
Sekolah mulai sepi. Hanya terlihat beberapa guru dan murid yang masih berseliweran. Didalam sekolah, tepatnya di dalam kelas 8A. Entah apa yang membuat beberapa orang enggan meninggalkannya. Siapa lagi kalau bukan Leo CS, Refan dan Beno juga Dern. Tentu saja hanya Dern yang memiliki alasan tepat juga logis, karena alasannya adalah malas pulang (what?!). Tapi dari raut wajahnya, Dern mulai muak karena merasa seperti di perhatikan.
"Dern? "
"Hm? " pandangannya menangkap sosok Refan serta kawan-kawannya mendekat dan mulai mengerubunginya.
"Ck! dasar es batu! "
"Kalau ngga ada yang penting, mending kalian pulang dan jangan buang waktu di sini, " katanya sambil menatap datar Refan yang mulai mengambil kursi untuk duduk dihadapannya dan begitu juga yang lain.
"Emm,,, Dern kita mau ngomong. Boleh ya kita mint-"
"Langsung aja Le, " potong Dern dengan nada malasnya, sungguh ia malas apalagi berhadapan dengan Refan yang notabene nya musuh
"Dasar es batu! ngeselin! kita ma-"
"Gua tau kok. Lo ngga suka gua sama Beno kan. Lo tenang aja, kita mau berubah. Mungkin kita bisa berteman. Em...mm lo boleh tangkep gua atau hajar gua sekarang juga. Asal lo mau maafin gua dan jadi temen gua, " sela Refan
"Iya Dern, kita juga udah temenan kok. Iya kan Ben? " imbuh dari Della
"Iya, "
"Dern kita minta maaf pernah buat salah sama lo. Ya, gua tau gua jahat. Ikut kelompok penjahat pula. Selama ini gua juga yang bikin teman-teman pada diculik. Gua bagian dari mereka kalau lo mau tau. Yah sebenarnya ini rahasia, tapi gua pengin lo kasih kesempatan buat gua. Setidaknya dengan gua ungkap identitas sebenarnya yang bahkan imbalannya nyawa gua sendiri, lo bisa percaya kalo gua berubah. Gua pengin akhiri ini semua. Emm, apa ini punya lo. " sambil memberikan benda penemuan Leo
"Darimana kamu dapat itu?! " desis Dern, semua yang mendengar hanya meneguk saliva kasar.
"Gua yang nemuin Dern. " sahut Leo
"Jadi identitasmu sudah terbongkar, dan kau berniat membongkar identitasku juga hah?! Enyahlah kau! " Geram Dern berdiri sambil mencondongkan tubuhnya pada Refan
"Es batu, kita cuma penasaran kok, "
"Iya Dern, kita kan temen. Jangan main rahasia-rahasiaan donk. "
"G-gua minta maaf. Gua udah-, "
"Aku udah tau, kalau kamu itu mata-mata Black Tiger. Jadi ngga usah dijelasin lagi." sarkas Dern
"Dern, lo tau dari mana? " tanya Leo dan Della yang mulai syok
"Iya. Kalo udah tau kenapa ngga bilang sih? " timpal Naila mulai agak kesal
"Gua aja yang teman lamanya belum lama tau, kok lo bisa tau sih. Perasaan dari kita ngga ada yang kasih tau. Harusnya lo bilang kek, kan kita syok pas tau" tambah Beno
"Kalian pikir ini rahasia anak kecil yang bisa sembarang orang bisa tau. Kalian terbongkar, saat itu juga kalian mati. "
"Iya Dern bener. Soal Dern tau tentang ini karena dia itu seorang agen, Iya kan?"
"What?! Agen?! "
"Kenapa kau dengan mudahnya, membongkar identitasmu yang sebenarnya? Bagaimana kalau nanti kau tertangkap atau dihukum bosmu itu? "
"Kan gua udah bilang Dern, gua udah muak sama kerjaan ini. Dan lo juga, kenapa ngga tangkap gua? "
"Ooh, kau ingin kutangkap? kenapa tidak bilang dari tadi? " Dern memasang smirk nya
"E-ehh eng-engga. Kan gua tanya. Emm gua minta jangan tangkap gua yah. Maaf juga karena udah bongkar identitas lo, "
"Ya. Tapi aku ingetin sama kalian, jangan ada yang bongkar rahasia ini. "
"Dern, lo beneran agen? "
"Masa si? jangan boong deh lo es batu,"
"Terserah mau percaya atau tidak. Aku cuma minta jangan kalian sebarkan rahasia ini. Sekali bocor, ku potong lidah kalian. Termasuk kau Refan. "
"Es batu, lo kalo serius lucu juga yah. Hahaha"
"Masa lo tega si sama kembaran lo ini,"
"Wah Dern, lo agen atau psikopat. "
"Ternyata kalian ngga percaya ya sama kita. Ancaman aja kalian buat bercanda, heheh" Refan hanya terkekeh untuk berkomentar
"Golden Wolf tak pernah main-main dalam ucapannya. "
Hening.
__ADS_1
Kini mereka benar-benar takut dengan Dern mode agen.
"Tunggu! Kalo ada agen termasuk es batu jadi anggotanya, kenapa kasus ini ngga berhenti-berhenti. Ya memang si akhir-akhir ini lagi sepi aksi mereka, apa lo tau tentang ini Fan? "
"Sebenarnya ini cuma siasat bos aja. Gua juga ngga paham maksud dari rencana bos apa, lo udah tau masalah ini Dern? "
".... "
"Kenapa diem? "
"Masa hukuman ku belum berakhir. Tentu aku tak tau, " jawab Dern malas
"Dern, gua boleh minta tolong? Kali ini gua minta tolong sebagai teman dan... keponakan,"
"Hm? Apa? "
"Emm itu,, anu eh...g-"
"Yeay berarti kita udah jadi temen donk. Makasih Dern, lo emang baik. Tambah cayang deh, " Semua hanya memandang geli pada Beno
"Ya, " Dilanjutkan dengan Dern yang mengangkat satu alisnya dan menatap Refan penuh tanya
"Jadi gini. Gua udah tanya sama bos gua, katanya gua boleh keluar bebas dari pekerjaan ini tapi dengan satu syarat. Dan kalo itu ngga terpenuhi, gua dan om gua yang bakal jadi taruhannya. "
"Jadi kamu sungguh-sungguh, "
"Iya donk kan udah gua bilang, "
"Terus syaratnya apa? Kok lo minta pertolongannya sama es batu? " Disambut anggukan kepala dari Della dan Leo
"Kenapa ngga polisi aja? Biar mereka ketangkep, terus penjara deh. "
"Aduh Ben, ternyata lo bodoh juga ya. Kalo polisi bisa nanganin ini, kenapa ngga dari dulu aja mereka ditangkap? Kenapa juga, Golden Wolf yang sangat disegani ini sampai turun tangan? Pikir donk,, "
"Iya juga si, berarti agen lebih tinggi kedudukannya dari pada polisi dan ngga bisa tertangkap? Dan penjahat itu juga ngga bisa? Terus gunanya polisi buat apa? "
"Kalian salah kalo bilang par-"
"Kenapa Dern kok diem? " Leo mulai aneh dengan gelagat Dern
"Ok ok, " Jawab mereka yang terkesan malas
Untuk beberapa saat suasana mulai hening.
Satu detik......
Dua detik......
Tiga detik.....
..........................
Dua menit.
Hitungan dua menit, terdengar langkah sepatu beriringan. Terdengar mantap dan penuh keyakinan. Semua pandangan beralih pada Dern yang terlihat jengah plus malas.
'Dia denger? Dari tadi?'
'Siapa? Kok Dern tau ada langkah kaki, padahal ini baru kedengeran tapi dia udah denger dari tadi, '
'Ngga salah lagi, memang mereka patut disegani dengan kemampuannya ini, '
Hitungan tiga menit dua puluh satu detik, sudah ada dua orang berpenampilan rapi dengan setelan jas hitam jalan beriringan. Mereka berhenti tepat di sebelah Della. Semua menatap bingung, berbeda dengan Dern yang hanya datar.
Mereka membungkuk sebelum memulai perkataan,
"Maaf, kami telah mengganggu tuan muda. Tapi ini sudah waktunya untuk tuan muda pulang dan beristirahat, karena dikhawatirkan kondisi tuan muda memburuk. "
"Iya. Kasih saya waktu tiga puluh menit untuk bicara dengan teman saya. Kalian menunggu di mobil saja. "
"Tapi, tadi bos be-"
"Beri saya waktu dua puluh menit lalu saya pulang, atau saya tidak akan pulang. "
"B-baik tuan muda, kami permisi. "
"Hm, "
__ADS_1
Setelah situasi aman, Leo yang masih penasaran langsung membuka kembali pembicaraan yang sempat tertunda.
"Lanjutin Dern, gua penasaran sama perkataan lo tadi. "
"Ya. Kalian salah kalo kalian pikir kami para agen tidak bisa ditangkap atau ditindak hukum. Kami Golden Wolf adalah kesatuan agen yang legal di bawah naungan pemerintah negara. Dalam artian kami tetap bisa ditangkap dan dihukum jika terlibat permasalahan bahkan ketua kami. Hanya saja tempat kami yang berbuat kesalahan bukan di penjara umum, tapi penjara khusus dengan keamanan tinggi di pulau terpencil dikelilingi perairan. Tugas kami untuk menangkap para pelaku kejahatan yang sudah diluar kemampuan aparat hukum negara biasa. Disaat seperti inilah kami mempertaruhkan segalanya bahkan nyawa sekalipun. Untuk pertanyaan terakhir, polisi hanya mengamankan setelah kami meringkus mereka. "
"Wow keren. "
"Gua masih ngga nyangka kalo es batu itu agen, "
"Hebat, "
"Untung gua ngga nyari masalah lebih jauh. "
"Yah, kita ngga beda jauh Dern. Bedanya lo di jalan kebaikan kalo gua kejahatan. "
"Kalian pernah celaka ngga waktu ada tugas? " Kali ini Della lah yang bertanya
"Ya gua ngga lah. Gua itu cuma mata-mata yang kasih informasi, bukan petarung yang turun di medan tempur orang gua aja lemah kalo gelut. Jadi gua ngga pernah celaka lah, " Jawab Refan enteng
"Kalo lo pernah ngga? " Tanya Naila sambil menatap Dern
"Bukannya kalian udah liat sendiri waktu itu?, "
"Eh iya yah, ternyata memang bahaya pekerjaan jadi agen. "
"Iya. Sebenarnya sebelum aku masuk sekolah sini pun aku baru saja lewat masa kritis, karena sebuah kesalahan dimisi sebelumnya. Bahkan masih belum pulih. Tapi karena ada misi di sekolah pula, jadi aku ikut walau harus maksa. Dan akhirnya ketemu kalian semua disini. " Diakhiri senyum tipis
"Parah donk, "
"Yah. Ada luka tembak, pukulan dibeberapa bagian dan benturan kepala, "
"Emm apa gua boleh ikut jadi agen? "
"Maaf Refan. Tapi untuk itu kamu harus bisa lulus dalam bimbingan khusus untuk agen. Maksimal empat tahun, "
"Berarti lo, "
"Iya. Aku udah lulus, sebenarnya dari kecilpun aku ikut kelas akselerasi. Dan untuk bimbingan khusus, aku selesaikan dalam waktu satu tahun sembilan bulan. Sekarang kasih tahu, kamu mau minta tolong apa sama aku? "
"Gua minta data lo, "
"What?!! " Semua kecuali Dern
"Tap-tapi gua ngga maksa kok. Gua cuma itu-"
"Kenapa kamu bisa terjebak ikut penjahat itu? "
"Gua cuma nerusin perjuangan nyokap gua, "
"Tapikan, masa harus pake data Dern si? Ngga bisa yang lain? Ntar kalo Dern ketangkap gimana? "
"Itu yang bos mau. Gua bingung donk, setelah semua orang yang bikin Dern luka udah jadi empan-empanan piaraan bos. Gua malah suruh minta datanya, kan bingung. "
"Semua mati? " Dern kembali bertanya dan hanya dapat anggukan kepala
"Jadi gimana Dern? "
"Eh Leo, sabar donk. Es batu lagi mikir tuh, "
"Ada alatnya? "
"Alat? "
"Iya. Kamu mau minta data tapi ngga ada alatnya buat penyimpan? "
"Kan gua ngga tau lo bakal kasih data lo ke gua. Secara identitas para agen kan rahasia. "
"Ya anggap aja itu sebagai tanda pertemanan kita, "
Dern segera mengambil belati yang sebelumnya ditemukan oleh Leo. Ternyata belati itu memang bisa digunakan, bukan sekedar replika. Kemudian menyimpannya di dalam tas agar aman.
"Kita lanjutkan lain kali aja. Aku harus pulang. Aku juga pasti kasih dataku ke kamu Fan, tapi lain kali. Sekarang penjagaku dah nunggu, "
"Makasih Dern, "
"Okh, aku duluan. Daah,,, "
__ADS_1