
Baiklah. Terima kasih pada Dern yang membuat pelajaran Bimbingan Konseling di kelas 8A jadi kosong. Terlebih ini adalah pelajaran Bimbingan Konseling. Mereka tentu tidak masalah, malah justru sangat senang. Karena mereka pada dasarnya juga tidak menyukai pelajaran Bimbingan Konseling. Terlalu membosankan. Itulah kata yang tepat untuk mapel Bimbingan Konseling. Setelah perdebatan yang mampu membungkam Pak Sar, sang guru memilih untuk keluar kelas karena kesal bercampur malu.
Sedangkan Dern? Masih duduk diam menelungkupkan kepalanya diatas lipatan tangannya. Mencoba mengatur nafas. Jujur, saat ini dia sangat lelah. Mungkin efek belum sarapan.
Pengap. Dern mulai mengangkat kepalanya karena dirasa udara disekitarnya pengap. Dia sudah menebak dan tebakannya itu benar. Temannya sudah berkumpul disekitar mejanya.
"Lo kenapa Dern? Kok bisa telat si? "
"Es batu telat? Ini mungkin jadi sejarah yang baru, " Setelahnya Naila mengaduh sakit karena jitakan maut yang ia dapat dari Della.
"Ngga aku cuman ngelamun tadi pagi. Yang bikin aku telat itu sebenernya macet plus ban mobil bocor, ya aku lari donk. Eh sampe sini malah dihukum lagi."
"Oouh terus kenapa muka lo pucet? Pasti belum sarapan kan? " Dern hanya bisa mengangguk lemah, sungguh dia sangat lelah. Akhir-akhir ini dia sering merasa lelah. Mungkin karena pikirannya yang selalu berseliweran kemana-mana.
"Tapi lo tadi push up tujuh puluh lima kali masih sanggup, katanya capek?,"
"Ck! Push up tujuh puluh lima kali itu memang udah biasa. Cuman mungkin aku memang lagi laper jadi capek. "
"Ahaha ya udah beli makan di kantin aja, atau mau gua beliin? "
"Emang ngga ngrepotin Fan? kalo ketauan gimana? "
"Alah Dern, lo lupa dia tu kan emang dulunya master bully yang ngga peduli sama yang namanya peraturan. Bolak-balik ke kantin asal waktu mah udah biasa. Udah lo terima aja tawarannya, lo cukup duduk manis disini aja. "
"Ya udah. Ini terserah mau kamu beli apa, kalo sisa ambil aja. Makasih dan maaf ngrepotin, " Ucap Dern sambil memberikan uang tiga lembar uang warna merah
"Itu lo mau beli di kantin atau di restoran. Paling cuma dua puluh ribu kalo lo mau banyak. Lah itu lo kasih malah tiga ratus, "
"Horang kaya mah bebas ya Ben. Leo kembaran lo ini ngga di kasih Dern? " ucap Leo dengan bangganya
"Sekalian traktir kita aja, es batu. Kebanyakan tuh duit. Mending bagi-bagi bareng kita. "
"Ya udah mending kita ke kantin. Nanti kita makan bareng aja. Habis ini pelajaran Bu Lily, dia ngga masuk. Dan setelahnya istirahat. Jadi sekarang kita ke kantin aja, gimana? "
__ADS_1
"Gua setuju sama Dern. Sekali-kali aja dah, "
"Ya udah ayok, "
Alhasil mereka sampai di kantin. Yah, ucapkan selamat datang pada hukuman jika ketauan. Ternyata tidak hanya mereka berenam, tapi banyak yang sedang makan di kantin.
Segera mereka memesan makanan. Sampai satu meja mereka penuh dengan berbagai macam menu makan. Seluruh penghuni kantin hanya bisa memandang takjub sambil geleng-geleng kepala.
"Ini pertama kalinya lo ke kantin Dern. Gua heran sama lo yang ngga pernah ke kantin ataupun bawa bekal, ngga laper lo? "
"Yah, laper tapi waktu itu aku ngga boleh sembarangan makan di kantin. Khawatir kalo ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Dulu kan ini kandang musuh, yah kalian tau. "
"Hahah iya. Tapi sekarang ngga kan?, " Dern hanya menghendikan bahu tanda tak tahu.
"Oh iya Dern, lo kok gua chat tadi malam ngga jawab? Kenapa? "
"Iya, kita udah masukin lo ke grup chat kita. "
"Kan aku udah bilang, aku lagi di hukum. "
"Memang Le, tapi itu cuma hukuman buat ngga keluar rumah. Yang seminggu kemarin aku ngga berangkat itu. Kalo ini hukuman pencabutan fasilitas yang dari papah. Motor aja ditarik, makanya tadi aku telat. Dan termasuk Handphone juga di ambil. "
"Lah terus uang jajan lo? Ini uang siapa? "
"Uang jajan ikut ketahan. Tapi ini uang aku sendiri, kerja kerasku sendiri. Jadi papah ngga bisa ambil. Sebenernya motor juga punya aku sepenuhnya, tapi karena papahku yang modifikasi jadi ikut ketahan lah. "
"Dern, gua mau nanya nih. "
"Apa Fan? "
"Kenapa bisik-bisik si kalian. Kita ngga denger nih, "
"Sssht. Jangan brisik. Gua mau nanya sama Dern. Bu Lily,,, termasuk agen juga kah? Lo kenal dekat dia? lo kok tadi tau dia ngga bakal masuk dan bakal pindah? "
__ADS_1
"Iya, dan dia bakal keluar dari sekolah. Karna kan BT lagi menghilang. Jadi bakal di pindah tugas. "
"Wow kayaknya sekolah kita bahaya banget sampe ada bebarapa orang penting disini. Mungkin udah bisa dibilang kandang singa kali ya? "
"Diem Ben, ntar yang lain denger. Ini kan rahasia, mau lo kalo lidah lo dipotong Dern? " Si tersangka malah cengar-cengir ngga jelas.
"Tapi kenapa Bu Lily ngga tangkep gua? Atau mungkin yah minimal nguntit gua gitu? "
"Karena dia baru tahu setelah aku kasih tahu. Dan aku bilang kalo aku masih nyelidikin kamu. "
"Oh iya Dern,, nanti siang ikut kita yuk?! Ada yang mau kita tunjukin ke lo, gimana? Mau ngga? , "
"Hm, "
"Yailah ni bocah. Mulai dah, kumat lagi ambigunya." Cerca Leo
"Iya, iya. Nanti aku ikut. " Sekilas jawaban Dern terkesan kurang semangat dan dipaksakan.
'Entah hanya perasaan saja atau memang benar, aku sedang diawasi. ' pikirnya sambil melirik sekitar melalui ekor matanya.
"Woy es batu! ,, jangan ngelamun mulu lo, ntar makanannya gua embat baru tau. "
"Eh-uh sorry, "
Melihat gelagat Dern yang seperti tidak nyaman membuat mereka sedikit kebingungan.
"Lo kenapa si? Kayak ngga nyaman gitu? "
"Kalo ada masalah cerita donk Dern, "
"Ngga, cuma mau ke toilet. Ini, takutnya kurang. Aku ke toilet dulu yah? nanti aku langsung balik ke kelas, "
"Ya udah sana, "
__ADS_1
Dengan segera Dern berjalan melewati koridor yang ramai dengan raut wajahnya yang datar disertai tatapan tajam. Dia mulai menduga sesuatu, tapi dia putuskan untuk mencari kebenarannya. Jika memang dugaannya benar, mungkin dia harus bersiaga. Akan bahaya jika terjadi penyerangan tiba-tiba disekolah, karna dapat menimbulkan korban ataupun kerusakan. Dia juga akan kesusahan menghadapinya. Yah, setidaknya hanya untuk saat ini, karena persenjataannya yang kurang. Dia bisa saja melawannya dengan tangan kosong, apalagi duel satu lawan satu. Tapi, bagaimana jika mereka menyerangnya secara masal dengan persiapan juga persenjataan. Cukup sulit.
Dern diam-diam mengutuk pikirannya yang selalu melayang pada dugaannya. Padahal dia sudah berusaha untuk fokus pada materi yang guru sampaikan. Tapi, NIHIL. Yang ada dia malah pusing sendiri. Memang dia sudah lulus dari pendidikan, namun lagi-lagi ini adalah kedok penyamaran. Dern sebenarnya bisa saja keluar sekolah, kemudian kembali bertugas menjadi agen dengan bebas. Akan tetapi tidak bisa dipungkiri, Dern sudah nyaman dengan dengan teman-temannya, terutama Leo yang merupakan teman pertama Dern. Tapi bukan itu alasan utamanya. Untuk alasan pertamanya karena Rico belum memberi perintah untuk pindah tugas. Jadi, untuk sementara disinilah tempat Dern.