
Jean berjalan dengan langkah wibawa dan wajah dinginnya memasuki gedung WANG'S CORP. Ia mempunyai janji bertemu dengan pendiri sekaligus pemilik dari WANG'S CORP siapa lagi kalau bukan kakek Wang.
Banyak karyawan wanita memekik tertahan, karena terpana dengan wajah tampan Jean bak pahatan dewa Yunani, apalagi tatapan mata cokelat hazel miliknya yang dapat menghipnotis semua orang yang melihatnya.
"Selamat pagi Tuan Alexander," sapa Zhang Xin, asisten pribadi kakek Wang.
"Pagi," balas Jean singkat.
"Tuan presdir sudah menunggu anda di ruangan beliau," ujar Zhang Xin.
Jean mengangguk. "Baik."
Jean menuju ke ruangan kakek Wang, sedangkan Rico menunggu di luar ruangan, karena Rico tau jika atasannya itu selain membahas pekerjaan, Jean akan membicarakan tentang masalah istri dan anaknya dengan kakek tua itu.
Jean mengetuk pintu ruangan kakek Wang.
"Masuk!" Terdengar sahutan dari kakek Wang di dalam ruangan. Suara sepatu pantofel milik Jean menggema di ruangan tersebut, kakek Wang yang tengah fokus pada lembaran-lembaran kertas di atas mejanya kini mengalihkan pandangannya ke arah pria yang datang ke ruangannya.
"Selamat datang di WANG'S CORP, Tuan muda Alexander," sapa kakek Wang tersenyum sambil menjabat tangan Jean.
"Terima kasih Tuan besar Wang," balas Jean.
"Jangan panggil Tuan panggil saja kakek seperti dulu cucu menantuku. Ah maksud kakek, mantan cucu menantu," ujar kakek Wang membenarkan ucapan Jean tadi.
"Maksud anda apa, Kek? Saya ini masih suami dari cucu anda," bela Jean sedikit tak suka dengan perkataan kakek tua di hadapannya ini.
Kakek Wang mengerutkan kening. "Maksud kamu apa? Kamu belum menceraikan Ratu?"
"Sebelum saya menjelaskannya, apa boleh saya duduk dulu, kek?" tanya Jean.
"Ah iya kakek sampai lupa, silahkan duduk."
Jean mengangguk, lalu duduk di kursi dan berhadapan dengan kakek Wang dengan tatapan seriusnya.
"Apa benar kamu belum menceraikan, Ratu?"
"Bukan belum, Kek. Tapi sampai matipun saya tidak akan pernah menceraikan Ratu. Karena cinta saya sangat besar terhadapnya bahkan saya rela kehilangan nyawa demi dirinya," jelas Jean tegas. Kakek Wang tersenyum mendengarnya, beliau tidak melihat ada kebohongan di mata dan wajah Jean.
"Syukurlah kakek senang mendengarnya," ucap kakek Wang lega.
"Semakin di lihat, kau semakin mirip dengan cicit-cicit kakek," lanjut kakek Wang tertawa kecil.
__ADS_1
"Maksud kakek cicit-cicit apa? Saya dan Ratu hanya memiliki satu anak dan itu hanya Ravindra," ujar Jean bingung, sepertinya kakek tua di hadapannya ini sedang berhalusinasi, pikirnya.
Kakek Wang tersenyum tipis, lalu mencerita tentang sebenarnya yang terjadi dari Ratu memalsukan kegugurannya hingga pergi bersembunyi di Beijing dan dirinya yang menutupi akses Jean untuk mencari keberadaan cucu dan cicitnya.
Raut wajah Jean langsung berubah menjadi emosi, marah, kecewa dan bahagia bercampur jadi satu apalagi saat mengetahui jika dirinya kini memiliki seorang putra lagi.
"Maafkan Kakek karena sudah menutup akses untuk kamu mencari keberadaan Ratu dan Ravindra," ucap kakek Wang merasa bersalah setelah selesai menceritakan semua.
"Kenapa kakek tega melakukan itu? Apa kakek tau, saya sampai hampir gila mencari keberadaan mereka. Saya sampai harus pergi konsultasi ke psikolog, saya di diagnosis terkena gangguan jiwa karena memikirkan dimana keberadaan istri dan anak saya, Kek!" jelas Jean menggebu-gebu dan untung saja sekarang penyakit itu hilang dari dirinya sejak 2 tahun yang lalu dengan cara rutin terapi dan konseling ke psikolog.
Kakek Wang sangat terkejut mendengarnya, hingga mata sipitnya itu terbelalak sempurna. Ia tidak tau bakalan itu yang terjadi dengan Jean. Ternyata Ratu pengaruhnya sangat besar terhadap Jean.
"Maafkan, kakek. Kakek benar-benar menyesal," lirih kakek Wang dengan mata yang sudah berkaca-kaca sedari Jean bercerita masalah psikisnya.
"Nama anak kedua saya siapa kek?" tanya Jean dingin.
"Anak kedua kamu bernama Kendrick Alexander, dia sangat mirip dengan kamu, nak."
"Ratu! Berani-beraninya kamu membohongiku selama ini dengan cara memalsukan keguguran mu. Liat saja hukuman apa yang akan kamu dapatkan nantinya," geram Jean dalam hatinya giginya sampai menggertak beradu, ia bersumpah akan memberikan hukuman untuk Ratu.
"Jangan marah, nak. Ini semua karena perbuatan kakek," ucap kakek Wang yang sepertinya mengetahui jika Jean pasti akan menyalahkan cucunya. Jean mencoba meredakan emosinya, Ratu juga melakukan ini karena kesalahannya.
"Apa boleh saya bertemu dengan anak-anak saya, kek?" Izin Jean pada kakek Wang.
"Ravindra masih sekolah dan Kendrick ada di mansion kakek. Kamu bisa pergi menjemput Ravin setelah itu pergi ke mansion kakek sekaligus bertemu dengan Kendrick disana," sambung kakek Wang.
"Baik kek," ujar Jean antusias. Ia tak sabar ingin bertemu dengan kedua putranya, apalagi bertemu dengan Kendrick, putra keduanya.
"Oh ya, kamu kesini ingin membicarakan tentang pekerjaan juga kan?" tanya kakek Wang.
"Iya benar, kek."
"Ya sudah sekarang kita bicarakan masalah pekerjaan dulu, nanti di mansion kakek baru kita bincang-bincang lagi," ucap kakek Wang. Jean mengangguk menyetujui ucapan kakek Wang.
Seorang bocah kecil berumur enam tahun tengah muram sambil menunggu jemputan nya. Ya, dia adalah Ravindra. Pikirannya tengah berkelana karena mengingat tugas dari gurunya yang menyuruh semua murid-muridnya untuk berfoto dengan ayah mereka masing-masing, karena sebentar lagi di China akan merayakan hari ayah.
"Hai Lavin," sapa Ning-ning duduk di samping Ravindra.
"Nama aku Ravin, bukan Lavin!" ucap Ravin kesal. Ravin bersekolah di sekolah bertaraf internasional jadi teman-temannya kebanyakan pindahan dari luar negeri seperti dirinya, walaupun banyak juga yang berasal dari China.
Ning-ning mengerucutkan bibirnya. "Ning-ning kan olang China jadi ndak bisa bilang huluf L," ucapnya kesal sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
__ADS_1
Ravin menghela napas. "Maaf aku lupa."
"Kalena Ning-ning olangnya baik, Ning-ning bakal maafin Lavin," ucap Ning-ning manggut-manggut.
"Terima kasih Ning-ning," balas Ravin tersenyum.
"Oh ya, kok muka Lavin kelihatan sedih?" tanya Ning-ning.
"Iya, aku mikirin tugas dari miss Xena tadi. Sedangkan Daddy aku sibuk kerja terus," lirih Ravin sendu. Ning-ning ikut sedih mendengarnya.
"Kamu yang sabal ya Lavin. Ning-ning yakin Daddy kamu akan pulang," ucap Ning-ning sambil mengelus punggung Ravin. Ravin hanya mengangguk lesu.
"Ravindra!" Suara bariton memanggil Ravin. Ravin yang seperti familiar dengan suara itu langsung menatap ke orang yang memanggilnya.
"Daddy!" teriak Ravin sambil berlari ke arah Jean. Jean pun berjalan cepat menghampiri Ravin dan menggendongnya. Ravin memeluk leher Jean dan langsung menangis histeris.
"Daddy kemana aja, hiks? Kenapa Daddy ndak pulang, Ravin dan adek Ken rindu sama Daddy," ucap Ravin sesenggukan. Jean meneteskan air mata seraya merutuki Ratu dalam hatinya, karena telah memisahkan dia dengan putra-putranya.
"Maafin Daddy ya, nak," balas Jean lirih sambil mengelus rambut Ravin. Ravin menatap Daddy-nya.
"Kata Mommy, Daddy sibuk kerja terus makanya ndak pulang-pulang," ujar Ravin.
"Iya maafkan, Daddy. Tapi mulai sekarang Daddy janji akan selalu ada buat Ravin dan Kendrick," balas Jean seraya menghapus air mata putranya.
"Janji ya, Dad?" Ravin mengacungkan jari kelingkingnya. Jean tersenyum dan mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Ravindra.
"Iya Daddy janji, nak." Jean mencium kedua pipi Ravindra.
"Halo paman," sapa Ning-ning. Lalu Jean menurunkan Ravindra.
"Hai anak cantik, nama kamu siapa?" tanya Jean berjongkok di depan Ning-ning.
"Aku Ning-ning, teman sekolah Lavin." Jean tersenyum mendengar ucapan Ning-ning.
"Oh ya, paman ini Daddy-nya Lavin ya?" tanya Ning-ning.
"Iya paman ini Daddy dari Ravin," jawab Jean tersenyum.
"Yey akhilnya Daddy Lavin pulang," ucap girang Ning-ning.
"Iya Ning-ning Daddy aku udah ndak sibuk kerja lagi," balas Ravin tak kalah antusiasnya. Jean hanya tersenyum melihat dua bocah di hadapannya ini.
__ADS_1
...----------------...