Tragedi Satu Malam Dengan Sahabat

Tragedi Satu Malam Dengan Sahabat
Episode 10


__ADS_3

Sementara di rooftop kampus Jean, Abimana dan Putra tengah duduk santai di bangku panjang yang memang sudah ada disana. Jean sedang menghisap rokok, ia bukan perokok aktif tapi disaat pikirannya kalut seperti sekarang, Jean pasti akan melampiaskannya ke rokok atau minuman keras.


"Eh gimana ceritanya kamu bisa nikah sama Ratu, sih?" tanya Abimana. Sungguh ia sangat terkejut mendengar sahabatnya itu tiba-tiba nikah tanpa ada pemberitahuan terlebih dulu.


"Dia gadis yang aku tiduri dulu," jawab Jean sambil memandang ke depan. Ucapan Jean tadi membuat kedua sahabatnya begitu terkejut.


"Hah maksud kamu, dia gadis yang kamu perkosa itu?" tanya Abimana lagi.


Jean hanya mengangguk.


"Damn! You are crazy bro! Sumpah tindakan kamu gila banget sih. Dia itu sahabat kamu sendiri, Jean!" ujar Putra sambil mendorong kepala Jean.


"Ya mau gimana lagi, waktu itu kan aku dalam keadaan tidak sadar. Jadi, aku tidak tahu jika gadis itu adalah Ratu," balas Jean membela diri.


"Ya juga sih." Abimana dan Putra membenarkan ucapan sahabatnya itu.


"Oh ya, nanti malam kalian mau datang ke pesta ulang tahun si David?" tanya Abimana mengalihkan topik pembicaraan. David adalah salah satu anggota BEM yang juga merupakan satu fakultas dengan mereka bertiga dan nanti malam laki-laki itu akan mengadakan pesta untuk merayakan hari ulang tahunnya.


"Aku sih ikut kalau Jean ikut," jawab Putra. Abimana menatap Jean, meminta jawaban dari laki-laki itu.


"Aku ikut, kalau Ratu izinin aku pergi," ucap Jean.


"Ya deh yang sekarang udah punya istri," ledek Abimana. Jean hanya acuh terhadap ledekan sahabatnya itu.


Jean dan kedua sahabatnya masuk ke dalam kelas, lalu Jean menghampiri Ratu dan duduk di kursi di depan wanita itu. Ratu yang sedang menulis itu cukup tersentak melihat Jean yang berada di depannya.


"Ratu," panggil Jean.


"Ada apa?" tanya Ratu langsung mengubah raut wajahnya.


"Nanti malam kamu ikut ke acara ulang tahunnya David?" tanya Jean balik.


Ratu menggeleng, "Aku harus mengerjakan tugas dari prof. Hartono, jadi aku tidak bisa datang," jawab Ratu.


"Yah kamu ini terlalu rajin," sahut Abimana dan mendapat tatapan tajam dari Ratu, Abimana langsung menatap ke arah lain, dia takut melihat tatapan garang dari sang kanjeng ratu.


"Kamu yakin tidak akan datang?"


Ratu hanya berdehem tanpa menatap Jean, ia malah menatap ke arah buku yang dibacanya.


"Tapi kamu izinkan aku pergi kan?"


Ratu mendongak sedikit lalu menatap ke arah Jean dengan kening yang berkerut, "Ya pergi saja. Kenapa kamu harus izin sama aku? Kalau mau pergi, ya pergi saja!" ucap Ratu acuh.


"Tentu saja aku izin ke kamu, kamu kan istriku," balas Jean.

__ADS_1


Jantung Ratu berdegup kencang saat Jean mengatakan itu, bibirnya berkedut ingin tersenyum tapi ia mencoba menahannya.


"Ya kamu pergi saja," kata Ratu.


"Kamu mengizinkanku untuk pergi?" tanya Jean meyakinkan Ratu.


"Iya ih, kamu bawel banget!" kesal Ratu.


Jean tersenyum kecil, tangannya terarah mengacak rambut Ratu, "Jangan ngambek gitu, jelek tau!" ejek Jean.


"Jean! Nyebelin banget sih kamu!" teriak Ratu sambil memukul lengan Jean. Jean mengaduh tapi seraya tertawa, ia memang sangat suka menggoda Ratu dari dulu. Sahabat-sahabat mereka yang melihat itu hanya tersenyum, ikut bahagia melihat mereka berdua.


Kediaman David.


Malam harinya Jean datang ke pesta ulang tahun David bersama Abimana dan Putra, mereka bertiga pergi menggunakan satu mobil.


Mereka bertiga pun masuk ke tempat acara yang diadakan di rumah David. Kedatangan 3 laki-laki populer di kampus membuat semua mata tamu undangan tertuju kepada mereka. Salah satunya, Elsa yang sangat senang melihat kedatangan Jean dan dua sahabatnya.


"Yes, Jean hanya datang bersama kedua sahabatnya, bukan dengan wanita munafik itu. Ini kesempatan aku untuk mendekati Jean," seru batin Elsa. Ia sangat murka saat mengetahui jika Jean menikah dengan perempuan yang notabennya adalah sahabat dari Jean sendiri, yakni Ratu. Maka tak heran ia menyebut Ratu dengan sebutan wanita munafik.


"Selamat ulang tahun, Dave," ucap Jean dan diikuti Abimana serta Putra.


"Thanks, kalian udah mau datang ke acara aku ini," balas David.


"Jean," panggil Abimana.


"Kenapa?"


"Dari tadi Elsa menatap ke arah kamu terus," bisik Abimana. Jean pun menatap Elsa dan benar saja, gadis itu tengah menatap ke arahnya dengan senyuman yang begitu manis.


"Cih si wanita ular tak tau malu!" desis Putra tak suka.


"Biarkan saja dia, aku tidak peduli," ucap Jean begitu acuh.


"Eh Jean, dia datang kesini!" ucap Abimana melihat Elsa yang datang menghampiri mereka bertiga.


"Hai Jean," sapa Elsa. Jean hanya diam tidak menjawab sapaan Elsa malah terkesan cuek dan menatap datar ke arah gadis itu.


"Kamu terlihat sangat tampan malam ini," puji Elsa. lagi-lagi Jean hanya terdiam mengacuhkan Elsa.


"Kok kamu diam saja sih! Aku rindu denganmu yang dulu Jean," ucap Elsa memeluk manja lengan Jean, bahkan lengan Jean sengaja ditaruhnya pada dadanya yang cukup besar itu. Namun itu langsung di hempaskan dengan kasar oleh Jean, laki-laki itu menatap tajam Elsa.


"Jangan pegang-pegang aku, Elsa!" sentak Jean. Ia merasa jijik saat Elsa menyentuhnya.


"Ish kamu kasar banget sih!" ucap Elsa tak terima.

__ADS_1


"Aku peringatkan kepadamu, Elsa. Jangan pernah sekali-kali pegang apalagi dekat-dekat denganku lagi! Kalau kamu ingin hidupmu baik-baik saja di dunia ini!" ancam Jean tak main-main lalu pergi meninggalkan Elsa. Abimana dan Putra menatap sinis Elsa, kemudian mengikuti Jean.


"Cih! Liat saja Jean, kamu akan segera menjadi milikku lagi, karena kamu hanya milikku, bukan wanita munafik itu!" batin Elsa kesal sambil menghentak-hentakan kakinya.


Jean mengobrol ringan dengan beberapa temannya, sedangkan kedua sahabatnya itu tengah mengambil makanan, mereka memang tidak bisa jauh dari makanan, apalagi yang berbau dengan gratisan. Ya, walaupun orang tua mereka termasuk orang terkaya di Jakarta.


"Permisi Tuan, apa anda ingin minum?" tanya pelayan sambil membawa nampan berisi beberapa jenis minuman.


"Boleh." Jean mengambil segelas minuman. Tanpa ragu dan berpikir panjang Jean pun langsung meminum minuman tersebut, hal tersebut membuat seseorang yang mengamati itu langsung mengeluarkan senyum seringai dari bibirnya.


Beberapa saat kemudian, entah kenapa kepala Jean terasa pusing dan suhu badannya terasa berbeda, panas serta gairah dalam tubuh meningkat bercampur menjadi satu.


"Sial! Kenapa dengan tubuhku ini!" batin Jean.


Tak tahan lagi, Jean pun pergi ke kamar mandi yang berada di rumah David. Sesampainya di kamar mandi, Jean langsung membasuh wajahnya di air wastafel berharap rasa aneh di tubuhnya menghilang, tapi sayang rasa aneh itu semakin meningkat saja.


Terlintas dipikiran Jean jika sekarang tubuhnya sedang di kuasai oleh obat sialan itu. Mengapa Jean bisa mengetahui itu karena obat perangsang? Karena dulu saat Jean menjadi mahasiswa baru, ia pernah dijebak menggunakan obat perangsang oleh kakak seniornya yang sangat terobsesi padanya, namun untungnya dewi fortuna sedang berpihak kepada lelaki itu, sebab pada waktu yang tepat Abimana datang menolongnya dan kakak seniornya itu langsung di Drop Out dari kampus.


"Apa minuman yang aku minum tadi ada obat perangsang nya?"


"Argh sial! Siapa yang berani melakukan itu padaku!" geram Jean.


Dengan cepat Jean merogoh kantong di balik jaketnya untuk mengambil ponsel dan langsung menghubungi Putra. Pada nada sambungan pertama langsung dijawab oleh Putra.


"Halo Jean, kamu di mana? Kok aku tidak melihat kamu di tempat acara?" tanya Putra yang mencari keberadaan Jean.


"Cepat antar aku pulang!" Bukannya menjawab, Jean malah menyuruh Putra untuk mengantarkannya pulang.


"Hah kenapa cepat sekali? Belum satu jam loh kita ada disini!"


"Aku tunggu di parkiran!" Jean langsung mematikan sambungan telepon tersebut, ia yakin disana Putra tengah mengumpatnya karena sudah mematikan telepon secara sepihak.


Jean pun keluar dari kamar mandi, ternyata sedari tadi ada seseorang yang menunggu Jean di luar kamar mandi.


"Jean," ucap seseorang itu sambil mendekati Jean. Jean menatap gadis itu dengan tatapan mata sayu.


"Kamu tidak apa-apa, Je? Kenapa wajahmu memerah seperti itu?" tanya gadis itu berbasa-basi sambil memegang tangan Jean.


"Sudah aku bilang ke kamu jangan pernah sentuh-sentuh aku lagi, Elsa!" geram Jean sambil menghempaskan tangan Elsa. Saat Jean hendak pergi, Elsa langsung mencekal tangan Jean.


"Aku tau kamu lagi tidak baik-baik saja Jean, apa kamu butuh bantuanku?" ucap Elsa dengan suara sensual mencoba menggoda Jean.


"Aku tidak sudi dengan bantuan kamu!" umpat Jean seraya menghempaskan tangan Elsa dengan kencang hingga membuat gadis itu terjatuh. Jean yang tak peduli pun meninggalkannya, ia berjalan sedikit sempoyongan menuju ke halaman dimana tempat mobil Putra berada.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2