The Cursed Prince

The Cursed Prince
More Than Maid


__ADS_3

Hubungan mereka kini benar-benar membaik, Hubungan majikan dan pembantu kini telah berubah menjadi Philip dan Rei. Keduanya tak ada kecanggungan lagi, tak ada ketakutan lagi. Rio bahkan bisa melihat senyum dan tawa adiknya lagi. Tentu saja Rio sangat bersyukur karena adiknya kini menjalani hidup dengan normal, Rio menyukai itu.


"Philip, aku diajak ketemuan sama temenku" Ujar Rei mengkode jika ia tidak bisa bekerja full hari ini.


"Baguslah, kau punya teman, nikmati janjianmu" Ujar Philip dengan senyum samarnya. Rei bahkan kini dapat melihat senyum Philip setelah lama mengakrabkan diri. Rei pergi setelah mencuci piring yang telah di gunakan oleh Philip dan Rio


"Wah, kalian benar-benar hanya memanggil nama sekarang" Rio menatap keduanya takjub. Rei bahkan kini bisa makan satu meja dengan mereka.


"Aku pergi duluan" Ujar Rei. Salahkan Philip yang memberi dia banyak kebebasan. Bahkan ia tak benar-benar bekerja. Rei dengan berjalan kaki mencari Cafe yang di tunjukan temannya. Teman kampusnya.


"Hi" Sapa Rei pada teman kampusnya yang sudah satu bulan tak di temui nya. Liburan kini hanya tersisa satu setengah bulan lagi.


"Kukira kau tak bisa datang" Ujar temannya yang tak menyangka Rei benar-benar datang. Ini kali pertama Rei mengiyakan ajakan temannya.


"Aku sibuk kerja" Jawab Rei lagi dengan senyum tipisnya.


"Jika bukan karena nilai yang buruk, aku tak mengundang kalian untuk datang" Ujar Nita, teman kelas Rei yang tak begitu dekat dengannya.


"sudah keluar?" tanya Rei yang tak tahu jika nilai ujian nya telah keluar dua hari yang lalu.


"kau tak tahu?" tanya Nita lagi


"aku tak tahu" Jawab Rei dengan begitu polos


"coba cek" Ujar Niken kali ini


Rei pun mengecek nilai akademiknya dan ia dibuat terpesona dengan nilainya yang cukup mengagumkan.


"3.87" Gumam Rei senang


"wah" Ketiga teman Rei bergumam kaget.


"Tak sia-sia aku belajar" Ujar Rei yang menghabiskan waktu untuk belajar sebagai upaya pertahanan diri dari orang-orang yang mengajaknya jalan.


"kalau gitu kau yang traktir, udah kerjakan?" Ujar Nita kesal karena Rei mendapatkan nilai yang memuaskan, Nita dan lainnya bahkan harus mempersiapkan diri untuk remedial. Jika tidak mereka harus mengulang mata kuliah dan itu memuaskan.


"ya udah, aku traktir" Ucap Rei tak bisa menolak. Jujur saja dalam hati Rei ia teramat sangat menyesal datang namun tak sedikit bangga juga ia bisa memamerkan nilainya, ia bahkan sudah bekerja. Setidaknya orang tak kan memandang remeh lagi hanya karena dirinya miskin.



__ADS_1



Mansion megah itu begitu menjulang tinggi namun bisa tak terlihat sama sekali dari pintu gerbang. bahkan pintu gerbangnya sangat lusuh, dan banyak lumut. Rei masuk lewat pintu samping. sampai hari ini Rei tidak terpikir alasan ia tak pernah melewati pintu utama.


Dilihatnya kini Philip tengah duduk di ayunan. Rei tersenyum melihat Philip yang tak lagi terkurung dengan ketakutannya.


"Philip" Panggil Rei dengan sangat tidak sopan


"Dia lima tahun lebih tua darimu" Jawab Rio yang tiba-tiba ada disampingnya.


"Trus mas Rio?" tanya Rei lagi


"Aku? tujuh tahun diatas Philip" Jawab Rio seketika. refleks Rei menutup mulutnya terkejut matanya bahkan terbelalak.


"aku 20 tahun, Philip 25 mas..? 32 ?" Tanya Rei lagi semakin yak percaya. Rio hanya mengangguk bangga.


"Kalau gitu akan kupanggil paman mulai hari ini" Ujar Rei dan bergegas menghampiri Philip, ia penasaran dengan yang dilakukan Philip di taman seorang diri.


"Sebenernya mas kerja ga sih?" Tanya Philip penasaran karena Rio sangat sering berkunjung ke tempatnya.


"Paman Rio sukanya rebahan" Sahut Rei membuat Philip mengernyitkan dahi mendengar Rei memanggil Rio dengan sebutan paman.


"Kau pasti terkejut, tapi jarak ku 12 tahun, itu sangat tua" Ucap Rei tanpa pikir. Philip hanya tersenyum mendengar interaksi keduanya.


"Ya udah ayo nikah Rei" Canda Rio yang dibalas deathglare oleh Rei.


"Maaf, ga suka om-om" balas Rei membuat keduanya begitu gemas.


"Dan kau cuma memanggilku nama? tidakkah itu sangat sopan?" ucap Philip antonim.


"Ah, Mas Philip" Kekeh Rei merasa lucu saat memanggil Philip dengan sebutan mas.


"kenapa tak ada bagus-bagusnya" Philip mengorek telinganya


"Kesumbet rambut-rambut itu" Ejek Rei lagi. Ini kali pertama mereka diejek hanya karena satu wanita yang baru memasuki umur dua puluh tahun.




__ADS_1


Keseharian mereka kini sangat baik. Rei bekerja hanya untuk membuatkan makanan dengan sesekali mengiyakan ajakan temannya untuk pergi. Dan Philip memiliki banyak kegiatan di rumah nya kini. Rei menghias taman dan itu menular, karena Philip kini sangat menyukai taman halaman rumahnya. Rei bahkan membeli beberapa tanaman hias seperti sekulen dan kaktus yang diletakan di balkon utama.


"Jadwal kuliahku dah keluar" Ujar Rei menunjukan ponselnya yang memperlihatkan tabel perkuliahannya.


"Ya udah kuliah yang rajin, mau beli peralatan kuliah?" Tanya Philip perhatian. Rei yang mendengar itu justru tertawa keras membuat Philip heran. Ia tak merasa pertanyaannya salah.


"Kenapa?" tanya Philip penasaran


"Kuliah ga usah bawa apa-apa juga bakal lulus" Ujar Rei membuat Philip tetap tak mengerti.


"Kau ga pernah nulis?" Tanya Philip berhati-hati. Di dunia sekolah menengah atas dulu Philip sanga rajin menulis, nilainya pun memuaskan, keahlian yang dia punya dalam bermusik dan wajah rupawannya membuat orang lain terpesona.


"Tapi nilai ku tinggi" Ujar Rei menyombongkan diri main Philip.memilih mengabaikannya.


"ayo buat kenangan indah" Pinta Rei


"apa?" tanya Philip karena ucapan Rei begitu menggantung.


"besok kuberi tahu" Jawab Rei memberi wink pada Philip. Seketika keduanya menjadi hening.


"Ah, bukan maksudku untuk genit" Ujar Rei saat sadar dan memukul pelan matanya. Philip sama terkejutnya namun ia akan mengabaikannya. Karena akan menjadi tak nyaman jika Philip meminta kejelasan.


Philip tersenyum licik saat melihat raut gelagapan Rei. Rei menatap Philip sanksi.


"Kau ingin membuat kenangan denganku?" Tanya Philip


"Iya, ah bukan kenangan yang kau pikirkan" Balas Rei yang tak tahu pikiran Philip.


"apa yang kupikirkan memang?" tanya Philip lagi


"Ah, ya udah kalau kamu ga mikir" Jawab Rei


"Kamu?" Tanya Philip yang sejak tadi menunggu moment agar Rei bisa lebih dekat dalam saling sapa menyapa.


"Tuan Philip maksudnya" Ralat Rei tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya.


"bukan itu" Philip tak menyukai orang lain memanggilnya tuan. Walaupun tak ada yang keberatan.


"terus manggilnya apa?" Tanya Rei meminta pilihan,


"Mas" Jawab Philip tersenyum menang.

__ADS_1


"mas?" Rei mengulang dengan nada bertanya.


"Iya, mas Philip" jawab Philip lagi membuat keduanya saling beradu pandang.


__ADS_2