The Young Agent

The Young Agent
Firasat Buruk


__ADS_3

Ketegangan masih menyelimuti suasana yang ada. Seseorang yang tidak lain adalah Rico yang sedang menggeram marah sudah dibutakan oleh emosi yang memuncak. Sedangkan Dern tidak perduli, bahkan berniat pergi dari sana. Ia butuh ketenangan. Lain lagi dengan mereka berdua. Beberapa orang yang menjadi saksi hanya bisa memandang was-was. Setiap detik dan menit berjalan beriringan, ketegangan semakin meningkat.


"Dern Ernest! Papah bilang pulang sekarang! "


Tidak mendapat jawaban Rico semakin meningkat menggeram.


"Baiklah jika kau tidak mau dengan cara halus,,,, "


Sebenarnya Dern sudah ragu dalam langkah pertama. Tapi dia juga harus bisa teguh pendiriannya. Langkahnya pelan karena sakit di kakinya yang masih terasa. Malah sekarang sudah bertambah.


Ada rasa hangat di lengan tangannya. Saat akan menengoknya, sesaat tubuhnya sudah berbalik mendapati ayahnya yang sedang menggeram menahan amarah. Sedikit tersentak memang, tapi raut wajah datarnya tidak luntur sama sekali.


Rico selangkah mendekati Dern, itu sudah bisa membuat orang yang sedang menyaksikan akan kehilangan udara disekitar mereka. Perang dingin antara ayah dan anak yang sedang dipertontonkan, sama sekali tidak menghibur.


Saat sudah sangat dekat dengan Dern, Rico kembali membisikkan sesuatu.

__ADS_1


"Tapi papah masih punya cara kasar untukmu, " Bisiknya dengan suara rendah


Oh tidak, jangan sampai! Dern tau apa yang akan coba Rico lakukan. Dern mulai memberontak saat Rico mencoba mendekapnya. Itu semua sia-sia, Dern tau itu. Sudah dipastikan kalau figur ayah yang ada dihadapannyalah yang akan menang. Benar saja Rico langsung mendekap Dern agar bisa membatasi pergerakannya. Sedetik kemudian Rico berhasil menusukkan jarum yang dilumuri obat bius pada perpotongan leher Dern. Saat sudah menyadarinya, kegelapan langsung mengambil alih penglihatannya. Kesadarannya pun direnggut paksa. Tapi sebelumnya itu terjadi ia mendengar teriakan temannya yang menyebut namanya, juga bisikan Rico tepat ditelingannya. Tubuhnya sudah lepas kendali terjatuh dalam pelukan Rico.


"Kau suka itu? Tidurlah boy, kau harus selalu bersama papah, " Bisiknya lembut tapi terkesan dingin


Rico itu sayang Dern. Sangat sayang. Dia tidak akan membiarkan jagoannya pergi jauh darinya. Tapi ia juga tau. Ia tidak bodoh untuk mengetahui kalau Dern kecewa padanya. Masa bodo. Untuk saat ini lebih baik membawa Dern pulang agar dia bisa beristirahat.


_________________


Mereka masih sibuk dengan kegiatan masing-masing. Sang wanita yang menyusun makanan di meja makan untuk makan malam. Seorang anak laki-laki yang duduk di salah satu kursi di ruang makan sambil memainkan handphonenya. Sedangkan Rico sedang bicara dengan Eric dan Sam tentang masalah yang terjadi siang tadi. Keduanya marah besar ketika mendengar bahwa temannya yang satu itu melakukan hal Ceroboh dengan melukai betis Dern. Keduanya langsung pergi dengan amarah yang terpendam. Bukan pergi pulang, tapi pergi untuk menemui Dern. Rico bahkan masih sempat menitip pesan agar mau bergabung untuk makan malam bersama (keluarga barunya tentunya).


Sedangkan dalam kamar luas dengan warna hitam putih. Banyak barang elektronik yang tertata rapi. Sebuah lemari enam pintu. Meja belajar dan banyak lagi fasilitas yang terdapat didalamnya. Disinilah pemeran utama kita sedang terduduk dengan tatapan kosong kedepan. Bahkan saat kedua pria masuk dan mendekatinya pun Dern tidak mengalihkan tatapannya. Dern sudah berganti pakaian. Saat ini ia memakai baju biru tua yang dipadukan celana hitam dibawah lutut. Tentu saja lukanya terekspos.


"Gimana kondisi kamu Dern? Apa lukanya masih sakit? " Dern yakini ini adalah suara Sam

__ADS_1


"Kamu yang sabar Dern. Mungkin maksud papah kamu bukan kaya gitu. Dia butuh waktu buat siap beritahu kamu. Jadi, om harap kamu jangan marah yah sama papah kamu. Om yakin ini semata-mata buat bahagiain kamu, " Kini yang Dern dengar adalah suara Eric


"Iya Dern tau kok. Dern juga butuh waktu buat terima ini. Jujur ini sulit buat Dern. Semuanya terjadi secara tiba-tiba. Baru tadi pagi telinga ini mendengar keluhan seorang pria yang mendambakan kebahagiaan. Kini mata ini bahkan sudah disuguhi pandangan yang sangat sangat indah untuk dipandang. Dern cuma punya firasat buruk tentang wanita itu. Dern ngga suka dia. " Dern mengucapkan sekata perkata dengan datar dan tanpa emosi. Semuanya tak luput dari pandangan Sam dan Eric. Ada kekecewaan yang tergambar di sana.


"Ayok Dern kita turun. Kamu harus makan supaya bisa minum obat. Tadi papah kamu minta supaya kita sekalian manggil Dern turun. "


"Ayok Dern! Apa perlu om bantu gendong?, " Tanya Sam saat Dern tidak menjawab bertanya-tanya. Dia juga khawatir kalau Dern akan mengalami kesulitan berjalan apalagi kamarnya yang ada di lantai dua.


"Engga usah Dern bisa sendiri kok, "


Sam dan Eric terus was-was untuk tetap berjaga jika Dern jatuh.


Sensasi perih terasa saat Dern mencoba untuk menegakkan kakinya. Dern masih bisa menahannya. Memejamkan matanya sebentar guna menenangkan diri. Sam dan Eric tambah khawatir. Keduanya terus-terusan menawarkan bantuan, akan tetapi selalu di tolak.


Perlahan Dern membiasakan diri untuk berjalan sambil menahan rasa sakit dan perih di betisnya. Terlebih lagi saat menuruni anak tangga satu persatu. Sesekali ia mendesis. Sedangkan Sam dan Eric hanya bisa mengekor dibelakang sambil menatap punggung Dern sendu. Sampai di lantai bawah, Dern mulai berusaha untuk berjalan senormal mungkin. Bahkan ayahnya menatap heran. Sedangkan wanita itu dan anak laki-lakinya menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.

__ADS_1


Dern tidak mencoba untuk bertingkah seperti anak baik. posisinya saat ini berhadapan dengan anak laki-laki itu. Dern hanya menampakkan wajah datar. Bahkan saat salah satu dari mereka melempar senyum, itu tak berarti apa-apa bagi Dern. Jika bukan karena kakinya yang masih sakit, ia ingin sekali menendang mereka keluarga dari rumahnya. Tapi Dern bahkan sudah sangat pandai untuk mengetahui itu. Sam dan Eric juga ikut mendudukkan diri di kursinya masing-masing. Mereka juga tampak diam. Mereka juga terkesan seperti sedang marah. Wanita itu mulai memainkan perannya. Mengambilkan nasi dengan lauk pauk untuk Rico yang sudah memilihnya. Begitu juga untuk anak laki-laki itu. Senyum manis diwajahnya tidak luntur sama sekali saat melakukan tugasnya. Tapi saat akan mengambilkan makanan untuk Dern, dia berhenti karena Dern mengatakan bahwa dia bukan anak manja dan bisa untuk sekadar mengambil makannya sendiri. Mendengar itu sang wanita hanya senyum kemudian mengangguk. Tapi Dern hanya menampilkan wajah dinginnya. Begitu juga saat makan. Dern seakan-akan menganggap yang lain tidak ada. Ia hanya fokus pada makanannya. Semuanya jadi ikut canggung dan melanjutkan kegiatan makan malam sampai selesai tanpa ada pembicaraan ditengahnya. Sungguh hanya keheningan yang ada.


__ADS_2