
Bel tanda berakhirnya kegiatan belajar mengajar berbunyi, semua menyiapkan diri masing-masing untuk mengikuti ekstrakurikuler pencak silat. Namun semua siswa dibuat kecewa karena ternyata kegiatan ekstrakurikuler diliburkan. Walaupun begitu, Naila, Della dan Leo memanfaatkan waktu itu untuk mengerjakan tugas kelompoknya bersama Dern.
"Nai, kita ngerjain tugas kelompoknya sekarang aja gimana? " usul Della
"Setuju tuh, yuk kita sampein ke Leo ama si es batu itu"
"Es batu? Naila kita itu mau ngerjain tugas bukan mau makan makan, kenapa harus pake es batu emang mau bikin minuman apah? "
"Iihh au ah cape ngomong sama lo" sambil berjalan mendahului Della
"Iih Nai! Nai! tungguin iiih"
Della terus mengejar Naila. Sampai Naila menghentikan langkahnya di depan kelas. Saat itu hampir semua kelas sudah kosong tak berpenghuni.
"Nai! lo tu.... " belum selesai Della berbicara langsung terpotong oleh Naila
"Liat tuh"sambil menunjuk ke arah Dern yang tampak sedang membereskan barang barangnya
" Emang kenapa? "tanya Della dengan herannya
" Lo liat aja, entah kenapa gua rasa dia itu kaya nyembunyiin sesuatu gitu"
"Perasaan lo aja kali Nai"
Dorr....
"Leo! apaan sih"
"Aelah lo sensi amat si Del... eh kalian lagi ngapain si,, ooh gua tau kalian pasti ngintipin Dern yah"
"Iih apaan si, udah ayok"
"Kemana? "tanya Leo
"Ke kuburan! mau gua kubur lo idup idup"
"Sadis amat Nai"
"Makanya udah ayok"
"Ya kemana? "
"Lo pikun apa gimana si, kita kan mau ngerjain tugas kelompok"
"Oiya yah, ya udah deh ayok"
Mereka mendekati Dern, menyadari akan hal itu Dern langsung menutup tasnya.
"Dern ayok kita kerumah Naila"
"Heeemm?? "ucap Dern sambil mengernyit
"Lo lupa yah, kita kan mau ngerjain tugas kelompok di rumahnya Naila"
Tanpa berkata kata Dern langsung mengambil tasnya dan bangkit dari tempat duduknya.
"Eh tapi kita naik taxi aja yah biar cepet" usul Della
"Lah tapi kan cuma muat maksimal tiga orang, sedangkan kita empat orang"ujar Leo
" Kalian tenang aja aku bakal bawa motor sendiri "
"Jadi lo bawa motor sendiri Dern? gua ikut lo aja yah" ucap Leo dengan memelas
"Iya udah ga papa"
"Kita ketemu di gang 3"
Sampai di gang 3 Dern meminta Loe untuk menunggunya mengambil motor. Dern sengaja melakukan itu agar Leo tidak melihat baju penyamaran yang ada di sebuah ruko yang ada di gang tersebut. Naila dan Della pun sudah bersama Leo untuk menunggu Dern. Tidak menunggu lama Dern kembali dengan motor hitam yang dipenuhi dengan teknologi agen di dalamnya. Dern mengikuti taxi yang ditumpangi Naila dan Della menuju ke rumah Naila. Selang beberapa waktu mereka pun sampai di rumah Naila. Karena mendengar suara kendaraan, ibu Naila segera keluar dan melihat siapa yang datang.
"Eeh Nai,, kamu sudah pulang nak"
"Sudah bu"
"Kalian mau kerja kelompok ya? "
"Iya bu"
"Eh bu"Leo yang baru datang
"Eh nak Leo, mau kerja kelompok juga? "
"Iya bu, boleh kan? "
"Ya boleh donk. Yaudah Nai kami ajak teman kamu masuk, ibu kedalem dulu"
__ADS_1
"Iya bu, yuk kita masuk"
"Eh tunggu Nai, nunggu si Dern dulu"
tiba tiba Dern sudah ada di belakang Leo
"Ekhem" Dern berdehem
"Nah itu si es batu, yuk kita masuk"
"Untuk bukan rumahku, kalau rumahku udah aku lakban tuh mulut" Dern bergumam
"Eh Dern ayok, malah diem diem bae"
"Hem" nada malas
Merekapun mengerjakan tugas
"Tinggal sedikit lagi" ucap Leo
"Loh Dern lo udah selesai" sambungnya
"Udah"sambil merapikan peralatan tulisnya
" Gua liat punya lo yah, please "
"Yh kalo mau liat, liat aja"
"Makasih, sahabatku yang paaaaliiiiing ganteng sedunia"
Ditengah perbincangan mereka, Ibu naila datang membawa minum dengan cemilan.
"Nah ini makanannya, maaf yah ibu cuma bisa ngasih kalian ini"
"Gapapa kok bu, ini juga kita makasih banget dan maaf karena udah ngrepotin"
"Enggak ngrepotin kok"
Saat ibu Naila akan kembali kedapur, tidak sengaja pandangannya tertuju pada Dern.
"Loh itu"
"Iya bu itu es bat,, eh maksudnya namanya Dern dia itu anak pindahan jadi belum pernah ibu lihat" mendengar namanya di sebut Dern mendongakkan wajahnya dan yang ia lihat adalah wanita yang ia tolong sebelumnya
"Eh tante, tante kan yang tadi pagi kan? " ucap Dern dengan ramah disertai senyum sabit bibir merahnya, berbeda jauh dengan Dern yang dingin seperti biasanya
" Sama sama tante. Sebenarnya saya memang tinggal di daerah sini, tapi saya sering berpindah pindah mengikuti papah saya"
"Leo, tu si es batu kok kayaknya deket banget ama ibu gua ya. Lo pernah ga ngomong seakrab itu sama Dern? "
"Lo liat sendiri kan kalo gua lagi ngomong ama Dern. Lagian gua juga heran deh kok bisa ya nyokap lo seakrab itu sama Dern"
"Tuh anak emang misterius banget"
ucap mereka berbisik
Saat Dern dan ibu Naila sedang larut dalam pembicaraannya, tiba tiba ada seorang lelaki yang masuk.
"Eh ada apa ini kok rame rame gini, apa lagi pada arisan? "
"Bapak udah pulang, ini aku lagi ngerjain tugas kelompok bareng sama teman teman"jawab Naila
" Bapak sini pak duduk dulu"
"Iya bu. Oya kok kayaknya seru banget ngobrolnya"
"Ini pak, ibu lagi ngobrol sama temen baru Naila"
"Yang mana satu nih bu? "
"Ini si Dern namanya"
"Sore om" sapa Dern sambil memperlihatkan senyum manis yang mengembang
"Loh,ini beneran...jadi tuan muda adalah temen anak saya Naila. Maaf tuan muda, kalau kami kurang dalam sambutan"
"Bapak kok panggil Dern tuan muda, dan jadi bapak kenal dengan Dern? "tanya ibu Naila
"Iya Pak, kok bapak panggil Dern tuan muda" sela Naila
begitu juga dengan Della dan Leo bahkan Dern sendiri bertanya tanya mengapa bapak dari Naila mengenalnya.
"Kalau boleh tau, sebenarnya om itu siapa yah? "
"Saya Sarakan tuan, saya dulu pernah bekerja pada pak Rico yang tidak lain adalah ayah dari tuan muda Dern sendiri. Mungkin tuan muda lupa, karena saya sudah berhenti beberapa tahun setelah ada,,, mmmm,,, "
__ADS_1
"Iyah saya tau, pasti maksud om saat itu yah"ucap Dern dengan wajah murung, senyum sabitnya seketika itu menghilang
" Maaf tuan muda bukan maksud saya untuk,,,"
"Iyah, saya paham. Mungkin lebih baik om panggil saya dengan nama saya saja, karena sekarangkan om sudah tidak bekerja pada ayah saya"ucap Dern sambil menampakkan kembali senyum sabit manisnya itu
" Jadi bapak pernah bekerja pada ayah nak Dern? "
"Iya bu, tapi itu sudah lama. Bapak bahkan berhenti kerja saat Dern masih kecil"
"Ooh jadi gitu" ucap Naila Della dan Leo secara serentak
"Kompak bener" ujar Sarakan
"Oya om Sarakan, saat ini om bekerja dimana?"
"Om bekerja sebagai pedagang di pasar, yah walaupun hasilnya tidak sebanyak saat om bekerja pada ayah kamu tapi setidaknya bisa untuk keperluan sehari-hari dan biaya sekolah anak om Naila"
"Apakah om berminat bekerja sama kembali dengan ayah saya? yh mungkin ayah saya sedang membutuhkan"lontaran pertanyaan itu sontak membuat Sira(ibu Naila) dan Sarakan terkejut
"Ap ap apa kamu serius? "
"Iya saya serius"
"Kalau begitu saya minta waktu untuk mempertimbangkannya"
"Baiklah kalau begitu. Ini om kartu nama saya, jadi nanti om bisa menghubungi saya"
"Terima kasih Dern"
"Sama sama om. Kalau begitu saya pamit pulang dulu karena ada urusan "
"Iya,,hati hati dan semoga urusanmu cepat terselesaikan"
"Terimakasih om, ayok" sambil beranjak mengajak Leo
"Hah? "
"Kamu ga mau pulang atau mau aku tinggal"
"Eh iya, yaudah kalau gitu kita pulang pak bu. Permisi"
Mereka menuju motor Dern dan bergegas pulang. Pertama Dern menuju ke rumah Leo untuk mengantarkannya pulang.
"Dern, makasih ya"
"Iya"
"Lo ga mau singgah dulu"
"Ga makasih"
"Yaudah gua duluan yah"
"Tunggu"
"Apaan, masih kangen ya. cieeee..... "
"Apaan si, gua manggil lo tu karena,,, "
"Jiah Dern usah bisa ngomong lo gua ni ye"
"It.... "
"Iya gua tau kok lo itu ga mau pisah ama gua kan, udah ngaku aja. Sadar deh lo Dern kita itu sama sama cowok"
"Paan si. Mending lo tu yang sadar, helm gua itu masih lo pake! "geram Dern
"Eh Oya, maaf Dern. Jan ngegas kali, santai. Nih gua kembaliin"
"Dern lo tau ga? "
"Ga"
"Dengerin dulu. Gua lebih suka kalo lo pake logat lo gue, biar jaman now dikit"
"Serah" Dern pun langsung pergi
Sekarang adalah waktunya beraksi, untuk mencari informasi keberadaan markas pusat komplotan penjahat yang sedang menjadi incarannya. Saat sedang di tengah perjalanan Dern mendapat telepon dari Rico.
"Loh pah kok dibatalkan, bukannya sudah mendesak"
"Yasudah, Dern pulang" Dern memasukkan handphonenya kembali ke sakunya dan segera pulang
'kenapa yah kok papah malah suruh aku pulang, padahal kan ini udah mendesak dan informasi markas pusat mereka belum sedikitpun tercolek'batinnya bertanya tanya
__ADS_1
*) Jangan tinggalkan lupa like and coment