The Young Agent

The Young Agent
Menjalankan Misi 2


__ADS_3

Oke. Jadi sesuai rencana, hari ini Refan dan lainnya akan ke rumah Dern untuk belajar. Refan sendiri dengan motornya. Sedangkan Beno membawa Della dengan motornya. Mereka sepertinya sudah ada hubungan. Beno sesekali memperlihatkannya pada yang lain. Della hanya diam tapi terkadang wajahnya menjadi merah karena menahan malu.


Naila bersama Leo dengan motor pemberian Dern. Mereka seperti tom and jerry. Sepanjang jalan, ada saja yang diributkan. Tapi itulah yang membuat mereka terlihat dekat.


Refan sendirian dan paling belakang. Leo didepan memimpin. Sedangkan Beno berada ditengah. Mereka memutuskan untuk kesana lebih awal dari yang dijanjikan. Karena memang sekolah pulang lebih awal. Dengan waktu yang dijanjikan sebelumnya saja Dern mungkin akan terlambat apalagi sekarang lebih awal. Mereka harusnya tau kalau Dern sedang ada misi. Atau memang mereka lupa?


Hanya dalam waktu tujuh belas menit. Mereka sampai didepan pagar besi menjulang tinggi. Mereka pasti ini adalah rumah Dern. Refan dan Beno sedikit ternganga karena baru pertama kali datang. Dari luar saja sudah jelas kalau rumah yang ada didalamnya itu rumah yang mewah.


Masing-masing turun dari motor dan mendekat satu sama lain. Sekarang yang menjadi masalah adalah caranya masuk. Mereka tidak mungkin kan masuk tanpa ijin.


"Kenapa disini saja? Kita tidak masuk?, " Pertanyaan bodoh dilayangkan oleh Beno


"Silahkan masuk dan menjadi keroyokan para penjaga didalam, " Jawab sarkas Naila


"Jadi kita tidak bisa masuk?, "


"Gua ngga tau pasti, tapi terakhir kita kesini mereka ngijinin kita masuk kalau udah ada janji atau memang sudah diijinkan masuk oleh orang dalam, " Leo menanggapi pertanyaan Refan.


"Hei!!, " Mereka sedikit tersentak mendengar suara seseorang di ambang pintu gerbang yang terbuka sedikit.


"O-oh om. Kita ada janji sama Dern om? Bolehkan kita masuk?, " Leo mengatakannya dengan sedikit terbatas.


"Tapi tuan muda belum kembali jadi sebaiknya kalian pulang, "


"Kita tunggu aja didalam ya om?, "


"Maaf tapi tid--, "


"Biarkan mereka masuk, " Ucapan penjaga tersebut terpotong oleh orang yang menyatukan dari belakang penjaga.


Refan dan lainnya mengalihkan pandangannya pada sumber suara tadi. Bisa mereka lihat seorang anak laki-laki yang umurnya mungkin lebih satu tingkat di atas mereka. Mereka kenal dia. Dia adalah, ora yang pernah makan siang bersama Iki.


"Tapi tuan, "

__ADS_1


'Tunggu tuan? Jadi dia ya? Gua bisa merasakan ada yang aneh dengannya, '


'Apa dia orangnya? Kenapa gua merasa ngga nyaman ya?, ' Refan dan Beno sama merasakan ketidaknyamanan.


"Tidak apa, mereka sudah bilang kalau mereka teman Dern bukan? Jadi biarkan mereka masuk, aku akan bertanggung jawab."


"Baik tuan. Silahkan masuk dan bawa motornya juga sekalian, "


"Ayok, "


Mereka buru-buru membawa motor mereka kedalam. Ditempatkan di tempat yang sudah di siapkan.


Sampai di dalam mereka tidak bisa tidak takjub dengan isin rumah Dern. Tidak lama ada seorang wanita yang menghampiri mereka.


"Hallo, teman Dern kan? Perkenalkan nama tante Rosa dan ini anak tante Iki, "


"Hai tante. Saya Naila, ini Della dan ini Leo. Itu Refan dan sebelahnya Beno. Kita ada janji sama Dern tante, "


Mereka hanya menurut. Masing masing mulai mendudukkan diri.


"Kalian tau tentang Dern bukan? Sekarang dia belum kembali, "


"Ooh begitu ya tan?, "


"Iya tapi sambil menunggu Dern datang, gimana kalau kalian bantu tante buat puding? Kalian mau?, "


"Wow mau mau donk tan, yok Dell ikut?, "


"Ayok lah, "


"Terus kita dimana donk tan?, "


"Ngga papa, kalian ikut gua maen. Lumayan kan buat ngilangin bosen, "

__ADS_1


"Wah boleh tu, "


"Yaudah pokoknya anggep rumah sendiri aja,"


Della dan Naila mengikuti Rosa sedangkan Leo Refan dan Beno mengikuti Iki ke ruang tengah. Leo Della dan Naila sangat bersemangat. Berbeda dengan Refan dan Beno yang tetap merasa tidak nyaman. Sedari tadi mereka tidak bicara sedikitpun.


Leo dan Iki terlihat menikmati permainan video game sambil sesekali mencomot camilan yang sudah disiapkan palayan. Leo sudah berusaha memaksa Refan dan Beno untuk ikut bermain, tapi nyatanya tetap menolak. Begitu juga dengan Iki tapi mereka tetap pada pendirian mereka untuk menunggu sampai Dern pulang. Tujuan mereka kesini adalah Dern jadi mereka ada disini hanya untuk Dern.


Sama dengan Leo, Della dan Naila terlihat nyaman dan akrab dengan Rosa. Membuat puding bersama. Sesekali melempar canda satu sama lain. Mungkin setelah ini mereka tidak akan mempercayai opini Dern.


***


Meninggalkan kesenangan Leo Naila dan Della, disini Dern justru sedang menahan sakit di tubuhnya. Saat ini dia sudah menjalankan misi, namun saat membebaskan sandera dia justru lengah dan tergores pisau beracun. Racunnya memang tidak terlalu berbahaya, hanya akan membuat seseorang mimisan, muntah darah dan badannya melemah beberapa hari tapi tidak sampai membunuh. Meskipun begitu racun ini cepat menyebar jadi sulit untuk melakukan tindakan pencegahan. Jika sudah mimisan atau muntah darah mungkin akan lebih baik, karena badan dasarnya racun itu keluar bersama darah.


Agen yang bertugas bersama Dern sebenarnya sudah menyarankan untuk ke rumah sakit atau ke medis agen. Tetap saja Dern tidak mau. Dia tidak lupa kalau hari ini ada janji dengan temannya, jadi dia harus kembali ke rumah secepatnya. Dern hanya bisa duduk diam membungkuk sambil mengatur nafasnya perlahan. Racunnya langsung bereaksi sesaat setelah pisau dari sang pemimpin menggores kulitnya. Tapi dia terus memaksa melawan pemimpin penjahat yang menyerangnya, tidak perduli dengan kondisi tubuh melemah.


Pening lemas dan panas terasa berbenturan satu sama lain dalam tubuhnya. Dua agen yang setia disampingnya dan sisanya mengevakuasi sandera.


"Tuan muda, sebaiknya anda dirawat saja, " Tetap pada pendiriannya, Dern menggelengkan kepala.


"Benar, kondisi tu-- astaga ambilkan tisu cepat!, " Mereka panik bukan main melihat darah mengalir dari hidung tuan mudanya.


Dengan telaten mereka membersihkan darah mimisan Dern. Dern pun hanya pasrah. Sejujurnya dia bahkan tak kuat untuk sekedar berucap ataupun membuat matanya tetap terjaga. Dasarnya kesehatan tubuhnya memang sedang terganggu, sekarang akan lebih memburuk.


"Sebaiknya kita bawa tuan muda ke mobilnya, salah satu dari kita membawa motornya., "


"Mari tuan, "


Entah pingsan atau tidur, sekarang Dern sudah menyerah. Memutuskan untuk menutup matanya saat sudah dalam mobil. Sebelum itu Dern sudah meminta agar membawa mobil melewati jalan biasa dan sampai di halaman depan, agar tidak mencurigakan. Walaupun mendapatkan protes, tetap saja pada akhirnya mereka menurut.


Kondisi Dern tidak bisa dikatakan baik. Perutnya terasa diaduk tenggorokannya juga panas. Belum lagi kepalanya yang terasa mau pecah dan badannya panas dalam terbakar. Dengan wajahnya yang sudah pucat pasi, keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya. Rambutnya bahkan sudah lepek. Menahan agar tidak berteriak. Hanya bisa mengepalkan tangan dan sesekali mengerang. Satu botol yang ia habiskan karena merasa akan terus muntah. Dia harus bertahan setidaknya sampai di rumah dan menepati janjinya kepada teman-temannya. Berharap saja semua baik-baik saja.


*) Jangan lupa like coment and vote,,... Terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2