
“Kau berniat membunuhku?” Ujar Rachel tanpa rasa rakut sekalipun meski kuku panjang pria didepannya sudah membuat lecet dilehernya. Rei yang menyadari itu segera melepaskan cengkraman tuannya.
Philip baru menggertaknya. “Kau tak akan bisa membunuhku” Ucap Rachel dengan tawa yang memenuhi ruangan. Wanita itu memang sudah gila.
Rei menenangkan tuannya. Rachel mengibaskan tangannya memandangi lehernya dari pantulan layar ponselnya. Lehernya memerah. “Berani sekali kau” Ejek Rachel tanpa henti. Ia bertepuk tangan secara tiba-tiba membuat dua orang didepannya saling pandang tidak mengerti.
“Kau memang harus melakukan yang ku mau, lakukan lagi dengan perlahan, aku harus mengambil gambarmu” Ucap Rachel meminta Philip mengulang. “Ini sebuah syarat yang bisa meloloskanmu” Tambah Rachel dengan nada yang meyakinkan. “Kau pergilah” Pint Philip yang tak ingin dipandang lemah didepan Rei yang notabennya ialah pembantunya. Rei dengan ragu melangkah menuju kamarnya. Ia akan berjaga dibalik pintu jika wanita itu melakukan hal buruk pada tuannya.
Philip kembali ke posisinya didekat pintu. “Merangkaklah” Pinta Rachel dengan kedua tangan yang memegang ponsel. Ia akan merekamnya. Philip yang putus asa mengikuti kemauan wanita gila didepannya.
“Ayo merangkak” Tambah Rachel lagi melihat Philip masih diam. Ia menunggu pergerakan Philip. Rachel segera menekan tombol merah dimana ia akan merekam kejadian hari ini. Philip merangkak perlahan, langkahnya pelan merasa sakit dipermainkan, ia hanya bungkam menutup mulutnya, ia ingin semua segera berakhir. Beberapa langkah mencapai wanita gila itu. Rachel member aba aba.
“Tolong buat aku seperti sedia kala nona, katakana itu” Ucap Rachel sambil tertawa menikmati pemandangan didepannya. Philip menggeram namun Rachel berdeham tak menerima penolakan.
Philip tergagap “To... tolong.. a.. aku”
“Bukan seperti itu” Potong Rachel. “Repeat after me tolong buat aku seperti sedia kala nona” Penuh penekanan Rachel mengucapkannya tak member Philip pengampunan sedikitpun.
__ADS_1
Philip kembali mencoba mengulang namun ia kembali gagap, ia tak bisa mengatakannya. Itu melukai harga dirinya. “Ya udah kalau ga mau sembuh” Ucap Rachel mengambil tasnya dan bergegas untuk pergi. Philip mencegat tangannya. “Siapa yang mengatakan kau berhak menyentuhku” Tepis Rachel dengan kasar.
“Tolong buat aku seperti sedia kala nona” Lolos Philip mengatakan itu. Rachel terkesiap dan kembali duduk seperti semula. “Duduklah” Pinta Rachel dan pria itu menuruti apa mau Rachel. Ia sudah pasrah dengan semuanya. Perlakuannya terlalu kejam tak sebanding dengan kejahatannya dimasa lalu. Bahkan itu bukan kejahatan, ia hanya memutuskan hubungan percintaannya, apa itu sebuah kejahatan?
“Sekarang kau harus memohon maaf padaku” Ujar Rachel lagi membuat Philip mendelik. “Kau menolak?” Tanya Rachel tanpa rasa bersalah sama sekali. Philip terdiam lama.
“Hei kamu yang dikamar, kamu sudah boleh keluar” Ucap Rachel membuat Rei langsung bergegas keluar kamar. Suasana begitu tegang. “Kau baik-baik saja?” Tanya Rei pada tuannya. Ia begitu khawatir, Philip menggelengkan kepalanya. Ia berkata jujur bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja saat ini. Rei memandang Rachel dengan sorot mata tajam namun wanita itu hanya membalas dengan senyum miringnya.
“Apa yang kau lakukan?” Tanya Rei membuat Rachel mengendikan bahu. “Aku hanya meminta permintaan maaf yang tulus darinya” Ucap Rachel dengan tenang. Philip menggeram. “Kau yakin hanya minta maaf?” Tanya Rei lagi yang dibalas anggukan oleh Rachel.
“Tapi sepertinya dia ingin seperti ini selamanya”Ucap Rachel membuat Philip membeku. Tubuhnya melemas.
“Aku bisa dengar juga akhirnya, tapi sebelumnya ada yang ingin kutanyakan pada kamu” Ucap Rachel pada wanita muda yang menarik perhatiannya sejak awal datang.
“Siapa namamu anak muda?” Tanya Rachel dengan suara lembutnya, tak ada nada amarah. Sorot matanya bahkan normal seperti biasanya.
“Freissya Magdalena” Jawab Rei ragu. Rei memainkan jemarinya sedikit takt. Rachel tampak menganggukan kepala. “Kau mahasiswa?” Tanya Rachel lagi yang dibalas anggukan kecil. “Ku sarankan setelah ini kau mencari pekerjaan lain, karena pria disampingmu bukan pria yang bisa kau andalkan, dia akan segera mencampakanmu, percaya itu” Ucapan Rachel mendapat cengkraman keras dari pria disampingnya.
__ADS_1
“Hentikan omong kosongmu” Desis Philip dengan sorot amarah di matanya.
“Aku lupa ada kau disini” Tawa Rachel kembali memecah hening. “Anak muda, tolong ambilkan kertas dan pena” Pinta Rachel yang dibalas anggukan oleh Rei. Tak perlu lama ia kembali dengan secarik kertas sesuai keinginannya. “Kita buat kontrak perjanjian” Ucap Rachel membuat Philip mendelik kesal. Ia memintanya datang untuk mengembalikannya seperti semula namun sejauh ini ia tak mengubah apa apa. “Kau bermain main denganku?” amarah Philip yang terpendam kembali menguar. Rachel sama sekali tak khawatir. “Daripada bermain-main apa kau mau mendengar ceritaku?” tawar Rachel. “Cerita ini tentu saja berhubungan denganmu tuan muda Philip Anderson” Imbuh Rachel
***
Reyna kini menatap bingung pada lemari yang ia yakini ada jalan menuju bawah tanah. “Beneran mas, ada jalan kesini trus ada monster dibawah” Reyna mengacak rambutnya frustasi. “Reyna ga jatuh dari tangga utama” Kilah Reyna lagi membuat Rio memeluknya erat.
Ia menenangkan istrinya yang kebingungan. “Trus Rei mana? Rei yang kita panggil Esha itu” Tambah Reyna dikala kebingungannya. “Dia sudah mengundurkan diri untuk fokus kuliahnya”Jawab Rio menepuk pelan pundak istrinya yang gelisah.
“Terus Philip kemana selama ini? Dia kenapa jarang pulang” Pertanyaan itu membuat Rio berdehem keras. “Kau tau betapa sakitnya aku saat tahu istriku masih memikirkan mantan kekasihnya” Balas Rio tanpa kebohongan. Ia sangat mencintai istrinya saat ini. “Maaf” Hanya satu patah kata yang Reyna ucapkan tubuhnya bergetar, menangis dalam pelukannya.
“Tapi aku benar-benar tidak jatuh dari tangga utama mas” Reyne tetap pada ucapannya.
“Iya mas percaya, sekarang kita istirahat ya” Ajak Rio keluar kamar dan bergegas menuju lift yang akan membawanya ke lantai tiga. Rio menyelimuti istrinya sebatas dada. Mereka baru pulang dari rumah sakit. Penyebab Reyna pingsan karena keterkejutannya sementara kakinya keseleo karena jatuh dari tangga.
“Mas tau, Philip masa lalu adek” Ucanya sembari mengelus surai rambut istrinya agar mendapatkan kantuknya sehingga bisa tidur nyenyak. “Masa lalu memang tak bisa dipaksa untuk dilupakan, tapi mas juga punya sisi egois, adek istri mas. Jadi tolong, jangan lihat yang lain” Pinta Rio dengan nada lirihnya. Reyna merasa bersalah. “Maafin aku mas” Ucap Reyna mengeratkan pelukannya setelah mendaratkan kecupan singkat di bibirnya.
__ADS_1
“Reyna sayang mas” Ucapnya menyamankan diri pada dada bidang suaminya hingga keduanya tertidur.