Tragedi Satu Malam Dengan Sahabat

Tragedi Satu Malam Dengan Sahabat
Episode 51


__ADS_3

Jean dan Ratu masih berpelukan. Tiba-tiba Jean tersadar kalau istrinya sekarang masih memakai bajunya yang basah akibat perbuatannya tadi. la melepaskan pelukannya sambil melihat baju istrinya yang basah di tambah baju Ratu yang robek gara-gara perbuatannya tadi.


“Sayang ... Aku minta maaf. Aku sudah menyakitimu tadi. Aku benar-benar emosi sampai aku tidak bisa mengendalikan diriku,” ucap Jean dengan wajahnya yang terlihat sangat bersalah.


Ratu tersenyum sambil memegang kedua pipi suaminya dan mengusap pipi Jean yang masih basah karena air matanya tadi. “Tidak apa-apa. Aku mengerti kalau kamu seperti itu. Seharusnya aku yang minta maaf. Aku punya banyak salah. Aku meragukan dirimu, aku minta maaf ya?”


"Mulai sekarang. Aku tidak ingin mendengar kamu mengucapkan kata maaf lagi. Asalkan kamu bersamaku terus, aku akan melupakan semua kenangan buruk yang sudah terjadi. Aku hanya akan mengingat kenangan indah kita. Kita mulai lagi dari awal,” ucap Jean sambil tersenyum.


Ratu hanya mengangguk sambil tersenyum didepan suaminya.


"Cepat ganti bajumu. Nanti kamu masuk angin," suruh Jean sambil mengelus kepala Ratu.


“Aku ganti pakai apa? Aku tidak punya baju ganti disini.”


“Kamu pakai bajuku dulu. Nanti aku suruh orang-orang ku membawakan barang-barang mu disini. Mulai sekarang kamu dan anak-anak akan tinggal disini bersama kita,” ujar Jean.


“Disini?”


Jean mengangguk mantap, "Tentu saja. Ini adalah hal yang aku impikan dari 4 tahun yang lalu, tinggal dan hidup bersamamu serta anak-anak kita seperti sedia kala."


“Jean, apa sebaiknya kita ke mansion kakek dulu. Anak-anak kita ada disana, pasti mereka sedang mencari keberadaan ku,” usul Ratu.


“Tidak boleh. Kamu harus tetap disini, tidak boleh keluar kemana-mana. Masalah anak-anak, aku akan menyuruh Rico menjemputnya besok pagi. Sekarang sudah malam mereka berdua pun sudah tidur saat tadi aku mengantarnya ke mansion kakek,” kata Jean menjelaskan.


“Tapi--"


Jean langsung berdiri, "Aku bilang tidak boleh yah tidak boleh,” ucapnya dengan wajah yang cemberut.


“Oke, oke. Aku tidak akah keluar,” balas Ratu pasrah sambil berdiri di depan Jean. “Jangan marah lagi, barusan kita sudah baikan. Kenapa kamu marah lagi?” Ratu tersenyum manis di depan suaminya.


“Ekhem!” Jean berdehem sambil memalingkan wajah cemberutnya. “Aku tidak marah, hanya memberitahumu kalau kamu tidak boleh keluar dari sini tanpa izinku,” ucapnya sambil kembali memalingkan wajahnya didepan istrinya.


“lya, aku tidak akan keluar sayang.”


“Huh ..."


“Kenapa kamu tidak percaya denganku?” tanya Ratu sambil melihat suaminya yang masih ragu dengannya.


"Kalau begitu kamu ikat saja tanganku kalau kamu tidak percaya,” ucap Ratu sambil menyodorkan kedua tangannya didepan Jean dengan wajah kasihan yang sengaja ditunjukkan dihadapan Jean.


“Sayang, kenapa kamu sampai begini. Mana tega aku melakukannya padamu,” ujar Jean.


“Tidak apa-apa. Selama kamu bisa tenang, aku bersedia kamu melakukan apapun padaku.”


“Apa benar kamu bisa melakukan apa saja untukku?” tanya Jean sambil tersenyum senang. Ratu hanya mengangguk sambil tersenyum didepan suaminya. Jean langsung mencium kening istrinya dengan lembut sambil memeluknya dengan erat.


“Terima kasih sayang karena sudah mencintai pria sepertiku,” ucapnya sambil melihat wajah Ratu yang masih dalam keadaan berpelukan.


“Iya, aku juga berterima kasih karena kamu sudah menungguku selama empat tahun ini,” balas Ratu seraya mengelus punggung Jean.


“Selama apapun, aku akan menunggu sampai kapanpun, bahkan sampai aku mati,” ucap Jean.


“Ya tuhan, Jean. Siapa yang mengajarimu gombal begini sih?”


Jean melepaskan pelukannya dan memasang wajahnya yang kesal didepan istrinya. “Apa kamu pikir kata—kataku tadi sekedar gombalan semata? Cih, dasar wanita tidak romantis!”

__ADS_1


“Aduh sayangku marah ya, aku tadi hanya bercanda,” ucap Ratu sambil memegang kedua pipi suaminya dan menggoyang-goyangkannya dengan wajahnya yang tersenyum senang.


“Ingat ya, kamu tidak boleh keluar dari sini. Kalau kamu ingin sesuatu beritahukan saja padaku,” peringat Jean.


“lya sayang.”


Jean memang tidak mengijinkan istrinya keluar dari rumah karena masih trauma jika Ratu akan kabur lagi darinya. Hanya masalah waktu untuk bisa membuat dirinya bisa mempercayai Ratu kalau Ratu benar—benar tidak akan pergi dari hidupnya lagi.


Apalagi ia belum melihat pembuktian dari Ratu kalau dia tidak akan pergi lagi apapun yang terjadi. Untuk membuatnya bebas lagi dari tekanan Jean maka ia harus membuktikan kepada Jean kalau ia benar-benar tidak akan meninggalkannya lagi.


Jean mencium kening istrinya setelah mengatakan itu pada istrinya. la kemudian menyuruh Ratu mandi air hangat dan mengganti bajunya yang basah.


“Kamu mandi sana. Aku akan menghubungi Rico untuk membawa Rivan dan Kendrick besok pagi kesini.”


“Baiklah.” Ratu masuk ke dalam kamar mandi sedangkan Jean mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Rico untuk membawa anaknya ke rumahnya yang sekarang.


Setelah menghubungi Rico, Jean keluar kamarnya dan menyuruh seorang pelayan membersihkan kamarnya. Sementara pelayan tengah sibuk membersihkan kamarnya. la hanya duduk di ranjang sambil memegangi perutnya yang tiba—tiba sakit.


“Anda tidak apa-apa, Tuan?” tanya salah satu pelayannya yang sadar melihat Jean yang memegang perutnya.


“Saya baik—baik saja. Lanjutkan saja pekerjaanmu.”


“Baik.”


Jean lalu bersandar di tempat tidurnya untuk mengurangi rasa sakit diperutnya itu. Selama beberapa menit, para pelayannya itu selesai membersihkan kamarnya.


“Kami sudah selesai, Tuan. Kamarnya sudah bersih.”


“Hem, keluarlah,” suruh Jean.


“Jean, kamu kenapa?” tanya Ratu yang terlihat khawatir dengan Jean.


Jean langsung membuka matanya dan duduk tegak didepan istrinya sambil tersenyum. “Aku tidak apa-apa, sayang. Kamu sudah selesai mandi?” tanya Jean dengan wajahnya yang sudah terlihat pucat.


“Iya, terus siapa yang membersihkan ini semua.” Ratu melihat sekeliling kamarnya yang sudah bersih.


“Tadi aku suruh pelayan yang membersihkannya, sayang. Oh ya, kamu pakai bajuku dulu yang ada di ruang ganti,” suruh Jean sambil menunjuk ruang gantinya.


“Kamu pilih saja yang ingin kamu pakai,” tambahnya.


“Baiklah.”


Ratu berjalan masuk ke dalam ruang ganti Jean mencari baju suaminya yang akan ia pakai sedangkan Jean masih duduk ditepi tempat tidurnya. Perutnya masih terasa sakit bahkan semakin sakit tapi ia berusaha menahan rasa sakit diperutnya itu saat ia melihat Ratu didepannya tadi.


Beberapa saat kemudian, Ratu keluar dari ruang gantinya dengan baju kemeja putih suaminya yang menempel ditubuhnya. “Sayang, aku pakai ini tidak apa—apa kan?” tanya Ratu sambil berputar—putar didepan Jean.


Jean tersenyum dan mengangguk, “Kemari lah.”


Ratu datang menghampiri suaminya yang tengah duduk ditepi tempat tidurnya. Ketika Ratu sudah ada didepan Jean. Jean langsung menarik tangannya dan melipat lengan baju Ratu yang kepanjangan.


“Bajunya terlalu besar ya?"


“Tidak masalah, sayang. Aku suka dengan bajunya.”


Jean hanya tersenyum sambil melipat lengan bajunya secara bergantian sedangkan Ratu terus memandangi wajah Jean yang tengah sibuk didepannya.

__ADS_1


“Sudah,” ucap Jean yang sudah selesai melipat lengan baju istrinya.


"Ayo duduk sini,” pinta Jean sambil menepuk pahanya. Ratu langsung duduk di pangkuan suaminya. Saat Ratu sudah berada di pangkuan Jean, pria itu langsung melingkarkan kedua tangannya diperut Ratu sambil meletakkan kepalanya di dada istrinya. Tiba—tiba Ratu tersadar dengan wajah pucat suaminya.


“Jean ...”


“Eem?”


"Are you okay?”


Jean langsung melihat istrinya sambil tersenyum, "Aku baik—baik saja, sayang."


“Tapi kenapa wajahmu pucat begitu?” tanya Ratu sambil mengerutkan keningnya.


“Aku baik—baik saja sayang.” jawab Jean sambil tersenyum untuk meyakinkan Ratu. "Kamu lapar tidak?”


“Sedikit,” jawab Ratu.


“Ya sudah, aku suruh pelayan masak dulu ya.”


“Iya." Ratu lalu berdiri dari pangkuan suaminya disusul Jean yang berdiri dari tempat duduknya. Jean berjalan menuju pintu kamarnya. Ketika ia membuka pintu kamarnya, tiba-tiba Jean jatuh pingsan.


Ratu sangat syok melihat suaminya jatuh dilantai. "Jean!” teriaknya sambil berlari ke arah Jean dengan wajahnya yang panik.


Ratu berjongkok didepan Jean sambil melihat keadaan suaminya itu. “Sayang, kamu kenapa?” teriaknya sambil memegang kepala Jean.


“Sayang, bangun!” teriak Ratu dengan wajah paniknya.


Ratu kemudian berlari mencari ponselnya tapi tidak menemukannya. Ia kemudian berjalan didepan pintu dengan wajahnya yang sangat panik.


"Tolong! Ada orang ... tolong!” teriak Ratu sekencangnya. Seketika semua pelayan mendengar teriakan Ratu didepan kamarnya. Mereka berlari menghampirinya. Ketika sampai, mereka sudah melihat Jean terbaring dilantai.


“Cepat bantu saya bawa suami saya ke rumah sakit!” perintah Ratu yang terlihat menangis melihat Jean pingsan.


“Nyonya kami hubungi dokter pribadi tuan Jean saja karena tuan tidak suka di bawa ke rumah sakit,” ucap salah satu pelayan.


“Baiklah, cepat kalian panggilkan sekarang!"


Pelayan itu pun pergi Menghubungi Dokter Chao sedangkan yang lainnya membantu Ratu mengangkat tubuh Jean ke atas ranjang.


“Sayang, hiks, hiks. Kamu kenapa bisa pingsan begini?" isak Ratu sambil memegang tangan suaminya dengan suara tangisannya yang pecah.


“Nyonya tenanglah. Tuan Jean pasti baik-baik saja,” balas salah satu pelayan wanita yang umurnya sudah terlihat cukup tua. Ratu kemudian berdiri dengan wajahnya yang terlihat sangat panik.


“Kenapa Dokternya belum datang juga?”


“Sabar Nyonya. Sebentar lagi Dokter Chao akan datang.”


“Bantu aku membawanya ke rumah sakit. Aku tidak bisa diam saja begini.”


“Nyonya, kalau tuan Jean tahu dia dibawa ke rumah sakit. Dia pasti akan marah besar."


"Kamu tidak lihat kalau dia tidak sadarkan diri begitu?!" bentak Ratu.


Tiba-tiba dokter Chao datang bersama dengan kedua perawat. Mereka langsung masuk ke dalam kamar Jean ketika seorang pelayan menuntunnya ke kamar Jean.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2