
waktu seakan berhenti , kedua pasang manik mata itu saling menatap mengisyaratkan kerinduan diantara keduanya , sepasang kaki melangkah perlahan lahan menghampiri yang lain , masih dengan tatapan yang sama tanpa ada suara apa pun yang keluar dari mulut masing-masing , langkahnya semakin dekat dengan tujuan hingga kedua tangan memeluk tubuh Valerie begitu erat sedangkan sang pemilik tubuh hanya diam , otak nya masih tidak bisa mencerna apa yang harus dia lakukan sekarang apalagi hatinya memberontak untuk membalas pelukan dari pria itu.
Tanpa sadar air mata Valerie jatuh tak terbendung lagi , beberapa hari ini dia berusaha tegar dan mengakrabkan hati dan dirinya dengan situasi yang ada berharap semua akan cepat berlalu tapi di hadapan pria yang memeluknya semua seakan sia-sia, seakan hati dan pikirannya tahu dimana tempat ternyaman untuk mencurahkan perasaannya .
suara tangisan Valerie semakin nyaring di dekapan pria yang dengan setia pada posisinya , Valerie mencoba menahan. diri menahan tangis namun semakin di tahan semakin deras pula air matanya .
" menangislah jangan di tahan " ucap Malvin sambil mengelus bagian belakang kepala Valerie dengan lembut Malvin juga mengusap pipinya sendiri yang juga basah karena air matanya , Malvin sesekali mendongak ke atas berharap air matanya tidak keluar dari tempatnya .
" maaf Vin maaf kan aku " di tengah - tengah tangisannya Valerie meminta maaf pada Malvin , Malvin harus menjawab apa sedang hatinya yang sudah hancur dan harapan untuk menikahi wanita di hadapannya sekarang sudah pupus , permintaan maaf saja tidak bisa membuatnya pulih dan kembali seperti sedia kala. perasaan Malvin. bergejolak antara marah, kecewa, sedih dan sakit .
marah saat tahu wanita yang dia cintai tiba-tiba saja di rebut orang lain dengan cara licik , kecewa karena dirinya tidak bisa menjaga dan melindungi wanitanya dengan kemampuannya yang terbatas , sedih karena impian dan harapan untuk menjalani kehidupan bersama wanita dihadapannya sekarang sudah hancur dan sakit hati melihat dia harus bersama pria lain .
__ADS_1
" sudah lah jangan meminta maaf aku tahu kamu melakukan semua karena terpaksa " Malvin mencoba menenangkan Valerie juga menenangkan dirinya sendiri . Meski di lubuk hatinya penuh dengan pertanyaan " mengapa kamu tega Valerie ? kamu seakan memberi harapan tapi malah kamu sendiri yang membuatnya hancur " tapi apa daya dirinya tidak mungkin bisa menyalahkan wanita dihadapannya saat ini ,wanita yang saat ini menangis dalam pelukannya, wanita yang meminta maaf terlebih dahulu padanya, wanita yang rela mengorbankan kebahagiaannya demi kebahagiaan sahabat dan juga dirinya.
" saat kamu tidak bisa di hubungi aku sangat takut , takut terjadi sesuatu padamu takut jika suatu hari aku tidak bisa melihatmu lagi Vin aku sungguh merasa takut tapi aku senang ternyata kamu baik-baik saja " saat ini Valerie melingkarkan tangannya pada pinggang Malvin .
" tapi maaf sekali lagi aku tidak bisa membalas atau menerima panggilan mu aku bingung harus mengatakan apa padamu , aku tidak ingin membuatmu sakit hati " imbuh nya.
Malvin tersenyum tipis setidaknya wanita yang di hadapannya masih memikirkan dirinya .
Malvin semakin memeluk erat tubuh Valerie mencium puncak kepala wanita pujaan hatinya yang baru dia kenal beberapa bulan yang lalu, wanita yang membuat dirinya kembali merasakan perasaan cinta yang selama dua tahun ini hilang kembali tumbuh , perasaan yang dulu pernah ada di dalam diri Malvin sebelum peristiwa tragis merenggut semua kebahagian itu darinya.
Malvin tidak akan mengulang kesalahan yang sama untuk yang kedua kalinya dia harus rela melepaskan wanita yang dia cintai untuk bersama pria lain yang menjadi pilihan wanita itu dan kali ini Malvin hanya bisa mendoakan kebahagian untuk wanitanya .
__ADS_1
"bersama mu adalah suatu impian ku namun aku sadar saat ini kau sudah bukan milik ku lagi , meski begitu aku tidak akan pernah melupakan kenangan yang pernah kita lewati berdua , senyum manis mu aroma tubuh yang selalu menjadi heroin bagiku dan sentuhan yang pernah kau berikan padaku yang selalu ku damba, meski dunia mencaci ku akan keputusaan untuk memiliki mu biarlah , kau pun tahu dan Dia (Tuhan) juga tahu sedalam apa aku mencintaimu , menginginkanmu untuk jadi milikku dan seberapa berat hati dan sakit yang kurasa untuk melepas mu , merelakan dirimu berdampingan dengan dia yang menjadi pendamping hidup mu , kata orang cinta tak harus memiliki , dulu aku tidak percaya akan hal itu karena jika cinta pasti ada rasa memiliki namun saat ini aku harus merasakan cinta yang tidak dapat aku genggam dan ku miliki , sakit ? sedih ? marah? kecewa ? jelas semua itu ada tapi aku akan lebih sakit jika melihat dirimu menangis dan bersedih untuk itu aku akan jauh dari hidupmu , perlahan menghilang dari pandangan mu agar dirimu bisa berbahagia bersama nya , Valerie ku sayang , biarkan aku egois untuk saat ini memeluk dirimu untuk yang terakhir kali "
Tak lama Valerie melepaskan pelukan Malvin pada dirinya , Malvin dengan lembut mengusap sisa air mata yang membasahi wajah cantik Valerie , muka Valerie memerah begitu juga mata dan hidungnya, Malvin membungkukkan badan dan mencium kedua mata indah Valerie secara bergantian berharap bis menghentikan air mata itu agar tidak keluar supaya dia tidak membuatnya semakin sedih, terakhir Malvin mengecup bibir Valerie sekilas , dia tak bisa berbuat lebih dari ini karena sekarang status Valerie adalah istri orang lain .
Raut wajah Malvin begitu sendu , Valerie juga melihatnya dengan begitu jelas bahwa pria di hadapannya merasakan kesedihan yang sama seperti dia rasakan bahkan lebih .
" mengapa kamu tidak mengatakan apa- apa Malvin, mengapa kamu tidak memarahi ku atau pun memaki ku atas semua pengkhianatan yang aku lakukan padamu itu akan membuat ku jadi lebih lega daripada kamu yang diam seolah mengerti perasaan ku , aku jadi semakin merasa bersalah Malvin , aku mohon marah lah, bencilah diriku agar kamu bisa melupakan ku " batin Valerie sambil menatap Malvin dalam diam nya .
" sungguh aku tak pernah merasa begitu sedih dan menyesal seperti sekarang ini baik saat meninggalkan Manuel maupun Adam , sedangkan padamu pria yang baru saja aku kenal , yang memberiku motivasi untuk keluar dari zona nyaman ku , untuk keluar dari trauma masa lalu , kau seperti obat penenang hidup yang sengaja di berikan Tuhan untukku " pikir Valerie .
" apa dia memperlakukan mu dengan baik ?" tanya Malvin pada Valerie , Valerie hanya menganggukkan kepala pelan, Malvin tersenyum meski hatinya masih ada rasa tidak rela.
__ADS_1
" Valerie ku tidak cantik jika terus menangis , tersenyum lah Valerie aku mohon lakukan itu demi diriku " pinta Malvin bukannya menuruti Malvin , Valerie kembali menangis tak lama Sila telah datang menghampiri mereka setelah sekian lama berada di dalam kamar untuk memberi waktu bagi kedua nya untuk melampiaskan semua perasaan mereka.