
Sore itu Rico, Lily, Sherly, Sam, dan Eric mengadakan pertemuan rahasia di markas M2. Alasannya sudah jelas bahwa mereka tidak ingin ada orang tahu informasi yang sangat rahasia termasuk Dern.
"Jadi bagaimana ini Ric? apa kita harus diam saya? "
"Sabarlah Sam,segala sesuatu harus dipikirkan terlebih dahulu"
"Tapi Rico, kalau kita terus melakukan pengintaian ini percuma saja karena mereka semua pasti sudah dipasangi alat pengintai jarak jauh"
"Iya yang dikatakan Lily benar Rico" ujar Sam
"Bukankah alat itu dikendalikan oleh seseorang? " tanya Rico
"Iya, alat itu memang dikendalikan oleh seseorang. Hanya saja kami belum tau siapa yang mengendalikan alat itu" tanggap Lily
"Kalau alat itu dikendalikan, tentu orang yang mengendalikan adalah orang yang menjadi pimpinan mereka"
"Itulah yang ku maksud, ternyata pemikiran kita sama Eric" ujar Rico
"Hm jadi kita hanya perlu mengambil alih kendali itu? "
"Tepat sekali Sher"
"Tapi siapa yang memegang kendali? " tanya Sam
"Bukankah ini sudah jelas kalau orang yang memegang kendali adalah bos besar mereka, Anggun" tukas Rico
"Sekarang kita pikirkan strategi untuk melancarkan rencana ini" lanjutnya
"Aku punya rencananya" ucap Eric dengannya
"Apa itu" tanya Sherly
"Rico? " panggil Eric
"Ada apa? "
"Aku dengar beberapa waktu yang lalu Dern mendapatkan teror"
"Dan dibalik teror itu adalah Anggun bukan? "
"Bagaimana kau tau? "
"Dari Sam"
"Nah kita manfaatkan kesempatan ini" sambung Eric
"Apa maksudmu? " tanya Sam
Eric pun menyampaikan strateginya.
__ADS_1
"APA!! apa kau bercanda hah! "
"Tenanglah Rico, keputusan ada ditangamu ini hanya usulan dariku" jelas Eric
"Baiklah maaf"
"Rico sebaiknya kau pikirkan terlebih dahulu dampak yang akan terjadi, agar kau tak menyesal nanti"
"Baiklah Sherly"
Hari mulai petang, mereka memutuskan untuk mengakhiri pertemuannya.
Sedangkan Dern masih dalam perjalanan pulang. Namun ternyata di tengah perjalanannya, ia mendapat gangguan dipikirannya.
"Bagaimana ini, apa aku cerita sama papah soal tadi"
"Tapi gimana kalau nanti papah malah marah"
"Duh pusing kalo mikirin itu"
Dern pun menepikan motornya dan rehat sejenak. Pikiran Dern kacau memikirkan kejadian di sebrang jalan gang. Melihat ada danau, Dern mendekatinya dan merebahkan tubuh penatnya di rerumputan hijau sekitar danau. Suasana sore hari dengan angin sepoi-sepoi membelai kulit Dern, membuat dirinya nyaman dan rileks. Ketika sedang memejamkan matanya, Dern mendengar ada benda jatuh tepat didanau. Suara itu membuat Dern bangkit dari posisi rebahan menjadi duduk dan mencari sumber suara itu. Terlihat wanita yang sudah jauh, karena penasaran Dern mencoba mengikutinya. Tapi rasanya usaha Dern sia sia karena wanita itu sudah menaiki mobilnya dan pergi.
"Yaudah lah udah jauh juga, "
"Tapi siapa sih dia, atau jangan jangan? "
Saat Dern hendak melanjutkan langkah, dan
Dern terpeleset dan jatuh.
"Nih apa lagi, " tukas Dern kesal
Saat Dern melihat ke arah kakinya, ia melihat sesuatu. Kemudian Dern mengambilnya.
"Loh ini, inikan fotoku, "
"Kenapa bisa ada disini yah? "
"Apa wanita tadi? "
"Tapi ini kok kelipat yah? "
Dern membuka lipatan itu, dan dilihatnya seorang wanita cantik yang tersenyum manis.
"Mamah....? " tak terasa air mata jatuh ke foto tersebut
Tanpa pikir panjang Dern memasukkannya kedalam saku jaket dan bergegas pergi meninggalkan beranjak dari tempatnya.
Dirumah Rico tengah gusar memikirkan strategi yang diusulkan oleh Eric. Suara motor memasuki area halaman rumah. Tentu saya itu adalah suara motor Dern.
__ADS_1
Selang beberapa menit kemudian Dern membuka pintu rumah beras nan mewahnya. Ia langsung menuju Rico yang tengah duduk di sofa dengan wajah masam. Rico yang dari tadi gusar menatap heran putranya itu, membuat dirinya berusaha untuk terlihat biasa saja.
"Sudah pulang Dern? " tanya Rico, namun hanya terbalas anggukan kepala dari Dern
"Kamu kenapa sih? sini duduk, cerita sama papah, " pinta Rico dan Dern mengiyakannya
"Huft,,,, pah? "
"Iya Dern, ada apa? "
"Tadi,, tadi Dern liat.... " terpotong
"Hallo Dern" sapa Eric
"Eh om,,," kembali menekuk wajahnya
"Eric? "
"Iyah, maaf yah kalo mengganggu" ucap Sam lalu duduk di samping Dern
"Kenapa nih? " tanyanya
"Dern? bukannya tadi mau cerita? "
"Mm iya pah. Tadi Dern,,,, Dern liat,,,,liat mamah" kemudian tertunduk
Rico membelalakkan matanya dan menatap Eric, begitu juga dengan Eric.
"Pah? apa Dern bakal dipisah sama papah? "
"Dern, dengerin papah yah. Walaupun nanti mamah ambil kamu dari papah, papah bakal terus berusaha untuk bisa sama sama kamu lagi"
Rico menjelaskan pelan pelan pada Dern agar mengerti, sedangkan Eric hanya bungkam.
"Kenapa papah sama mamah ga bersatu aja, kan kita bisa bareng bareng lagi"
"Dern, untuk saat ini papah ga mau bahas ini lagi. Kamu masuk kamar terus istirahat"
"Tapi pah, kenap..... "
"Dern, papah bilang kamu masuk ke kamar sekarang. Jangan paksa buat papah bertindak kasar sama kamu" ucap Rico menaikan nada bicaranya
"Terserah papah aja lah" kemudian menaiki tangga menuju kamarnya yang ada dilantai dua
"Rico, kamu ngga seharusnya kamu marah sama Dern. Dern itu juga ingin seperti anak yang lain. Mendapatkan kasih sayang penuh dari kedua orang tuanya. Kamu juga harus mengerti posisinya, apalagi kamu adalah ketua para agen. Jarang sekali kamu menghabiskan waktu bersama Dern bukan? " jelas Eric panjang lebar, Rico terlihat memikirkan perkataan Eric yang tentu saja sangat tepat
Dikamarnya, Dern terus memandangi foto yang tadi ia temukan didaerah sekitar danau. Perasaan sedih, rindu, kesal, kecewa, dan bahagia tercampur aduk dalam hatinya. Ia sadar bahwa orang tuanya sulit untuk bersatu kembali, bahkan bisa dikatakan hampir mustahil. Mereka sudah jelas jelas berbeda, jika Rico adalah seorang agen yang berjuang di jalan yang benar. Namun Anggun adalah seorang penjahat, berjalan di jalan yang salah. Tapi dirinya tak bisa menepis keinginannya untuk bisa menjadi seperti anak pada umumnya, mendapatkan kasih sayang penuh dari orang tuanya. Rasanya berkumpul bersama orang tersayang adalah mimpi yang jauh dari harapan.
Ternyata sama halnya seperti yang dirasakan Refan saat ini. Berbeda dengan Dern yang masih memiliki kesempatan, Refan hanya bisa meratapi kehidupannya yang sudah hancur. Meskipun masih ada om yang menyayanginya seperti anaknya sendiri, tapi Refan seringkali rindu belaian seorang ibu. Mimpi untuk berkumpul bersama kembali dan menjadi sebuah keluarga yang harmonis, ia kubur dalam dalam impian itu.
__ADS_1
Mereka berdua, Dern dan Refan. Meski jalan mereka berbeda, namun nasib mereka berada di satu titik yang sama. Takdir mereka membuat mereka mengalami kehidupan yang sulit. Berbeda dengan anak sebayanya yang bisa menghabiskan waktu bersama keluarga, mereka justru selalu menempuh jalan yang berbahaya. Seakan tak perduli dengan nyawa.
*) Jangan lupa tinggalkan like, comen, and vote. Krisan juga saya tunggu. Terimakasih