
Langit sudah menggelap, tapi Dern Beno dan Refan masih belum beranjak dari merasa mereka. Setelah menceritakan kejadian yang menyebabkan harinya menjadi mimpi buruk, Dern masih belum mau pulang bahkan bertambah malas.
"Jadi?,. Gua pikir begini Dern, kalau memang tante Rosa mau ngeracunin lo, lo juga harus punya bukti. Kan papa lo agen kan?, "
Begitulah. Tadi pagi Dern dengan cerobohnya mengatakan Rosa ingin meracuni makanannya. Tapi, tanpa bukti. Dengan bukti pun belum tentu dipercaya apalagi tanpanya. Kenapa Dern bisa yakin itu? Karena dia mendengarnya sendiri. Berakhir pertengkaran antara Rico dan Dern. Mulai sekarang Dern yakin harinya tidak akan tenang.
"Huuh,, aku tidak percaya. Papah sendiri ngingkarin janjinya. Terkadang kupikir papah itu egois, " Sangat kentara sekali raut wajah lelah Dern. Beni dan Refan bisa liat itu.
"Janji?, "
"Iya. Dulu saat umurku masih sembilan tahun, papa janji ngga akan pernah mengganti posisi mama dengan orang lain. Aku pikir mungkin sekarang aku cuma punya kalian, teman-temanku. Papa memang egois. Kalian tau? Dia menyuruhku untuk meninggalkan kalian setelah kalian mengetahui identitasku. Untung saja aku tidak melakukannya. Jika aku melakukannya mungkin saat ini aku tidak mempunyai teman seperti kalian. Kuharap kalian akan selalu bersamaku, "
"Harus donk. Kita dulu emang musuh lo, tapikan sekarang kita udah berubah., "
"Ya. Aku harap yang kalian katakan itu benar. Kalian harus tau. Aku bukan tipe yang gampang memaafkan orang. Jika kalian melepasku sekali, maka aku akan melepaskan kalian selamanya. "
"Ya... Gua paham kok. Kuy lah balik, udah mau malem nih. Ntar lo malah tambah ribut ama bapa lo, "
"Ya udah, aku duluan., " Dern segera memacu kecepatan motornya.
"Gua rasa dia kena masalah berat. Jelas banget mukanya yang kayaknya capek banget, "
"Gua pikir juga gitu Ben. Dia banyak ngelamun akhir-akhir ini.,"
"Mungkin kita harus main ke rumah Dern biar kita bisa liat langsung, "
"Oke. Kita juga harus ajak Naila Della dan Leo. Mereka juga teman Dern, mereka harus tau masalah ini. Entah kenapa gua ada firasat buruk, "
***
"Dern papah cuma minta kali ini aja. Tolong, untuk kali ini aja. Papa juga butuh pendamping, "
"Dern ngga akan halangin, asalkan papa juga ngelepas Dern nanti., "
"Dern!, "
"Dern udah ambik keputusan yang Dern anggap benar, jadi terserah Dern mau gimana., "
__ADS_1
"Dalam mimpi kamu Dern. Kamu milik papah dan hanya akan menjadi milik papah, "
"AP-!!!, "
"Jangan membantah Dern Ernest, "
"Kenapa papa jadi kayak gini sih?! Papa berubah tau nggak?!!, "
"Terserah kamu mau bilang apa. Ini untuk malem, tidur kan besok kamu sekolah. Oya dan besok kamu udah dapet misi. Besok pagi kamu temui papah diruang kerja. Good night boy, "
Dern hanya tersenyum remeh. Trnyata benar dugaanya, papahnya ini memang hanya melihat little agennya dari pada anaknya sendiri. Pusing menekan kepalanya, Dern memutuskan untuk tidur.
"Mati saja LITTLE AGEN!, " Racaunya sesaat sebelum mimpi menghampirinya.
***
"Jadi??, "
Saat ini Dern sedang berdiskusi bersama temannya untuk persiapan materi menghadapi ujian kenaikan kelas. Yang sedang dipermasalahkan kini adalah tempat untuk belajar kelompok. Mereka sepakat untuk di rumah saja, sebenarnya itu hanya alasan mereka untuk melihat seperti apa keluarga baru Dern, apa baik atau jahat. Tapi,,,
"Ngga. Pokoknya dirumah lo Dern. It's oke kalau emang nanti ngga bisa mungkin besok?, " Refan masih terus ngotot memaksa Dern.
"Huft oke oke. Besok, tapi jangan salahkan aku jika aku terlambat datang karena misi, "
"Oke ngga papa, "
Yah pada akhirnya Dern lah yang mengalah. Lagipula mungkin Beno juga Refan ingin mengetahui dimana rumah Dern jadi Dern biarkan saja. Tepat saat guru datang ke kelas, mereka sudah duduk manis ditempat masing-masing.
***
"Mereka cukup banyak tadi sore, jadi saya tidak bisa langsung meringkus mereka. Ada lima pemuda dan tiga wanita sebagai sandera. Keamanan cukup ketat tapi tidak ada pengamanan yang rumit. Untuk meringkus mereka akan lebih bagus besok, karena besok para sandera akan dipindahkan jadi mereka akan berkumpul besok mengingat harus akan sandera yang bisa saja kabur. Laporan saya selesai ketua, " Dern sedang melaporkan hasil dari pengintaian dari markas buronan yang akan menjual para sandera. Jika wanita mungkin akan dilelang, tapi jika laki-laki kebanyakan akan dijual organnya. Rico yang menerima laporan tentu saja tersenyum puas.
"Bagus. Besok bawa empat orang untuk meringkus mereka, " Rico berniat melanjutkan pekerjaan kantornya tapi terhenti saat Dern memyauti perkataannya,
"Maaf ketua. Apa saya bisa diganti dengan yang lain. Besok saya ada urusan dengan teman, " Hening sejenak
"Kau tau bukan? Kau harus mementingkan misi daripada apapun, termasuk kegiatanmu dengan temanmu itu. Kuharap kau tau maksudku agen, "
__ADS_1
"Tap--, "
"Tidak ada bantahan agen Dern. Sekarang keluarlah karena banyak yang harus dikerjakan saat ini, "
Dern langsung keluar tanpa berkata lagi. Dia tau itu akan percuma. Tapi tentu tetap ada perasaan dongkol dalam hatinya. Sekarang dia harus bisa berfikir bagaimana caranya agar misi besok selesai dengan cepat. Dia tidak ingin mengecewakan teman-temannya.
***
Malam ini Dern sengaja datang ke ruang makan dengan tepat saat makan malam akan dimulai. Dia tidak ingin berlama-lama bersama keluarga baru papanya. Itu akan sangat asing.
"Hallo Dern. Kau sedikit terlambat eoh? Kakakmu sudah tidak tahan karena cacing diperutnya sudah mengadakan konser sedari tadi. Ahahaha,,, " Iki terlihat cemberut dengan candaan yang dilontarkan oleh Rico. Dern tau itu dilakukan untuk menghilangkan ketegangan yang akan terjadi. Tapi Dern tidak akan terpengaruh sedikitpun. Papahnya yang sudah menghilangkan senyum yang sempat muncul kembali. Tidak akan mudah mengembalikannya lagi.
"Dern? Kau tak apa? Wajahmu tampak pucat?, " Rosa mencoba mengakrabkan diri dengan Dern, sadar dirinya harus mendapatkan Dern jika ingin mendapatkan Rico juga.
"Tidak, "
"O-oh baiklah. Jika ada sesuatu katakan okey?, "
"Hmn, "
Rico tampak senang karena mendapati Dern yang sudah mau menimpali pertanyaan Rosa. Meski hanya singkat, itu adalah suatu kemajuan.
Berikutnya adalah dentingan sendok garpu bertemu piring. Tidak ada yang bicara. Memang seperti itu adabnya. Mereka akan bicara setelah selesai makan. Seperti sekarang. Setelah makan, Dern langsung beranjak. Tapi sebelum melangkah sedikitpun, Rico menghentikannya dan menyuruhnya duduk.
"Rosa kupikir kau dan Iki akan lebih baik tinggal disini saja. Kita akan segera menikah. Jika disini kau akan terlindungi. Jadi? Kau mau kan?, " Rosa terlihat seperti menimbang-nimbang segala kemungkinannya. Dern tau saat dia melihat Rosa meliriknya. Begitu juga dengan Iki.
"Jadi Dern? Bagaimana menurutmu?, "
Dern mengangkat sebelah alisnya, kemudian memutar bola matanya. Jengah rasanya terlibat dalam urusan keluarga bahagia di depannya.
"Sudah tau jawabanku bukan?, "
"Baiklah sudah diputuskan mulai malam ini kalian tinggal disini. "
"Makasih pah. Dan makasih juga Dern, "
Dern tidak peduli itu sama sekali. Dia hanya ingin segera tidur. Tubuhnya lelah. Berberapa hari ini tidurnya juga kurang nyaman. Bahkan siang tadi ia sempat merasa pusing. Tapi Dern selalu berfikir kalau itu hanya akibat kelelahan.
__ADS_1