
"Kenapa handphone nya ganti Dern?, "
Suara Rico. Memecah keheningan yang sedari tadi melanda ruang makan ini. Dern malas sebenarnya untuk menganggapi papahnya. Dia sedang menikmati puding sebagai makanan penutup. Lalu Rico dengan mudah merusak kesenangannya. Dern juga tidak bisa untuk tidak menyahut dengan kata sarkas mengingat posisinya yang sedang tak aman. Namun dengan begitu akan membuat papanya semakin curiga. Dern juga takut Rico mengetahui bahwa Anggun kembali menghubunginya. Setelah sekian lama, dia punya harapan untuk bertemu. Yah, bertemu saja sudah membuat Dern bahagia, sungguh. Dern rindu mamahnya, Dern menyayangi mama Anggun meski mamahnya adalah orang yang jahat.
"Ngga. Cuma pengin aja, "
"Kemarikan!, " Dern tetap tidak bergeming. Itu menyakinkan Rico, kalau anak yang selama ini dalam kendalinya mulai melawannya.
"Dern?!!, Papa bilang kemarikan, "
"Kenapa repot-repot mengurusi ku. Urusi saja keluarga barumu!, "
Grregg...
Dern langsung saja kembali kekamarnya tanpa memperdulikan geraman Rico. Sampai di kamar, langsung saja tubuhnya keranjang. Ingin menyelami dunia mimpi. Tubuhnya lelah dan lemah minta untuk diistirahatkan.
Baru saja memejamkan mata, hidungnya terasa mampat. Seperti ada cairan yang keluar. Anyir. Tangan kanannya bergerak menyentuh hidungnya. Benar saja, disana sudah mengalir darah mimisan. Efek terkejut, Dern langsung mendudukkan diri menyebabkan kepalanya sedikit keleyengan.
"Huuh sampai kapan? Rasa-rasanya tubuhku sudah remuk, haruskah aku mengambil cuti?"
Gerutuan terus keluar dari bibir pucat nya sambil membersihkan bercak darah disekitar hidungnya. Sampai suara terbukanya pintu mengalihkan perhatiannya. Dari sana Rico masuk menghampiri Dern. Tatapannya yang tadinya datar berubah menjadi khawatir saat melihat banyak tisu dengan bercak darah disana.
"Hey, are you oke son?, "
Tangannya bergerak mengelus kepala Dern. Bertanya dengan lembut. Kemudian mendudukkan diri di samping Dern.
"Yeah, setidaknya untuk saat ini, "
"Dern. Tolong dengerin papa, " Tidak ada, sahutan. "Papa tau, kamu marah sama papa. Papa tau kamu nggak bisa terima ini semua. Tapi tolong lakukan demi papa. Bukannya dulu kamu juga yang pengin punya keluarga?"
"Tapi Dern minta mama Anggun, "
__ADS_1
"Ngga selama kamu masih sama papa. " Ucap Rico mutlak
"Kalo gitu Dern ngga bakal terima keluarga baru papa. Kalo mereka ngga pergi biarin Dern yang pergi. Dari rumah ini dan dari kehidupan papa, " Dern berucap datar. Tidak peduli dengan apapun yang akan terjadi setelahnya. Dipukul tak akan membuatnya lemah. Yah jangan lupakan predikatnya sebagai agen termuda yang berbakat dalam segala hal. Didikan dari kecilpun sebagian besar hanya seputar dunia agen dan misi. Terkadang dia juga heran pada papa nya, apa dia dibesarkan hanya untuk dikendalikan menjadi agen tangguh oleh papanya sendiri?.
Tapi justru Rico terkekeh singkat, sebelum mengatakan hal yang asing namun sangat berhasil membuat hati dan pikirannya panas.
"Kalau begitu, jangan harap papa lepasin kamu Dern. Kamu putra papa dan cuma milik papa, " Nahkan. Sudah dibilang kalau Rico itu sedikit banyak egois. Ingin bahagia tapi mengorbankan kebahagiaan anaknya.
"Sadar pah. Mereka belum lama papa kenal. Papa ngga tau asal-usul mereka secara jelas. Dern punya kecurigaan sama mereka. Dern cuma ngga mau ada apa-apa sama papa kok, bukan maksud Dern egois ngalangin papa bahagia. Dern juga bahagia kalau papa juga bahagia, " Dern menjeda ucapannya dengan mengambil nafas dan menghembuskan pelan. Menenangkan dirinya agar tak terbawa emosi yang justru akan memperburuk keadaan. Toh tujuannya hanya ingin memperingatkan bahkan kalau bisa menyadarkannya. "Tolong jangan mereka. Dern bakal pergi ke mama kalo papa tetep pada keputusan papa. Dern ngga main-main,"
"Sejak kapan si kamu berani membangkang pada papa? Ooh atau sejak kamu mulai bergaul di sekolah kamu itu? Iya?, "
"Dern ngga pernah membangkang. Sedikit tak terbesit dalam pikiran Dern. Papa ngga sadar? Papalah yang selama ini egois! Aku itu bukan robot yang papa rawat hanya untuk dikendalikan! Aku punya takdir dan jalan hidup sendiri, papa ngga berhak ngendaliin semua yang berkaitan tentangku seperti ini. Jadi, Stop it!!, "
"Ngga akan. Jangan harap kamu bisa bebas dari papa Dern. Kamu cuma milik papa seorang, "
"Itulah. Papa egois. Papa mau milikin aku dan semua yang papa suka. Papa berubah tau ngga. Papa kenapa si? Papa seperti bukan papa yang aku kenal. Ooh, atau jangan jangan karena wanita itu, papa berubah? Iya kan pa?! Dia yang udah bikin papa berubah!! Dia yang bikin papa jadi monster!! Dia ya--, "
Lagi lagi suara itu menggema dalam ruangan yang sepi. Suara dua kulit beradu dalam kecepatan berbeda. Menghasilkan bunyi yang cukup nyaring.
Panas? Ya.
Perih? Iya.
Sakit? Tentu.
Marah? Jangan tanya.
Kecewa? Sangat.
Sedih? Berat.
__ADS_1
Kesal? Tentu saja.
Semua bercampur menjadi satu dan dirasa oleh Dern. Tangan kanannya memegang pipi kiri yang sudah merah akibat tamparan yang tidak main-main kekuatannya. Ini sudah yang kesekian kalinya, Rico mengangkat tangan demi keluarga baru yang ia pertahankan. Dern tersenyum getir. Jadi benar ya, papanya tidak pernah bahagia dengannya? Papanya ingin keluarga sempurna yang bahagia? Sekarang, papanya sudah menemukan itu semua ya?. Jadi? Dia sudah tidak diperlukan lagi? Apakah dia hanya pion? Apakah dia tidak benar-benar diperlukan? Apakah ini adil? Apakah pengorbanannya selama ini yang hanya untuk menarik perhatian papanya itu sia-sia? Hidup matinya tidak berharga lagi kah? Apakah? Apakah? Apakah? Apakah?.... Terlalu banyak apakah. Dern tidak bisa memikirkan semuanya sekalian.
"Jaga ucapan kamu Dern. Dia itu mama kamu. Walaupun dia bukan mama kandung kamu, tapi dia sudah berusaha yang terbaik buat kamu. Hormatilah dia. Emangnya papa pernah ngajarin kamu buat kurang ajar sama orang tua?. Kalau kamu terus begini, papa akan pindah tugaskan kamu diluar kota bareng om Eric, om Sam juga tante Lily. "
"Terserah. Yang penting ngga sama mereka yang udah ngerusak hidupku. Termasuk juga---Anda, tuan Rico yang terhormat, " Senyum manis Dern keluar begitu saja setelah menyelesaikan kalimat tersebut. Tentu Dern tidak takut. Karena dia sudah tahu sebuah rahasia. Rahasia hidupnya yang sangat besar.
"Dern!!, " Gertakan Rico bahkan tak mempan sedikitpun. Dia justru semakin nyalang menatap Rico yang penuh emosi didepannya.
"Pokoknya papa ngga mau tahu. Jangan kamu berani pergi dari papa. Papa bisa aja kasar sama kamu kalau kamu sudah kelewatan., " Rico langsung membalikkan badan. Berniat pergi dari kamar putranya. Tapi saat ada di ambang pintu Rico kembali membalikkan badan menghadap Dern.
"Papa sayang kamu. Papa ngga akan pernah biarin kamu pergi dari kehidupan papa, "
Haaaahhhh....
Oke terserah. Dern sudah lelah dan kini semakin lemah. Tenaganya terbuang sia-sia untuk perdebatan yang tidak akan ada habisnya. Lebih baik tidur. Tapi entah dorongan dari mana ia justru membuka HP miliknya yang ia letakkan diatas nakas.
_satu pesan belum terbaca_
From : Mam
Good night prince and have a nice dream. Love U😘😘❤❤❤
Dern memutuskan untuk menjawabnya.
To : Mam
Love you too,, Mam😘
Ia bahkan tak sadar ada senyum lebar yang sudah ia ukir di wajah rupawannya. Hatinya menghangat. Terkadang ia bepikir, apakah jika keluarga yang dulu bersatu kembali kebahagiaan juga turut menghampiri? Entahlah. Sekarang harapannya satu. Bisakah ia menghabiskan waktu bersama Mama nya meski satu hari saja?. Mustahil kah?. Semoga saja tidak.
__ADS_1