
Sesuai dengan janji yang dibuat, Rei kini sedang menunggu di Kedai Kopi yang tak jauh dari kampusnya. Ia sedang menunggu teman dari kakak Jessi yang masih tak diketahui namanya. Ia tak bisa menghilangkan debarannya karena akan menemui orang yang tak begitu dikenalnya.
"Freissya?" Panggil sosok jangkung, berkulit kuning langsat dengan perawakan tinggi dengan rambut curly coklat.
'Modis sekali' Batin Riska dan mengangguk kecil. Riska langsung menggelengkan kepala menyadari ketidak sopanannya. Ia berdiri menyambut tamu yang ditunggunya.
"Silahkan duduk kak" Ujar Rei mempersilahkan tamunya.
"Maaf nih tapi ga bisa lama, gue ada janji juga habis ini" Ucap perempuan itu yang membuat Rei kelimpungan.
"Nama kaka siapa?" tanya Rei dengan menjaga image polosnya.
"Kalila, panggil aja Lila" Ucapnya dengan santai
"Karena kak lila ga bisa lama, jadi langsung aja ya kak" Rei menarik nafad dalam sebelum memulai pembicaraan, ia gugup sejak pagi.
"Kakak satu sekolah sama kak Philip?" Rei memulai pertanyaannya.
"Yep"
'Singkat bener'
"Kaka kenal kak Philip?"
"Cuma sebatas nama"
"Doang?"
"Penting banget ya? Kasih tahu dulu alasannya" Perempuan itu menyedekapkan tangannya. Duduk menyandar dengan kaki disilangkan
Membuat Rei menggigit bibir bawahnya, ia tak bisa menjawab. Ia tak memiliki alasan.
"Elah canda, Yang gue tau dia ganteng, punya banyak cewek" Ucapnya, Senyum merekah diwajahnya, memberi kesan yang sangat ramah.
"Ada kenalan mantannya ga kak?"
"Ada, Elsa"
"Punya kontaknya?"
"Punya"
"Boleh minta?"
"Alasannya dulu, ya kali ngasih nomer orang sembarangan"
'Sekalian aja' Batin Rei yang memang ada rencana lain. Rei berdehem terlebih dahulu sebelum mengarang cerita. Ia harus terlihat meyakinkan. Ia mencondongkan badannya dengan tangan diatas meja.
"Jadi gini kak, kemarin pas pernikahan kakaknya, akukan kerja paruh waktu disana jadi pelayan gitu, dan denger-denger ada yang maggil kak Philip, aku juga lihat sekilas sih, dan mirip cuma aku ga penasaran disitu, soalnya ga tau siapa Philip dan aku cerita ke rekan sepermaganganku, dia kaget dan sekarang aku lagi nyari info buat lolos jadi penulis berita, aku aja baru tahu ternyata ada berita kematian, tambah bikin penasaran" Ucap Rei dengan segala kebodohan dan kenekatannya. Lawan bicaranya mengangguk paham. Tak curiga sama sekali.
"Emang matinya ga jelas sih, mati di luar negri tapi ga ada berita sedih-sedihnya, cuma heboh aja pas perpisahan, gara-gara orang tuanya ga ada yang dateng padahal pinter"
Deg
'Bener-bener ga peduli?' Batin Rei terkoyak mendengeranya.
"Bisa minta kontaknya kak?" Tanya Rei lagi mengerjapkan matanya.
"Gue ijin dulu keorangnya, ntar gue bagi. Ada lagi?"
"Itu aja sih"
"Oh ya udah pas banget, tamu gue juga udah mau datang" Ucapnya dan beralih ke kursi yang tak jauh darinya. Pintu terbuka dan ternyata tamunya benar-benar datang. Rei bergegas pergi untuk pulang. Sejauh ini ia belum mendapatkan apa-apa. Ia menunduk lesu.
"Apa yang harus kukatakan pada Philip" Rei berjalan gontai keluar dari kafe.
"Padahal kemarin dia sudah sangat senang"
"Harusnya aku tak memberi harapan dulu"
__ADS_1
Rei mengacak rambutnya kesal, ia memilih duduk di bangku halte sebelum pulang. Ia tak lupa mengirim pesan pada Kak Lila yang menjanjikan untuk mengenalkannya dengan mantan tuannya.
'Kak, jangan lupa nomernya'
Ting
Sebuah nomer langsung dikirim, tak butuh waktu lama Rei langsung menelponnya. Ia tak peduli jika dianggap lancang.
"Halo"
"Halo, maaf ini siapa?"
"Benar ini, mantan kak philip? Kak elsa?"
"Iya"
"Kak boleh ketemu?"
"Ini siapa?"
"Rei, Freissya, kenalan kak Lila temen Jessi"
"Oh, iya, ini anaknya baru ngabarin, jadi ada apa?"
"Bisa ketemu?"
"Bisa"
"Kapan kak?"
"Buru-buru banget ya?"
"Eh? Engga sih"
"Sekarang bisa sih, tapi kerumah"
"Dimana kak?"
"Rei kesana ya kak?"
"Okey, kutunggu"
Pucuk dicinta ulam pun tiba
Rei tak menyangka akan semudah ini, ia bergegas memesan taxi online yang akan membawanya kesana.
Ia akan pulang terlambat hari ini, tuannya akan kelaparan namun akan ada kabar membahagiakan yang menantinya.
Rei sampai diperumahan
Blok T no 5A
Rei mencari nomer rumah dan ketemu. Rumah yang cukup besar. Rei menekan bel yang ada digerbang dan tak lama seorang wanita dengan rambut sebahu membukanya.
"Frei?"
"Iya, maaf kak mengganggu"
"Masuklah"
"Kak, kakak mantan kak philip?" tanya Rei membuat Elsa terkejut.
"Shut..Jangan keras-keras, nanti anakku denger" Elsa menaruh jari telunjuk didepan bibirnya.
"Anak kaka umur berapa?" tanya Rei mulai penasaran. Teman sekolah Philip. Pasti satu umurkan? Sekitar 27 tahun, seperti umur tuannya.
"6 tahun sekarang"
"Wah nikah muda"
__ADS_1
"Engga juga, pas kuliah nikah" jelas Elsa
"Owalah"
"Kita bicara disini aja"
Elsa tak jadi membawa tamunya masuk kedalam rumah, ia meninggalkan tamunya untuk membuat jamuan minuman dan snack.
"Silahkan diminum"
"Maaf ya kak ngerepotin"
"Jadi ada apa?" Elsa menyamankan posisi duduknya.
"Kaka jadian sama kak Philip berapa lama?"
"Setelah hampir tujuh tahun, baru kali ini dapet pertanyaan kek gini, aku pacaran 100 hari"
"pas?"
"Iya, kamu siapanya? Adiknya? Kurasa philip ga punya adik"
"Bukan siapa-siapanya, hanya ingin tahu"
"Tapi itu udah sangat lama, sangat mencurigakan kau tiba-tiba datang"
"Kak, bantu aku sekaliii ini saja, nanti kuberi tahu alasannya"
"Sudahlah, lagi pula itu juga ga penting banget"
"Terakhir ketemu kapan kak?"
"Habis ujian mungkin, soalnya tak lama setelah itu ada berita kematian"
"Kakak kaget gak?" Pancing Rei
"Iyalah, pas ujian baik-baik aja malah sempet bercanda, tiba-tiba meninggal , mana meninggalnya diluar negeri, udah gitu ga ngasih kabar perginya" Ucap Elsa panjang lebar, ada emosi didalamnya.
"Emang biasanya saling kasih kabar?"
"Karena habis putus kita temenan, dia merasa bersalah dan ngijinin aku buat jadi temennya" tambahnya lagi. Elsa sangat ingat bagaimana dia meminta agar tetap bisa berhubungab dengan baik.
"Janggal ga sih kak?" Rei melempar umpan, mulain memberi api pada kayu.
"Eh?"
"Jadi gini kak, aku itu lagi nyari info kebenaran buat bisa lulus seleksi jurnalis gitu, yang nyari berita. Soalnya pas part time di pernikahan kakanya Philip, ada yang manggil-manggil Philip, aku juga sempet lihat dan mirip sama yang di internet" Jelas Rei panjang lebar membuat Elsa membeku.
Deg
"Tapi itu ga mungkin" Elsa shock dengan penuturan gadis didepannya.
" kalau beneran masih hidup, ngapain perusahaannya bikin berita bohong, yang bakal ngerugiin" tambahnya lagi
"Makanua Rei juga jadi penasaran, Rei salah lihat atau gimana, tapi Rei juga denger seseorang memanggil Kak Philip" Elsa benar-benar terfokus pada pembicaraannya. Rei tersenyum tipis.
"Kak, pernah sakit hati sama kak Philip?" tanya Rei. Philip sangat mempercayai jika ia seperti ini karena orang yang pernah disakitinya.
"Dulu iya, sekarang engga, tapi kita putus baik-baik sih, sebel aja dia selingkuh terus, tapi akunya harus pura-pura ga tau, biar ga diputusin" Jawab Elsa
"Kenal selingkuhannya?"
"Kenal, istri kakanya, ada juga nama kontak lainnya, tapi ga terlalu ingat"
"Ah"
"Tapi hubungan kita baik-baik aja, soalnya kita mutusin temenan"
"Kak ga punya kebencian sedikitpun ke kak Philip kan?"
__ADS_1
"Enggalah, dia salah satu kenangan indah dunia SMAku" Jawab Elsa lagi membuat Rei mengerti. Senyum Elsa begitu tulus. Tak ada kebohongan dimatanya.
'Cari siapa lagi' batin Rei