
"Gua nyesel ngga minta uang lebih kalo perlu dua kali lipatnya ja sekalian sama bocah ingusan itu. Aargh!! " geram Adi
"Bos, bos kesel yah? "
"Udah tau pakek nanya lagi, dasar anak buah ngga berguna" ketus Adi
"Bos,, bos,, saya ada ide bos"
"Apa ide nya?! "
"Gimana kalo kita culik si Leo terus kita minta tebusan sama si bocah ingusan itu. Gimana bagus kan? "
"Bagus juga ide lo, tapi gimana kalo nanti dia bawa penjaganya? "
"Ya kita ancam aja bos, kalo dia harus datang sendiri dan nyawa Leo yang jadi taruhannya. Dia kan temenan sama si Leo pasti ngga akan macem macem deh"
"Bagus,, bagus,,, ngga sia sia gua punya anak buah kaya lo" puji Adi
"Oke besok kita mulai rencananya"
Saat ini Rico kehilangan kesabaran atas kelakuan Dern. Diruang utama Dern yang baru saja tiba langsung diadili oleh ayahnya sendiri. Disana hanya ada Rico Dern dan beberapa penjaga. Tanpa ada Sam Eric ataupun yang lain, itu artinya tidak ada yang bisa meredam emosi Rico.
"Dern, kamu ini kenapa si?! hah?! jawab pertanyaan papah?!"
".... " Dern hanya tertunduk
"Dern?! jangan bikin papah tambah emosi, jawab pertanyaan papah! kenapa kamu pergi dari rumah tanpa sepengetahuan papah?!"
".... " Dern masih tertunduk tanpa menjawab pertanyaan Rico
"Kalo kamu mau pergi, bisa kan kamu izin dulu sama papah. Apa kamu tidak malu dengan keluarga Leo?! bikin khawatir papah tau ngga?! memang apa sih yang buat kamu kabur dari rumah dan pergi ke rumah Leo?! "
Kali ini Dern mengangkat kepalanya dan mendongakkan keatas. Ia yang tadinya sedang duduk, beranjak dan mulai mengambil posisi berdiri tegap. Rico melihatnya. Baru pertama kali ini Rico melihat air mata keluar kembali mengalir dipipi putra tunggalnya itu. Ada rasa bersalah dan menyesal dihati Rico karena sudah memarahi Dern tanpa tahu alasannya. Dern mengambil langkah mendekati papahnya. Rico semakin jelas mendengar isakan tangis putranya. Sampai jarak satu meter memisah mereka dan Dern membuka suara.
"Maaf pah"
tes...
air mata Dern kembali jatuh dari pipinya.
"Dern pergi kerumah Leo, karena dia satu satunya teman yang selalu ada di samping Dern"
"Dern ngga menyesal sama sekali pah. Papah bilang Dern salah kan? " kini Dern sedikit menaikan nada bicaranya hingga suaranya sedikit serak karena tangisannya
"Tapi Dern sama sekali ngga ngrasa bersalah, justru Dern seneng. Karna apa? papah tau kenapa? "
__ADS_1
Dern hanya membisu, tak dapat berkata apapun lagi.
"Disanalah Dern dapet jawaban dari pertanyaan Dern selama ini. Disanalah Dern merasa ketenangan dan kedamaian yang tidak ada dirumah Dern sendiri"
Dern mendekat selangkah pada Rico.
"Ya,,, disanalah Dern dapat merasakan rasanya memiliki keluarga seutuhnya"
Deg...
Sederhana namun mengena ke hati. Seperti itulah kalimat yang terucap dihati.
Dern pergi ke kamarnya, namun saat hendak menaiki anak tangga kesatu ada sesuatu yang terjatuh dari jaket yang Dern kenakan.
Sedang Rico masih pada tempatnya. Masih terngiang-ngiang di telinga Rico, kalimat yang diucapkan oleh Dern. Kalimat yang Dern ucapkan membuat Rico berpikir sejenak. Namun pada akhirnya, Rico memutuskan untuk menyusul Dern.
Saat akan menuju ke kamar Dern, pandangan Rico tertuju pada sebuah kertas yang ada dilantai. Segera Rico mengambilnya.
"Apa ini? mungkin milik Dern yang terjatuh saat ke kamarnya"
'Ini?! bagaimana Dern mendapatkan foto ini?, apakah Anggun yang memberikannya? tapi bukankah Dern mengatakan kalau ia tidak bertemu langsung dengannya?... Tidak aku tidak akan melepaskan Dern begitu saja, kalau sampai Anggun mengambil Dern dariku pasti aku tidak akan bisa bertemu lagi dengan Dern'
Rico memasukkan foto itu kedalam sakunya, kemudian menuju kamar Dern.
Dikamarnya Dern menyadari fotonya hilang.
"Duh,,, pasti jatuh"
"Apa aku cari sekarang"
"Tapi gimana kalo papah nanya"
"Ah bodo lah, yang penting foto itu balik lagi ke tangan ku"
Dern meletakkan jaketnya di kasur. Kemudian bergegas kebawah. Dern takut jika foto itu hilang untuk selamanya, karena itu adalah foto terakhir yang ia miliki saat bersama ibunya. Namun saat akan membuka pintu, Rico lebih dulu membukanya dan masuk ke dalam. Dern yang melihatnya langsung berbalik dan jalan perlahan dengan tangan yang ia masukan ke dalam saku celananya.
"Dern,, " panggil Rico
".... " Dern sama sekali tidak menjawab ataupun membalikkan badannya
"Papah minta maaf" Rico mendekati Dern dengan perlahan
"Papah tau papah salah. Papah terlalu keras sama kamu. Papah ngga pernah ada buat kamu" memegang pundak Dern, Dern pun membalikkan badannya namun dengan sikap dinginnya
"Tapi percaya ya sama papah. Papah itu sayang sama kamu. Papah ngga mau sampai kehilangan anak satu satunya papah. Kebanggaan papah. Papah ngga akan biarin kamu jauh jauh dari papah"
__ADS_1
"Iya Dern maafin kok" ketus Dern
"Tapi papah jawab jujur, apa bener papah bakal nyerahin Dern ke mamah untuk misi"
"Kamu tau dari mana Dern? "
"Udah yang penting papah jujur sama Dern"
"Ngga Dern, sampai kapanpun papah ngga akan biarin kamu pergi sama mamah kamu"
"Tapi pah, bukannya papah pernah bilang kalo keputusan ada pada Dern. Terus kenapa sekarang papah malah mau misahin Dern sama mamah? "
"Papah bukan misahin kamu sama mamah kamu Dern, tapi papah ngga mau kalo kamu sampai terjerumus di jalan salah yaitu jalan kejahatan. Sama kaya mama kamu"
"Berarti kalo mamah bisa berubah, Dern boleh sama sama lagi sama mamah? Terus apa mama sama papah mau bersatu lagi? " tanya Dern dengan penuh harapan
"Udah ya Dern papah ngga mau bicarain ini lagi. Mending kamu istirahat, nanti sore papah mau ajak kamu dan yang lainnya pergi markas M2" titah Rico
"Tapi pah... "
"Udah papah ngga mau denger alasan lagi"
Rico keluar dari kamar Dern. Sedangkan Dern hanya bisa menerima apa yang diperintahkan ayahnya. Namun perasaan Dern masih tidak tenang, memikirkan foto yang hilang. Tiba tiba ada panggilan masuk dari Leo. Kali ini Dern menerimanya.
"Hallo Dern? "
"Iya? "
"Gimana masalah lo sama papah lo? "
"Udah ngga papa kok, cuman masalah kecil"
"Ooh gitu, terus sore ini lo ada waktu ngga? gua mau ajak lo ke suatu tempat"
"Maaf, kayaknya ngga bisa"
"Emang kenapa? "
"Ada urusan sama papah aku"
"Yah yaudah deh, sampai ketemu besok ya"
"Iya bawel"
Tutt... tutt... tutt..
__ADS_1
Hari sudah senja, Dern sedang bersiap siap untuk pergi ke markas M2. Namun tidak dengan Rico, yang kini sudah menunggu di ruang utama dengan baju rapi. Seperti biasa setelan jas hitam menjadi pilihannya. Tidak lupa dengan aksesoris berbentuk kepala serigala berwarna emas, yang menjadi ciri khasnya.