
Sudah terlambat lima belas menit dari waktu yang dijanjikan. Refan dan Beno tetap tidak beranjak dari tempat duduknya. Mereka justru uring-uringan memikirkan Dern. Mereka mengabaikan Iki dan Leo yang terus memaksa untuk bermain bersama. Mereka hanya duduk sesekali memainkan handphone mereka. Tak ayal sesekali melihat berbagai macam interior ruangan.
"Apa kalian akan kesini lagi besok? "
"Ngga juga. Kita kesini cuma buat belajar bareng Dern. Besok kan ngga ada acara belajar bareng jadi kemungkinan besar kita ngga bakal kesini, " Leo menjawab pertanyaan Iki tanpa mengalihkan perhatiannya dari permainan mereka.
"Kenapa ngga? Gua tau Dern sibuk, tapi gua bakal seneng kalo kalian main ke rumah jadi bisa nemenin gua. Apalagi kan gua sama Dern belum bisa akur, "
"Ngga usah sedih gitu bang. Dern kan emang gitu. Kek es, kaku sama orang lain. Ngga kayak lo bang, asik. Dulu juga kita-kita susah buat temenan sama Dern, tapi sekarang udah jadi temen. Dan, yah kalo lo kesepian datang aja ke markas kita. Kapan-kapan deh gua ajak, "
"Ntar posisinya Dern keganti sama gua donk, " Canda Iki
"Ya mungkin aja kek gitu. Kan lo jauh lebih asik dari Dern. Lo bisa bercanda, Dern engga. Lo bisa ketawa, Dern engga. Lo suka main, Dern engga. Lo hangat, Dern dingin., " Leo menjawab dengan entengnya
Refan dan Beno melotot mendengar jawaban Leo. Tangannya sudah terkepal dan giginya sudah gemlatuk. Apa-apaan si?!. Dern bakal marah sama dia. Diantara mereka semua pun sudah tau kalau markas adalah tempat khusus mereka berenam. Jika ada yang masuk lagi, Dern bakal nganggap itu pengkhianatan janji yang udah mereka buat bareng-bareng. Mereka ingin sebenarnya, untuk menasehati Leo. Tapi mereka tidak bodoh untuk memahami situasi dan kondisi.
Disaat sedang sibuk dalam urusan masing-masing, mereka dikejutkan oleh suara seseorang. Suara seseorang yang sedang mereka tunggu kehadirannya sejak tadi.
"Maaf, karena terlambat. " Suara lemah seperti sedang kelelahan, tapi bagi mereka justru terkesan datar dan dingin.
***
Saat ini Dern sudah sampai dirumahnya. Seperti yang ia minta, mereka melewati jalan biasa agar sampai lewat halaman rumahnya. Tidak ingin membuang waktu lagi Dern segera masuk kedalam. Dia meminta agen yang lainnya untuk membiarkannya sendiri, menyuruh mereka untuk membuat laporan.
Meski masih lemah, Dern tetap memaksa untuk berjalan sendiri. Banyak yang menawarkan bantuan, tapi ia menolak dengan alasan mereka tidak boleh meninggalkan tugas. Bahkan saat pak Sarakan yang menawarkan bantuan.
__ADS_1
Untuk mengingat kembali, pak Sarakan adalah ayah Naila. Sudah beberapa hari ia memulai kerja. Setelah mempertimbangkan matang-matang akhirnya ia menerima tawaran Dern. Naila juga sudah tau itu, hanya Naila berfikir kalau bapaknya bekerja sebagai penjaga. Nyatanya pak Sarakan adalah agen yang berada dalam bidang ahli beladiri dan senjata. Bertugas menjaga markas M1 bawah tanah yang tepat berada di bawah rumah Dern.
Dern mendudukkan diri di sofa panjang ruang tamu. Sampai dia menanyakan keberadaan temannya. Dern sedikit marah dan sedih saat temannya memilih bermain bersama kakak tiri dan ibu tirinya. Tapi dia menepis itu semua. Dia pikir itu juga kesalahannya yang membiarkan mereka menunggu terlalu lama. Walaupun itu semua tidak lepas dari racun sialan yang masih ada dalam tubuhnya. Dia harus bertahan setidaknya beberapa hari kedepan untuk menunggu racunnya hilang. Jika kalian berfikir kenapa tidak memakai penawarnya saja, karena memang tidak ada penawarnya. Itu sebenarnya racun legal yang biasanya juga digunakan untuk menghukum ringan para penjahat.
Dern harus berjuang keras agar tidak ambruk karena pusing yang menyerang. Belum lagi tenggorokan yang panas terbakar. Sampai dia mendengar percakapan antara Leo dan Iki. Apa benar? Posisinya sudah terganti? Jadi, buat apa pengorbanannya selama ini?. Dern kecewa, sangat kecewa. Ingin ia menangis saja saat itu. Tapi saat melihat Refan dan Beno. Kenapa mereka?. Ah dia tau. Ternyata hanya mereka yang masih setia bersamanya, mereka yang masih mengikatnya. Bisa dilihat seberapa besar usaha mereka untuk menahan amarahnya agar tidak membeludak saat itu juga. Dern tersenyum dalam hatinya. Dern masih punya setitik harapan.
"Maaf karena terlambat, " Hanya itu yang terucap
"Oh, Dern sini masuk. Kita main bareng dulu, "
"Apa kita masih pada rencana? Belajar?, " Tanpa menghiraukan pertanyaan dari Iki, Dern langsung bertanya pada teman-temannya.
"Ya jadi donk. Ayok dah. Panas neh pantat gua duduk mulu, "
"Mau! " Leo dan Iki berseru bersamaan
"Leo, " Suara Dern menginstruksikan kalau dia hanya bertanya pada Leo
"O-oh oke, " Iki langsung melunturkan senyumnya saat mendengar pernyataan Dern
"Udah lah bang. Lo iku aja yok, biar suasananya ngga tegang. Oya, mau dimana belajarnya? Gua nyusul ya, mau panggil Nai sama Della., "
"Balkon kamar, "
"Ayok bang, kita panggil Nai sama Della., "
__ADS_1
Akh semoga saja Dern bisa menahan amarahnya yang masih menuncak.
Sepeninggal Leo, Dern langsung menghadap Refan dan Beno. Keduanya terlihat khawatir dengan kondisi teman di hadapannya itu.
"Ayo, "
Baru membalikkan badan dunia sudah terasa berputar bagi Dern. Tangannya tergerak memijat pangkat hidung untuk menghilangkan pening yang tiba-tiba menyerang.
"Dern lo ngga papa?, " Suara Beno terlihat bergetar. Bukan karena takut, tapi karena khawatir dengan kondisi temannya.
"N-ngga. Ayo kalian ikut aku ke balkon kamar, " Dern sendiri tidak yakin apakah dia bisa menaiki undakan tangga atau tidak.
Dengan perlahan dan memaksa, Dern membiarkan dirinya melewati batas. Sedangkan dibelakangnya ada Refan dan Beno yang setia mengekor, sambil berjaga jika Dern salah pijakan. Mereka yang terlihat tenang sebenarnya sedang mati-matian menahan kegugupannya. Takut-takut jika Dern mendengar perkataan Leo yang asal ceplos. Tapi cukup menyinggung untuk Dern.
Sampai di depan kamarnya, Dern langsung masuk diikuti oleh Refan dan Beno. Tidak menunggu lama, tanpa menunggu lama Dern mengganti bajunya menggunakan baju santai. Menyiapkan buku yang di perlukan. Setelah itu keluar menuju balkon guna menghampiri Refan dan Beno yang sedari tadi memperhatikan setiap pergerakannya. Dern tau itu, tapi tak ia hiraukan. Yang ada dipikirannya saat ini adalah bagaimana dia bisa mengurangi efek racun yang sudah bersarang ditubuhnya. Jika seperti ini terus, bisa Dern perkirakan efeknya akan hilang dalam waktu dua minggu. Tubuhnya sedang tidak cukup kuat untuk menerima efeknya.
***
"Tante, kita mau belajar dulu., "
"Oke. Belajar yang semangat ya. Dan ini ambil buat camilan sambil belajar, " Rosa memberikan satu nampan yang membawa tiga toples berisi camilan dan satu nampan yang membawa tujuh minuman jus orange.
"Makasih tante, "
Mereka berempat segera ke kamar Dern, tidak bermaksud membuat yang lain menunggu. Nampan camilan dibawa Della. Sedangkan nampan minuman dibawa Naila.
__ADS_1