku belanja dulu"
"Sekalian ku antar, nanti ke sini nya pake taxy"
"gapapa?"
"sisa uangnya bisa kau ambil"
Rei menerima amplop putih yang diberikan Rio
"Kalau gitu ayo"
Rio berjalan lebih dulu dan Rei mengikutinya dari belakang.
Rio menurunkan Rei didepan swalayan
"Ah, hubungi aku jika ada masalah" Ujar Rio mengulurkan kartu namanya
"Terimakasih" Ucap Rei saat menerima kartu nama dan.membungkuk hormat saat mobil Rio melaju.
"Aku belum lihat uangnya" Rei mengecek amplop yang dibawanya sambil jalan
deg
"Kenapa banyak sekali" Rei mengerjakan matanya dan menghitung uangnya berkali-kali.
__ADS_1
'Ini seharga sewa kosku 3 bulan' gumam Rei menciut melihat uang yang dipegangnya begitu banyak