
Rei bergegas menuruni anak tangga dan menatap lampu emergency sebagai pencahayaannya. Rei berjalan berhati-hati, selangkah demi selangkah mendekat.
“Kau baik-baik saja?” Tanya Rei menepuk bahu Philip. Philip tak bergeming masih menundukan kepalanya. Rei berjongkok tepat didepannya menyejajarkan tinggi menatap sedih tuannya.
“Kenapa kau menurut saja” Ucap Rei lagi. Philip tak memiliki jawaban. Ia hanya menurut saat kakanya memberi lampu emergency. Rei mengedarkan pandangannya mengamati setiap sudut. Ruangan itu begitu kosong aja ada dua stopkontak yang terpasang di dua sisi tembok. Warna cat tembok yang gelap dan kusam. Tanpa hiasan. Pikiran Rei di kelilingi cara menyulap ruangan pengap ini. Tak ada ventilasi, tak ada lampu.
“Ruangan apa ini” Gumam Rei bermonolog saat tak menemukan jawaban dari pikirannya, Pandangan Rei beralih pada Philip yang sedang menatap kosong tembok.
“Mereka sudah pulang, Ayo naik dulu ceritakan apa yang terjadi setelah itu kita bersihkan tempat ini” Ucap Rei yang mendapat tatapan tajam dari Philip. Rei menyadari kesalahan ucapannya dan terkekeh malu.
“Aku yang membersihkan” Ralat Rei lagi dan tersenyum tipis
“Aku sudah memikirkan banyak rencana, kau bisa mempercayaiku” Ucap Rei lagi dengan segala omong kosong yang bisa membuat Philip berbinar.
“Kau memiliki solusi?” Tanya Philip
“Temani aku masak dan kita makan dulu” Ucap Rei dengan tenang. Rei tentu saja ia terkejut dan takut saat ruangan gelap ini. Ruangan yang bahkan tak pernah tersentuh. Ruangan yang sangat kosong.
“Ayo” Ajak Rei lagi yang membenci raut gelisah Philip
“Sebenarnya aku takut gelap” Ucap Philip memberitahu alasan ia hanya bisa meringkuk. Pencahayaannya tidak cukup terang.
“Kau tak benar-benar sendiri, ayo” Ajak Rei lagi yang dituruti oleh Philip. Langkahnya berat setelah ia duduk cukup lama namun kepercayaan diri yang ada pada Rei membuatnya ingin mempercayainya.
Philip kini duduk di sofa dan Rei memasak makanan dengan bahan yang dibelinya. Ia tak memasak-masakan yang berat. Ia hanya membuat kari dengan bumbu instan dengan nugget goreng. Ia hanya ingin memasak cepat sebelum hari menjadi gelap. Ia memikirkan banyak barang yang akan harus dipindahkan dan menurutnya membutuhkan banyak waktu.
“Makanlah, aku lelah sekali hari ini”Ucap Rei bersandar pada bantal sofa dan memejamkan matanya. Ia begitu lelah hanya karena berjalan.
“Apa rencanamu?” Tanya Philip sembari menyendokan nasi kedalam piringnya.
“Aku tak tahu jika ayahmu tak menyukai kau datang, harusnya kau tak berbohong padaku tadi malam” Ucap Rei lagi yang diabaikan oleh Philip. Philip menahan diri untuk tak bertanya apapun dan hanya akan makan dengan tenang. Rei mengistirahatkan matanya namun tidak dengan pikirannya.
“Kau masih menyimpan ponsel 7 tahun yang lalu?” Tanya Rei mengubah posisinya, duduk dengan tegak. Ia merasa cukup dengan istirahat sekejapnya.
“Ponselku rusak, masih kusimpan di laci kamarku” Jawab Philip
“Kau masih main social media?” Tanya Rei lagi membuat Philih berdecih sengit, Rei masih menunggu jawaban
__ADS_1
“Apa yang kau harapkan dari orang sepertiku” Ucap Philip dengan nada kesal membuat Rei berfikir apa yang salah dengan ucapannya.
“Kau masih ingat username dan passwordnya?” Tanya Rei lagi membuat Philip menggeleng.
“Aish , ya udah habisin dulu” Ucap Rei yang membuat dia memilih untuk kembali mentup matanya memikirkan ide yang lain.
“Lalu apa yang kau lakukan dengan ponselmu yang sekarang?” Tanya Rei membuat Philip menatap jari kukunya yang cukup panjang.
“Hanya melihat berita” Ucap Philip
“Kuku panjangku bisa merusak ponsel” Ucap Rei dengan seringai kecilnya
“Kau bilang kau bekerja?” Tanya Rei lagi
“Aku sedikit demi sedikit belajar yang ku bisa, Setidaknya jika aku bisa seperti dulu aku sudah punya bekal yang bisa kukuasai” Jawab Philip membuat Rei terpana dengan jawaban yang tak pernah diduganya. Selama ini ia hanya melihat Philip berdiam dikamar tanpa melakukan apapun.
“Aku tak tau sisi kerenmu yang itu” Ucap Rei membuat Philip terkekeh kecil. Philip untuk pertama kalinya mendengar pujian baik yang begitu tulus. Ia tak pernah mendengar pujian setulus ini sebelumnya.
“Apalagi yang kau pelajari?” Tanya Rei penasaran. Selama ini dimatanya Philip hanya terlihat pria yang tak memiliki kemampuan apapun, yang selalu mengurung diri dikamar karena kutukannya. Pria yang selalu murung kecuali saat bulan purnama.
“Bahasa mungkin” Ucap Philip tak yakin
“Aku mempelajari itu, tapi kau tau sendiri aku tak punya lawan bicara, aku tak yakin” Jawab Philip mengakhiri makannya.
Philip membawa piring ke wastafel dan langsung mencucinya. Melihat itu Rei langsung bergegas menghampiri.
“Itu tugasku” Ucap Rei berdecak kesal
“Apa salahnya, kau pikirkan saja rencanamu, kau bilang ingin ponselku ambil sana diatas” Ucap Philip membuat Rei tak kembali kesal. Ia bergegas menuju kamar Philip dan mencari ponselnya.yang ada dilaci.
“Hpnya ga rusak parah” Rei membolak-balikan ponsel dan menyimpanya disaku. Buku yang terpajang di nakas dekat ranjangnya mencuri perhatiannya. Ia tak begitu memperhatikannya dulu. Rei membolak-balikan bukunya yang bertuliskan bahasa inggris.
“Dia tak berbohong” Rei kembali setelah selesai dengan rasa penasarannya. Rei bergegas turun dan kembali dibuat terkejut saat makanan yang disajikanya sudah dirapikan.
“Kenapa kau baik sekali hari ini” Tanya Rei duduk di kursi ruang makan. Philip datang dengan segelas air untuk dirinya sendiri.
“Udah ketemu ponselku?” Tanya Philip
__ADS_1
“Udah, nanti mau kucharge” Rei mengayunkan ponselnya
“Rusak tapi kayanya ga parah deh” Tambah Rei tak membuat Philip penasaran
“Jadi habis ini mau gimana?” Tanya Philip
“Ah! Kita bersihkan tempat itu. Aku list dulu barang yang kudu kubeli” Ucap Rei dan membuka ponselnya.
“Lampu, roll, sapu, di cat ulang mau ga?” Tanya Rei yang begitu khawatir dengan warna tembok yang sangat kusam.
Drrrtttt drrrtttt
Sebuah pesan masuk dari Rio.
Besok mas dan istri pindah ke mansion
Rei menunjukan pesan pada Philip yang membuat Philip mengerti, ia harus segera pindah. Philip hanya mengangguk paham.
“Kukira aku masih memiliki hari esok” Ucap Philip nanar
“Berhenti mengeluh, kita sulap ruanganmu” Hibur Rei
“Kasurnya gimana ya?”Tanya Rei bingung. Kasur menjadi kebutuhan utama untuk tidur.
“Kupindahkan yang dilantai 3 ?” Tanya Philip yang dibalas gelengan oleh Rei
“Terlalu repot” Jawab Rei
“Ambil yang dilantai bawah aja” Tambahnya
“Kamarmu harus tetap ada, kau kan akan sembuh” Jawab Rei memberi harapan.
“Kuganti wall sticker aja kala gitu” Ucap Rei dengan senyum cerah. Ia puas dengan idenya. Ia akan membeli banyak bahan untukhari ini. Rei menatap Philip yang masih termenung.
“Apa yang kau pikirkan?” Tanya Rei yang membuat Philip tersadar.
Philip hanya tersenyum tipis tanpa menjawab.
__ADS_1
‘Apa yang harus kulakukan?’