
Hari ini ada mapel Bimbingan Konseling. Sudah ada pengganti gurunya sejak dua minggu yang lalu. Steven Ariven sudah tidak mengajar lagi. Tidak ada yang tau dia ada dimana. Tapi Dern tentu saja tahu, karena dia yang membuatnya hilang dari sekolah. Dia tahu kalau Steven Ariven sudah dijebloskan ke tahanan. Itulah awal yang membuat hubungan Dern dan Rico renggang.
Sekarang hanya ada Pak Arkan. Dia guru baru yang cukup baik dan ramah. Seumuran dengan Rico dengan tubuh yang proporsional. Tidak seperti kebanyakan guru Bimbingan Konseling yang akan berbicara panjang lebar tentang sebuah teori materi, tapi ini lebih sering menceritakan kilasan kisah. Pembawaannya yang tenang dan santai membuat para siswa lebih nyaman. Tapi dia juga bisa tegas saat berhadapan dengan murid yang berani melanggar aturan.
Banyak yang menyukai guru baru ini. Tidak sedikit yang keluar masuk ruangan Bimbingan Konseling untuk bertemu dengannya. Bukan karena pelanggaran, akan tetapi lebih ke permasalahan yang sedang dialami siswa yang membuatnya terganggu dalam kegiatan belajar mengajar. Disitu Pak Arkan akan menjadi pendengar yang baik sekaligus pemberi solusi serta motivasi.
Dern yang saat ini sedang tersenyum kecil mendengar lelucon yang diberikan Pak Arkan di depan kelas. Disaat yang lainnya tertawa bahkan ada yang mengeluh sakit perut, dirinya hanya tersenyum tipis. Jujur saja sekarang pikirannya sedang kacau. Sekalipun dipaksakan untuk fokus, tetap saja tidak bisa. Pikirannya menerawang masalahnya dengan ayahnya yang belum selesai. Justru bertambah rumit. Sebagai anak tentu saja ia ingin yang terbaik untuk ayahnya. Tapi kenapa setiap yang ia lakukan justru jadi salah.
Itu disadari oleh pak Arkan. Saat menelisik isi ruangan yang penuh anak didiknya. Matanya berhenti pada Dern yang hanya tersenyum tipis.
Dern menyadari tatapannya bertemu dengan Pak Arkan membuatnya gelagapan, sedikit merundukan kepalanya dan mengalihkan pandangannya pada meja tempat tangannya bertumpu.
Begitu semua tersadar kalau gurunya sudah tertawa, mereka menghentikan tawa mereka. Sedikit bingung karena tatapan gurunya seperti sedang terfokus dan menelisik sesuatu. Dan benar saja, saat di ikuti pandangan gurunya tertuju pada meja Leo dan Dern. Tidak. Lebih tepatnya pada Dern yang sepertinya sedang sedikit gelisah tak nyaman. Bagaimana mau nyaman? Seisi kelas langsung hening dan tatapannya tertuju padanya. Dern lihat tatapan teman sekelasnya yang keheranan, tapi gurunya justru seperti sedang membaca sesuatu dari seorang Dern. Perlahan Pak Arkan mendekati Dern. Dan itu semakin membuat Dern gugup. Tapi tetap saja raut wajahnya datar. Yah, Dern kembali menjadi Dern Ernest yang dulu. Dern yang dingin dan tidak banyak bicara.
Setelah sampai dihadapan Dern, Arkan kembali membuka mulutnya guna bertanya,
"Dern Ernest?, " Panggilnya
"Ya? " Dern mengalihkan pandangannya pada gurunya, tapi tetap saja tatapannya tetap datar
__ADS_1
"Ada masalah kah?, " Nadanya melembut membuat hati Dern tenang dan nyaman. Seperti sedang berbicara dengan ayahnya sendiri
"Emh Tidak, " Dengan ragu-ragu dia menjawab menahan rasa ingin menagisnya saat ini juga. Dern merindukan rasa ini, rasa saat berbicara dengan ayahnya sendiri. Sudah lama ia tidak berbicara dengan ayahnya dan mendapatkan balasan yang hangat.
"Benarkah? Lalu, kenapa kau tidak fokus? Hmn?, "
"Em itu,, " Dern sangat ragu untuk menjawab, tapi jika tidak dijawab akan dianggap tidak sopan.
"Ya baiklah bapak tau masalah kamu adalah privasi kamu. Tapi kalau kamu membutuhkan teman untuk berbicara, kamu bisa minta dengan teman kamu atau bapak secara langsung. Masalah tidak boleh untuk di pendam, karena akan menyesakkan diri sendiri. Paham?, " Senyum itu, senyum yang Dern rindukan. Senyum teduh seorang ayah pada anaknya. Dern rindu itu sampai tidak bisa menahan bibirnya untuk tersenyum. Mungkin jika ia sedang berdua saja, Dern akan langsung memeluknya. Perlahan tatapannya menghangat pada sosok guru di hadapannya.
"Paham Pak. Maaf karena saya kurang memperhatikan tadi. Saya akan berusaha untuk fokus, " Jawab Dern dengan tersenyum. Sangat manis.
Cekrek! Flas!
Cekrek! Flas!
Eh? Apa itu kamera? Dengan flas? Dan arahnya? Dari Leo yang ada sampingnya dan Beno yang ada di depan keduanya.
"Yes!! Gua dapet! Gua dapet fotonya! Yuhuuu.... Traktiran! Aku datang! Refan siapin uangnya untuk dua minggu kedepan. Oke?!! " Pekik Leo kegirangan
__ADS_1
"Refan! Tepatin janji lo! Gua udah ada bukti. Akhirnya,, Sorry Dern, kita ng-aib lo eheheh. " Ucap Beno sambil cengengesan. Semuanya jadi bingung kan, maksudnya apa coba?. Sedangkan Dern, wajahnya kembali datar, sedatar tembok. Dia tau maksudnya apa.
"Udah lah Ben santai aja, yang ngga Dern? Cuma satu foto kok, " Timpal Leo
"Kalian ngapain pake foto Dern?, " Tanya Arkan mewakili seluruh penghuni kelas. Karena semuanya sedang keheranan, sedangkan Refan? Ia sudah lesu, muka dah kek cucian kotor.
"Jadi gini Pak. Refan itu janjiin saya sama Beno traktiran selama dua minggu. Asalkan bisa ambil fotonya Dern yang senyum manis kek gula dalam jangka waktu satu minggu. Dan akhirnya kita berdua dapat sekarang. Kan susah ambil fotonya Dern senyum manis kek tadi. Dern itu dah kaya es mau senyum aja kudu usaha setengah mati, " Celetuk Leo tanpa melihat keadaan sekitar yang sudah cengo. Dipikirkan mereka itu, apakah senyum manis semahal berlian sampai susah untuk di dapat?
"Iya tuh bener. Tapi makasih loh Pak. Gara-gara gara bapak nih kita berhasil, "
"Ada-ada saja, " Gumam Arkan sambil geleng-geleng kepala
"Le gua minta ya, ntar gua bayar deh berapa aja, " Celetuk salah satu siswi membuat Dern membola.
"Gua juga deh, ntar gua juga bayar kok. Berapapun lo mau," Yah dan saat ini Dern hanya pasrah saja. Ingin marah tapi masih ada guru di depannya. Masa iya dia dijadikan seperti barang jualan yang ditawarkan kepada orang-orang. Apalagi oleh teman tak punya akalnya itu membuatnya makin prihatin akan kondisinya sendiri
Tapi, ada yang aneh. Sesaat sebelum Pak Arkan membalikkan badan, Dern melihatnya tersenyum. Tidak tidak bukan senyum hangat. Tapi senyumnya itu seperti penuh arti. Sayangnya sebelum Dern memastikannya, Pak Arkan sudah lebih dahulu melangkah kedepan kelas. Melanjutkan pelajaran yang sempat tertunda akibat Dern sendiri.
Sekarang Dern percaya, kalau guru barunya ini memang ramah dan hangat. Sesuai untuk dijadikan teman. Aah Dern jadi rindu masa-masa bersama ayahnya. Ketika ayahnya menatapnya teduh membuatnya merasa Damai dan tenang.
__ADS_1
'Kalau saja papah seperti Pak Arkan, Dern sangat sangat bahagia. Walaupun keluarga kita ngga bisa utuh kayak dulu. Hah ahahaha kau memang seperti anak anak Dern. Kau kekanak-kanakan. Pantas papah menganggapmu egois. Ahahaha dasar, '