
Tak...tak...tak...
Suara langkah kaki terburu-buru berasal dari tangga mengalihkan pandangan tiga orang yang sedang menikmati sarapan bersama di meja makan. Mereka adalah Rico Rose dan Iki, yang Dern anggap sebagai keluarga baru papahnya. Sedangkan yang sedang menjadi pusat perhatian adalah Eric. Cih! Yang benar saja. Apakah Rico sama sekali tidak menyadari ketidakhadiran pangerannya. Pangeran yang beberapa waktu belakangan ini seperti di jadikan sampah. Bahkan bagi Eric yang notabene nya bukan siapa-siapa bagi Dern sangat mencemaskannya saat Dern tidak ada di sampingnya.
"Eric? Kemana Dern dengan Sherly?, "
Pertanyaan yang dilontarkan Rico mengalihkan perhatian Eric sejenak dari nampan yang berisi sup dan minum untuk Dern sarapan.
"Kenapa kau malah menanyakannya padaku? Kenapa tidak mengeceknya secara langsung? Oh, aku lupa kalau ada keluarga yang sedang berbahagia disini. Pantas saja, " Eric hendak kembali melangkahkan kakinya menuju kamar Dern sebelum suara Rico kembali menghentikannya
"Eric! Tolong jangan pancing emosiku saat ini. Aku cuma tanya dimana Dern, kamu ngga usah sampai nyindir kita. " Eric menggeram kemudian membalikkan badan dan menatap meremehkan tiga makhluk yang ada dihadapannya.
"Kamu bilang cuman? Oh Ya Tuhan apakah temanku yang satu ini sudah buta? Atau amnesia?, "
"Eric!!, "
"Apa?, " Tanyanya santai, "Apa kamu liat semalam Dern makan?, " Eric menjeda, "Engga kan? Dia belum makan dari semalem dan tadi pagi aku sama Sherly liat dia kena hipotermia karena kedinginan pagi-pagi buta udah di balkon! Sekarang bahkan kamu ngga liat kan Dern sarapan bareng? Terus kamu ngga ada inisiatif gitu samperin ke kamar dan cek keadaannya?! Please Ric! Please, kamu boleh bahagia tapi kamu jangan egois sampai terlena!! , " Eric meninggalkan keheningan bersama Rico beserta keluarga barunya.
"Maaf mas,, gara-gara aku hubungan kamu sama anak dan teman-teman kamu jadi rusak... Apa kita berhenti aja mas? Apa anak kamu bisa terima aku jadi ibu sambungnya?,"
__ADS_1
Kata Rose dengan raut muka sedih
"Dern juga kayaknya ngga suka sama Iki pah,, apa Dern mau terima Iki jadi kakaknya?, " Timpal Iki sambil menundukkan kepalanya.
"Kalian ngga usah pikirin itu, Dern cuma butuh waktu kok. Nanti papah akan coba bicarain sama Dern, " Jawab Rico sambil mendudukkan diri di kursinya kembali.
"Udah kita selesein sarapannya lagi ya? Ayok Iki habisin makananmu," Dengan perkataan Rico barusan, acara sarapan yang tertunda kembali berjalan dengan tenang namun tidak menghilangkan kehangatan.
Lain halnya dengan suasana di kamar Dern. Suasananya sedikit tegang saat Eric yang datang seperti sedang kesal atau lebih tepatnya marah. Dern segera makan dan minum obat sesuai perintah Sherly. Dern sebenarnya ingin mengajukan pertanyaan, tapi Sherly lah yang lebih dahulu mengajukannya.
"Kenapa kau?, " Raut wajahnya menggambarkan keheranan
"Ngga. Gimana sama keadaan Dern?, "
Sherly menjelaskan dengan singkat namun dapat dipahami. Eric hanya mengangguk tanda memahami.
"Om kesal sama tante Rosa kan?, " Dern menghela nafas lelah sesaat setelah Eric menganggukkan kepalanya.
"Dern rasa akan ada sesuatu yang buru terjadi. Beberapa hari ini perasaan Dern juga ngga tenang. Sekarang papah malah berhubungan sama wanita yang kurang jelas asal-usul nya, apa om tante tau identitas lengkap dari tante Rosa dan Iki?," Eric diam saja sementara Sherly menggeleng
__ADS_1
"Om tante, apa kasus BT benar-benar sudah ditutup? Apa bener mereka sudah pasif?, " Sherly dan Eric sempat tertegun dengan pertanyaan Dern tapi Sherly kemudian menjelaskan,
"Beberapa hari yang lalu sudah ditutup. Mereka seperti hilang ditelan bumi. Jadi kami putuskan untuk beralih misi dan meninggalkan yang ini. Kenapa Dern?, " Jujur saja Sherly dan Eric agak takut saat Dern menanyakan perihal ini.
"Emh,, engga. Dern pikir kalo mamah memang udah berubah baik, mungkin Dern akan pertimbangkan untuk tinggal bersamanya. Dulu Dern pengin papah bersatu sama mamah, tapi mungkin Dern yang terlalu egois atau permintaan Dern yang terlalu sulit untuk papah. Jadi sekarang itu akan mustahil dengan adanya pendamping baru buat papah. Dern lebih milih tinggal sama mamah atau jadi gelandangan sekalian daripada sama mereka, " Tutur Dern dengan senyum paksanya.
"A-ah kamu ngga usah pikirin itu dulu ya Dern, kan kamu masih sakit lebih baik kalo kamu istirahat. Kamu ngga boleh banyak pikiran, " Sherly kaget lah denger Dern ngomong ngaco kek gitu. Apalagi Eric, langsung kicep dah tu.
"Iya Dern paham kok. Dern cuma minta sama om tante. Tolong jangan tinggalin Dern yah?. Sekarang papah udah ngga jauh dari jangkauan Dern. Dern cuma punya kalian dan teman-teman Dern. Kalo kalian pergi, siapa yang bakal nemenin Dern. Tolong jangan kecewain Dern. Ini suara dari hati Dern, bukan little agen yang kalian banggakan. Cuma itu permintaan Dern. Maaf kalo selama ini Dern selalu nyusahin kalian dan ngga bisa bikin bangga kalian. Terima kasih untuk semuanya, " Setelah itu Dern membaringkan tubuhnya pada posisi yang nyaman
"Kenapa kau berbicara seolah akan berpisah dengan kami semua. Om pasti akan selalu ada bersama Dern. Dan-- Dern kamu itu kebanggaan kami semua. Little agen kami. Penerus Golden Wolf, "
Karna tidak ada jawaban mereka pikir Dern sudah tertidur dan memutuskan untuk meninggalkan kamar Dern agar penghuninya dapat beristirahat dengan tenang. Tidak lupa dengan nampan berisi mangkuk yang ikut serta terbawa juga. Tanpa sadari mereka saat ini Dern sedang tersenyum perih.
"Ternyata kalian memang hanya senang dengan little agen mereka. Jadi,, Dern berhenti berharap pada mereka, "
Gumaman yang sangat lirih dan sendu. Lalu alam mimpi menariknya untuk masuk menyelam.
__________
__ADS_1
Hari yang cerah. Tetapi tidak secerah hati Dern. Harinya tampak murung. Kuda besinya ia pacu diatas kecepatan rata-rata. Tidak peduli jika harus mengorbankan nyawa. Toh memang itu yang ia inginkan. Tidak lupa dengan penyamarannya. Sekarang Dern sudah tidak menggunakan alat apapun yang berkaitan dengan profesi sesungguhnya. Itu keinginannya, tanpa persetujuan dari ayahnya. Dia hanya ingin menjalani kehidupannya sebagai Dern, bukan sebagai Little Agent.
Sampai di ruko tempat penyimpanan motor dan alat penyamarannya. Ia menghela nafas. Mungkin mencopot lencana agen akan lebih baik, akan lebih bebas. Itulah isi pikiran Dern. Ruko itu sudah dikosongkan dari benda-benda berbau ke-agen-an. Jika pemikiran Dern tidak meleset, ayahnya ini sebenarnya sedang melepasnya dari lingkaran kepemimpinan ayahnya secara halus. Dengan alasan cantik yaitu sebuah hukuman. Entah sudah berapa kali dia menghela nafas lelah. Sekarang dia berjalan menyusuri trotoar menuju ke sekolah.