The Young Agent

The Young Agent
Tindakan Gila


__ADS_3

Sherly bingung apa yang akan dia lakukan sekarang. Harusnya saat ini dia akan membersihkan kaca yang ada di tangan Dern dan juga menjahit luka yang ada di lengan Dern. Semua itu harus dilakukan segera agar lukanya tidak infeksi. Akan tetapi tanpa obat bius bagaimana Dern bisa menahan sakitnya. Bahkan jika menggunakan obat bius akan tetap terasa sedikit sakit terutama saat pengaruh obat bius itu mulai memudar. Apalagi jika tanpa obat bius sama sekali. Seketika Sherly terdiam melamun, bingung dengan langkah apa yang akan diambilnya.


"Tan?! tante?!! " panggil Leo


"Sherly?! hey?! "


"Eh eeh eehh iya Rico? "


"Kenapa kamu malah melamun bukannya melakukan tindakan segera" ketus Rico


"Maaf Rico,, tapi.... eumm"


"Apa? tapi apa Sher?! "


"Peralatan yang aku bawa saat ini tidak lengkap, bahkan obat bius pun tak ada"


"Apa?! Sherly kamu bagaimana sih?! kenapa kamu bisa seceroboh itu?!" Rico sangat kesal


"Sabarlah Rico, tenang. Kita harus tenang" ucap Eric menenangkan Rico


"Diam!! " gertak Rico


"Om, om sabar dulu donk kalo om terus emosi tante Sherly juga akan jadi ikut bingung" celetuk Naila


"Huuuhft..... Baiklah Sherly lakukan tindakan dengan alat seadanya saja"


"Apah?! Rico kau sudah gila! Bagaimana bisa aku menjahit luka Dern tanpa menggunakan obat bius?! Itu sama saja menyiksa Dern" Sherly sungguh tak menyangka Rico bisa mengatakan hal itu


"Rico, pikirkan baik baik apa resikonya"


"Aku sudah memikirkannya Eric"


"Om tapi kan itu bakal sakit banget,,, kasian Dern om"


"Maaf Leo, tapi om sudah ambil keputusan. Sherly lakukan sekarang" titah Rico


"Baiklah, jika memang ini keputusan yang terbaik menurutmu"


Sherly melepas kemeja putih yang Dern kenakan. Menyiapkan alat alat yang ia butuhkan untuk menjahit luka Dern dan membersihkan serpihan kaca yang masih menancap di tangan Dern. Sherly begitu ragu untuk melakukan ini semua. Ini adalah tindakan gila menurutnya.


Saat Sherly membuat lilitan kain yang membalut luka ditangan Dern, ia dikejutkan dengan jari Dern yang bergerak. Sherly memfokuskan pandangannya pada raut wajah Dern yang terlihat kesakitan. Matanya terbuka perlahan.


"Dern?! kamu sudah sadar?! " tanya Sherly cemas


"Hsshhhh auu hs" rintih Dern kesakitan. Tangan kirinya memegang lengan yang terluka


"Dern,, kamu ngga papa? " tanya Rico panik


Dern hanya menggelengkan kepalanya


"Dern,,, tante akan bersihkan luka kamu. Kamu tahan yah, karena tante tidak memberikan obat bius pada kamu. Mungkin ini akan sakit"


"Ah a.. a. apa? " tanya Dern tak percaya, bagaimana ia bisa menahan sakit tanpa obat bius


"Ngga.... Dern ngga mau" rengek Dern lemah


"Dern kamu harus mau yah? papah takut luka kamu bisa infeksi"

__ADS_1


"Leo,,, itu om Rico gila apa yah? bisa bisanya dia suruh tante Sherly buat bersihin lukanya es batu tanpa obat bius? duuhhh ngga kebayang deh gimana sakitnya? " bisik Naila pada Leo


"Gua juga pikir gitu,,, kan kasian Dern nya" jawab Leo berbisik


"Udah deh kalian diem aja, kita do'a in aja semoga Dern ngga papa" bisik Della menghentikan obrolan Leo dan Naila


"Tapi pah, itu.... "


"Ya udah deh" akhirnya Dern hanya bisa pasrah


"Baik, kamu siap ya Dern? "


Dern sungguh tegang, dan semuanya pun ikut tegang


Sherly menuangkan air keras ke luka yang ada ditangan Dern. Kemudian ia mencabut serpihan kaca yang masih menancap diluka itu satu persatu.


"Aaaaaggghhhhh.... aargh.. huh... aargh" teriak membuat Rico dan Eric ikut panik


"Tenang Dern kamu jangan banyak gerak dulu" ucap Sherly ikut panik karena Dern terus berontak


"Aduh udah donk tante, kasihan Dern nya. Leo ngga tega deh" celetuk Leo, sambil menahan air matanya


"Aargh,,,sakiiiittttt huh huh huh aargh" teriak Dern lagi sambil berontak. Darah segar mengalir ditangan Dern


"Dern kamu tenang dulu" ucap Eric hampir emosi


"Dern, tenang Dern" ucap Rico yang kini berada disamping kiri Dern sambil memegang tangan kiri Dern agar tidak berontak


"Paaah... papah,, aargh" satu lagi serpihan kaca tercabut dari tangan Dern


"Sherly cepat selesaikan! " gertak Eric emosi


'Duuh kasian banget sih es batu. Pasti sakit banget deh. Semoga proses ini bisa berakhir secepatnya'batin Naila yang ikut panik


"Eric bantu aku untuk menahan Dern yang terus berontak"


"Iya Rico" Eric langsung mengunci pergerakan kaki Dern agar tidak membuat ia semakin bebas bergerak


"Kamu tahan ya Dern, maafin tante" ucap Sherly membuat semua semakin tegang


"Aaaaaarrgghhhh.... Udah tante, please. Aaarrrgghhh" ucap Dern sampai menangis


Beberapa penjaga yang berada diluar kamar Dern langsung panik dan masuk kedalam. Betapa terkejutnya mereka melihat Dern sedang ditangani oleh Sherly dalam keadaan sadar tanpa obat bius sama sekali.


"Aduh udah donk tante, itu es batu udah nangis. Kasihan dia" ocehan Naila sama sekali tidak digubris oleh Sherly, sedangkan para penjaga langsung bertindak membantu Rico dan Eric


Triingggg...


Sudah pecahan kaca yang ketiga Sherly cabut. Sekarang tinggal satu lagi. Dern sudah tampak lelah, lemah, pucat, tak bertenaga dan tubuhnya sudah dibanjiri keringatnya sendiri.


"Tahan Dern ini yang terakhir"


"Ngga tante,,, Dern mohon Dern udah ngga kuat. Aargh,,, please tante... udaaaahhhh" Ucap Dern sambil menangis, dalam hatinya dia memilih untuk tidak sadar tadi agar ia tak merasakan sakit yang luar biasa ini


"Kalian tahan Dern yah" pinta Sherly


"Uuh,,,, aaaarggghhhhhh... Aaaarggghhhhhh" Dern pun lemah bersandar pada Rico

__ADS_1


"Paah udah pah Dern ngga.... argh"


"Kamu tenang ya Dern. Papah minta maaf. Pasti sakit banget yah? tapi kalau tidak ditangani segera, luka kamu bisa fatal. Kamu tenang yah" ucap Rico menenangkan Dern sambil membelai rambut Dern yang sudah basah oleh keringat


Sherly membalut luka Dern.


"Ayo Sherly cepat lakukan" Sherly mengangguk dan mempersiapkan untuk menjahit luka Dern.


"Paahhh hiks,, hiks,,, please" Dern sungguh tak tahan dengan ini semua


"Aduh kalo tau bakal kayak gini, mending gua ngga ikut kesini deh" celetuk Naila pada Leo


"Aduuh gua ngga tega deh sama Dern" Leo meneteskan air matanya tak kuasa melihat temannya itu meronta kesakitan.


"Tahan yah Dern" Sherly mulai prosesi menjahit


"Aaaaaarrrrgggggghhhh.... pah papah" teriak Dern. Tangan kirinya meremas selimut yang menutupi kakinya. Darah mengalir di lengan Dern


"Tante,,, udah tante,, Dern mohon.... Aaaaaarrgghhhh...."


"Iya Dern, sebentar lagi"


"Paaah aargh"


"Baiklah sudah selesai"


"Huh huh huh huh,, argh"


"Dern kamu jangan banyak gerak dulu yah, karena jahitan kamu ini baru dan bisa terbuka lagi" Dern tidak bergeming. Rico masih memeluk putranya itu


"Kamu memang the little agent" kalimat itulah yang Rico bisikkan ditelinga Dern


Dern masih mengatur nafasnya. Entahlah, mungkin Dern masih syok.


"Leo? apa kamu bisa ceritakan sekarang kejadian yang menimpa Dern? " tanya Rico


"Jadi gini om,,,, "


"Leo lebih baik kalian pulang yah, ini sudah gelap" ucap Dern lemah yang sedang bersandar


"Oh iya yah,,, ya sudah om kita pamit yah" pamit Della


"Cepet sembuh yah es batu"


"Tumben kamu baik" celetuk Dern


"Dasar es batu, emang gua orang baik. Lo aja yang ngga mau liat sisi baik gua. Lagian gua itu do'a in lo biar cepet sembuh itu biar ntar gua punya temen debat. Makanya itu jangan kaya es batu, kepala batu orang disuruh ke rumah sakit aja ngga mau"


"Orang lagi sakit, masih aja di ajak debat" gumam Dern


"Kok kaya ada yang ngomong yah, tapi mana orangnya"


"Iiih nyebelin banget si, dasar nenek nenek. Udah sanah pulang aja. Ganggu tau" Rico hanya bisa terkekeh melihat tingkah mereka berdua


"Iiih awas aja yah lo, dasar es batu"


"Udah Nai ayo kita pulang, biar Dern istirahat. Dern cepet sembuh ya, kita pamit pulang"

__ADS_1


"Iya Leo, makasih ya"


"Iya sama sama"


__ADS_2