
Sorot mata Xena tajam seperti mata elang, buas dan menakutkan. Ben bergedik ngeri melihat amarah dari wanita yang sudah 2bulan ini ia nikahi.
" kau.. kenapa kau menampar ku.. " bentak ben sambil tangan nya memegang pipi nya.
" kau tau, tamparan pertama karena kau tidak mengangkat telpon ku, dan tamparan kedua karena kau sudah melakukan hal yang menjijikkan di dalam tadi...!!! " tegas nya
hahhh... ternyata benar dia cemburu, hanya telpon dari nya tidak ku angkat dia bisa sebuas ini, hemm.. menggemaskan sekali kau Xena... gumam Ben dalam hati.
"hei kau..!! "... pekikan suara terdengar dari ujung ruangan besar itu, sampai suaranya menggema mengisi dalam ruangan tersebut.
" siapa kau berani menampar Ben? siapa kau berani menyuruh nya untuk mengangkat telpon dari mu dan siapa juga kau yang harus Ben patuhi hah!!!!? " tanya wanita itu dengan sejuta pertanyaan kepada Xena
" Aku istri nya... " jawab Xena dingin
" Istri sementara? dan kau bangga? seharusnya kau sadar dengan posisi mu... "
" Aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni anda nona, karena ibu dan adikku lebih penting dari pada kalian berdua. ... " Xena membalikkan tubuh nya dan mulai melangkah...
" ahh .. satu lagi, Tuan ben.. Silahkan lanjutkan lagi yang telah tertunda tadi... maaf jika aku mengganggu waktu kalian tadi,dan tidak seharusnya aku datang menjumpai anda " tambah nya lagi dan mulai berjalan menuju pintu kaca tersebut....
" Ben... lo tau kenapa dia marah seperti itu dan sampai menampar lo.? " ucap Ryan tiba tiba sambil melihat tubuh Xena yang mulai menjauh pergi.
" yang gw tau dia cemburu.. hehe " jawab ben dengan terkekeh pelan..
" honey... ayo kita lanjutkan lagi, dan jangan pedulikan wanita itu " rengek jennie , ia Bergelayut manja di lengan ben...
" Jen... cukup, bisa tidak lo diam sebentar! ini penting.. dan ben harus tau kenyataan nya. " pekik Ryan.
__ADS_1
" maksud lu apa yan? kenyataan apa..? " selidik ben
" udah lah sayang, dan yan,kenapa lo membela wanita itu yan? " bentak jennie.
"Huuhhhhff " Ryan membuang nafas nya dengan kasar. " Ben, Mama lu dan risa kecelakaan, Xena datang kemari ingin memberitahukan lu secara langsung , karena telpon lu , gak lu angkat! dan sampai disini ia malah melihat kenyataan elu bermesraan dengan jennie..!!! dan yang parah nya elu bilang dia cemburu? dia marah karena sikap lu yang tidak ada di saat situasi seperti ini " terang Ryan dengan suara lantang.
DEG......
" A... apa... kecelakaan? " bagai petir di siang bolong yang sudah menghantam keras tubuh nya siang itu.
Otot-otot tubuh nya melemah, mata nya berkaca kaca... Ben melepas cengkraman tangan jen yang ada di lengan nya.
" Dimana mama dan risa sekarang.. "
" Di RS X, Risa kritis lo harus segera kesana ben.. " ucap Ryan
Ben langsung berlari kecil menuju parkiran yang di ikuti oleh Ryan di belakang nya. Meninggal kan jennie di sana sendirian, Sementara jennie wajah nya kesal karena di tinggal oleh ben tanpa pamit.
" oke, permainan sudah kita mulai, sekali mendayung 2 3 pulau terlewati dan kali ini kau pasti tidak akan selamat anak pungut! aku telah gagal sekali Tuhan ternyata masih sayang kepada mu.. tapi kali ini malaikat maut membantuku " ucap nya pelan dan senyuman tersungging di bibir nya.
........
Ben berjalan menuju UGD ia mencari sosok adik nya dan mama nya . namun ia tak menemukan nya. Lalu dr. haris datang melewati ben yang saat itu sedang frustasi.
" Tuan ben.. " sapa dr. haris
Ben menoleh, dan ia dapati dr. haris sedang berada tepat di depan nya.
__ADS_1
" dok.. dimana adik dan orang tua ku.. " tanya ben ke dr. haris dengan tangan nya memegang kedua bahu dr. haris.
" Risa sedang dalam ruangan operasi bersama dr. Xena dan para dokter lainnya, " ucap dr haris
" lalu bagaimana dengan ibu ku dok . "
tanya nya kembali dengan mata yang sudah berkaca kaca...
" Nyonya Rita meninggal di tempat Tuan ben.. dan jenazah nya sedang di bersihkan oleh pihak RS. "
Seketika tubuh nya melemas, dada nya terasa begitu sesak. Ben hampir tersungkur ke depan dan dengan sigap Ryan memegang nya.
Sosok perempuan yang sangat ia sayangi, yang telah melahirkan nya dan dari kecil sudah menjaga nya harus begitu cepat meninggal kan nya di dunia ini. Belum sempat rasanya ia membalas jasa mama nya, belum sempat mama nya menimang cucu dari anak ben, tapi ia sudah pergi meninggalkan ben selama lamanya.
" Ben... lu yang sabar.. duduk lah.. " seraya menuntun tubuh ben keluar dari ruang UGD dan membawa nya ke kursi tunggu di depan UGD.
Ben hanya tertunduk lesu, air mata nya menetes menerima kenyataan pahit ini.
" Ben lu harus kuat demi Risa yang sedang berjuang di dalam sana.. " suara Ryan menyemangati ben. Ia tahu benar jika ben saat ini sedang terpuruk, perasaan nya hancur dan jiwa nya goyah.
.
.
.
__ADS_1
.
.