
Rei menyeruput kopi hangat yang dipesannya. Suasana begitu canggung tak ada perbincangan diantara keduanya. Namun Philip tak merasakan hal yang sama. Philip asyik menghirup kopinya masih menanti pertanyaan yang akan di tanyakan Rei.
"Kau tak mau bertanya lagi?" Tanya Philip heran karena mereka hanya saling diam walau baru 3 menit.
"Aku tak tahu harus bertanya apa, kurasa duniamu hanya wanita" Ujar Rei bingung. Ia tak ingin bertanya melebihi privasi tapi pertanyaan yang terlintas selalu privasinya.
"Apa saja yang kau lakukan diruangan itu" tanya Rei akhirnya menemukan pertanyaan
"Aku, berselancar di internet, aku juga mengurus sedikit pekerjaan. aku bukan pengangguran" Ujar Philip tersenyum senang mendapat pertanyaan itu.
"Pekerjaan?" Tanya Rei tak yakin
"Kau tau aku hanya terkurung bosan, dan mas Rio bawain buku, aku harus tetap belajar barangkali nanti aku bisa kembali seperti semula, awalnya aku putus asa , untuk apa, bahkan selama 7 tahun ini bukan waktu yang sebentar" Philip menghela nafas namun senyumnya tetap terukir begitu manis.
"Tapi aku bisa melewatinya dengan baik, aku hanya sesekali sakit hati saat memikirkan ah.. apa yang kulakukan dulu" Ujar Philip , Rei tak bisa merasakan seperti apa perasaan Philip, Rei saja sering mengeluh hanya karena uangnya habis.
Namun Philip bergelimang harta pun tak bahagia, tapi Philip bisa begitu sabar menjalani hidupnya.
"Tapi kau hebat, kau bisa bertahan sampai sekarang" Puji Rei tulus
"Yang terlihat memang seperti itu" Ujar Philip mengingat segala usahanya yang gagal. Rei tak lagi bertanya karena melihat ekspresi Philip yang sedikit sendu.
"Aku akan bertanya sampai disitu, Kau bisa memanggilku jika butuh teman cerita" Ujar Rei yang ingin di ceritakan tanpa harus bertanya.
Philip menyesap kopinya.
"Apa kau jurusan psikolog?" Tanya Philip karena Rei dengan senang hati ingin mendengar keluh kesahnya.
"Aku jurusan gizi, Aku selalu tertarik mendengar cerita orang" Jawab Rei lagi, Ia memang pendengar yang baik namun ia hanya mendengarkan tanpa bisa memberi solusi.
"Kalau gitu aku yang cerita" Ujar Rei yang tak mau suasana sepi. Rei menceritakan alasan ia berkuliah mengambil gizi untuk menggapai cita-citanya sebagai ahli gizi, menceritakan suka duka di dunia kuliahnya dimana ia mendapatkan teman yang baik namun sulit untuk menyeimbangkan gaya hidupnya.
"Bayangin aja , mereka sering banget ngajak makan di Cafe, perawatan wajah, belanja , jalan-jalan" Ujar Rei menceritakan betapa kesalnya ia ketika mendapatkan ajakan seperti itu.
"Apa yang salah, kan untuk bersenang-senang" Balas Philip membuat Rei menepuk dahinya baru ingat jika sosok didepannya memiliki uang yang tak bisa dihabiskan.
"Uangku tak sebanyak itu" Ujar Rei lagi yang membuat Philip mengangguk paham
"Kau bilang tak ada uang?" tanya Philip lagi
"Iya, aku jawab ga ada uang tapi apa yang mereka ucapkan masa ga ada uang terus-terusan kau bayangkan bagaimana rasa sakit hatiku mendengar ucapan seperti itu" Rei menceritakan dengan menggebu-gebu dan Philip **** senyum, Ia harus menahannya karena ini cerita yang seharusnya sedih.
"Aku tak bisa merasakan sakit hatinya" Jawab Philip jujur. Ia tak tahu bagaimana perasaan orang lain, tentu saja rasa sakitnya akan berbeda satu sama lain.
"Kau bisa bekerja di tempatku dan bersenang-senang di dunia kuliahmu" Ucap Philip agar Rei mau bekerja dalam jangka waktu lama, Ia sudah cukup lama kesepian.
"Jika aku sibuk? gimana? masa makan gaji buta" Tolak Rei secara halus
"Lakukan saja sesukamu, Kau juga harus menikmati dunia kuliahmu. Dunia kuliahmu salah satu yang membuatku iri" Ujar Philip membuat Rei terdiam.
'Benar~ Philip tak bisa berkuliah karena keadaannya' Rei menatap Philip sendu sedangkan Philip menerawang pada lukisan. Menghindari kontak mata.
__ADS_1
"Kau tak perlu mengasihaniku, Aku tetap punya pekerjaan yang bisa menghidupi ku" Jawab Philip yang membuat Rei tersenyum.
🕐
01.00
🕐
Rei menahan kantuknya, Ia menguap dengan menutup mulutnya rapat dan menutup dengan tangannya. Philip menyadarinya dan menatap arlojinya.
"Kau ngantuk?" Tanya Philip melihat air mata yang tertahan di kedua pelupuk mata Rei. Rei tak bisa berbohong karena kantuknya begitu kentara.
"Aku tak terbiasa terjaga hingga jam segini" Rei sedikit terkekeh, bahkan kopi tak mampu membuat dirinya terjaga.
"Kalau gitu ayo pulang" Ajak Philip mengambil ponselnya yang diletakan di meja.
"Tapi kau" Ujar Rei ragu, Rei tau ini hari yang sangat berharga bagi Philip.
"Setidaknya kau akan sedikit terbiasa melihatku besok" Jawab Philip yang melegakan hati Rei. Ia tak harus merasa bersalah.
"Kalau begitu ayo" Rei tersenyum cerah. Sebentar, Aku harus mengambil fotomu lebih dulu. Ini akan menjadi kenangan di masa depan" Ujar Rei dan kini mengarahkan kamera ponselnya pada Philip.
"satu"
"dua"
"tiga"
"Lalu apa yang akan kau lakukan di rumah. aku yakin kau tak akan langsung tidur" Rei ingin tahu kegiatan Philip, ia sangat yakin Philip takkan langsung tidur.
"Aku, mungkin .. eum.. menonton?" Ujar Philip tak yakin sambil berjalan dan diiringi Rei disampingnya yang menyejajarkan langkah Philip.
"Apa kau punya layar besar?" tanya Rei penasaran, Ia bahkan menggerakkan tangannya membentuk persegi panjang membayangkan layar besat. Rei banyak bertanya hari ini.
"proyektor?" Tanya Philip sambil membuka mobilnya, Rei hanya mengangguk. Ia begitu malu melupakan naman alat itu
"ada" Jawab Philip
"Ayo nonton, aku belum pernah ke bioskop sebelumnya, setidaknya aku ingin merasakan sedikit suasananya." Pinta Rei begitu antusias, ia melupakan kantuknya.
"Benarkah?" Tanya Philip sembari menyalakan mesin mobilnya
"Berhenti di market persimpangan ya, aku beli camilan" Ujar Rei yang kini membuka kantongnya hendak menghitung uang yang dibawanya. Uang hariannya.
"Kau punya uang?" Tanya Philip meledek
"Ada, Mas Rio ngasih uang banyak sekali" Rei menunjukan dompet lusuhnya, namun Philip tak menoleh sama sekali.
"Kau habiskan?" Tanya Philip lagi
"mas rio ga bilang itu uang buat sebulan?" Tambah Philip membuat Rei melotot kaget,
__ADS_1
"masa? yaa aku hampir menghabiskannya, apa aku akan kena denda? apa aku harus memakai uang ku untuk kebutuhan akan datang? ya .. aku bahkan belum menerima uang gaji" Rei menepuk tangan Philip was-was, Ia bahkan belum satu minggu bekerja. Ia tak bisa dipecat begitu saja. Ia mau kuliah.
"Ya kau berbohong kan?" Ujar Rei dengan nada pelan.
Philip mengendikan bahunya. Philip menghentikan mobilnya di supermarket 24 jam.
"turunlah, kau bilang mau beli camilan" Philip menatap Rei yang kini menunduk lesu
"Ga jadi, ga ada duit" Jawab Rei nada ketus, gaya perempuan merajuk
"Menggemaskan sekali" Ucap Philip mengacak rambutnya tanpa sadar. Rei hanya membeku mendapat perlakuan tiba-tiba dan menoleh ke arah Philip.
"Ah. . maafkan aku" Ujar Philip menyadari kesalahannya, suasana menjadi canggung seketika.
"Aku .. " Philip tak melanjutkan kata-katanya
"Kau bawa uangkan? hehe" Kini Rei terkekeh, Ia mencoba menghilangkan kecanggungannya. Ia terkejut.Karena ia tak pernah diperlakukan seperti itu
"Mau beli apa?"tanya Philip
"Aku ga beli banyak kok, soda sama makanan kering aja" Rei membayangkan barang yang akan dibeli sambil mengintip dari mobil melihat rak-rak supermarket.
"Aku yang turun atau kau juga turun" Tanya Philip
"aku ikut"
Mereka memilih belanjaan masing-masing.
"Kau yang membayarkan?" Rei benar-benar takut ia yang disuruh membayar, Ia tak tahu perihal uang belanja untuk berapa lama
"Aku tak yakin bawa uang banyak" Philip merogoh sakunya, berakting seolah-olah tak membawa uang.
"aku beli ini aja satu" Rei mengambil camilan termurah dari jejeran yang ada didepannya.
"Aku yang bayar" Ucap Philip kemudian
"bener?" Rei masih tak percaya
"Kau meragukan majikan mu?" Tanya Philip
Rei hanya terkekeh , Rei memilih beberapa camilan yang menarik di matanya. Memang tak banyak, hanya tiga jenis snack dan 2 kaleng soft drink. Di rumah memang sudah banyak camilan. hanya saja ada camilan yang sedari dulu ingin dibeli Rei.
"Aku akan membuat masakan yang enak besok" Janji Rei sebagai raa terimakasih dan balas budi
"Masakanmu tak ada yang istimewa sejak hari pertama pun" Ejek Philip
"Aku akan beli di layanan pesan antar kalau begitu" Rei tak mau kalah, toh jaman sekarang semua sudah canggih
"Kau pintar menjawab" Philip hanya tersenyum mendengar jawaban Rei yang tak mau kalah.
"tentu saja"
__ADS_1