The Young Agent

The Young Agent
Permainan


__ADS_3

Salah.


Mereka, Leo Della dan Naila. Hari ini telah salah. Meninggalkan orang yang sudah berjuang demi mereka. Tak tahukah kalau sudah banyak yang hilang darinya demi bersama mereka. Tak tahukah mereka jika ikatan mereka yang susah payah terpasang, kini sudah hampir lepas. Tak tahukah. Kenapa dipenuhi kata tak tahukah. Seakan dunia pun telah payah memberi tahu.


Sedangkan Dern. Memang apa yang bisa dia lakukan?. Flashback menerawang mundur kebelakang. Disaat dirinya kehilangan sahabat kecil. Sekaligus penghianatnya.


Dern kembali. Kembali menjadi yang tak tersentuh. Hatinya kembali membeku. Tanpa sadar. Dia berjalan mundur. Takut jika maju dia akan masuk dalam mimpi buruk dan terpuruk. Kini harapannya sudah memudar, bahkan samar. Hanya dua orang teman. Bukankah itu hanya cukup?. Dern sendiri pun tak peduli. Dia kembali pada Dern yang dulu. Tak perlu ada penopang lain untuk membantunya berdiri. Cukup dua kakinya sendiri. Berdiri sendiri. Berjalan sendiri. Dern sudah sendiri.


"Kalian ngga pulang?, " Pertanyaan Dern memecah keheningan. Refan dan Beno serentak menoleh. Didapatinya Dern dengan wajah pucat pasi dan keringat sebesar biji jagung di dahinya. Mereka berdua mengernyit. Sudah mereka duga bukan, sejak awal ada yang tidak beres dengan Dern. Wajahnya lebih pucat. Bibir yang biasanya berwarna merah kini mulai memutih. Matanya yang biasanya tajam bak elang yang membidik mangsa, kini mulai menyayu.


"Kita bakal pergi kalo lo bilang ke kita. Ada apa si, lo sakit? Muka lo pucet bet sumpah, "


"Aku ngga-, "


"Jangan bilang ngga papa Dern. Bilang sama kita, lo kenapa. Lo lupa sama janji kita kalo ngga bakal ninggalin lo apapun keadaannya. Dan sekarang, lo ngga lagi baik-baik aja Dern. Kita ngga bakal semudah itu ninggalin teman yang udah banyak berjasa buat kita. Kita saudara, bukan temen. Please lo stop untuk pura-pura hebat dan kuat di depan kita. Kita juga bisa kok jadi penyangga lo kalo lo mau, "


"A-aku ak-hmmpt, " Sontak Dern membekap mulutnya saat merasa ada yang akan keluar. Matanya membola terkejut. Ada rasa panas di tenggorokannya. Dia sudah tidak tahan.


Beno dan Refan pun bingung dengan Dern. Apalagi saat Dern lari tunggang langgang menuju kamar mandi. Dern sangat terburu-buru, bahkan pintunya tidak sempat ditutup. Karena penasaran, mereka berdua memutuskan menyusulnya.


Hoek


Hoek


Uhuk... Uhuk....


Seketika mata mereka terbelalak. Melihat didepannya, Dern memutahkan banyak darah. Mata mereka memanas. Pikirannya berkecamuk. Didekatinya Dern agar mereka bisa membantunya. Hanya bantuan kecil menenangkan. Dengan mengusap punggung yang bergetar dan menepuk pelan.


Mata mereka memanas. Jadi ini yang sedari tadi Dern tahan. Darah. Dern memutahkan darah. Bukan hal sepele memutahkan darah.


"Dern,, lo ngga papa kan?, " Suara Beno bahkan bergetar. Dia tidak tega melihat temannya seperti ini. Dia lebih suka melihat Dern yang congkak dari pada Dern yang seperti ini. Dern hanya menggelengkan kepala. Refan hanya diam. Tapi dia sangat khawatir dengan keadaan Dern.


Dern sudah tidak muntah darah lagi. Tapi justru mimisan yang keluar lagi. Dern lelah. Badannya berkeringat dingin. Wajahnya sudah pucat pasi. Matanya yang berair semakin menyayu. Ini pemandangan yang menyedihkan.


Membasuh mukanya, agar sedikit segar. Juga mencuci tangan. Setelahnya bangun dari posisi bungkuknya. Dilihat dari cermin, keadaannya sudah mengenaskan. Ini baru satu hari ia terkena racun, bagaimana besoknya?. Dern hanya tersenyum miris. Harusnya tadi dia tidak memaksakan kehendaknya untuk pulang. Toh temannya sudah punya yang baru. Yang lebih baik darinya.


***


"Bagaimana?, "


"Kita masuk tahap tiga rencana bos. Lancar untuk saat ini, "


"Percepat!, "


"Tap-tapi bos, ti-, "


"Percepat saja, beritahu mereka. Dan dia juga,"


"Ba-baik bos, "

__ADS_1


Seketika senyum kemenangan terbit dari orang yang dipanggil bos itu.


'Mine hehehe,,, '


***


"Lo kenapa Dern? Lo sakit? Kenapa ngga bilang? Kita bisa batalin rencana kita, "


Posisi mereka sekarang sedang setengah melingkar di kasur Dern, dengan Dern yang menyandarkan kepala ranjang.


"Iya, gua setuju sama Refan. Dengan begini lo bikin kita khawatir. Lah jantung gua hampir loncat dari tempatnya. Kenapa lo malah maksain diri sementara kondisi lo it-, "


"Karena kalian semua. Aku pikir kalian udah nunggu aku, dan aku juga ngga mau buat kalian nunggu terlalu lama. Yah setidaknya aku pikir begitu. Dan beruntung ekspektasi ku tidak terlalu melenceng. Masih ada kalian berdua disini, "


"Terus lo tadi kenapa sampe muntah darah?,"


"Terus om Rico udah tau belum? Apa perlu kita antar ke rumah sakit, " Perhatian yang mereka berikan setidaknya bisa menghangatkan hati Dern.


"Misi tadi aku terkena racun. Bukan racun mematikan. Tapi bisa buat orang yang ngga kuat jadi sekarat. Muntah darah, mimisan, lemas. Itu reaksi tubuh pada racun yang masuk. Berusaha mengeluarkannya lewat darah. Dan papah. Papah ya. Mungkin dia tau,"


"Astaga. Kenapa ngga diobati?, "


"Karna ngga bisa, "


"Kenapa ngga kerumah sakit aja?, "


"Aku udah kasih tau jawabannya, "


"Karena papah lagi menuhin permintaan anak barunya buat nemenin ke mall beli perlengkapan sekolah, "


"Lah, sialan emang ya. Anaknya lagi sakit dia malah enak-enakan diluar sama keluarga barunya, "


"Oya Dern. Ngomong-ngomong keluarga baru papah lo itu ya, gua juga rasa ada yang janggal sama mereka. Apalagi Iki, "


"Iya. Gua juga ngerasa gitu. Apalagi waktu tadi itu loh, "


"Kalian ngga usah pikirin. Biarin aja mereka bahagia, toh semua orang berhak bahagia kan?, "


"Ya itu benar. Berarti lo juga berhak bahagia kan? Lo berhak bahagia bareng om Rico, hanya kalian. "


"Tapi aku bahagia. Pertama kalinya aku dapat teman yang begitu setia. Aku bahkan tidak menyangkanya sekali, mengingat bagaimana awal hubungan kita. Jadi tolong hentikan perdebatan ini, "


"Baiklah. Tapi sekarang, bagaimana dengan pertemanan kalian berti-, "


"Selesai. Sudah selesai. Jadi jangan bahas itu. Okay?, "


"Tapi itu-, "


"Tolong mengertilah, "

__ADS_1


"Hufh baiklah kami mengerti itu, "


"Em kalo gitu kita pulang dulu Dern. Lo istirahat aja. Cepet sembuh, "


"Ya. Hati-hati dijalan nanti, "


***


"Sudah mendapatkan?, "


"Sudah bos, "


"Bagus. Pergi dan laporkan segera!, "


"Baik bos!, "


'Sebentar lagi sayang. Tunggulah sebentar. Permainan, dimulai! '


***


Drt... Drt... Drt...


Getaran handphone membuat Dern menghentikan kegiatan rebahannya. Dia bosan menunggu waktu makan malam. Sehingga memutuskan untuk rebahan. Tapi terganggu lagi saat handphone nya bergetar. Tentu terganggu. Apalagi nomornya yang belum terdaftar, yang berarti itu adalah nomor asing.


'Haruskah ku angkat? Yah, daripada penasaran lebih baik angkat sajalah, '


Dern mengangkatnya, tapi tidak bersuara. Dia ingin mengetahui terlebih dahulu siapa sang penelfonnya. Sampai suara mengusik rungunya. Suara yang ia rindukan. Suara yang sudah lama tak terdengar, bahkan ragu apakah bisa terdengar.


'Hallo prince? '


Sejenak Dern menahan nafasnya. Apakah ia tak sedang bermimpi? Tidak. Ini nyata. Sangat nyata.


'Hai?! Apa prince mama ini masih ada disana atau tidak?, '


Yah. Itu adalah Anggun. Mama Dern. Yang selama ini dirindukan, tapi justru menjadi buronan.


"M-ma-ma?, "


Jujur Dern senang. Sangat senang. Dia bisa bicara dengan sosok yang berjasa untuk hidupnya. Yang melahirkannya. Tapi disisi lain ia juga sedih. Ia berbeda kubu dengan ibunya. Tidak akan pernah bisa bersatu.


'Yah. Ini mama. Sudah makan kah my prince?,'


"...."


Dern ingin mengucapkan sesuatu. Mengungkapkan seberapa rindu ia pada mamanya itu. Dia sendiri sekarang. Dia butuh mamahnya. Tapi lidahnya seakan kelu. Tak mau bergerak semili pun.


'Apa mama mengganggumu, prince? Oke. Makan teratur dan istirahatlah. Mama menyayangimu. Mama harap kita bertemu lagi prince, '


Tut

__ADS_1


Tidak. Dern belum mengucapkan sepatah kata pun. Dan panggilan sudah berakhir. Dern menghapus air mata yang tadi sempat lolos. Dern percaya. Akan jalan hidupnya. Tinggal dia saja yang mengikutinya.


__ADS_2