
"Huft,,, ini adalah markas ketiga mereka yang sudah kita ringkus, tapi kita belum dapat informasi yang tepat"
Ternyata Sam dengan Lily sudah bergerak terlebih dahulu dari Dern. Bahkan dalam waktu 20 jam mereka sudah meringkus komplotan penjahat di tiga markas kecil milik mereka masing-masing.
"Yah Sam,, tapi aku benar-benar sudah tidak tahan lagi dengan mereka. Mereka itu sangat setia sampai tidak mau membocorkan sedikitpun informasi mengenai markas pusat mereka"
"Kau benar Lily,, Huuh Anggun yh? dia benar benar cerdik dan licik juga sangatlah licin. Dia sengaja mengambil mereka yang berasal dari kelompok orang terbuang menjadi anggotanya agar mereka tidak memiliki kelemahan apapun,karna yang ada pada mereka hanyalah ambisi, dendam dan kejam. Mereka itu sama halnya seperti robot yang diprogram untuk melakukan kejahatan"
"Sam,,,, "
".....?!"
"Apa kau pikir Rico sudah melupakan masa lalunya dengan Anggun? aku lihat dia selalu bimbang dengan langkah yang diambil dalam menyelesaikan misi kali ini. Saat ini contohnya mengapa ia tiba tiba melemparkan misi yang harus dijalankan oleh Dern pada kita"
"Rico.... Dia sudah melupakan semuanya, mencoba untuk memulai semua dari awal. Dan kau tidak perlu khawatir, alasan Rico melempar misi pada kita karena kondisi Dern yang belum memungkinkan"
"Tapi bukank... " terpotong oleh Sam
"Sudahlah Lily!,, kita harus fokus! . Kita harus cari cara agar bisa mendapatkan informasi mengenai markas pusat mereka secepatnya. Biarkan mereka para agen lain yang urus"
"Baiklah"
Mereka terus mencari cara agar dapat mendapatkan informasi mengenai markas pusat milik Anggun. Sedangkan para penjahat telah diamankan.
Waktu menunjukkan pukul 17.30, Refan baru saja kembali ke rumahnya.
"Refan!"
"... "
"Kamu itu dari mana aja si, udah petang kaya gini baru pulang! "
"Om! bisa ga sih jangan ngomel mulu! aku tu capek! "
"Yaudah om minta maaf. Sekarang kamu makan yah om udah beli makanan tadi"
"Refan ga selera"sambil pergi ke kamarnya
" Untung keponakan, kalau bukan udah aku jadiin keset lho gua injek injek terus. Sabar... sabar"gumamnya
°Dikamar Refan°
Hari yang melelahkan untuk seorang anak laki-laki yang kini tengah merebahkan tubuh peluh yang ia bawa. Air mata tanpa disengaja membuat bekas pada pipinya. Yah! kenangan itu muncul kembali dalam pikirannya. Masa lalu pahit yang masih membekas, membuat anak laki-laki ini tersiksa oleh kehidupannya sendiri.
JANJI!!!
Hal itu yang membuatnya terjebak dalam permainan taruh nyawa. Masa lalunya lah yang membawanya sampai pada permainan ini. Luka di hatinya seakan terus menganga. Pahit rasanya ketika gambaran masa lalunya itu hadir kembali dalam ingatannya. Hingga membuat air mata membasahi pipinya.
SeBURUK itukah MASA LALUnya?
Sampai mampu membuat hati seorang Refan merasa tercabik cabik. Seorang Refan yang selalu memandang kedepan dengan bangganya membawa kekejaman. Seorang Refan yang akan melakukan apa saja demi tercapainya keinginan. Seorang Refan yang selalu berdiri tersangga dengan semangat. Seorang Refan yang kuat akan tekad.
__ADS_1
Flashback on~5 tahun yang lalu
"Hallo sayang"
"Hai Mamah" ucap anak laki-laki itu
"Refan mau makan apa sayang? "
"Roti dengan selai kacang aja mah"
"Mamah buatin ya sayang"
Mereka pun menikmati sarapan sambil berbincang bincang
"Mamah kita jalan jalan yuk"
"Boleh,,.Gimana kalau nanti sore kita ke taman aja? "
"Refan mau mah, udah ngga sabar jadinya"
"Yaudah nanti sore yah, sekarang kan masih pagi jadi Refan yang sabar yah. Dan nanti siang mamah juga ada urusan sebentar yah sayang? "
"Iya mah"
Sore hari ditemani semilir angin yang membuat pohon rindang menari Refan merasa bahagia bersama ibunya. Mereka bermain kejar-kejaran.
"Yah Refan ketangkap deh" ucap Refan dengan lugunya
"Mah.. "
"Iya sayang"
"Mamah janji yah kalau mama ga akan pernah ninggalin Refan. Refan ngga mau kehilangan mamah setelah papah. Refan saayaaaaannggg banget sama mamah" ucap Refan dengan memeluk tubuh ibunya
"Iya mamah janji ngga akan pernah ninggalin Refan, karena mamah juga sssaaaayaaangggg banget sama Refan"
Hari itu telah berlalu sangat cepat, sampai tiga hari kemudian Refan mendapatkan kabar bahwa.....
Hari itu telah berlalu sangat cepat, sampai tiga hari kemudian Refan mendapatkan kabar bahwa ibunya yang sangat ia sayangi tengah terbaring di rumah sakit. Refan bergegas menuju rumah sakit bersama dengan sopir pribadi menaiki mobil keluarganya. Hatinya seperti tersayat sebilah pedang dan kini telah hancur sehancur hancurnya. Pikirannya kalut dalam ketakutan, jika nanti ia kembali kehilangan orang yang ia sayangi.
Cciiiitttt.....
Mobil Refan telah sampai didepan rumah sakit. Tanpa menunggu lama Refan berlari tanpa arah bertanya pada suster yang ada. Sampai ada seorang suster yang kebetulan merawat ibunya dan bersedia untuk mengantarkan Refan pada ibunya. Refan tak henti hentinya meneteskan air matanya berharap ini hanya mimpi buruk. Sampai di ruangan yang dituju, suster permisi untuk pergi menjalankan tugasnya.
Kreeekkkk.....
Refan membuka pintu perlahan dengan sejuta kebimbangan. Tubuhnya kini mulai lunglai tak dapat menerima akan kenyataan pahit yang ia dapat. Rasanya seperti baru ia menghabiskan waktu bersama ibunda tercinta dengan bermain bersama, menikmati indahnya kebersamaan. Baru tiga hari yang lalu janji terucap dari bidadari yang melahirkannya ke dunia ini. Janji untuk selalu ada bersama dengannya dan takkan meninggalkannya. Namun kini hanya terlihat wanita yang terbujur diatas ranjang rumah sakit dengan darah di bajunya.
"M.. mmaahhh... hiks hiks"
"Mamah bangun maah,, mmaaah bangun mah bangun! bangun! maahhh" ucap Refan menangis histeris sambil memeluk ibundanya
__ADS_1
"Maah Refan mohon mamah bangun. bangun mah"
"Mamah bilang mamah ngga akan tinggalin Refan,, hiks hiks"
"Mamah bilang mamah sayang sama Refan. Kalo mamah sayang sama Refan mamah bangun mah. mah bangun! "
"Maah ma... maaah"
Refan menangis sejadinya.Ia tidak bisa membayangkan jika nanti harus hidup sebagai anak yatim piatu.
"Re... fa.. n s.. ss... aa...yang"
"Hah mamah,, mamah udah sadar. Refan panggilin dokter ya mah mamah bertahan"
"Ngg... ngga usah h.. h.. say.. ang. Mamah cuma pe.. ngen sama Refan"
"Mah,, mamah jangan tinggalin Refan. Refan sayang sama mamah. hiks... hiks... Refan ngga mau kehilangan mamah"
"Ma... mah jugg.. a sayang sama.. Refan. Refan??... "
"I.. hiks iya mah"
"Ka... lo ma. mah perg... gi ka.. mu harus teruss... ssin perjuangan ma... mah"
"Per.. juangan?" tanya Refan
"Iy.. yah kamu har... rus mengab... dikan dirimu.. pa... da... Bb... os.. Anggun.. Ini" sambil menyerahkan sebuah foto
"Tap.... Mamah! mah bangun mah! bangun! Refan mohon mamah bangun sekarang! Dokter!! Dokter!! "
Dokter masuk bersama beberapa suster dengan tergesa-gesa. Kemudian memeriksa ibunda dari Refan.
"Dokter! Ibu saya dokter!! "
"Tenang dulu ya dek" ujar suster sambil menahan Refan yang masih terus memberontak
"Lepaskan! lepaskan saya sus!lepaskan"
"Maaf ya dek, tapi ibu kamu sudah pergi"
"TIDAK!! TIDAK!! Dokter pasti bohong! iya kan dok! mamah saya ngga akan ninggalin saya! Bangun mah!! "
"Dek, adek tenang dulu yah"
"Ngga sus!Suster tolong bangunin mamah saya sus! mamah saya cuma tidur sus! tolong bangunin mamah saya! ma.. maa....... " Refan kini jatuh pingsan tak berdaya
flashback of~
"Mamah" bulir bulir bening mengalir dipipi Refan
Sakit dihatinya mengingat kejadian kelam yang menimpa dirinya. Itu seperti duri yang telah tertancap namun sukar untuk tercabut. Dan sekali tercabut ia akan meninggalkan sebuah luka. Yah seperti itulah masa lalu kelam Refan. Dirinya masih tak rela dengan itu semua. Namun ketika mengingatnya, hatinya terasa tercabik-cabik.
__ADS_1
*) Jangan lupa like, coment and follow. Terimakasih