The Young Agent

The Young Agent
Suara Pangeran Kecil Ku


__ADS_3

Sebuah melodi indah dari sebuah piano, dimainkan oleh seorang wanita. Melodi piano menggema merasuk ke kalbu wanita itu, hingga air mata menetes di pipinya. Sudah sekitar sepuluh tahun, wanita itu menjadikan alunan melodi itu menjadi wadah air mata kesedihannya. Melodi nan indah, melodi yang ia ciptakan bersama pangeran kecilnya. Melodi itu seakan membuka kembali kenangan indah masa lalu.


Seorang anak laki-laki masih berdiri jauh dibelakang wanita itu. Mungkin wanita itu tidak menyadari kehadirannya. Ia pun tidak bisa mengganggu wanita itu. Ia terus memperhatikannya dan mendengarkan melodi yang wanita itu mainkan. Melodi itu terasa damai untuk didengarkan, membuat hatinya tenang. Belum pernah ia dengar melodi seindah itu.


Saat melodi terhenti ia mencoba mengajukan pertanyaan, karena terdengar isakan dari wanita tersebut.


"Bos? bos Anggun ngga papa? "


"Huuuufffttt" hela nafas Anggun


"Ngga papa,, apa yang membuatmu kesini? " tanyanya


"Maaf bos,,, eum Refan mau bilang sesuatu ke bos"


"Apa itu? "


"Bagaimana kalau Dern kita jadikan mangsa selanjutnya bos? "


"APA?!! apa maksud kamu Refan? "


"Eum maksud Refan, karena saat ini sandra masih belum cukup kita tambahain Dern saja didalamnya"


"Tidak! saya tidak akan menyandera Dern apalagi sampai menjualnya sebagai budak"


"Tapi bos,, memangnya ada hubungan apa sih Dern sama bos? Dern itukan bukan siapa-siapa bos" kesal Refan


"Bukan urusan kamu" menyeka air matanya lalu beranjak keluar ruangan itu


"Bos? " panggil Refan menghentikan langkah Anggun


"..... " Anggun belum menjawab panggilan Refan apalagi membalikkan badannya


"Apa Refan boleh bertanya lagi? " tanya Refan ragu


"Apa yang ingin kau tanyakan Refan? " masih belum membalikkan badan


"Melodi apa yang bos mainkan tadi? "


"Kenapa kau menanyakan hal itu? apakah tidak ada hal penting yang bisa kau tanyakan?"


"Eumh.... "


"Baiklah, akan kuberi tahu. Melodi itu adalah suara pangeran kecilku" saat hendak melangkahkan kakinya kembali, Refan menanyakan pertanyaan lagi

__ADS_1


"Apa bos suka musik? kenapa? "


"Hmmm, kamu banyak tanya yah. Tapi saya akan jawab pertanyaan kamu. Saya memang suka musik karena bagi saya musik itu memiliki makna emosi"


"Dan...... "


"Sudahlah Refan, lebih baik kau pulang karena ini sudah sore. Om kamu pasti nyariin"


"Baik bos" Anggun pun pergi meninggalkan Refan.


Saat Refan akan pergi, pandangannya teralih pada foto yang ada di atas piano yang Anggun mainkan. Refan pun mengambilnya. Kemudian membaca tulisan yang ada dibelakangnya.


"My prince"


"Foto siapa yah? apa ini anak bos Anggun? tapi sejak kapan dia punya anak? "


"D.E apa ini inisial dari anak laki laki ini? "


"Tunggu tunggu apa mungkin D. E itu maksudnya adalah..... "


"Dern Ernest? ngga ngga ngga mungkin. Aduh Refan lo jangan ngaco deh"


"Aah bodo deh,, mending gua pergi. Ntar ketauan malah bisa gawat"


Disisi lain, Dern sudah sampai dirumahnya. Ada beberapa yang turut membantu menghantarkan Dern kekamar dalam keadaan tak sadarkan diri. Semua tampak panik melihat tuan mudanya terlihat pucat dengan darah yang masih menetes dari tangan juga lengannya yang terluka. Diluar rumah sudah tidak ada lagi penjagaan, terutama area gerbang.


"Dern kamu tahan yah? "


"Kamu tunggu papah kamu sama tante Sherly"


"Om yakin kok kamu itu anak yang hebat. Anak kuat, berbakat dan Istimewa"


"Kamu adalah penerus kami, calon pemimpin. Karena kamu adalah The Little Agent"


"Nantinya kamulah yang akan menjadi golden wolf, jadi kamu harus berjuang untuk itu kamu sanggup kan" kini Eric tidak bisa lagi membendung air matanya melihat seorang anak yang bertaruh nyawa. Seorang anak yang seharusnya sedang bermain bersama ayahnya. Seorang anak yang selalu mendapat perhatian dari seorang ibu.


"De.... " terpotong karena terdengar keributan dari luar, Eric pun bergegas keluar


Eric sungguh terkejut melihat ada Leo Naila dan Della yang datang dan memaksa untuk masuk. Melihat hal itu, Eric langsung mendekat agar tau titik permasalahan yang harus diselesaikan.


"Hey kenapa kalian ada disini? bukankah om sudah bilang untuk pulang? "


"Tuan mereka memaksa untuk masuk, tapi kami takut mereka mencoba melakukan hal yang macam macam pada tuan muda"

__ADS_1


"Baiklah kalian kembali ke tempat biar mereka saya yang urus"


"Baik tuan"


"Nah, kalian? kenapa kalian ngga pulang aja? ini udah terlalu sore loh"


"Maaf om, tapi kami mau liat kondisi Dern dulu, boleh ya om"


"Iya om sebentar aja"


"Iya om ntar kita pulang deh"


"Hmmm yaudah ayok, tapi kalian ngga boleh macam macam yah? "


"Iya om"


Mereka pun menuju ke kamar Dern. Tidak berselang lama Rico dan Sherly sudah sampai di rumah. Rico langsung bergegas menuju kamar Dern, khawatir jika putranya mengalami hal buruk lagi. Sherly pun menyusul Rico.


Didalam kamar Dern, mereka sungguh sangat kagum dengan kemewahan yang ada dalam rumah Dern. Mereka langsung mendekat biasa Dern yang masih belum membuka matanya. Mereka sungguh merasa iba atas apa yang menimpa pada teman mereka. Bahkan Leo sampai meneteskan air mata.


"Sekarang om mau tanya sama kalian" ucap Eric membuka pembicaraan


"Tanya apa Om? " tanya Della


"Sebenarnya apa sih yang terjadi? kenapa Dern bisa seperti ini? kalian melihatnya kan? " tanya Eric panjang lebar


"Iya om kami memang lihat" ungkap Della


"Tapi om, waktu kita lihat itu.... "


kriettt..... kreeek....


Rico dan Sherly terlihat sedang membuka pintu kamar Dern. Rico menghampiri Dern dengan langkah yang cepat. Rico sungguh terpukul melihat keadaan putranya yang kembali terbaring di atas ranjang dengan keadaan yang tentu saja tidak baik.


"Rico?! syukur kalian sudah datang"


"Iya, Bagaimana ini semua bisa terjadi? dan siapa yang sudah menyebabkan hal ini terjadi? " tanya Rico panik


"Maaf Rico, akupun tidak tahu. Saat aku menemukan Dern dia sedang bersama temannya dibawah pohon rindang. Saat aku dekati dia mukanya sudah pucat dan darah keluar dari lengan dan tangan kanan Dern. Tapi untuk kronologi peristiwa mungkin mereka yang tau" menatap Leo Naila dan Della


"Leo,,, jawab pertanyaan om, kenapa Dern bisa seperti ini? "


"Anu itu om,,, tadi Dern,,, tadi dia,,,, anu,,,, " jawab Leo terbata bata

__ADS_1


"Sudahlah Rico, lebih baik sekarang aku akan periksa keadaan Dern. Dan kalian jangan ribut dulu"


Lalu Sherly memeriksa keadaan Dern. Ia menempelkan punggung tangannya pada dahi Dern. Dan dirasanya cukup panas ditangannya. Saat Sherly hendak menyuntikkan obat bius, ternyata Sherly baru sadar kalau peralatan yang ia bawa tidak lengkap. Dan dalam keadaan itu Sherly tidak mungkin menggunakan peralatan yang biasa ia gunakan untuk menangani para agen, karena disitu ada Leo Naila dan Della.


__ADS_2