
Valerie segera meminta pelayan dan koki rumahnya untuk membeli kebutuhan yang akan dia siapkan sebagai hidangan lezat untuk tamu yang akan datang nanti ke tempat mereka.
"kira-kira mereka seperti apa iya?" Valerie sangat merasa penasaran dengan tamunya itu.
"kayaknya mereka orang baik, tapi jangan sampai mereka memberitahu Manuel tentang isi buku itu!"batin Valerie agak cemas.
"ngelamunin apa? sampai air yang kamu tuang tumpah semua!" Manuel segera merebut teko air yang di pegang Valerie, tentu saja Valerie baru sadar saat Manuel ada di sana.
"em, hanya penasaran saja dengan tamu yang kamu maksud itu!" jelas Valerie tak mau Manuel kembali salah paham padanya.
"oh aku pikir kamu sedang memikirkan pria bernama Justin!"
"Manu! kamu selalu tidak mau mendengarkan penjelasan dariku dan marah-marah saat aku tidak patuh tapi sekarang kamu sendiri yang memancing duluan!"Manuel tentu saja tidak akan mendengarkan perkataan Valerie yang menyalahkan dirinya.
"harus sabar Val! sabar! kamu harus bertahan sampai kamu punya cukup bukti untuk membuat kamu bisa bercerai dengannya?"mencoba membangkitkan semangat dalam dirinya.
"El, kamu kapan balik? aku kangen?" dengan suara manja seorang wanita yang kini bercakap-cakap dengan Manuel lewat telepon.
"mungkin Minggu depan tapi tergantung Valerie mau pulang kapan,"agaknya Manuel mulai malas meladeni Anita apalagi kini Valerie sudah aman dalam melakukan hubungan suami istri yang tentu lebih bisa memuaskan dirinya di banding milik Anita yang tidak begitu menggigit.
"kenapa harus ngikutin mau Valerie sih! kamu gak adil banget sama aku El!" Anita marah pada Manuel tapi Manuel malah mematikan ponsel miliknya tak mau kebersamaan dirinya dan Valerie terganggu.
"dasar wanita cerewet! aku tidak akan pernah mau untuk menikahi nya walau keadaan terpaksa, untung Valerieku tidak seperti dia!" umpat Manuel.
"kamu berbicara dengan siapa Manu?"tanya Valerie tak sengaja lewat.
"oh, aku tadi berbicara dengan rekan bisnisku!"
"jangan sampai Valerie dia mendengarnya!" Manuel merasa tubuhnya mulai gerah dan tak nyaman.
"oh, tapi kenapa kamu terlihat kesal?dan nada bicaramu tadi,," Manuel malah mengalihkan pembicaraan"bagaimana persiapan di belakang? kamu harus ingat dia adalah tamu penting kita, jangan sampai membuat malu!"
__ADS_1
"aku sudah menyuruh pelayan menyiapkan makanan, kamu tenang saja,aku yakin mereka bakalan suka kok!"jawab Valerie penuh percaya diri.
"baguslah,"jawab Manuel sambil berlalu pergi meninggalkan Valerie, Manuel merasa lega setelah lolos dari pertanyaan Valerie.
"huh! terus saja kamu mengelak! aku juga sudah mendengar semuanya! tinggal menangkap basah kalian saja!" gerutu Valerie.
Dibelakang Manuel, Valerie diam-diam berhubungan dengan Aiden yang saat ini telah menjadi mata-mata untuknya, Valerie meminta Aiden mengawasi Anita di saat dia dan Manuel berlibur, Valerie ingin tahu dimana, siapa dan apa saja yang dilakukan Anita, sebab ini merupakan kunci penting untuk bisa menjalankan rencana Valerie.
"halo Aiden, apa kamu sudah mendapatkan informasi yang aku mau?" tanya valerie lewat sambungan telepon dengan suara pelan.
"kamu tenang saja semua sudah beres, tapi aku punya satu kejutan lagi buat kamu Val, nanti akan aku kirim padamu!" sambung Aiden,
"kejutan apa?" tanya valerie antusias.
"tenang, nanti kamu juga bakal tahu, oh iya kamu kapan pulang! Mama khawatir terus!"padahal itu hanya alasan yang Aiden pakai mana mungkin dia menanyakan keadaan Valerie secara langsung.
"em,sebenarnya aku ingin segera pulang tapi demi suksesnya rencana kita aku harus mengukur waktu lebih lama Aiden, bilang sama mama tidak usah khawatir, aku baik-baik saja!" jawab valerie yang sudah menebak jika Aiden begitu khawatir namun memakai sang mama sebagai alasan.
"iya, tenang saja dia tidak akan berani menyakitiku,"
"maaf Aiden, aku tak mungkin cerita padamu, aku tidak ingin membuat kamu semakin terlibat dalam urusanku, aku takut kamu bernasib sama seperti Adam dan Malvin,"
"ya sudah nanti aku kirim kan rekamannya ke ponselmu, aku sekarang ada rapat, bye Valerie"
percakapan keduanya telah berakhir, tak lama sebuah notifikasi pesan masuk, Aiden mengirim sebuah rekaman, saat video itu belum selesai di putar, valerie mendadak merasa mual setelah menonton sebagian isi video yang dikirim Aiden.
"jorok sekali Aiden! masa beginian dia kirim padaku!"sambil bergidik ngeri.
"aishh,aku tidak menyangka Anita seperti itu! bagaimana dia bisa terlihat tenang dan baik-baik saja?atau karena dia sudah biasa dengan situasi seperti itu?"
"Valerie kemarilah! lihat Adrian dan istrinya sudah datang!" Manuel menyuruh Valerie mendekat ke arah Manuel yang membawa sepasang suami istri ke dalam rumah miliknya.
__ADS_1
"kenalkan ini Valerie dia istriku!" Valerie bersalaman dengan Adrian dan istrinya yang juga tengah hamil besar dengan ramah.
Manuel mengajak tamu mereka ke ruangan tamu, sedangkan Valerie juga berbincang dengan istri Adrian yang bernama Ranti,
"kamu hamil? berapa bulan?" tanya Ranti pada Valerie,
" ini baru tiga bulan," dengan sedikit kaku lantaran Valerie hampir keceplosan tentang usia kehamilan sebenarnya.
"semangat iya! aku tahu kehamilan pertama itu penuh tantangan, tapi gak usah terlalu stress takut ini lah itulah, malah jadi paranoid, rileks aja melahirkan itu gak sesakit itu kok, karena perjuangan kita akan terbayarkan pas bayi kit sudah lahir!"
"iya kak, sebenarnya aku memang agak takut tapi mendengar kak Ranti berbicara seperti itu aku jadi lebih tenang! apalagi kal Ranti sudah pernah melahirkan sebelumnya!" balas Valerie,
obrolan singkat itu pun berlanjut di meja makan, Valerie agak cemburu melihat kemesraan Adrian dan istrinya, rona bahagia begitu terpancar diantara mereka sedangkan di sampingnya terkuat hanya ada pria yang terus menyakiti dirinya, iri tentu saja.
"kayaknya kak Ranti bahagia sekali dengan suaminya! kapan aku bisa seperti mereka! sungguh membuat iri!" napsu makan Valerie hilang, tapi demi menghargai tamunya dia harus memaksakan diri mengunyah makanannya hingga habis, apalagi saat Manuel menyuruh dirinya menghabiskan makanannya.
Selesai makan, kedua ibu hamil itu berjalan-jalan di area luar sedangkan Suami mereka tentu saja membahas masalah bisnis, mereka juga bisa ikut bergabung tapi lebih menyenangkan berbicara santai daripada membahas soal materi belaka.
"kak Ranti membawa bukunya kan!" tanya Valerie sambil melihat sekeliling seakan buku itu penting dan tidak ada orang yang boleh tahu.
Ranti pun mengeluarkan buku itu dari tas miliknya, karena memang itulah tujuan dirinya datang kemari.
"terima kasih kak" saat Ranti memberikan buku itu pada pemiliknya.
Ranti ternyata memiliki perasaan curiga pada Valerie, apalagi di pergelangan tangan Valerie terdapat tanda merah dengan garis melingkar seperti habis di ikat kuat.
Ranti pun memancing Valerie dengan bertanya tentang tokok di Noel yang di tulisnya, Valerie kaget saat Ranti menanyakan hal itu tapi dia masih berusaha tenang dan menutupinya.
Ranti paham jika Valerie tidak akan mengaku,Ranti pun memberi semangat dan dukungan pada Valerie dan memberikan kartu nama miliknya jika Valerie membutuhkan bantuannya.
"terima kasih kak!" ambil memeluk tubuh Ranti, Valerie beruntung bisa mengenal Ranti yang begitu baik meski baru mengenal dirinya, tapi untuk saat ini Valerie akan berjuang sendiri demi kebebasannya, Valerie tak ingin orang sebaik Adrian dan Ranti ikut terlibat dengan masalah antara dia dan Manuel.
__ADS_1