The Young Agent

The Young Agent
Makan-makan


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan saat untuk makan siang. Semuanya akan meluangkan waktunya untuk makan siang. Begitu juga dengan Rico. Sekarang dia sedang bersama seorang wanita seumurannya juga anak laki-laki yang umurnya mungkin satu tingkat diatas Dern. Merekalah yang Rico pilih untuk menjadi bagian dari keluarganya. Dia bahkan tidak menanyakan dulu pada anaknya apakah ia setuju atau tidak. Mereka sudah seperti keluarga yang utuh. Suasananya menggambarkan kehangatan dari kebahagiaan keluarga yang sempurna. Ada canda tawa di antara mereka. Tanpa ada yang tau bahwa ada satu kursi kosong. Seakan itu akan selalu kosong. Tidak ada yang peduli. Dern. Tidakkah ada yang peduli dengan ketidakhadirannya.


Disinilah Dern. Ditempat dimana dia akan selalu menemukan kehidupannya kembali. Kehidupan sebagai remaja normal. Dia selalu mendapatkan senyumnya disini. Meski jarang adanya tawa yang keluar dari mulutnya. Dunia bahkan tahu kalau Dern tetaplah Dern. Senyumnya bahkan lebih mahal dari segudang berlian. Tapi masih bisa di tukar dengan kasih sayang.


"Jadi dimana kita mau makan-makannya?" Dern tentu saja harus tau karena dialah yang akan menanggung semua bayarannya.


"Lo ngga ada usul gitu? Ya lo kan tuan muda pasti tau gitu, "


"Haah justru itu. Aku belum pernah dan di bolehin sama papah. Jadi aku ngga tau, "


"Ya udah, kalian ikutin gua aja. Gua tau tempatnya kok, "


"Oke. Kita ikutin Refan aja. Naila, Della kalian pake taxi. Refan, Beno kalian naik motor Refan. Leo biar nama aku aja, "


"Oke siap tuan muda!!, " Seru mereka sembari hormat layaknya saat upacara bendera. Dern hanya bisa terkekeh melihat tingkah teman-temannya itu.


Mereka mulai menuju ke tempat tujuan. Entah kenapa Dern sedikit gelisah, tapi ia abaikan karena tidak ingin merusak suasana. Dia tidak tau saja bahwa dia akan segera mendapatkan kejutan. Bukan kejutan yang mengharukan, tapi justru kejutan yang menyakitkan. Tempat yang ia tuju adalah tempat dimana ayahnya mengadakan makan siang.


Butuh waktu sekitar tujuh belas menitan untuk sampai di sana. Dern segera menempati meja yang kosong. Dan dia masih belum SADAR. Kalau yang ada di belakang seberangnya adalah meja ayahnya. Dern semakin terlihat gelisah. Sampai temannya juga menanyakan perihal itu. Tapi jawaban 'tidak ada apa-apa' yang selalu menjadi perisai untuk menutupi kegelisahannya.

__ADS_1


Berbagai menu sudah tertata rapi di atas meja. Ditambah dengan kue ulang tahunnya juga. Mereka menikmati makanan sambil sesekali memulai pembicaraan. Sampai suara tawa terdengar. Dern mengenalnya. Seketika tubuhnya menegang. Seluruh atensi temannya telah tertuju padanya sesaat yang lalu.


"Papah, " Gumaman lirih itu lolos dari mulut Dern. Semuanya menjadi bertanya-tanya. Kenapa Dern begitu aneh sejak tadi. Tapi Dern tidak memperdulikan tatapan bertanya-tanya yang diperlihatkan oleh teman-temannya. Langsung saja ia memutar tubuh bagian atas agar dapat melihat kebelakang.


Dan benar saja. Dibelakang meja seberang, ayahnya bersama seorang wanita dan seorang anak laki-laki sedang duduk dan bercengkerama. Kebahagiaan menyelimuti mereka. Ayahnya bisa tertawa lepas. Ia bahkan tidak merasa ada yang kurang. Disini. Disini separuh jiwanya. Disini dia sedang menahan belati yang sedang mencoba menyayat hati. Menahan agar bulir liquid tidak menetes dari mata indahnya. Sakit yang dirasanya membuat dada sesak. Serasa ada yang menghimpit jantungnya. Dadanya sudah naik turun menahan segala emosi yang membuncah. Bibirnya sudah terkatup menahan isakan yang akan lolos.


Tidak! Dern tidak tahan lagi dengan ini. Jadi benar bahwa selama hubungannya dengan ayahnya renggang, sudah ada yang mengganti posisinya. Secepatnya ia membalikkan tubuh ke posisi semula. Naila dan Della sudah menutup mulut mereka dengan tangan, jangan lupakan mata yang melebar. Beno Refan dan Leo menatap Dern dengan tatapan berbeda. Perlahan Leo menggerakan tangannya untuk menggenggam tangan Dern yang bahkan sudah mengeluarkan darah karena mencengkeram erat garpu. Mencoba untuk menyalurkan kekuatan. Leo bahkan sudah tidak bisa menahan air matanya saat melihat tatapan terluka dari Dern.


Dern melepas tangannya dari tangan Leo. Menggeleng sebentar kemudian mengeluarkan uang sejumlah enam ratus ribu untuk membayar dan meletakkannya di meja. Satu air mata lolos begitu saja. Tapi Dern segera menghapusnya dengan kasar.


"Kalian lanjutkan saja. Maaf aku harus pergi, " Setelahnya ia bergegas pergi dari sana. Bahkan ia melupakan motornya yang masih terparkir ditengah banjirnya kendaraan. Ia hanya harus berlari tanpa menghiraukan teriakan teman-temannya yang juga berlari mengejarnya. Tidak hanya teman-temannya, bahkan ayahnya beserta wanita dan anak laki-laki itu juga ikut mengejarnya.


Rico ayahnya juga ikut memanggil-manggil namanya. Berharap agar ia berhenti ditempat saat itu juga. Saat ini mereka sudah sampai di sebuah taman yang sepi tanpa ada orang yang berlalu lalang disini. Jadi mereka tidak perlu merasa malu atau apapun itu.


Dan,,,, TERLAMBAT....


Rico sudah melemparkannya dan tepat mengenai betis Dern. Dengan itu Dern langsung jatuh tersungkur. Ia mencoba bangkit dan melihat apa yang terjadi. Tepat sekali pikirannya, ada pisau yang menancap di betisnya. Amarahnya kini sudah ada di ubun-ubun. Langsung saja ia bangkit setelah mencabut pisau itu, tanpa memperdulikan rasa sakit juga pendarahan yang masih belum berhenti.


Sampailah mereka pada Dern. Mereka bahkan tidak percaya apa yang dilihat oleh mata mereka masing-masing. Tapi tidak dengan Rico. Tanpa menunggu, ia langsung menghadap Dern. Keduanya hanya melayangkan tatapan dingin dan diam untuk bebarapa saat.

__ADS_1


"Papah sudah bilang BERHENTI! " Rico menggeram marah sambil menekankan setiap kata yang ia ucapkan.


"Memang ada apa? " Kali ini Dern hanya menjawabnya datar. Inilah pribadi Dern yang muncul saat dirinya menjalankan misi. Dingin tanpa emosi.


"Harusnya papah yang tanya sama kamu, kenapa kamu lari dari papah?! "


"Ku kira kau sudah tidak membutuhkanku lagi. Kau ingin bahagia bukan? Maka silahkan berbahagia dengan perempuan sialan itu, " Ujar Dern sambil melirik wanita yang masih berdiri disana di dekat teman-temannya yang menatapnya iba.


BUGH! tak main-main. Rico langsung memukul pipi Dern sampai membuat sudut bibirnya sedikit robek. Semuanya, tak terkecuali Dern tersentak dengan perlakuan Rico.


"Jaga ucapanmu Dern! Kau sendiri yang meminta sebuah keluarga. Jadi kau akan mendapatkannya, lalu apa maumu sekarang?! "


"Dern cuma minta mamah! Mamah Dern! Bukan mamah baru! Dern mau keluarga yang kaya dulu, bukan yang baru. Dern--, "


"Cukup!! " Teriakan Rico menggelegar bersamaan tangannya yang kembali melayang.


"Hehehhe,, kenapa berhenti, hm? Kau belum melakukannya pada sisi yang satunya lagi. Apa perlu kubantu?, " Tukas Dern sambil terkekeh dan menunjuk sisi wajahnya yang lain yang belum terkena pukulan.


"Pulang!, "

__ADS_1


"Nah, itu lebih bagus. Pulanglah dan nikmati waktu bersama keluarga barumu. Dan aku akan mencari keluarga yang mau menampungku. Yaah, semoga saja ada yang sudi menerimaku. Jadi, sampai jumpa. Oh tidak, selamat tinggal. "


Dern berbalik memunggungi Rico. Tak peduli yang dibelakangnya sedang menggeram menahan amarahnya.


__ADS_2