
Rei mengerjap kaget dan berjalan sedikit menjauh. Ia melenggangkan kakinya menuju bibir ranjangnya. Meneguk segelas air.
"Kenapa kau menamparku" Keluh Philip mengelus pipinya yang tak sakit, membuat Rei mendengus kesal.
"Jauh-jauh dariku" Desis Rei dengan deathglarenya.
"Aku hanya bercanda" Bela Philip berhenti disudut ranjang.
"Mana ku tau itu bercanda"
"Beneran juga ga papa" Canda Philip dengan sudut bibir yang melengkung keatas. Senyun tipis.
"Aku ingin setiap hari seperti ini?" Harap Philip merasakan kedekatan dengan lawannya. Menjahilinya seperti ini, membahagiakan.
"Kau mau kutampar setiap hari?" Rei masih menyimpaj dendam pada lawannya.
"Oh ayolah, aku hanya bercanda, kau tahu itu" Kerling Philip dan duduk disampingnya.
"Tetap saja" Rei tak mau mengalah
"Aku ingin tetap bersamamu seperti ini" Ungkap Philip, penuh harap. Kali ini bukan sebuah rayuan atau candaan.
"kita bahkan sudah tiga bulan bersama" Rei tak tersanjung dengan ucapan manisnya.
"Aku suka melihatmu yang seperti ini, tapi aku tak menyukai kepribadianmu yang ini" Kritik Rei yang membuat Philip terkekeh.
"Aku tampankan?" tanya Philip mengerjapkan matanya. Rei mengangguk.
"Itu ga bisa disangkal"
"Ayo lanjutkan ,aku punya firasat bagus kali ini" Ajak Philip menghentikan pembicaraan yang hanya akan membuatnya terlena dan semakin jatuh.
"Semoga hasilnya bagus kali ini" Harap Rei dengan kecemasan yag tak bisa disingkirkan.
"Bikin Videonya dimana?"
"Disini" Jawab Rei. Ruang bawah tanah tak ada yang tahu dimana letaknya. Jadi kamar Riska menjadi pilihan.
Rei memposisikan kameranya menampilkan Philip yang duduk didepannya. Philip tak bisa menghentikan tawanya. Ia tak bisa bersikap serius setelah menghabiskan hu banyak tawa hari ini.
"Kau ke kamarku dulu" Pinta Philip
"Kenapa?"
"Aku tak bisa menahan tawa hanya dengan melihatmu" Tambah Philip membuat Rei berdecih diusir dari kamarnya sendiri.
***
Firasat baik itu membuktikan. Hari ketiga setelah itu mulai banyak pesan yang masuk untuk menanyakan kebenarannya.
Rei dengan sabar membalas pesan-pesan yang masuk sedangkan Philip mengamatinya. Ia akan mengikuti permainannya.
Kepercayaan media terhadap postingan itu semakin meningkat saat melihat balasan dari Reyna. Istri dari kakak angkat Philip. Rio memang lebih dikenal sebagai kakak angkatnya.
“Jadi semalam kau jalan-jalan kesana"
Balas Reyna. Hal itu juga membuat banyak pesan masuk di akun Reyna. Reyna yang tak tahu hal sebenarnya. Membenarkan kepada media yang mengirim pesan. Membenarkan jika itu Philip. Membenarkan jika pewaris PA Entertaiment itu masih hidup.
Berbagai berita mulai mengangkat kembali berita pewaris PA Entertaiment. Menjadi trending dan membuat suasana kantor PA Entertaiment memanas.
Headline
__ADS_1
*Kematian pewaris PA Entertaiment hanya kebohongan belaka?
Apa alasan PA Entertaiment membuat kebohongan ini?
Kematian pewaris PA Entertaiment hanya kebohongan semata*?
Rei tersenyum menang melihat semua berita yang masuk. Ia akan mencari pesan dari orang yang mungkin akan mengenal Philip. Belum ada yang menarik sampai sebuah pesan menarik perhatiannya.
Rachel Dwinata :
"Wah, kau benar masih hidup? Kukira dukun itu berbohong"
Braakk!! Sebuah pintu membuka kamarnya membuat Rei berjengit. Ayah Philip datang dengan Rio. Rei menunduk hormat.
"Cegah dia untuk masuk" Ucap pria paruh baya itu pada Rio. Rio menurut. Sampai sosok ayah Phililp itu pergi Rei merosot terduduk di ranjangnya.
"Kenapa kalian harus membuat kegaduhan?" Ucap Rio dengan nada yang asing. Terkesan dingin didalamnya.
"Aku hanya mencoba membantu Philip" Rei menunduk lesu.
"Lakukan klarifikasi, katakan semua itu bohong. Ku beri waktu tiga hari" Ucap Rio meninggalkan Rei dan menyusul ayahnya.
Rei meringkuk takut.
"Firasatnya meleset" Gumam Rei tak lama terdengar suara pekikan dari dalam. Membuat Rei tercekat. Ayah Philip keluar menatap dingin Rei yang sedang membeku.
"Pikirkan sebelum bertindak jika kau masih ingin kerja disini" Ucapnya lalu pergi begitu saja. Reyna yang hendak menuruni tangga, melihat raut serius ayah dan suaminya yang baru keluar dari kamar Rei.
Setelah mobil itu pergi Reyna berlari menghampiri kamar Rei. Langkahnya terhenti. Rei tidak sendiri. Ada orang lain didalam. Suara itu, suara yang dikenalnya. Philip Anderson. Ia menguping di depan pintu.
***
Tubuh Rey bergetar, langkahnya lunglai sampai Philip yang menghampirinya terlebih dahulu.
"A..aku mendengar teriakanmu tadi" Gagap Rei menatap Philip iba. Philip tersenyum kecil.
"Hei" Panggil Philip menyadarkan Rei sampai akhirnya tertawa lucu.
"Kau harus ingat siapa aku, aku bukan orang yang akan mati meski melompat dari lantai tiga, aku juga tak kan tenggelam meski aku hanya diam dikolam renang, pisau yang kugores juga tak menghasilkan luka" Rei mengerjap mengingat cerita Philip waktu itu.
"Lalu.. Kenapa kau teriak tadi?" tanya Rei
"Ayah mencambukku, aku hatus teriak untuk menghentikannya. Itu tidak menyakiti fisikku" Ucap Philip dengan senyum tersirat.
"Tebakanku benarkan? Aku akhirnya bertemu ayah dan mas Rio setelah sekian lama" Ucap Philip lagi.
"Sia-sia aku khawatir terhadapmu" Keluh Rei mengusap sudut matanya yang berair.
"Tadi aku melihat pesan yang menarik" Ucap Philip mengalihkan pembicaraan.
"Kau menemukannya?" tanya Rei
"Namanya tak asing untukku" Jawab Philip lagi
"Rachel Dwinata?" Tebak Rei yang dibalas anggukan. Sebuah pesan yang teringat oleh mereka.
Rachel Dwinata:
"Wah, kau benar masih hidup? Kukira dukun itu berbohong"
Dari balik pintu Reyna melangkahkan kakinya pelan. Menghampiri salah satu asisten rumah yangga disana.
__ADS_1
"Awasi kamar nona Rei, kabari aku jika pria didalam akan pulang" Ucap Reyna dan memilih untuk membaringkan diri di salah satu kamar. Dilantai dasar.
***
Rei membuka laptopnya dengan Philip disampingnya.
"Ayo balas" Pinta Philip tak sabar
Philip : Sudah lama sekali yah?
Rachel : Apa yang terjadi? Apa kutukan itu sudah hilang?
Philip : Kau yang melakukannya?
Rachel : Tentu saja, kau mempermainkanku
Philip : Kembalikan aku seperti dahulu
Rachel : Kalau begitu ayo bertemu, aku penasaran dengan nasibmu.
Philip : akan kukabari nanti untuk tempatnya
Rei dan Philip bertukar pandang, tidak mungkin. Bertemu dengan keadaan menyedihkan ini.
***
Siang itu Reyna tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya. Berbekal kunci cadangan yang di mintanya dari maid dengan dalih mengambil buku, Reyna membuka pintu kamarnya dan dibuat dengan lemari yang terbuka. Ada pintu yang terpampang jelas ada ruangan yang menyatu kesana. Rei mengulangi keteledorannya.
Reyna melangkah pelan berusaha tak mengeluarkan suara.
Tap
Tap
Tap
Reyna melangkah masuk menatap tangga. Ruangan itu cukup terang.
Tap
Tap
"Rei, kau sudah pulang?" tanya Philip menoleh dengan senyum lebarnya. Namun senyum itu luntur seketika orang yang dilihatnya, bukan orang yang ditunggunya.
"ARRGGGHHH" Pekik Reyna tertahan
GUBRAKKKK
Reyna terjerembab oleh kakinya sendiri. Membuatnya jatuh tergeling di anak tangga hingga tak sadarkan diri. Philip masih shock dengan yang terjadi didepannya.
"Bukan Rei,Bagaimana dia tahu?" Philip yang panik bergegas mengambil ponselnya. mendial masnya dengan susah payah. ia mendial menggunakan jari Reyna yang masih tak sadar diri. Jari Philip terlalu sulit untuk mengetik, kuku panjangnya terlalu menghalangi.
Tutt
Tutt
Berdering
Rio \= halo, ada apa?
Suaranya Philip tercekat. Ragu dan takut bercampur jadi satu.
__ADS_1
"Mas.. mas.. Reyna terguling dari tangga"
"Dia... Dia.. Diruanganku"