The Cursed Prince

The Cursed Prince
Chapter 56


__ADS_3

"Akan kuperkenalkan namaku dilain waktu" Jawab Philip dengan senyum menawannya. Hanya diberi senyum saja sudah bisa membuat teman kampus Rei menunduk malu.


"Jadi akan ada pertemuan lagi setelah ini" Tanyanya pelan


"Off course, why not" Jawab Philip cepat, tanpa pikir panjang, toh tak ada yang salah.


Suasana kantin cukup ramai dan Philip ternyata menjadi sorotan beberapa orang. Philip hanya menyalami dengan seulas senyum pada mata mata yang meliriknya.


"Penampilanmu biasa saja padahal" Celetuk Rei merasakan banyak mata yang memandang.


"Kalian mau makan apa?" Tanya Philip pada dua wanita didepannya, dua reaksi yang berbeda muncul, yang satu tersenyum senang dan satunya justru tersenyum miring.


"Jangan berlagak seperti kau yang akan membayar" Balas Rei membuat Philip berdecih. Apa salahnya jika menanyai. Ia hanya ingin bersikap sopan didepan teman Rei.


"Aku hanya lapar" Kesal Philip


"Umurmu berapa?" Tanya Sherly pada Philip


"Aku? Dua puluh lima" Jawab Philip sambil melirik Rei, membuat Rei menutup mulut rapat menahan tawa. Philip merasa sangat tua, mengingat usia Rei dua puluh tahun.


"Kau lulusan kampus ini?" Sherly terus bertanya, rasanya seperti sedang wawancara untuk melamar kerja.


"Dia ga kuliah" Jawab Rei pendek, Philip menghela nafas lega, jika Rei sudah menjawab, ia tak perlu membuat kebohongan yang akan semakin membuatnya bingung.


"Trus?"


"Ketimbang kuliah, dia lebih suka ikut pelatihan dan seminar"


"Wah, bagus sekali" Puji Sherly mengacungkan kedua jempolnya.


'Kebohongan yang bagus, good girl' Philip puas, Rei selalu bisa diandalkan.


"Rei, lihat dosen setelah ini ga bisa masuk" Sherly menunjukan ponsel yang menampilkan layar pesan grup chat kelasnya.

__ADS_1


"Pulang?" tanya Philip, mereka bahkan belum pesan makan.


"Iya" Jawab Rei


"Makannya lain waktu aja ya" Ucap Philip bergegas menarik Rei. Rei sedikit tertinggal membuatnya memaksa menghentikan langkahnya.


"Kenapa?" tanya Philip dengan senyum cerah, ia begitu bosan sedari tadi hanya menunggu. Wajar saja jika ia terlalu gembira saat Rei pulang.


"Kau begitu bersemangat" Ucap Rei melepas genggamannya, kedua tangannya dimasukan ke dalam saku celanannya. Philip menatap sedih tangan kosongnya.


"Ayo cari makan" Ajak Philip mengedipkan matanya. Keduanya berjalan beriringan, angin menerpa pada rambut Rei, yang membuatnya sesekali harus merapikannya.


"Kau akan tetap cantik, bahkan jika harus dikuncir" Tanpa ijin, Philip meraih sejumput rambut wanita didepannya dan mengikatnya dengan karet gelang hitam yang tersembunyi di kaus lengan panjangnya. Rei terdiam. Walaupun didekatnya ialah Philip yang sama, orang yang dikenalnya. Namun kali ini mampu membuat jantungnya berdebar.


"Kalau kau seperti ini terus,aku bisa jatuh hati nanti" Ujar Rei


"Tentu saja, itu tujuanku" Philip benar benar mengatakan yang ada dipikirannya sekarang.


Warung ayam bakar jadi pilihan makannya untuk siang ini. Ayam bakar dengan lalapan dan sambel colek selalu menyegarkan dimulut. Terlebih es teh jumbo yang membuatnya puas.


"Aku mau bertemu keluargaku" Balas Philip penuh harap, orang tuanya pasti akan menerimanya kembali setelah dirinya kembali sempurna seperti ini.


"Baguslah" Rei teringat pesan Rachel yang berkali-kali mewanti dirinya. Rei menggerogoti tulang ayam, ia memang sangat suka makan tanpa bersisa.


"Aku juga akan mempersiapkan diri, agar pantas jadi kekasihmu" Ucapnya membuat Rei tersedak, Dengan terburu ia minum membuat Philip menepuk pundak membantu menenangkan.


"Kau pikir mau?" Tanya Rei mendelik kesal. Kenikmatan yang ia rasakan saat makan berkurang akibat tersedak, walaupun hatinya sedikit merekah. Ia memang pernah menyatakan perasaannya beberapa waktu lalu.


"Aku akan menculikmu dan mengurungmu jika kau tak mau" Jawab Philip santai. Rei merogoh ponselnya saat ada yang bergetar. Sebuah pesan notifikasi tidak berguna. Sesaat Rei membeku melihat pantulan wajahnya dan menatap Philip.


'Dia terlalu mewah buat aku yang hanya mie kuah' Batin Rei, wajahnya cukup berminyak karena keringat saat ini. Rasa mindernya mencuat tinggi. Rasanya seperti mengalami pubertas, yang sangat telat.


"Kita harus menemui Rachel setelah ini, mau langsung atau pulang dulu" Tanya Rei kini menunduk karena kesal dengan pikirannya. Seandainya ia lebih memikirkan penampilannya dari awal.

__ADS_1


"Jangan bahas wanita itu" Mendelik Philip, tatapannya menajam namun Rei memilih mengabaikannya.


"Tetap saja kita harus memenuhi janji" Ujar Rei membuat Philip menghela nafas kesal.


"Aku tak ingin berdebat"


"Hanya datangi"


"Mengesalkan sekali" Mood baik Philip runtuh hanya karena mendengar nama yang tak ingin didengar bahkan diingatnya. Melihat Raut wajah itu, Rei merasa bersalah. Namun ia merasa harus menemui Rachel.


"Jangan marah" Pinta Rei dengan memelas, Philip membuang muka. "Ya udah aku aja yang kesana" Rei mengambil tasnya dan bergegas untuk pergi. Philip memang sedikit keras kepala namun masih batas wajar, Rachel yang menyebabkan dirinya kehilangan moment pentingnya.


Deru nafas Philip tak terkontrol, emosi memenuhi dirinya. Namun dari awal hidupnya memang tak mempunyai pilihan. Philip melangkahkan kakinya dengan berat hati menyusul Rei. "Aku ikut" Ucap Philip setelah berhasil menyusul. Rei hanya diam mengabaikan.


"Aku minta maaf" Ucap Philip meraih tangan wanita disampingnya. "Bukan aku tak peduli dengan perasaanmu, tapi memang kita masih harus bertemu dengannya" Ucap Rei mencoba memberi Philip pengertian.


"Iya aku salah, maafkan aku" Pinta Philip lagi dibalas anggukan oleh Rei. "Aku akan mempercayaimu" Tambah Philip lagi membuat bahu Rei terasa berat. Dipercayai sebanyak itu membuat bebannya begitu terasa.


Setelah naik bus umum, kini mereka berhenti di tempat yang dituju. Sebuah ruko dua lantai. Keduanya saling memandang, bukan karena tingginya gedung, melainkan karena tulisan close yang terpajang di pintu kaca.


"Kau sih, ga dengerin kataku" Ujar Philip bangga, Rei mendengus kesal, perjalanannya cukup memakan waktu. "Duduk disini dulu" Ucap Rei membersihkan lantai didepan ruko tempat Rachel.


Rei memilih mengirim pesan pada Rachel, ia tak mau perjalannya sia-sia. Ia paling tak suka membuang waktu setelah menempuh perjalanan panjang.


Rei :


Mba, ini kami udah di tempat tujuan, tapi kok tempatnya tutup ya? Jika tidak bertemu hari ini, maka tidak ada hari lain


Kirim Rei pada Rachel, ia terlalu kesal. Ia akaj menunggu sampai ada balasan masuk. Rei memandang sekeliling tempatnya. Ruko yang cukup terkenal dengan harga sewa yang mahal. Sebuah dering ponsel menyadarkan keduanya. Sebuah pesan masuk dari wanita yang di tunggunya.


Rachel :


Masuk aja, ga dikunci, sengaja ditutup khusus buat kalian.

__ADS_1


Rei menunjukan balasannya membuat Philip menekuk wajahnya. "Kenapa kau semangat sekali sih" Kesal Philip bangun dari duduknya. Membersihkan debu yang menempel di celananya.


__ADS_2