
Malam sudah menjelang. Di meja makan yang berukuran besar dengan dua belas kursi yang tertata rapi. Dern hanya bisa meratapi nasibnya seorang diri (bersama para penjaga). Sudah hal yang amat biasa bagi Dern untuk makan malam ataupun makan pagi sendirian. Karena tidak adanya pembantu wanita, Dern tidak memiliki sosok pengganti ibunya. Kesepian? Pasti. Kalau boleh, ia memilih untuk makan diluar. Sudah tiga hari semenjak penyerangan yang dilakukan oleh Steven Ariven membuatnya jauh dari ayahnya. Menerawang jauh kejadian tiga hari yang lalu, membawanya ke lamunan.
Saat itu, sepulang sekolah Dern memilih istirahat dan makan dikamar. Tapi sebelum Dern menikmati waktu bersantai, ayahnya masuk dan menyeretnya ke ruang kerjanya. Dern bisa merasakan kalau ayahnya sedang merah besar sampai pergelangan tangannya memerah tercengkram erat. Sudah mencoba untuk meloloskan diri tapi tenaganya tidak cukup kuat melawan ayahnya. Sampai di sana, tanpa kata-kata dan aba-aba Dern langsung ditarik duduk sementara ayahnya menutup pintunya. Duduk di kursinya Dern melihat wajah ayahnya yang sudah merah padam.
"Jelasin sekarang! Apa bener? Apa bener, teman-teman kamu udah tau kalau kamu agen? Apa bener kamu udah langgar aturan dengan memberitahukan identitasmu yang sebenarnya? Terlebih, musuh kamu sendiri?! Jelasin!, " Rico berseru sambil menahan amarah yang sudah memuncak. Wajah yang merah padam, rahang mengeras dan tangan yang terkepal. Sungguh ini pertama kalinya Dern melihat ayahnya semarah ini. Ingin menjawab tapi bibirnya terasa kelu. Cukup! Ini sudah melewati batas kesabaran Rico. Satu gebrakan pada meja membuat Dern tersentak kemudian menundukkan kepalanya lebih dalam.
"Ma-maaf pah,, Dern cuma kasih tau teman Dern doang. Kan me-mereka juga teman Dern, ja-jadi Dern percaya. Maaff pah, maafin Dern,, " Matanya sudah berkaca kaca. Bisa dipastikan sebentar lagi air matanya akan meluncur. Demi apa, sekarang Dern benar-benar takut untuk sekedar melihat ayahnya.
"Jangan bodoh kamu Dern! Kamu bilang apa tadi? TEMAN?! Kamu lupa kejadian yang dulu kamu alami? Lupa kamu, Hah?! Kamu bisa aja tinggal nama sekarang karena teman yang kamu banggakan itu. " Rico bangkit mengambil tempat disamping Dern. Dern tersentak saat Rico menarik bahunya kasar membuatnya berdiri, tapi kepalanya tetap tertunduk. "Liat papah! Papah kecewa sama kamu Dern! Kamu sadar ngga? Kalau Refan udah tau siapa kamu sebenarnya, kamu bisa dikejar lagi. Kamu ngga inget kemarin-kemarin waktu kamu terus diserang? Harusnya kamu lebih hati-hati, bukannya malah teledor kaya gini!!," Dern hanya bisa meringis pasrah saat Rico mencengkram bahunya. Melampiaskan sakitnya dengan meremas lengan ayahnya. "Ssh maaf pah, D-dern m-minta maaf, "
"Oke. Tapi kalo sampai rahasia ini terbuka, kamu harus jauhin dan tutup mulut mereka. Kalau ngga, papah sendiri yang bakal turun tangan, " Dern terkejut. Ini bukan seperti ayahnya, dengan cepat ia membalas perkataan ayahnya. "Maaf pah, tapi Dern ngga bisa. Mereka adalah teman Dern. Dern percaya mereka, dan Dern ngga bakal sakitin atau jauhin mereka. Papah tau sendiri kan kalau mereka teman pertama Dern setelah sekian lama. Dern bakal jaga mereka, " Dern menjeda. Air matanya sudah dipelupuk mata. "Papah egois tau ngga?! Papah egois!! Pertama papah ngga izinin Dern sama mamah!! Sekarang?! Sekarang papah mau Dern ninggalin teman Dern!! Papah egois! Pap-! "
PLAK
__ADS_1
Bersama dengan terhuyungnya tubuh Dern kesamping, air matanya lolos meluncur dipipi. Pertama kalinya Dern mendapat tamparan dari ayahnya. Bibirnya sedikit robek sehingga darah muncul di situ. Apa ini? Pikiran Dern sudah melayang. Semua menjadi diam setelah teriak Dern yang mengatakan Rico egois berhenti. Sampai.....
"RICO!!! Apa-apaan ini semua? Hah?!" Teriakan dari dua orang yang diketahui Sam dan Eric di ambang pintu menyadarkan keduanya dari kekosongan. Tidak ingin membuang waktu, Dern cepat-cepat pergi meninggalkan mereka. Bukan hanya dengan fisiknya yang sakit tapi batinnya juga sakit, ia berjalan menuju kamarnya dengan pandangan kosong. Dengan sedikit gumaman kekecewaan terhadap ayahnya.
"Tuan muda" Panggilan dari salah satu penjaga mengeluarkannya dari lamunan yang berlangsung tidak sebentar. Dengan reflek ia alihkan pandangan pada penjaga yang sedang menundukkan kepalanya tanda hormat. "Sekarang sudah malam, saatnya tuan muda beristirahat dan tidur, " Lanjutnya
"Ah iya. Dern mau nunggu papah dulu, nanti Dern tidur kalo udah ngomong sama papah. Makasih om udah ngingetin,"
"Sama-sama tuan, saya permisi dulu. "
Rico akan ada diperusahaan sampai esok hari menjelang.
Beberapa penjaga mulai gelisah. Ingin cepat-cepat memindahkan tuan mudanya kembali kekamar. Melihat posisi tidurnya pasti tidak nyaman sama sekali. Jika bukan karena pesan Dern sendiri untuk tidak mengganggunya, pasti mereka sudah memindahkannya tanpa diperintahkan.
__ADS_1
Akhirnya pintunya depan terbuka. Untuk seketika para penjaga mulai lega, tapi ternyata harapan mereka sama sekali tidak terpenuhi. Bukan Rico yang memasuki ruangan, Eric lah yang sudah membuka pintu. Melihat Dern yang terbaring di sofa membuatnya mempercepat langkah kaki. Tetapi tetap berusaha untuk tidak menimbulkan suara yang berlebihan agar membangunkan Dern. Meskipun rasa terkejut dan tergesa-gesanya tidak bisa tertutupi.
Melihat wajah damai Dern yang sedang tertidur tidak bisa menguatkan dirinya untuk berbuat sesuatu yang dapat membangunkannya. Dengan lembut ia membelai rambutnya. Kemudian merayapkan jari-jarinya melewati wajah yang tampan nan polos itu. Berlutut dan sedikit menundukkan badannya. Berbicara sedikit berbisik,
"Dern? hey, bangun. Pindah ke kamar, ntar badannya sakit. " Tapi tidak ada sahutan kecuali lenguhan kecil yang lolos dari bibir merahnya. Tidak ada pilihan lain, dia memanggil salah satu penjaga.
"Kenapa Dern dibiarkan tidur disini? " suaranya tegas dan berwibawa, berbeda saat bersama Dern. Tanpa ragu penjaga yang sedang menundukkan kepala menjawabnya.
"Tadi tuan muda bilang ingin menunggu sampai bos besar pulang, tapi bos belum pulang juga sampai akhirnya tuan muda ketiduran. Sebenarnya kami ingin memindahkannya, tapi tuan muda sudah berpesan agar tidak mengusiknya. "
"Jadi Rico belum pulang? dan sampai sekarang? memangnya dia ngga tau apa anaknya lagi pengin ada waktu buat sama dia? pengin dicincang itu orang. " Eric menghentikan gerutunya untuk bertanya. "Apa selama ini Dern dan Rico baik-baik saja? mereka tetap akur kan?, "
"Saya tidak tau tuan. Tapi belakangan ini bos dan tuan muda jarang bahkan tidak bersama. Tuan muda juga sering murung, kadang kelelahan. Hanya itu yang saya lihat tuan, "
__ADS_1
"Oke, terima kasih untuk infonya. kau boleh kembali, "
Setelahnya adalah pekerjaan untuknya memindahkan Dern kembali ke kamar. Memberinya selimut dan mengucapkan selama malam, kemudian keluar dari kamar.