The Young Agent

The Young Agent
Hormat Menghormati


__ADS_3

Mentari cerah menyapa hari. Semoga semua lancar. Itulah harapan Dern. Hari ini hari yang baru baginya. Kemarin identitasnya sudah terbongkar. Walaupun hanya teman-temannya yang tahu. Jujur saja. Dern masih ragu dengan keputusannya. Tapi dia juga memiliki keinginan untuk mempunyai teman. Menjalankan kehidupan seperti dulu, saat semua baik-baik saja--walau kenyataannya semua tidak pernah baik-baik saja dalam kehidupan Dern.


Kemarin dirinya sudah kacau. Dia sadar akan hal itu. Itu hal biasa yang tidak perlu diributkan, pikirnya. Sering kali dia marah-marah tidak jelas. Sherly bilang itu karena usianya yang berada dimasa labil. Dirinya paham kalau sekarang sudah tidak kanak-kanak lagi. Diapun sadar kalau sering manja dan kekanak-kanakan pada ayahnya, Rico. Dia harus mulai belajar dewasa. Itulah yang dia tangkap dari cerminan dirinya didepan. Helaan nafas lelah keluar entah yang keberapa kalinya. Mungkin benar, dia bahkan sudah tidak pantas untuk merengek meminta sebuah keluarga pada ayahnya. Sekarang dia juga harus sadar, siapa ayahnya? Siapa dirinya?.


Dern menggeleng pelan. Melirik jam tangannya sebentar. Matanya terbelalak, kala melihat ternyata pelajaran akan dimulai sepuluh menit lagi. Itu artinya, dia akan terlambat jika harus di antara. Secepat kilat dia menyambar tas dan berlari keluar menuju meja makan.


"Morning Dern? "


"Papah, kenapa tadi ngga manggil Dern?! Sekarang Dern udah telat, gimana donk?! "


"Memang kamu ngga punya jam? "


"Dern punya tap-"


"Berarti itu salah kamu bukan papah, "


"Ya udah kalo gitu Dern minta motor Dern balik lagi. Biar Dern cepet sampai dan ngga telat. "


"Ooh kamu mau kebut-kebutan? Iya? "


"Bukan pah tapi~"


"Udah, sekarang kamu sarapan dulu. Terus cepet berangkat. "


"Ga usah. Dern mau langsung berangkat aja daripada nanti tambah telat. Papan sarapan sendiri aja terus urusin pekerjaan Papah. " Dern langsung pergi dengan raut wajah kesalnya.


Dern sungguh terburu-buru. Sapaan dari dua penjaganya saja dia tidak menjawab. Dia langsung menyuruh supir untuk secepat mungkin. Tapi sepertinya ini adalah hari yang tidak berpihak padanya. Ditengah jalan malah ada kecelakaan yang menyebabkan jalan macet. Belum lagi saat sudah hampir dekat, ternyata ban mobilnya bocor. Tidak ingin menunggu lama, dia memilih untuk berlari.


Seragamnya sudah tak karuan. Keringatnya sudah meleleh membasahi wajahnya yang sedikit memerah kepanasan. Nafasnya sudah terengah-engah. Sudah lelah, ia harus berdebat dengan satpam. Berhasil. Dern berhasil masuk. Dia ingat, hari ini ada mapel Bimbingan Konseling yang di ampu oleh Pak Sar yang terkenal killer. Pupus sudah harapan. Sudah dipastikan kalau dia akan mendapatkan hukuman.


Kini Dern berdiri didepan kelas. Mengatur nafasnya yang masih terengah-engah. Dengan ragu dia mengetuk pintu dan masuk setelah diperintahkan. Dern masih memasang wajah datar dan tidak peduli. Setelah sampai di depan gurunya persis, ia mulai membuka mulut mengucapkan maaf.


"Maaf atas keterlambatan saya, "


"Apa alasannya? "

__ADS_1


"Dijalan ada kecelakaan yang menyebab-"


"Push up dua puluh lima kali. " Ucapnya datar dengan tatapan tajam nan membunuh


"Tapi pak saya be-, "


"Lima puluh kali. "


Semua berubah menjadi tegang. Terlebih teman Dern, mereka sungguh khawatir dengan teman yang ada didepan.


"Pak saya-, "


"Tujuh puluh lima kali sambil menghitung. Cepat. "


Semua hanya menatap prihatin Dern. Dern hanya mendengus pelan, sedangkan Pak Sar tersenyum kemenangan. Sudah lama ia tak menghukum murid yang melanggar aturan.


Dern mulai mengambil posisi menyerong. Tasnya dia letakkan disisi tubuhnya. Dern mulai mengangkat dan menurunkan badannya sambil menghitung. Pak Sar mengatakan kalau ini sebagai pelajaran bagi murid lainnya agar tidak melakukan pelanggaran.


"Lima puluh sembilan! "


"Kuat juga kamu yah, "


'Wuih kuat bener ni anak, '


'Hebat, '


'Apa ngga cape? '


'Ckckck, kasian. Tapi tenaganya ngga bisa diremehin, '


'Sabar ya Dern, '


Ungkapan-ungkapan terucap dihati setiap anak


"Tujuh puluh tiga, "

__ADS_1


"Tujuh puluh empat, "


"Tujuh puluh lima, "


Dengan segera Dern bangkit dan mengambil tasnya. Setelahnya duduk tanpa mengucapkan sepatah katapun.


"Saya tau kamu Dern Ernest, murid baru yang terkenal kecerdasannya. Tapi saya justru meragukannya, kamu bahkan tidak bisa menghormati orang lain. Apakah orang tua kamu tidak pernah mengajarkanmu demikian? " Ucap Pak Sar sambil menyeringai tipis sedangkan Dern menatapnya datar bahkan terkesan dingin. Selanjutnya Dernlah yang menyeringai, Pak Sar menatapnya bingung


"Bapak mau saya hormati bagaimana, eh? Apa bapak tau bagaimana cara menghormati orang lain? Apakah Bapak hanya orang ya mampu berdiri dengan angkuhnya dan mendapat penghormatan karena kedudukan? "


"Woy Dern Pak Sar itu guru kita. Lo harusnya hormati dia, bukannya malah ngelawan, " Ucap salah satu siswa yang ikut nimbrung


"Kalau begitu mari kita tanyakan pada guru kita yang terhormat Bapak Sar. Apakah menghormati orang yang sedang bicara tidak termasuk dalam tata cara menghormati seseorang? Apakah saya salah, Bapak Sar yang terhormat? "


Seketika semua hening. Tegang menyelimuti kelasnya. Semua diam-diam mencuri pandangan pada Dern. Dia sangat berani. Pikir mereka.


"Iya tentu saja, "


Jawab Pak Sar dengan entengnya. Dia tak sadar kalau dirinya sedang dijebak oleh muridnya itu. Seringai Dern makin jelas. Leo yang berada di sampingnya bahkan mulai heran dengan kelakuan temannya itu.


"Lalu bagaimana dengan sikap bapak tadi? Tadi bapak menghukum saya tanpa mengetahui ataupun mendengar alasan saya. Jika bapak mengatakan tindakan itu benar, maka teori saya yang anda katakan benar itu salah? Jadi dimana yang salah?, "


Pak Sar hanya diam. Diam-diam dia merutuki kebodohannya itu.


"Anda bahkan tak bisa menghormati orang lain. Lalu anda mengajari orang lain untuk menghormati. Setelahnya anda minta dihormati. Anda sendiri? Apakah bisa menghormati? Apa anda tau tentang menghormati? "


Semua diam. Tidak ada yang bersuara. Menatap Dern penurunan arti.


"Jawabannya adalah TIDAK. Bahkan saya menghormati anda hanya sebagai murid dan guru. "


"DERN ERNEST. Jaga bicaramu itu. Sekarang kelasku. Tidak ada yang boleh mengacau disini. Saya tidak segan-segan memberi kamu surat panggilan orang tua karena sifatmu yang tak sopan. "


"Lalu kenapa jika saat ini kelas anda? bukan anda juga yang memiliki sekolah ini kan? Dan yah, silahkan anda beri saya surat panggilan orang tua. Maka saya akan dengan senang hati menerimanya. "


"Saya akan kasih kamu surat panggilan orang tua kamu yang pertama. "

__ADS_1


"Kalo gitu, sekalian tambahkan lagi pak. Karena saya mau laporin bapak ke kepala sekolah. Jadi sekalian aja, biar ngga bolak-balik lagi. Saya juga mau tanya sama pak kepala sekolah tentang barang sitaan hasil razia kemarin, soalnya teman saya juga ada yang kena. Saya minta maaf lho pak kalo saya kelewat batas, tapi itu udah dari sananya. "


Seringai Dern makin melebar kala melihat lawan bicaranya sedang kebingungan.


__ADS_2