
Berkat Dern yang tertidur efek obat yang Rico berikan, jadi pertemuan berjalan dengan lancar. Karena obat tidur yang Rico berikan akan membuat Dern tertidur selama tiga jam. Tapi kemungkinan Dern akan terlelap tidur hingga pagi. Tentu Rico tau kalau little agent nya itu akan murka padanya. Mungkin kali ini ia memilih untuk bersikap tegas pada Dern.
Ini sudah hari terakhir hukuman dikurung Dern berlangsung. Kejadian kemarin lusa, membuat Dern tidak habis pikir dengan jalan pikir ayahnya yang sekaligus sebagai ketua agen. Dern yang belum menyelesaikan masa hukumannya justru Rico menambah hukuman lagi. Alasannya karena selama menjalani hukuman Dern menjadi lebih dingin dan hubungannya dengan Rico merenggang. Kalau hukumannya biasa saja si bukan masalah buat Dern. Tapi kali ini hukumannya adalah penyitaan barang-barang agen yang Dern punya, pengecualian untuk jam tangan khususnya. Itu semua sukses membuat Dern semakin jengkel dengan kelakuan ayahnya itu.
Kabur. Kata itulah yang selalu terlintas di kepala Dern. Tapi dengan kondisi yang belum pulih, tentu hanya akan membawa bencana. Ditambah alat-alat khusus agennya yang disita.
"Ekhem" suara deheman dari Eric memecah keheningan di meja makan yang terisi lima orang. Mereka adalah Dern, Rico, Sam, Lily, dan Eric. Sukses mengalihkan atensi mereka kecuali Dern yang sibuk dengan makanannya. Yang berdehem hanya menunjuk Dern dengan gerak matanya. Helaan nafas ringan keluar dari mulut Lily sebelum membuka kata pada Dern yang sudah terhitung lima hari kurang bicara. Mereka tau kalau kondisi Dern sedang tidak baik apalagi dengan dikurung di rumahnya, membuat Dern semakin tertekan.
"Dern, " panggilan Lily ternyata hanya bisa menghentikan aksi menyuapi diri dengan makanan yang Dern lakukan.
"Besok kamu sekolah kan? " namun kali ini rupanya Lily kurang beruntung karena Dern justru kambali disibukkan dengan acara makannya tanpa memperdulikan pertanyaan yang ditujukan padanya. Semua memasang wajah kecewanya terutama Rico. Karna dialah yang menyebabkan masalah seperti ini timbul. Sebenarnya ia juga geram sekaligus iba kepada anaknya ini.
"Tante cuma mau bilang kalo besok ada mapel baru, yaitu~ " Dern terlihat acuh, tapi sebenarnya dia sedang menyimak perkataan Lily.
"Seni Musik, "
Deg
Gerakan Dern terhenti saat akan menyendok sesuap nasi. 'Musik? kenapa serasa ada yang kulupakan yah? akh a.. a.. apa i.. ni ke-napa kepalaku malah pusing. Aww perasaan tadi ngga deh, ' Batinnya
"Pangeran kecil mamah"
"Sini sayang, dengerin melodi ini yah sayang. Melody yang mamah buat, buat pangeran mamah ini"
"Melodi? piano? "
"Iya sayang. Mamah beri nama melodi ini Suara Pangeran Kecil Ku. Dengarkan oke? "
"Oke, Dern dengarkan. "
[🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶]
"Wah, mamah hebat. "
"Kamu suka sayang? "
"Iya, Dern suka. Dern mau juga, "
__ADS_1
"Oke, mamah akan ajarin Dern. "
Ingatan itu muncul kembali, membuat Dern merasakan sakit kepala. Ia menundukkan kepala untuk menyembunyikan wajah yang terlihat menahan sakit. Matanya memejam, berusaha menghilangkan rasa sakit yang luar biasa di kepalanya. Semuanya menatap selidik Dern yang sedang menunduk, serta tangannya yang seperti sedang meremat sendok dan garpunya. Merasa sudah tak tahan, Dern memutuskan untuk minum dan meninggalkan ruang makan.
Namun, baru Dern akan melangkah meningggalkan meja makan. Tangannya ditahan oleh Rico yang sudah bangkit dari duduknya. Rasanya ia sudah tak tahan dengan sakitnya.
"Dern, apa kamu masih marah sama papah? papah ngga suka kalau kamu terus-terusan diemin papah kayak gini. " Dern masih terus berusaha menahan rasa sakitnya mati-matian. Dia tidak menanggapi sama sekali Rico.
Karena tidak sabaran, Rico langsung menarik bahu Dern sampai berbalik menghadapnya. Kedua alis Dern nampak bertautan. Giginya menggigit bibir bawah, seperti menahan sesuatu. Tubuhnya juga sulit dikendalikan.
"Hey boy, ada apa hm? kenapa? ada apa denganmu? " Rico sudah panik setengah mati, apalagi saat tangan kanan Dern terangkat mengarah ke kepalanya sendiri. Yang lain bahkan ikut mendekati mereka.
"S-sa-kitt pakh" lirih Dern. Sejurus kemudian, tubuhnya langsung limbung dan tertarik ke dalam dekapan Rico. "Ssa-kit pah" rengeknya.
"Apa yang sakit, hum? apa kepala kamu? bilang sama papah. Kamu tahan, okey?. Sam, cepat suruh Sherly datang kesini! seka-! " perkataannya terhenti saat lengannya terasa digenggam oleh tangan dingin milik Dern, "Why boy? are you oke? hm? " tanyanya hanya mendapat gelengan kepala dari Dern. Hela nafas pasrah keluar dari mulut mereka. Mereka tau maksud Dern, dan sialnya mereka hanya bisa menurut saja.
"Ayo, kembali kekamar. Papah antar, oke? " lagi pertanyaannya hanya dijawab anggukan kepala Dern, yah untuk saat ini Rico tak bisa untuk tidak khawatir. Sebenarnya dia sudah menduga sesuatu, tapi itu masih sebuah dugaan.
°Sekolah°
Ini sudah waktunya para siswa untuk kembali kerumah masing-masing. Namun masih ada beberapa siswa yang belum berniat pergi dari sekolah.
"Eh Leo, mending lo diem atau gua sumpel mulut lo pake kertas lucknut ini?!! Ya wajar lah kalo es batu ngga berangkat, dia kan masih masa pemulihan, "
"Iya Naila bener,, lagian kata Bu Lily kan Dern cuma izin satu minggu. Itu artinya besok Dern bakal berangkat. "
"Huft iya juga si, "
Tiba-tiba suara deheman mengalihkan perhatian mereka pada tersangka pelaku deheman itu. Siapakah dia?
"Refan? ada apa?, " tanya Della
"Cuma mau tanya, kemana si Dern kok ngga bareng kalian? "
"Sakit, "
"Sakit? "
__ADS_1
"Iya, emang kurang jelas gua ngomong?!"
"Sakit apa? "
"Kok lo kepo?! pasti punya niat jahat ya? ngaku lo! "
"Engga, gua cuma tanya. Gua pengin tau lebih dalem aja tentang dia. Jadi dia kenapa? "
"Oh, kemarin. Eh bukan maksudnya satu minggu yang lalu, kita liat dia itu dikejar-kejar sama tiga orang. Tampang mereka si kaya pereman gitu. Sampe Dern luka-luka kaya gitu. "
"Lah kok bisa gitu, "
"Iya, emang si es batu itu orangnya aneh plus misterius banget. "
"Sebenernya gua juga penasaran sama dia, "
'Gua bakal korek informasi sebanyak-banyaknya dari kalian, hahaha'
Itulah tujuan Refan mendekati mereka.
"Oh iya! gua baru inget. Gua pernah nemu benda ini, punya Dern kayaknya. Soalnya gua nemu di dalam laci meja dia. " seru Leo sambil menunjukkan benda seperti replika belati kecil masih bersarung berwarna emas mengkilap. Refan yang melihat tentu sangat penasaran.
"Sini gua liat. "
"Oke, tapi ada syaratnya. "
"Apa? "
"Gua tanya, tapi lo jawab jujur. Apa bener, lo ikut-ikutan jadi bagian dari penjahat yang suka nyulik anak-anak disini? terus lo masih ikutan sampai sekarang? "
"Iya, tapi gua cuma kasih informasi lengkap dia. Ngga ikut nyulik. Sekarang gua masih jadi anggota mereka. Tapi gua ikut cuma buat jalanin tugas dari mendiang ibu gua sekaligus nerusin pekerjaannya. Dan gua juga belum berani buat lawan mereka dengan keluar begitu aja. Bisa bisa gua malah jadi empan-empan piaraan bos gua. Tapi waktu penculikan Naila itu, bukan gua yang kasih informasi ke mereka. Sekarang, kasih benda itu ke gua. "
"Tapi lo ngga bakal bikin kita di culik kan? "
"Ngga kok Del, gua juga sebenernya muak. Pengennya keluar dan lepas dari mereka. Salah salah gua bisa dihajar bos, atau lebih parah lagi ketangkep sama agen yang ngringkus kami para penjahat. "
"Ooh, Ok. nih, "
__ADS_1
Segera Refan mengambil dan mengamatinya. Karena penasaran, Refan membukanya.