
Malam yang indah. Kali ini Bulan menyapa bahagia. Malam yang sesuai untuk merenung dan menikmati kehidupan. Malam yang damai. Tapi tidak dengan suasana yang ada di salah satu ruangan di rumah Dern. Di ruang tamu. Ketegangan melanda setiap orang yang ada di sana. Sam Eric dan Rico. Ditempatkan dalam ruangan yang sama dan suasana yang sama, tapi posisi yang berbeda. Sam dan Eric yang sekarang bagai singa yang tengah mengaum. Setelah mendengar apa yang terjadi dengan Dern. Mereka tahu benar posisi temannya yang sedang emosi, tapi dengan terlukanya Dern justru akan membuat keadaan semakin rumit.
"Terserah kamu Rico! Kita cuma mau ingetin kamu sama Dern. Anak yang kamu tinggalin gitu aja beberapa minggu ini. Apa kamu tau tentang keadaannya? Apa kamu tau dia sudah makan atau belum? Apa kamu tau kalau dia sedang butuh kamu, saat dia sakit? Batinnya tertekan dengan sikap kamu Ric, "
"Selama beberapa minggu ini kamu malah sibuk dengan segala kesibukanmu. Kamu ngga sadar kalau ada yang nunggu kamu Rico. Kemarin kamu diemin Dern gitu aja setelah kamu tampar dia. Kamu sadar ngga sih!! Apa yang bakal Dern pikirin tentang ini? Papahnya nampar dia sebelum benar-benar menjauh dari jangkauannya. Dan sekarang? Kamu papahnya malam bawa perempuan lain, dan seenaknya ngenalin kalau dia adalah calon ibunya. Pikir Ric!! Kamu ngga tau gimana kecewanya dia saat liat orang yang sedang dinantinya malah sedang ketawa bareng calon keluarga barunya, tanpa berfikir kalau ada satu jiwa yang terlupakan. Ayo Sam, kita ke kamar Dern saja. Dia lebih membutuhkan kita daripada laki-laki brengsek didepan kita, " Sama dan Eric berdiri hendak meninggalkan Rico yang sedang membeku. Tapi sebelum itu, "Dan jangan lupakan ucapan Dern saat pertemuan dia markas M2 tentang sosok ibunya. Ku harap kau tidak melupakannya Rico, atau posisimu akan benar-benar tersingkir dari hati Dern. " Setelahnya mereka benar-benar menuju kamar Dern. Sedangkan di ruang tamu tertinggal Rico yang masih merenungi ucapan Sam dan Eric.
Di kamar Dern. Tidak ada pemandangan yang indah dan menarik sekalipun. Hanya ada satu yang menjadi pusat perhatian Eric dan Sam. Seseorang yang sedang duduk dan bersandar di kepala kasur. Tatapannya kosong seperti tidak mengikat jiwa dalam raga yang tampak itu. Rasanya kedua orang ini ingin sekali mengubur temannya hidup-hidup. Bagaimana mungkin anaknya yang sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja, sedangkan dia santai santai saja. Kalau boleh dia ingin menguliti ketuanya saja.
"Dern? Dengar om?, "
"Hm, "
"Dern, om tau kamu kecewa. Kecewa banget sama papah kamu. Tapi Dern juga harus tau kalau yang papah kamu lakuin itu buat kebaikan Dern, buat bikin Dern bahagia. Oke?,"
"Iya Dern, om yakin papah kamu ngga bermaksud seperti itu. Emh kamu ngga marah kan? "
"Iya Dern ngerti kok. Dern cuma kecewa aja sama papah. Dan Dern juga curiga ada yang tidak beres dengan wanita itu. Dern kan juga khawatir sama papah. "
"Ya udah, mending sekarang kita keluar buat makan malam. Ayo Dern om bantu, "
__ADS_1
"Ngga usah om. Dern bisa sendiri, Dern udah besar jadi ngga boleh ngerepotin orang apalagi ngangguin." Jawabnya sambil tersenyum getir.
Untuk menuju ke ruang makan yang ada dilantai satu sudah memerlukan banyak perjuangan Dern. Sakit dan perih pada luka di betisnya tak di hiraukan. Sampai di ujung tangga Dern hanya bisa tersenyum kecut.
Disana, dimeja makan. Menyuguhkan pemandangan yang sungguh memuakkan. Ayahnya sedang makan bersama keluarga barunya sambil bercanda ria. Huh apa ayahnya memang sudah melupakan dirinya. Ah ya sudahlah. Dia tidak mungkin kan mengganggu acara makan malam keluarga bary yang bahagia. Jadi dia putuskan kembali ke kamar dan istirahat. Tidak perduli dengan Sam dan Eric yang mencoba menghentikannya. Sungguh saat ini emosi Dern sudah sampai puncaknya. Ayahnya sampai melupakannya itu adalah hal yang sangat menyakitkan bagi hatinya.
Jauh dari tempat ini ada sekelompok orang yang sedang berkumpul dengan seseorang yang duduk di singgasana. Setelah jas hitam dan jubah yang melekat di bajunya menambah karismatiknya. Sedangkan para bawahan yang sedang menunduk hormat dihadapannya, siap untuk memberi laporan. Saat ia tanya perkembangan dari rencananya, jawaban memuaskan kembali ia terima.
"Lebih dari yang kita harapkan tuan. Dan kemungkinan berhasilnya mungkin bisa mencapai delapan puluh persen. Tinggal menunggu dia keluar. Dan kita menyerang, "
"Bagus bagus. Dan ingat! Jangan sampai kalian tertangkap sebelum dia keluar, karena itu akan berakibat fatal. "
"Baik tuan, "
"Baik tuan, "
'Ku ambil hak ku bagaimanapun caranya. Tunggu saja... '
Setelahnya hanya terdengar suara tawa kemenangan yang menggelegar memenuhi ruangan luas nan minim cahaya. Teka-teki kembali muncul. Siapa sosok tersebut? Pihak Siapakah yang ia ikuti? Semuanya akan terjawab oleh waktu. Biarlah semua terungkap pada saatnya.
__ADS_1
____________
Matahari mulai mendaki naik. Menyingkirkan gelapnya malam. Menyebar sinar menembus segala penghalang. Jagad raya menyambutnya. Menyambut senyum hangatnya. Sama halnya dengan anak laki-laki yang satu ini. Berdiri di balkon menyambut hangatnya pagi. Tidak perduli jika dia kini hanya menggunakan kaos. Yang artinya bisa membuatnya demam. Siapa yang akan perduli? Dia hanya ingin menenangkan hati. Tapi faktanya bibirnya bahkan sudah pucat. Suhu tubuhnya juga naik. Oh ayolah, siapa yang tidak akan demam jika berdiri di balkon dari jam tiga dini hari sampai pagi menjelang. Dan sekarang sudah waktunya sarapan, tapi Dern seperti sudah terpaku ditempatkan. Tidak beranjak sama sekali.
"Dern?!, "
Suara seorang wanita akhirnya dapat mengalihkan perhatiannya. Berbalik dan menatap seorang wanita yang ada di ambang pintu balkon. Ada kekhawatiran yang kuat di matanya, Dern bisa liat itu.
"Tante Sherly?, "
Baru dua langkah diambil kaki Dern, ia sudah limbung terlebih dahulu. Untuk saja ada sepasang tangan kekar yang menahan tubuhnya agar tidak tersungkur di lantai yang dingin.
"Dern?! Kamu ngga papa?, " Dern tahu itu pasti suara Eric
"Hmn ngga papa kok, mungkin cuma masuk angin. "
"Ya udah, ayo masuk sekalian tante periksa. Eric tolong bantu Dern, "
Setelahnya Dern dibawa masuk kedalam dan dibaringkan untuk memudahkan Sherly dalam proses pemeriksaan. Dern sudah tidak perduli lagi dengan kondisinya. Berlebihan memang jika hanya karena keinginannya untuk kembali memiliki keluarganya yang dulu sampai harus seperti itu, tapi bagi Dern itu harga yang setimpal. Dia sudah kehilangan jati dirinya sejak hampir sepuluh tahun yang lalu bersama hilangnya keluarga hangatnya.
__ADS_1
Sudah dipastikan Dern mengalami hipotermia. Kesehatannya menurun drastis. Eric yang mendengar itu langsung terbirit-birit keluar untuk mengambilkan makanan untuk Dern. Apalagi ini sudah waktunya untuk sarapan. Sedangkan Sherly berusaha untuk menghangatkan Dern. Jika kalian bertanya tentang Dern, dia hanya memejamkan matanya mencoba menghilangkan pening yang menyerang kepalanya. Dern sadar akhir-akhir ini tubuhnya kurang terjaga. Beberapa hari dia terkena insomnia. Nafsu makannya juga berkurang. Lagi, semalam dia melewatkan makan malamnya. Dan itu sukses membuat kondisinya semakin buruk. Berharap saja tidak akan ada lagi infus atau semacamnya. Bukan dia takut, tapi karena dia risih. Tidak elit jika seorang agen muda yang dibanggakan malah takut jarum suntik.