
Hari ini Beno berniat mengajak Refan pulang bersama. Tapi dia justru disuguhkan dengan pemandangan yang dirasa tidak enak. Disana terlihat Refan yang sedang berbincang dengan Leo CS. Karena jiwa penasarannya meronta, ia putuskan untuk mendekat saat Refan sedang memegang belati. Sebenarnya tidak asing lagi baginya, jika Refan memegang benda tajam. Dia sendiri tau kalau Refan adalah anggota dari sekelompok penjahat. Walaupun belum lama ia mengetahui fakta ini.
Dilihatnya Refan sudah menarik keluar belati dari wadahnya. Beno sudah ada di sebelah Refan. Refan tampak tak percaya dengan yang dilihatnya.
"A-apa?! ba-bagai-mana bisa?! "
"Kenapa Fan? Itu belati mini punya siapa? " tanya Beno yang dalam mode penasaran
"Itu punya Dern, " Leo menyahut
"Kenapa Fan? Kok kaya tegang gitu? " lanjutnya bertanya disetujui Naila dan Della
"Gu-gua,,, em... huft gini ya semuanya, sebelumnya gua peringatin kalian. Terutama sama lo Ben, "
"Kok gua?! " tanyanya sewot
"Iya. Lo kan musuhnya dan benci sama dia kan? "
"Iya, "
"Jangan cari masalah sama Dern. Sejujurnya, tadinya gua masih ragu buat baikan sama Dern. Gua rasa juga gua mau mulai tobat aja. Apalagi tau faktanya itu anak. Hah gua ngga makin yakin buat tobat dan mulai baikan sama dia. "
"Maksudnya? "
"Eh kutil! ngga usah main teka-teki deh! kata-kata lo tu A-M-B-I-G-U! "
"Iya ngga jelas banget lo, "
Refan hanya menghela nafas pasrah
"Kalo kalian mau tau, besok sepulang sekolah kita tanyain ke orangnya langsung. Gua juga ada yang mau di omongin sekalian. Dan belati ini, biar gua yang simpen. Kalian bisa percayain ini ke gua. Gua harap kalian percaya dengan usaha dan perkataan gua. " setelahnya Refan melenggang pergi disusul Beno di belakangnya. Akhirnya Leo CS juga memutuskan untuk pulang.
Hari ini adalah hari kemerdekaan Dern. Hukumannya yang berjangka waktu satu minggu sudah berakhir. Tapi moodnya sedang buruk. Walaupun satu hukuman sudah selesai, masih ada dua hukuman yang harus dijalaninya.
Di sekolah ralat di depan samping gerbang sekolah ada Leo CS beserta Refan dan Leo. Tampaknya mereka sudah berbaikan, terlihat mereka yang tertawa bersama. Tawa mereka berhenti kala melihat ada mobil hitam berhenti tak jauh dari mereka.
"Itu dia, "
"Siapa Fan? "
"Ya Dern lah Ben, emang ada yah anak yang bisa datang pake mobil ditambah penjaganya,"
"Ternyata dia memang anak orang kaya, "
__ADS_1
"Tapi kok Dern ngga turun turun yah, "
"Sabar Le, ntar juga es batu turun. Kagak sabaran amat. "
Benar saja. Beberapa saat pintu depan terbuka menampilkan seorang penjaga menenteng tas hitam. Ia berjalan ke arah pintu belakang. Kemudian membukanya, membiarkan tuannya keluar. Pelan namun pasti. Dern keluar dengan gerakan slow motion. Tentu itu tak lepas dari pengamatan Leo CS beserta Refan dan Beno. Penampilan Dern sedikit berbeda. Dengan jaket kulit hitam menutupi tubuhnya tanpa di resleting dan sarung tangan hitam setengah jari di tangan kanannya, membuat dirinya tambah menawan. Dan satu lagi, sepatu yang berbeda dari biasanya. Setelah Dern mengambil alih tasnya, ia mulai beranjak begitupun dengan mobil beserta penjaga yang mulai meninggalkan sekolah.
"Kembaran gua akhirnya datang juga! " pekik Leo seraya memeluk Dern, semua hanya sweatdrop melihatnya
"Gimana keadaan lo? lo dah sembuh kan? Udah sarapan? minum obat? lo ngga lupa kan? "
"Diem, dasar bawel. "
"Ck! lo kenapa si?! pagi-pagi udah pakek muka dingin gitu?! Senyum napa senyum, "
Dern menulikan pendengarannya dan bergegas masuk ke kelas.
Hari ini Kelas Dern sungguh ramai karena tidak ada guru yang masuk. Yang ada hanya guru piket memberikan sebuah tugas. Tapi mungkin akan segera berakhir. Karena ternyata ada satu mapel yang berjalan dengan guru pembimbing. Apalagi kalau bukan mapel baru, yaitu seni musik. Semua murid nampak antusias dengan pembelajaran kali ini. Sekarang mereka sedang mendengar penjelasan dari sang guru di ruang studio musik. Sang guru sedang memainkan sebuah melodi menggunakan piano. Melody mengalun merdu, semua menikmati termasuk Dern. Ia memang menyukai musik.
"Baik anak-anak, apa kalian menyukai melody tadi? "
"Iya" jawab mereka serentak
"Oke. Apa diantara kalian ada yang menyukai musik? "
"Ada" jawab mereka lagi
"Em... Hiburan, "
"Kau, " tunjuknya lagi pada Naila
"Untuk di dengarkan, "
"Kau, " Sekarang Beno
"Suara, "
"Kau, " pada Leo
"Susunan nada, "
"Haah,,, Kau, " kali ini pada Dern yang memandang lurus kedepan dengan tatapan menerawang. Semua mengalihkan pandangannya pada Dern.
"Menurutmu apa? " ulang sang guru karena belum menjawab pertanyaan. Dern memejamkan mata sekejap dan membukanya diiringi hembusan nafas ringan.
__ADS_1
"Emosi, "
Hening
"Yah, itulah maksud saya. Ternyata masih ada yang bisa memahaminya, " ucapnya tersenyum puas. "Jelaskan, " titahnya
"Setiap melodi mengalun, merambat ke udara. Melepas emosi yang ada. Menyalurkan emosi sang pemusik. Jika inti musik yaitu melodi, maka musik adalah,, sebuah emosi. "
Prok.. Prok.. Prok..
ProkProkProk.. ProkProkProk.. ProkProkProk
Sambutan tepuk tangan kagum dengan penjelasan Dern. Bagaimana bisa, seorang Dern yang dingin bagai es batu dimana orang meyakini hatinya juga beku. Kini menjelaskan tentang emosi, seakan dirinyalah yang paling tau.
"Hebat. Siapa nama kamu? "
"Dern. Dern Ernest. "
"Oke, sekarang kamu maju kesini. "
Dern menurut dan maju dengan wajah datar nan mempesona.
"Baiklah, silakan kamu mainkan piano ini. Bisa kan? " Dern mengangguk, tapi sejujurnya ia ragu karena sudah lama tidak memainkannya.
'Apa bisa? seorang Dern? " Begitulah kira-kira yang dipikirkan oleh mereka
"Bagus. Silahkan, kamu mainkan melodi. Terserah kamu apapun itu. Dan buktikan tentang penjelasanmu tadi. " Ia kemudian melangkah memposisikan diri disebelah Leo sambil memperhatikan Dern. Dern sendiri sudah dalam posisinya.
[🎶🎶🎶Suara Pangeran Kecil Ku🎶🎶🎶]
Semua terhipnotis. Tanpa sadar mereka meneteskan air mata. Entahlah, rasanya mendengar melodi yang dimainkan oleh Dern membuat mata mereka memanas. Sedangkan Dern sendiri juga sudah menahan air matanya mati-matian, tapi tetap saja air matanya lolos begitu saja. Entah kenapa rasanya sesak di dada saat memainkannya. Ada sedikit rindu bercampur dengan rasa kecewa, sedih, sakit, dan marah yang bercampur jadi satu. Mungkin itulah alasannya mereka meneteskan air mata. Karena sang pemusik yang tidak lain adalah Dern, menyalurkan emosinya secara tidak sadar. Sampai melodi berhenti dan semua kembali sadar.
Tepuk tangan kembali bergemuruh. Mereka memberikan tepuk tangan sambil sesekali menyeka air mata.
"Hebat. Fantastis. Luar biasa. Amazing. Is magic. Kami semua merasakannya Dern. Kau hebat. "
"Gua ngga nyangka lo bisa main musik, "
"Iya apalagi es batu kaya lo, "
"Kalo bapak boleh tau melodi apa yang baru kau mainkan. Melodi ini terasa asing, bahkan bapak baru mendengarnya, "
"Saya sebut Suara Pangeran Kecil Ku, "
__ADS_1
"Woah, baiklah. Kamu boleh kembali ke tempatmu karna kita akan mengakhiri pertemuan, dan ini sudah waktunya pulang. Oya satu lagi, sebagai hadiah nilai seni kamu pak guru beri sempurna. "
"Terima kasih pak, "