
"Wah, disini tempat tinggalnya ? dia tinggal di tempat seperti ini? Bukankah ini terlalu kecil? hei! Ini sama sekali bukan gayanya"
"Rachel?" Rei terdiam mendengar penghinaan itu. Kehadirannya memang diharapkan namun bukan saat ini. Ini terlalu cepat. "Dimana Philip" tanya wanita itu yang membuat Rei bergegas menuju kamar Philip berusaha mengunci kamarnya namun gagal karena Philip terlanjur membukanya, membuat bunyi ceklek yang membuat Rei speechless.
"Kapan kau pulang" Ucap Philip membuat wanita itu terkejut. Hampir saja ia terjatuh jika tak langsung berpegang pada dinding disampingnya. langkahnya mundur selangkah menjauh.
"Philip kaukah itu?" Ucap wanita itu setelah mengatasi masalahnya, tawanya menggelegar begitu bahagia. Philip kembali menutup menutup pintu kamarnya. Nafasnya memburu, tangannya terkepal erat di balik pintu. tawa wanitaitu terdengar jelas ditelinganya.
"Kau tinggal dengan manusia seperti itu? Hei, Itu terlalu menakutkan" Ucap Rachel memandang Rei dari atas ke bawah menilai lawannya.
"Kau yang membuatnya seperti itu" geram Rei tertahan. Bagaimanapun ia harus bersikap baik atau wanita didepannya akan membuatnya semakin buruk. Rachel menjentikan jemarinya "Kau benar, memang aku yang melakukannya."
Rachel mendorong Rei yang mencoba menghalangi pintu kamar Philip namun ia terjatuh, tenaga wanita didepannha tidak bisa diremehkan. Senyumnya begitu lebar memamerkan deret giginya.
Ceklek
"Lama tak jumpa tuan muda Philip Andersob" Rachel menyenderkan tubuhnya pada pintu dengan angkuhnya, dengan tangan terlipat wajah yang sedikit mendongak. Kacamatanya sudah ditanggalkan menampilkan sorot mata tajamnya. Senyum miringnya yang terlihat paling jelas.
"Keluarlah, bukannya aku diminta datang kemari untuk menyelesaikan masalahmu?" Katanya dengan nada menantang. Ia menaikan sedikit alisnya senyum itu kian lebar. Philip tampak masih mengepalkan tangannya. Sorot amarah itu terlihat di netranya.
"Keluarlah, ada yang harus kita bicarakan" Ucapnya berlalu tanpa menutup pintu. Philip menggeram sampai akhirnya ia sadar tak ada yang bisa membantunya selain dia. "Akan kubuat perhitungan nanti" Ujarnya sebelum menutup pintu kamarnya.
__ADS_1
Kini ketiganya berkumpul diruang tamu, Rachel belum memulai pembicaraannya masih sibuk menelisik lawan bicaranya secara seksama dari atas kebawah. Philip hanya menunduk tak berdaya.
"Buatkan aku minuman" Titah Rachel tanpa malu dan Rei dengan patuh langsung menuju dapur, tamu memang harus dijamu, itu sudah aturannya.
"Wah.. aku benar benar terkejut denganmu, dalam keadaan seperti inipun kau masih punya orang yang setia menemanimu, kau bayar berapa dia?" Tanya Rachel mengamati Rei yang sedang membuat minuman. Rei sendiri tentu saja mendengar sindiran itu.
"Berhenti dengan ocehanmu, jangan menghina siapapun disini" Geram Philip dengan nada bisik tertahan. Sebuah ancaman yang tak menakutkan sama sekali bagi Rachel.
"Ah, okey okey, kau sama sekali tak bisa diajak bercanda, tidak asyik" Rachel menyamankan posisi duduknya, menyilangkan kakinya, tangannya menopang dagu menatap rendah pria jadi- jadian didepannya.
"Bercanda kau bilang!" Geram Philip membuat Rachel tertawa lepas. Ia beralih mendekati Philip. Memutarinya dan menyentuh perlahan rambut-rambut yang ada di wajahnya.
"Enyahkan tanganmu!" tepis Philip. Rachel meneruskan aktingnya. "Akh, ini sakit sekali," Pekik Rachel dibuat buat. "Kau bahkan masih bisa kasar disaat seperti ini, sadarlah kau sudah tak punya apa-apa, kau hanya harus menuruti ucapanku" Tambah Rachel lagi kembali ke tempat duduknya. Merapikan rambutnya dan menopang dagunya. Kakinha disilangkan dengan kaki kanan yang terus diayunkan
"Apa maumu?" Tanya Rei datang dengan tiga kaleng softdrink yang dimilikinya. Rachel tertawa terbahak.
"Hanya ini? hanya ini yang kau sajikan? Hei! mana kekayaanmu yang sering kau banggakan itu?" Tawanya begitu mengena disela-sela ucapannya. Ia menghinanya tanpa ragu.
"Mauku? Melihatmu seperti ini" Rachel mengambil sekalenf softdrink yang diayunkan didepan wajahnya.
"Hanya ini? Ah, tuan muda Philip yang sangat baik hati, tolong bukakan minumku" Mohon Rachel begitu gembira menyodorkan minuman kalengnya. Philip menatap lama sebelum menerimanya. Penghinaannya terlalu kejam. Rachel menopang dagunya melihat Philip yang berusaha membuka kaleng itu namun tergelincir beberapa kali. Matanya mulai memerah berkaca.
__ADS_1
"Biar kubukakan" Ucap Rei mengambil kaleng di tangan Philip. Rachel tersenyum kecil melihat pemandangan didepannya.
"Tuan muda Philip sekarang bahkan tak bisa melakukan hal romantis seperti yang dulu biasa dilakukan" Ucap Rachel meneguk minumannya. Dua pasang itu terus memandang wanita itu membuat Rachel mengayunkan kalengnya.
"Kalian mau?" tanya Rachel dengan nada mengejeknya. Ia benar-benar tak kenal takut.
"Sepertinya cukup main-mainnya, jadi apa terjadi sebenarnya" Rei yang merasa muak akhirnya menengahi atau akan semakin banyak penghinaan yang akan didengarnya.
"baiklah, sebenarnya ini hanya sebuah cerita yang sangat sederhana namun siapa sangka tangan lain membuatnya semakin sulit" Ucap Rachel tak bisa dimengerti.
"Kau pergilah, aku harus bicara empat mata dengannya" Usir Rachel membuat Rei mendelik tak suka. Rei menggelengkan kepalanya menolak untuk keluar. Rachel mengangguk mengerti.
"Kau memang budak yang taat gadis kecil, satu hal yang harus kau sadari, tak lama kau juga akan dicampakan olehnya begitu kutukannya terlepas" Ucap Rachel dengan nada lembut yang mengesalkan. Rachel kembali meneguk minumannya.
"Sudah berapa lama tuan muda Philip seperti ini" Godanya membuat keduanya bungkam. Pertanyaan seperti itu tak harus dijawab.
"Katakan apa yang harus kulakukan?!" Geram Philip dengan tak sabaran. "Tuan muda begitu tak sabaran" Rachel menurunkan kakinya. Melirik Rei yang ada disamping tuannya. "Kau yakin ingin melihat perlakuanku pada tuanmu?" Tanya Rachel yang dibalas anggukan oleh Rei. Rei tak ingin meninggalkan tuannya bersama wanita gila didepannya.
"Kau pergilah ke pintu itu" Tunjuk Rachel dengan jarinya telunjuknya. Menunjukan kuku merah cerahnya yang panjang. Philip dengan enggan bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu utama. "Kau takkan memintamu keluarkan?" Desis Philip yang dibalas gelengan cepat oleh Rachel. "Tentu saja tidak" Jawabnya dengan senyum yang dibuat buat.
"Ku katakan sekali lagi, kau benar-benar ingin melihat tuanmu lemah tak berdaya disini?" tanya Rachel lagi dan Rei tetap pada pendiriannya. Rachel menjentikan jarinya "Okey, kita mulai" ucap Rachel dengan tawa yang membahana. "Kau tau bagaimana cara anjing berjalan kepada tuannya?" Tantang Rachel dengan sorot mata tajamnya. Tanpa rasa kasihan sama sekali. Rei menatap tuannya tak tega. "Kau memintaku melakukan itu?" tanya Rei tak percaya, Rachel mengangguk tanpa ragu. "Majulah" Ucap Rachel membuat Rei membuang muka. Ia tak ingin melihat tuannya dalam keadaan lemah. Philip mengepalkan kedua tangannya, satu langkah pertama dipenuhi keraguan hingga akhirnya secepat kilat dia berlari, tak ada yang melihat pergerakannya namun kedua tangan Philip sudah mencengkram leher wanita angkuh didepannya.
__ADS_1