
Tanaman hias itu tersenyum bahagia saat disirami dengan air yang memercik dari selang air taman yang berputar, Semua memang sudah canggih. Matahari bersinar belum terlalu terik, Cahaya menyehatkan ini menjadi rutinitas Rei untuk berjemur di bangku ayunan, seorang diri. Masih berfikir untuk memberitahu Rio tentang kegelisahan Philip.
Ia sedang tak bermalas-malasan. Ia telah menyelesaikan pekerjaannya yaitu memasak pagi tadi.
"Mas Rio" Panggil Rei saat melihat Rio keluar dari rumah, dan menuju parkir mobil nya.
"Kemaren manggil paman" Rio terkekeh pelan dengan sikap Rei yang sudah seperti adik sendiri.
"ah, dendam ya? mas beneran mau nikah?" Tanya Rei yang merasa semuanya begitu mendadak, bahkan Rei belum ada dua bulan di mansion.
"Kenapa ? sakit hati?" Goda Rio
"Ya engga, cuman.." Rei tak bisa melanjutkan kata-katanya
"Lewat pesan aja ya, mas buru-buru" Jawab Rio dan berlalu. Rei menatap arlojinya dan menghela nafas saat menyadari jika memang waktunya pekerja kantoran harus memulai aktivitas kerjanya.
Rei kembali melamun di ayunan, Ia tak memiliki kegiatan yang harus dilakukan kecuali memasak.
'Udahlah, kirim pesan aja'
-Mas, Philip pengen hadir di pernikahan mas, mas bisa ga ngerencanainnya pas Full moon aja? biar Philip ga murung
Rei menunggu balasan, namun tak kunjung datang
-Anterin gue yuk?
sebuah pesan Rei kirim pada temannya, satu-satunya teman yang dimilikinya dikampus, teman baiknya
💕
Ditempat ini, Rei berhadapan dengan temannya yang dihubunginya pagi tadi, Rei dengan setelan santainya.
"Udah lama ga ketemu, ga pernah ngechat ttibab-tiba minta anter" Ujar Dina teman Rei
"Ya maaf" Rei terkekeh menjawab pertanyaan Dina.
"Ngapain kesini ? tumbenan banget ngabarin" Dina membaca buku menu untuk memesan makanan
"Iya, keinget aja dulu pas di asrama" Rei mencari alasan
"trus ngehubungi gue ada apa?" Dina selesai menceklis menu yang akan dipesannya.
"Bantuin gue nyari baju" Rei tersenyum cerah
"Eh? sewa baju" Ralat Rei, Ia harus membuat kenangan indah untuk tuannya sebelum Rio mulai sibuk dengan istri tercintanya nanti.
"ke mall?" Tanya Dina dengan mata berbinar,
"Bukan, butik" Jawab Rei membuat Dina memicingkan matanya
"Lu habis godain om-om yang mana?" Curiga Dina yang tahu harga baju butik cukup selangit bagi mahasiswa seperti mereka
__ADS_1
"Gue kerja, bantuin gue" Dina hanya mengangguk. Rei tersenyum senang.
"Emang lu nyari baju kaya apa?" tanya Dina mulai mencari butik melalui ponselnya, ini lebih efisien daripada harus mencari sambil jalan.
"Beauty and The Beast" Jawab Rei membuat Dina ternganga tak percaya
"hah?"
"Lu punya cowok?" Tanya Dina
"engga, gue kerja di rumah orang trus mau bikin party gitu" Rei gelagapan menanggapi pertanyaan Dina. Tentu saja Philip tuannya adalah cowok namun ia bukan milik Rei.
"Lu jadi pembantu?" Tatapan mata Dina berubah menjadi simpati
'iya' Batin Rei tak bisa mengelak, namun jawaban seperti itu hanya akan melemahkan nya
"Kaga, gue jadi ahli gizi di rumah mereka" Jawab Rei dengan penuh percaya diri.
"Halus banget, tinggal iyain aja, ortu lu tahu?" Mindset manusia sekarangpun jika bekerja dirumah orang sama dengan pembantu, entah apapun posisinya.
"Jangan kasih tau" Pinta Rei pada Dina. Dina tentu saja pernah bertemu dengan keluarga Rei saat awal perkuliahan, dimana mereka mengantar Rei pindah ke asrama.
"Jadi yang mau lu beli apa aja?" tanya Dina kembali ke topik
"Sewa gaun belle, tuxedo pangeran buruk rupa sama asisten pangeran" Rei menunjukan foto beauty and the beast
"beli teko, lilin, aksesoris gitu yang tentang beauty and the beast sama beli balon"
"Lu gue traktir deh"
"Penasaran lu kerja dimana?"
"Lu ga bakal tahu"
'ga boleh ada yang tahu, atau bakal diamuk Rio nantinya'
Rei memutari satu persatu butik yang dilewati namun tak ada yang menyediakan.
"Gaun kuning ajalah" Ujar Rei akhirnya
❤
❤
❤
Gaun pengantin dipasang dengan warna yang serasi, Tempat itu benar-benar putih.
"Mas, Gaun yang itu cantik" Ujar Wanita itu pada calon suaminya,
"Kau bisa pilih yang kau mau"
__ADS_1
"Mau pake tema?" Tawarnya
"Ga usah mas, di studio aja nanti repot, toh mas juga sibuk banyak yang harus diurusin"
Kini Rio dengan calon pengantinnya tengah melakukan foto untuk Pre-Wedding. Pre-Wedding memang bukan hal wajib dalam pernikahan namun di era saat ini, Pre Wedding sangat disukai kaum wanita.
Gadis itu memilih 3 gaun dengan warna yang berbeda, Gaun berwarna hijau yang akan di shot foto pada taman , Gaun biru untuk foto di air dan gaun putih sebagai formal yang harus ada.
'Semoga dia ga marah' Batin Rio
❤
❤
❤
Makan malam berlangsung begitu tenang, hanya ada dua orang yaitu Philip dan Rei. Bahkan suasana tampak sangat canggung karena tidak ada pembicaraan diantara keduanya.
"Mas Rio pasti bakal jarang kesini" Ujar Philip tersenyum tipis. Ia mengirimi pesan pada Rio dan Rio telah menghabiskan harinya dengan kekasihnya dan tak akan pergi ke mansion.
'Wagelaseh ? bakal berdua dong ini ' Batin Rei dag dig dug takut menyadari jika kini dan kedepannya kemungkinan mereka akan selalu berdua.
"Mas Rio suruh bawa calonnya kesini, kau juga pasti penasaran" Ujar Rei yang juga penasaran ingin melihat calon istri Rio
"Padahal dia kaya ga punya cewek, ga taunya nikah beneran bentar lagi" Philip memaikan alat makannya, selera makannya hilang saat ia menyadari semua orang pergi darinya. Memang ada Rei. namun statusnya pekerja yang pasti akan pergi jika kontraknya telah habis. Terlebih dia mahasiswi. Philip akan kembali kesepian.
"Ga penasaran tuh, minta aja sendiri" Ujar Philip dan mengakhiri makannya tanpa menghabiskan makanannya dan hendak pergi sebelum Rei mencegatnya.
"Ya!!" Rei menekan suaranya kesal
"Apa?" Tanya Philip malas
"Habiskan makanmu, kau tau perjuanganku belanja, memasak dan mencuci" Rei merasa kasihan pada makanan yang tak bersalah, Ia terlalu sering membuang makanan.
"Kau hanya pekerja, berhenti memerintah" Ujar Philip dan meneruskan langkahnya tanpa menoleh.
"Kenapa moodnya buruk sekali, Hmmm buang makanan lagi" Rei mempercepat makannya dan membersihkan meja makan sambil mengomel.
"Besok masak dikit aja pokoknya"
"Porsinya akan kukurangi"
"Mana mas Rio ga ngabarin bakal makan diluar"
"Gedeg lama-lama sama keluarga ini"
"Keluarga?hmmm" Rei menghela nafas saat menyadari tempat ini begitu sepi. Sangat sepi. Penghuni aslinya hanya bisa dilihat di televisi, internet dan koran.
PA Entertainment sukses mendebutkan grup band dengan personel 5 orang.
Setidaknya itu berita yang Rei dengar sampai akhirnya ia tahu, jika foto di artikel itu sama dengan foto dirumah ini. Foto ayah Philip.
__ADS_1