
di saat Malvin dan Valerie berada di luar , ada sepasang mata yang mengamati mereka dari jauh , dia adalah Manuel .
Manuel sangat marah melihat Valerie bersentuhan dengan pria lain terutama Malvin, sialnya saat ingin mendekat ponsel milik Manuel berbunyi dan ternyata sang ayah meminta dirinya untuk pulang , dengan berat hati dia melepaskan kedua manusia yang sedang di mabuk asmara itu .
" lihat saja nanti , aku akan membuatmu menjauh dari Valerie " ancam Manuel .
Sehari setelahnya Valerie kembali ke rutinitasnya yaitu bekerja, kini dirinya tak lagi memiliki teman dekat di kantor , baik Valerie maupun Anita mereka tidak menyapa satu sama lain, Valerie tidak bisa memaafkan perbuatan Anita padanya padahal Valerie sangat peduli pada Anita dan untuk Anita tentu saja dia masih tak terima karena Manuel meninggalkannya demi bersama Valerie apalagi saat dia mengadukan pada ibu Manuel sekarang malah berbalik membela putranya, orang tua Anita juga tidak bisa berbuat apapun meskipun mereka mengenal keluarga Manuel nyatanya ayah Manuel tidak pernah menganggap keluarga mereka penting Anita tak memiliki pendukung lagi untuk mempertahankan hubungannya itu membuatnya semakin kesal pada Valerie .
Valerie begitu tergesa-gesa sambil membawa beberapa dokumen penting milik Robby , Robby menyuruhnya membawa ke ruang rapat saat itu dirinya tak sengaja ditabrak seseorang hingga membuatnya terjatuh , pada waktu yang sama Anita juga berada di tempat kejadian .
Valerie segera memungut beberapa lembar kertas yang berserakan .
" gimana ini ! jadi berantakan semua" keluhnya .
"makanya kalau jalan itu yang benar ! jangan cuma bisanya menggoda lelaki saja ! untung saja kamu tidak membuat tamu penting perusahaan terluka , cepat minta maaf " hardik Anita dengan senyum liciknya .
Valerie berdiri dan melihat ke arah Anita dan sosok yang sangat dia rindukan selama ini .
namun raut wajah pria tua bernama Arnold Wilson itu terlihat dingin melihat Valerie seakan tidak mengenalnya .
" ayah " batin Valerie , tubuhnya menjadi gemetar antara menahan rindu juga rasa takut jika ayahnya akan mem,bawanya pulang .
" sudah lah , tidak usah mengurusi hal yang tidak penting " ucap sang ayah sambil berlalu meninggalkan Valerie .
Valerie mengepalkan tangannya menahan semua perasaan di hatinya saat ini dia harus profesional dan mengesampingkan perasaannya .
__ADS_1
di depan ruang rapat Robby sudah menunggu Valerie , disana juga ada sang ayah yang sedang menghubungi seseorang .
Sesekali Valerie melihat ke arah sang ayah yang begitu dia rindukan , setelah semua dokumen diserahkan pada Robby Valerie kembali ke ruang kerjanya .
menatap layar ponsel miliknya sambil melihat potret keluarga saat dulu dia ambil di waktu liburan bersama.
" apa ayah begitu membenci Valerie ? kenapa ayah bahkan tidak mau menatap Valerie " air mata Valerie keluar tanpa bisa di cegah , Valerie segera menghapus air mata nya sebelum orang lain melihat dan dirinya berusaha fokus untuk bekerja .
Robby telah kembali ke ruangannya sebelum itu dia menghampiri Valerie yang sedang bekerja .
" val, pak presdir menyuruhmu pergi ke ruangannya " kata Robby .
" baik pak " jawabnya Valerie, namun Valerie masih memikirkan ayahnya membuat dirinya tidak fokus dan tersandung kaki meja sontak membuatnya oleng untuk saja Robby menahan tubuh Valerie agar tidak jatuh .
" terima kasih " ucap Valerie , Robby menahan Valerie " kamu ada masalah ?" tanya Robby , Valerie menggeleng dan segera pergi keruangan pimpinan perusahaan itu yang juga merupakan ayah Manuel .
disana sudah ada ayah Manuel, Rudy Gultom dan ayah Valerie sedang berbincang-bincang dengan begitu akrab .
Valerie diam dirinya hanya melihat sang ayah yang masih saja membuang muka saat melihatnya .
Valerie masih berdiri seperti patung , hingga ayah Manuel mempersilahkan Valerie duduk , merasa sungkan Valerie menolak dan memilih berdiri di tempat .
" kamu tahu mengapa saya memanggil mu kemari?" tanya ayah Manuel , Valerie menjawab " tidak tahu pak " dengan menundukkan kepala mengingat dirinya dan Sila telah membuat keributan di hadapan ayah Manuel .
" saya mendengar dari salah satu karyawan kamu membuat masalah dengan tamu perusahaan kita dan kamu tidak mau meminta maaf " jelas ayah Manuel , masih dengan wajah menunduk Valerie berkata" maaf pak tapi saya tidak merasa membuat masalah dengan beliau karena beliau lah yang terlebih dahulu menabrak saya jadi saya tidak bersalah, untuk apa saya meminta maaf ,terlebih lagi beliau juga berkata jika tidak perlu mengurus hal yang tidak penting " jawab Valerie , Arnold langsung menggebrak meja membuat Valerie kaget begitu juga Rudy .
__ADS_1
" jika dia memang mengatakannya bukan berarti kamu tidak perlu meminta maaf ? kamu harus menghormati orang yang lebih tua " ujar Rudy .
Valerie ingin segera keluar dari ruangan itu rasanya pengap dan sesak di dada apalagi sampai saat ini Arnold masih tidak mau menatap Valerie seakan menganggap Valerie begitu tidak enak di pandang .
" maaf kan saya pak lain kali saya usahakan tidak akan berkeliaran di hadapan anda supaya kejadian hari ini tidak terulang lagi " sambil membungkuk untuk meminta maaf di hadapan ayahnya sendiri , Arnold berdiri dan berpamitan pada Rudy untuk pergi tanpa memperdulikan Valerie yang memandang punggung sang ayah yang semakin lama semakin menjauhinya , air matanya tak bisa dia tahan lagi .
Rudy melihat Valerie menghapus air matanya "jika kamu rindu keluarga mu dan ingin kembali lagi , kamu lebih baik menerima pengaturan dari ayahmu " Valerie berkata " maaf pak saya harus kembali bekerja " pamit Valerie .
Rudy hanya tersenyum getir sambil melihat Valerie pergi" heh ! dasar anak keras kepala " gumamnya.
Saat di luar kantor Valerie juga melihat Anita yang sedang berbicara pada Arnold , keduanya nampak akrab , Valerie merasa kesal dia memilih jalan memutar untuk menghindari Arnold .
tak lama sila datang menjemput Valerie dia juga menyapa Arnold yang ada di dekatnya .
" om Arnold ? ngapain di sini?" tanya Sila
" oh ada urusan bisnis " jawab Arnold ,
" eh jadi om pasti sudah bertemu dengan putri om ? " mendengar ucapan wanita di hadapannya Anita menjadi begitu penasaran dengan putri Arnold.
" iya begitulah , maaf om harus segera pergi , kapan-kapan kamu main ke rumah iya " pamit Arnold memasuki mobil dan pergi meninggalkan Sila disusul Anita yang juga naik ke dalam taksi .
Valerie berjalan sambil menunggu taksi lewat , saat itu ayahnya juga melihat Valerie yang berjalan kaki , sang asisten berkata " tuan ingin mengajak nona juga? kita bisa berhenti jika tuan mau " Tanaya sang asisten , Arnold menatap sinis ke arah asistennya itu .
" dia sudah memilih jalannya sendiri jadi tidak perlu memperdulikannya " jawab Arnold .
__ADS_1
" jelas - jelas tuan masih peduli " batin sang asisten .
Lama menunggu akhirnya Sila datang dan saat di jalan mereka saling menceritakan tentang pertemuan mereka dengan Arnold , di dalam mobil itu juga Valerie menumpahkan seluruh air matanya , sila yang menjadi sahabatnya pun harus menenangkan Valerie .