
"Dern,,, sekarang gua mau lo jujur sama kita kita. Lo tuh sebenarnya kenapa si? "
"Iya pertama gua liat lo diserempet mobil sama orang ngga jelas, sekarang malah dikejar kejar sama orang yang ngga jelas" ucap Della heran
Dern menutup botol yang sudah ditenggaknya air didalam botol itu, lalu mengenakan kembali jasnya yang sudah basah kuyup. Kemudian menatap kosong danau yang ada dihadapannya. Dern tampak sangat letih, wajahnya pun mulai pucat.
"Heh es batu,, kalo ada yang nanya dijawab napa? ooh atau jangan jangan lo itu orang jahat yah? " celetuk Naila
"Nai,, jaga bicara lo! Dern itu lagi kesusahan, jangan tambahin beban dia donk. Pake ngatain orang jahat segala" ketus Leo
"Kalian akan tau semuanya,, tapi sekarang bukan waktunya" jelas Dern masih menatap kosong danau yang ada dihadapannya
"Terus sekarang gimana? mau aku anterin pulang? mau yah? " Leo menawarkan
"Ngga usah Leo, aku lagi males pulang. Makasih buat bantuannya dan kalian juga" sambil menatap teman-temannya
"Emang kenapa lo ngga mau pulang? "
"Ngga papa, lagi males ajah" jawab Dern enteng
"Terus lo mau kemana lagi? mau ngapain? apa lo mau disini terus sampe kakek kakek" celetuk Naila
"Ngga tau deh, mungkin ke apartemen buat sementara waktu"
"Yang ben..... " ucap Leo terpotong
"Eh itu apa yah,, lihat deh" ucap Della sambil menunjukkan kearah suatu benda yang tergeletak
"Iya yah, itu apa? , gua ambil deh" Naila pun menuju barang tersebut
Dern kemudian mengarahkan pandangannya ke arah benda itu. Dern terkejut, karena yang dilihatnya adalah benda miliknya.
Disisi lain Eric masih berusaha menelfon Dern. Karena kesal tidak mendapat jawaban, Eric membanting Handphonenya ke jok sampingnya. Saat melewati danau, ia melihat ada beberapa anak. Eric melihat anak yang memiliki porsi tubuh seperti Dern dan baju yang dikenakannya pun sama. Karena penasaran Eric pun menghentikan mobilnya.
"Eh ini kok kaya ID card yah"
'Gawat itukan ID card agen ku,, duh bisa gawat nih kalo mereka baca'
"O iya,, coba baca Nai"
"Iya iya sabar, aku bersihin dulu rumputnya"
Saat Naila akan membacanya..
Brak...
"Eh es batu kembaliin ngga?!! "
"Ngga"
"Dern kembaliin donk kan kita mau baca, nanti kita balikin ke orangnya" bujuk Della
"Ngga perlu ini milik aku kok"
"Sinih coba gua liat" paksa Naila
"Ngga boleh, bukan apa apa kok" Dern memasukkan ke kantong dalam jasnya
"Emang kenapa si,, kalo bukan apa apa ya boleh donk kita liat"
"Udah donk Nai.. biarin aja. Mungkin ini privasi Dern, jadi jangan di paksain Dernnya. Kamu juga Dern sebenarnya itu kartu apa sih?" sela Leo
"Ini,,,, ini,,, ini kartu.... "
"Dern!!! " panggil seseorang sambil berlari kecil menghampiri Dern
__ADS_1
"Om Eric kok bisa ada disini yah" gumam Dern lalu memasukkan tangan kanannya kedalam saku celana untuk menyembunyikan lukanya
"Dern kamu kemana aja si? om nyariin tau ngga? terus kenapa wajah kamu pucat banget, kamu sakit? "
"Om tadi itu..... "
"Dern cuma lagi pengin jalan sendiri aja" jawab Dern memotong perkataan Leo
"Beneran? "
"Iya om Dern beneran" jawab Dern meyakinkan Eric
"Ya udah kita pulang yuk"
"Engga deh om"
"Kenapa? "
"Om? " panggil Naila
"Iya"
"Mending es batu eh maksudnya Dern dibawa ke rumah sakit aja deh"
"Rumah sakit? " tanya Eric heran kemudian menatap Dern
"Engga om, Dern mau ke apartemen aja"
"Engga, maksud temen kamu tadi apa, kok rumah sakit? "
"Udahlah om, om ngga usah dengerin mereka"
"Ngga Dern. Kamu jawab jujur pertanyaan om. Kamu itu kenapa?" tanya Eric sambil memegang kedua lengan Dern
"Loh Dern? kamu kenapa Dern? Hah!,,, apa ini darah? " tanya Eric melihat tangannya terkena cairan warna merah setelah memegang lengan kanan Dern
"Ini apa Dern? gimana bisa kamu,,,, yaudah kita pulang sekarang aja yah ayok" ajak Eric
"Engga om, mending om duluan ajah" Dern menolak
"Ngga kita pulang sekarang! Dern harus nurut sama om"
"Engga om,, kalau om tetep maksa Dern, Dern ngga akan pernah pulang lagi" Dern pun berbalik
"Tapi,,,, "
Brukkk....
Dern pingsan namun Eric berhasil menangkapnya.
"DERN!!! " teriak semua orang yang ada disitu
"Dern?! bangun Dern?! om mohon bangun"
"Dern bangun,, jangan tinggalin gua Dern"
"Eh Leo jangan sembarangan kalo bicara"
"Dasar es batu! kepala batu! suruh ke rumah sakit aja ngga mau.. Bangun napa woy"
"Nai! yang bener donk lo! bukannya bantuin nyadarin malah ngatain" gertak Leo
"Udah udah jangan berantem kalian,, mending kalian pulang aja yah. Ini udah mulai gelap ntar orang tua kalian nyariin gimana? kalian pulang yah"
"Ngga om,, Leo mau terus nemenin Dern"
__ADS_1
"Iya Della juga om"
"Udah kalian pulang aja yah,, om juga bakal bawa Dern pulang"
"Udah deh kita pulang aja,, lagian es batu juga bakal dibawa pulang noh"
Eric pun segera membawa Dern pulang.
"Nai! lo tu bener bener kelewatan! "
"Iya Nai,, harusnya kita tetep nemenin Dern. Dia itu lagi sakit tau"
"Eh gua juga mau ikut ke rumah Dern"
"Terus kenapa lo malah cegah kita buat ikut"
"Kita bakal kesana, tapi ngga sama om itu. Kalaupun kita sampai mohon mohon kita ngga bakalan dibolehin ikut tau nggak"
"Iya juga,, si terus gimana sekarang? "
"Kita ke rumah Dern pake taxi, kan nanti pasti dirumah Dern penjaganya lagi sibuk ngurusin Dern tuh. Jadi kita masuk diam diam"
"Wah tumben lo pinter Nai"
"Yaudah ayo"
"Ayok"
Sedangkan Eric sedang menelfon Rico untuk memberi tahu keadaan Dern.
"Rico! cepet kamu pulang sekarang! "
"Ada apa sih,, kok kamu kaya lagi panik gitu"
"Udah yah lo pulang sekarang, bawa Sherly sekalian"
"Loh kenapa pake bawa bawa Sherly segala? "
"Dern butuh pertolongan! cepet kalian pulang!"
"APA!! Eric apa yang.... "
Tutt... tutt... tutt...
"Aah kenapa mati si?! " geram Rico
"Kenapa Ric? "
"Udah Sherly kamu jangan banyak tanya, kamu ikut aku pulang ke rumah yah? Dern butuh bantuan"
"Ya udah ayo"
Rico langsung pulang ke rumah. Rasa khawatir dan bersalah terus menghantuinya. Kalu saja dia tidak gegabah mengambil keputusan, pasti Dern tidak akan mengalami hal buruk seperti sekarang ini. Sherly pun tidak mempunyai keberanian untuk menanyakan kejadian sebenarnya yang terjadi.
"Rico,,, tenanglah. Hati hati kalau menyetir"
Rico tidak menjawab
"Rico aku tau kau sedang terburu buru. Tapi jika kau seperti ini, kamu akan terluka sendiri bahkan melukai orang lain pun bisa"
Lagi lagi Rico tidak menggubris perkataan Sherly. Yang ada dipikirannya saat ini hanyalah Dern. Jika sampai Dern kenapa napa maka Rico tidak akan memaafkan dirinya sendiri. Rico memacu kecepatan mobilnya hingga diatas rata rata.
Naila dan temannya pun sedang dalam perjalanan menuju ke rumah Dern. Mereka juga tampak gelisah memikirkan temannya itu.
*) Jangan lupa tinggalkan like, coment and follow. Krisan pun saya tunggu. Terimakasih
__ADS_1