
rasa gelisah bercampur ketakutan menyatu dalam diri Valerie sampai membuatnya tak sadar jika sedari tadi Malvin memanggil namanya , Malvin yang melihat keadaan Valerie tidak baik langsung menepikan mobil miliknya dan memegang tangan Valerie .
" Valerie , kamu kenapa ?" tanya Malvin dengan lembut , tangan hangat Malvin membuat valerie sedikit merasa nyaman, seakan dia merasakan kehangatan yang dulu pernah dia rasakan saat Adam bersamanya .
" tidak , saya tidak apa-apa kok " jawab Valerie cepat begitu pula dia menarik tanganya dari genggaman Malvin .
Malvin menghela nafas ,
" tadi aku sudah bilang tidak usah menjaga jarak padaku , anggap lah aku sebagai temanmu atau lainnya " ucap Malvin .
" tapi kita baru bertemu bagaimana saya bisa mengganggap anda seperti temanku apa anda punya maksud lain dokter ? " jawab Valerie .
" aku dokter mu, di sini aku bersikap profesional untuk membantu dirimu Valerie , jika kamu terus begini sampai kapan pun kamu tidak akan bisa melupakan masa lalu mu itu, kau tahu jika bukan karena sila mana mungkin aku mau menghabiskan tenaga ku pada pasien yang tidak mau berusaha seperti dirimu , itu buang-buang waktu " kata Malvin dengan tegas .
Valerie hanya diam , dia mengepalkan tangannya menahan rasa kesal akibat ucapan Malvin , tapi tidak dapat dipungkiri jika perkataan Malvin juga ada benarnya , dia harus berusaha keluar dari masa lalu nya itu .
" maaf kan saya dokter , tolong beri saya kesempatan untuk berusaha dan melawan rasa takut ini, saya juga mulai lelah saya juga ingin kembali seperti dulu, saya tidak ingin menyia-nyiakan usaha anda dan sila " ucap Valerie sambil menundukkan kepala.
" sudah lah , tidak perlu minta maaf saya juga yang salah karena berbicara kasar padamu " jawab Malvin sambil mengelus puncak kepala Valerie .
baik Valerie yang merasa perlakuan Malvin padanya terlalu lembut begitu pula Malvin yang langsung menarik tangannya dari puncak kepala Valerie .
" maaf saya bertindak tidak sopan padamu " Valerie hanya diam , namun perlakuan Malvin tadi membuat Valerie semakin rindu pada Adam , sejak dua tahun dia tidak mendapat kabar apapun dari Adam . Valerie menatap kosong ke arah jendela , sesekali dia juga ikut berbicara dengan Malvin namun pikirannya kembali di penuhi dengan kekosongan .
mereka akhirnya tiba di rumah Sila , Valerie mempersilahkan Malvin masuk ke dalam , tanpa menolak Malvin juga Mauk ke dalam .
" silahkan duduk dok , dokter Malvin mau minum apa ?" tawar Valerie .
" tidak usah repot-repot , oh iya lebih baik kamu panggil namaku saja kan bukan di tempat kerja , lagipula kita juga seumuran " jawab Malvin yang udah duduk di sofa .
" baiklah " jawab Valerie yang ikut duduk di sebelah malvin namun dengan jarak sekitar dua meteran .
Malvin mengamati ruangan tempat di singgah tidak cukup luas memang, tapi masih terkesan indah karena beberapa pajangan di dinding dan meja .
" kamu tinggal dengan sila ?" tanya Malvin .
" iya kami tinggal berdua " jawab valerie .
" apa kalian pernah mengajak lelaki datang kemari ?" tanya Malvin .
" kalau sila kadang mengajak pacarnya kemari " jawab Valerie .
" kalau kamu ?" selidik Malvin sambil menatap Valerie seakan memastikan sesuatu .
" sampai saat ini belum " jawab Valerie .
" jadi saya tidak termasuk laki-laki ?" protes Malvin .
__ADS_1
" eh maksud saya kecuali anda dok , ma maksud saya Malvin " Valerie rona wajahnya terlihat merah menandakan dirinya merasa malu .
Malvin tersenyum ,
" bagus , berarti kamu sudah tidak merasa takut dengan ku Valerie , untuk kedepannya terus pertahankan itu jangan terlalu takut pada hal - hal kecil tidak semua orang jahat seperti yang kamu bayangkan, belajarlah membuka diri pada orang lain namun sedikit lebih waspada harus tetap ada karena kamu itu seorang wanita " Malvin berdiri dari duduknya dan berpamitan pulang .
" aku pulang dulu iya, kamu istirahatlah dengan baik " malvin akhirnya pergi dari rumah itu .
" aneh mengapa aku membiarkannya masuk ke dalam ? " pikir Valerie , akhirnya dia pun masuk ke dalam rumah .
beberapa bulan setelahnya Valerie melewati hari nya di kantor dengan semakin baik sekarang dia bisa lebih bergaul dengan orang lain terutama laki-laki , sebagain memang senang namun sebagian lagi merasa iri karena banyak laki-laki yang membicarakan Valerie .
begitu pula Robby yang berpikir bagaimana Valerie bisa berubah dalam waktu secepat itu , Valerie yang sebelumnya gila kerja dan dingin pada rekan kerja lainnya sekarang lebih ramah dan sering tersenyum membuatnya semakin memukau pandangan mata terutama kaum pria.
Sepulang kerja , Valerie di jemput oleh Malvin yang menunggu nya di depan kantor valerie .
" sudah menunggu lama?" tanya Valerie yang masuk ke dalam mobil Malvin .
" tidak , hanya sekitar sepuluh menit saja, mau makan dulu atau pulang ke rumah ?" tanya Malvin .
" makan dulu saja, kali ini aku yang mentraktir " ajak valerie sambil tersenyum .
" mengapa tersenyum ? apa hari mu menyenangkan ?" tanya Malvin sambil menyetir mobil membelah jalan raya .
" iya , sekarang aku memiliki banyak teman di kantor dan sebagian juga sudah tidak menggunjing ku lagi " jelas valerie sambil membenarkan posisi duduknya .
" oh apa banyak pria yang merayumu juga ?" tanya Malvin .
" oh jadi Valerie suka pria yang seperti apa ? apa diriku termasuk dalam tipe mu ?" goda Malvin , membuat Valerie tersipu .
Beberapa bulan ini Valerie mengikuti arahan dari Malvin, metode yang di gunakan Malvin tidak begitu sulit dia hanya mengajak valerie jalan, mengobrol dan memberi beberapa saran dan motivasi , Malvin juga tidak memberikan obat penenang atau apapun pada Valerie justru Malvin mengajarkan valerie cara melawan rasa takut dan depresi nya , meski awalnya sulit , Malvin tetap memberikan semangat pada Valerie , setiap satu jam Malvin akan mengirim pesan pada Valerie saat di kantor dan memberikan beberapa arahan jika dirinya mulai merasa sesak diantara banyak orang ataupun cara mengendalikan rasa takutnya jika di dekati oleh lawan jenis.
Keduanya semakin akrab mungkin jika orang lain yang melihat pasti mereka mengira jika keduanya adalah sepasang kekasih bukan pasien dan dokter .
Sampai di tempat tujuan Valerie dan Malvin melangkah masuk ke dalam sebuah restoran.
mereka memesan menu shabu-shabu , keduanya menikmati makan malam mereka sambil mengobrol baik seputar kondisi Valerie maupun hal lainnya .
Di waktu yang sama Manuel datang dengan Robby untuk makan malam sekaligus membicarakan sesuatu yang penting .
Saat keluar dari mobil , Manuel nampak familiar dengan mobil Malvin yang terparkir tak jauh dari mobilnya .
Manuel mengeluarkan smirknya , kedua pria tampan itu telah masuk , beberapa pengunjung juga terpesona karena hari ini di tempat mereka makan kedatangan beberapa pria tampan .
" ribut apa sih " celetuk Malvin .
" alah palingan juga ada pria ganteng lewat " ujar Valerie sambil memakan daging dengan lahapnya . Robby melihat Valerie sedang duduk bersama pria yang waktu itu dia lihat , Robby segera mengajak Manuel untuk pergi mencari tempat duduk yang jauh agar tidak melihat Valerie , mata Manuel yang sedari tadi memang mengamati pun akhirnya menemukan Valerie . meskipun Robby sudah menghalangi namun Manuel tetap berjalan ke arah wanita yang selama ini dia cari.
__ADS_1
" Valerie " lirih seorang pria penuh kerinduan, detak jantung Valerie berhenti sejenak lalu berubah cepat dan membuat Valerie tersedak saat makan beruntung Malvin dengan cepat memberikan minuman pada Valerie .
Robby pun tidak bisa berbuat apa-apa, tangan Valerie gemetar dan itu diketahui oleh ketiga pria itu .
Malvin melihat kedua pria di depannya .
Malvin sudah pernah melihat Robby yang katanya adalah atasan dari Valerie namun pria di sebelahnya Malvin tidak tahu , yang jelas Valerie takut pada pria itu .
" atau dia orang yang membuat Valerie seperti ini " batin Malvin .
tak berani melihat , tak berani berbicara bahkan bergerak pun Valerie sangat takut padahal kemarin dia bisa menahan nya .
dia tak mau usaha Malvin sia-sia dia berusaha mengontrol diri , mengatasi rasa takutnya .
" Valerie kamu kenapa ?tidak enak badan lagi? kalau begitu kita pulang saja iya " Malvin menarik tangan valerie dengan lembut , mengemasi barang-barang mereka berdua , keduanya berdiri dan akan pergi meninggalkan Manuel yang sedari tadi berdiri di depannya , Manuel menggebrak meja membuat pelanggan lain kaget .
" siapa yang menyuruh kalian pergi " kata Manuel marah .
" El , biarin Valerie pergi ! dia seperti takut melihat mu " kata Robby .
" kamu mengenalinya ?" tanya Manuel pada sahabatnya itu .
Malvin menyela pembicaraan keduanya .
" oh bukannya ini atasan kamu sayang ?" kata Malvin membuat Valerie menatap pria itu .
" perkenalkan namaku Malvin, pacar dari valerie " mengulurkan tangan nya sontak membuat Manuel marah dan mencengkram baju Malvin namun Malvin masih merasa tenang .
" hentikan Manu , tolong jangan sakiti Malvin " mohon valerie dengan mata yang sudah berlinang air mata dia tak mau lagi melihat pria lain terluka karena nya . Valerie mencengkram lengan Manuel erat , Malvin semakin yakin jika pria inilah yang menjadi penyebab Valerie menderita selama ini.
Manuel melepaskan cengkraman pada Malvin dengan sedikit mendorong tubuh Malvin .
Manuel langsung memeluk tubuh Valerie tanpa bertanya apa sang pemilik mau atau tidak .
" akhirnya aku menemukanmu valerie ku , aku sangat merindukanmu " tandasnya .
Valerie memberontak dan mendorong tubuh Manuel agar menjauh darinya .
" tolong Manu, Jangan ganggu aku lagi " mohon Valerie . Robby saat itu hanya bisa melihat Valerie menjadi kasihan ,
" sayang , jadi ini mantan pacarmu yang tidak bisa melupakanmu itu " ucap Malvin meremehkan .
" Malvin ayo kita pulang " ajak Valerie menarik tangan Malvin pergi keluar dari tempat itu dia tidak mau Malvin membuat masalah dengan Manuel ,apalagi Alvin mengaku sebagai pacar Valerie , Manuel mengejar keduanya sampai di tempat parkir . Valerie langsung melepaskan genggamannya pada tangan Malvin . keduanya masuk ke dalam mobil dan di sepanjang perjalanan Valerie hanya diam tidak berbicara sepatah katapun , Malvin membiarkan nya mungkin Valerie saat ini begitu syok.
Sesampainya di depan rumah , Valerie turun dan Malvin menyusulnya .
" maaf berkata seperti itu di depan mereka" hanya itu yang keluar dari mulut Malvin, valerie langsung sadar " justru aku yang harus minta maaf , seharusnya kamu tidak usah melibatkan diri pada masalah ku , aku takut dia menyakitimu malvin " jawab Valerie , Malvin tiba-tiba mendekat lalu memeluk tubuh Valerie tak hanya itu Malvin mencium bibir Valerie , membuat Valerie membelalakkan matanya kaget , ciuman itu hanya berlangsung cepat .
__ADS_1
" maaf , aku tidak bisa tidak melibatkan kan diriku pada masalahmu val , karena aku menyukaimu " pernyataan Malvin membuat Valerie bingung harus bagaimana ,Valerie segera masuk ke dalam tanpa menjawab apapun .
Malvin berteriak " aku janji akan menjagamu dan membuatmu bahagia lebih dari dirinya " teriak Malvin kemudian tak lama dia pergi mengendarai mobilnya pergi dari pekarangan rumah itu .