The Young Agent

The Young Agent
Awal Pertemanan Yang Hancur?


__ADS_3

Hening.


hening masih betah menguasai suasana kamar dern, lebih tepatnya balkon kamar. dern yang sedang mulai membaca materi persiapan ujian. tapi lain dengan refan dan beno yang sibuk menelisik wajah dern yang sudah pucat. apalagi sesekali anak itu mengeluarkan ringisan dari bilah bibir pink keputihan miliknya. seperti sedang menahan sakit. dan pada kenyataannya memang begitu adanya.


setelah berpandangan satu sama lain antara refan dan beno, mereka memutuskan untuk membuka percakapan dengan dern.


"emh dern?, "


"hm, " hanya itu jawaban yang bisa dern katakan, jangan sampai ringisan yang sedari tadi ia tahan juga ikut keluar.


"lo--lo denger ucapan leo tadi?, " beno mengatakan pertanyaan itu dengan lirih. dia takut akan menyinggung dern. dern nampak mengalihkan pandangannya dari buku lurus kedepan. memejamkan matanya sejenak sambil menghela nafas, mempersiapkan kata yang tepat untuk pembicaraan kali ini.


"ya, " datar, jawabannya datar.


itu saja sudah membuat kedua orang yang ada dihadapannya jadi panas dingin tak karuan.


"lo ngga usah ambil hati kata-kata dia, dia itu cuma bercanda aja. lo tau sendiri kan dimana dia, ahahaha. ya ngga fan?, " beno sebenarnya gugup, tapi jika tidak dia yang mengawalinya siapa lagi?. begitu juga dengan refan yang saking gugupnya hanya menganggukkan kepalanya dengan kaku.


"leo udah lepas aku. sekarang,,, hahaha begitulah. kalian juga tau kan maksudku ?, "


"ma-maksudnya,, lo--, "


"iya. kupikir jika ini berlanjut, masa laluku akan terulang kembali. aku tak mau itu, jadi sebelum dilepas alangkah baiknya jika melepas., " jelas dern diakhiri dengan senyuman. bahagia? tentu saja tidak. ini adalah senyum miris. kekecewaan, kemarahan dan kepasrahan sudah terpancar dari matanya.


"dern gua mo-, " belum sempat refan menyelesaikan perkataannya, dia dibuat jengkel dengan tabiat leo yang kurang sopan. masuk tidak dengan etika yang benar. refan baru saja, ingin membujuk dern agar tidak menganggap serius omongan dari leo tapi anak itu sendirilah yang membuatnya gagal.

__ADS_1


mereka, leo iki della dan naila langsung saja menuju balkon sesekali melihat sekeliling kamar dern. beruntung di balkon sudah tersedia karpet bulu yang nyaman, jadi mereka bisa santai rebahan.


karena semua sudah lengkap, mereka memulai kelompoknya. tidak semuanya serius. bahkan leo sudah sedari tadi bercanda dengan iki, tanpa melihat tatapan sendu yang dilayangkan oleh dern. tapi secepatnya ia alihkan perhatian saat kepalanya mulai berdenyut. suasana bising karena tawa leo juga memperburuk sakit kepalanya. dia hanya bisa pasrah sambil menunggu mereka pulang. tapi keadaan memaksa dern untuk memberi peringatan


"em tolong konsentrasi pada pekerjaan, "


"santai ajalah dern, inikan cuma mempersiapkan materi. jadi ngga usah buru-buru gitu, " bukan temannya yang menyaut, tapi iki lah yang menyaut.


"iya dern. gua aja santai. jangan buru-buru elah, " leo ikut menimpali. della dan naila jadi ikut mengalihkan perhatian mereka dari handphone yang sedari tadi sibuk dimainkan.


"iya tapi ini ngga akan selesai-selesai nantinya, "


"nah nah,, emang lo pengin cepet selesai gitu, terus kita cepet balik gitu? kita itu nunggu udah lama, terus sekarang apa? ngga hargain orang lo. es batu!, "


"nai, maksud leo bukan gitu. dia cuma-, "


deg.


sadarkah naila, jika perkataannya tadi sudah mengikis harapan seseorang?. dern. dia hanya tersenyum miris, walau dalam hatinya berteriak tidak terima. kalau orang lain yang mengatakan itu, dia tak masalah tapi ini temannya. kepercayaannya. entah apa yang terjadi pada mereka, tapi dern sendiri merasa temannya berubah. yah, kecuali refan dan beno.


"naila" naila tersentak dengan bentakan beno. tentu saja beno tidak terima. temannya ini sedang membutuhkan dukungan, tapi mereka malah menjatuhkannya.


"ngga usah bentak juga donk lo. jan kasar sama cewek, " dern masih diam, walau iki sudah ikut campur. dia menundukkan kepala. hingga ada setetes liquid yang jatuh. beno melihatnya. tanpa dern ketahui, beno melihatnya tadi.


"jan ribut napa sih. niat kita mau belajar. jangan ribut apalagi ini bukan rumah kita. sopan santun dipake donk. kalian bertiga juga. kita kesini mau belajar, kenapa kalian malah main ngga jelas, "

__ADS_1


"ooh lo nyalahin kita, iya? salah dern yang salah terlambat datang, jadi kita main. dan yah, sopan santun? pemilik rumahnya saja ngga ada sopan santunnya, " leo berujar sambil melirik dern yang sedang menunduk


"maksud lo apa?! hah?!!, "


"lo ngga liat? gimana perlakuan dern sama bang iki, dia emang abang tiri tapi lebih tua dari kita dan harus dihargai. "


mereka masih bersitegang. saling menatap tajam dengan muka memerah.


"aku salah dan ngga punya sopan santun. aku salah karena terlambat. " kata-kata yang diucapkan dern, berhasil mengalihkan perhatian mereka. perlahan dern mengangkat wajah dan menatap wajah temannya satu persatu. wajahnya kembali mode datar menyerempet dingin. abaikan saja dulu mata yang sedikit memerah menahan tangis.


"bilang kalau kalian nyesel kerja kelompok bareng aku. bilang sekarang. kalian milih dia daripada aku kan?, " dern menunjuk iki


"oke terserah kalian. to the point aja. kalian mau lanjut atau kalian pilih sama dia aja. jawab?!, " datar tanpa nada. emosi yang hilang. lupakan dern kalian. dia sudah kalian kubur dalam kenangan.


"jawab?!!, " terkejut. semuanya terkejut mendengar bentakan dern yang lebih terkesan frustasi.


"kalian mau main kan? mainlah sepuas kalian. memang aku ini bukan anak sempurna seperti kalian. untuk berteman saja harus mengemis. lalu kenapa kalian tetap disini?, " leo dan naila menatap dern penuh arti. berbeda dengan refan dan beno yang berada di pihak dern, hanya memandang sendu.


"ooh, lo ngusir nih ceritanya? oke tanpa lo suruh. gua lebih suka sama bang iki daripada lo dern. jujur aja, gua juga capek temenan sama lo., "


"gua kecewa sama lo, es batu. Gua nyesel senyeselnya, "


"Udah ayok, " Setelah mereka keluar, Dern menemukan, Iki memandang remeh dirinya. Tapi setelah dia juga ikut keluar.


***

__ADS_1


Disinilah mereka berakhir. Di halaman rumah Dern. Leo Della dan Naila memutuskan untuk pulang setelah berpamitan pada Rosa dan Iki. Agar adil, Naila menaiki taxi bersama Della. Sedangkan Leo menaiki motornya.


Dengan perasaan dongkol mereka meninggalkan pekarangan rumah Dern. Bahkan mereka tidak tahu. Kalau tempat itulah yang akan menjadi saksi bisu berakhirnya pertemanan mereka dengan Dern. Mereka sudah terlepas sepenuhnya. Dan menemukan penggantinya. Sudah lupakah mereka dengan semua jasa Dern? Semua perjuangan mendapatkan hati Dern? Semua waktu yang mereka habiskan, demi mendapatkan secercah kenangan indah. Tapi mereka merusak segalanya. Semuanya hancur saat ini juga. Dan lebih buruk lagi mereka tidak sadar jika mereka sudah menghancurkan hati seseorang yang bahkan sudah terluka.


__ADS_2