Tragedi Satu Malam Dengan Sahabat

Tragedi Satu Malam Dengan Sahabat
Episode 26


__ADS_3

Medina membasuh wajahnya di air keran wastafel toilet. Namun kepalanya bertambah pusing, Medina keluar dari toilet dengan berpegangan pada tembok.


"Medina." Sebuah tangan mencekal tangan Medina. Medina memandang orang yang memegang tangannya itu dengan tatapan mata yang sayu.


"Alex."


Yah, Alex lah yang mengikuti Medina ke toilet dan dialah orang yang mencampurkan alkohol ke dalam jus jeruk milik Medina. Entah apa yang dipikirkan oleh laki-laki itu sehingga menaruh alkohol di dalam minuman Medina, mungkinkah ada niat terselubung yang akan dilakukan Alex pada Medina?


"Aku antar kamu pulang ya?" tawar Alex.


"Tidak perlu Lex, aku bisa mengajak Bella untuk pulang," tolak Medina sambil menghempaskan tangan Alex. Ia kembali jalan dengan sempoyongan, dengan cepat Alex kembali menarik tangan Medina dan mendorong tubuh Medina hingga membentur tembok.


"Kamu apa-apaan sih dorong aku, Lex!" Sentak Medina dengan suara yang sudah mulai melemah, ia mencoba mendorong tubuh Alex namun nihil laki-laki telah mengungkung tubuhnya. Membuat Medina tidak bisa memberontak apalagi keadaan tubuhnya yang lemah tidak memungkinkan dirinya untuk melawan.


"Aku suka sama kamu Din, kenapa kamu selalu menolak aku?" tanya Alex sendu.


"Karena aku tidak suka sama kamu!" teriak Medina dengan sekuat tenaga. Alex yang geram mendengar ucapan Medina tadi langsung mencium Medina dengan rakus dan ganas.


"Eeummppttt." Mata Medina melotot dan memukul dada Alex.


BUGH!


Tiba-tiba seseorang datang menarik baju dan memukul rahang Alex, sehingga tubuh Alex jatuh tersungkur ke lantai. Sedangkan tubuh Medina pun merosot ke lantai karena sudah tak bisa menyeimbangkan tubuhnya lagi.


"Brengsek!" ujar laki-laki itu emosi. Alex berdiri dan menatap tajam ke arah laki-laki yang memukulnya tadi.


"Apa maksud anda memukul saya hah?" tanya Alex marah.


"Kamu jangan berani macam-macam dengan gadis itu!" ujar Putra.

__ADS_1


Putra lah yang memukul Alex. Ia memang berada di Club tersebut sebelum Medina dan kedua sahabatnya datang. Putra sudah mengetahui keberadaan Medina disana, ia tak menyapa atau menghampiri adik sahabatnya itu dan hanya membiarkannya. Namun mata laki-laki itu terus mengawasi gerak-gerik Medina.


Saat Medina beranjak dari tempat teman-temannya dan akan pergi ke toilet, Putra melihat Medina diikuti oleh seorang laki-laki dari belakang, itu yang membuat Putra cepat-cepat mengikuti Medina juga. Ia takut jika laki-laki yang mengikuti adik dari sahabatnya itu akan melakukan hal tidak senonoh nantinya.


"Memang Anda siapanya Medina? Jangan ikut campur deh!" Alex menatap nyalang ke arah Putra. Putra malam itu memang masih mengenakan pakaian kerjanya, sehingga Alex berbicara formal dengannya.


"Saya memang bukan siapa-siapanya dia! Tapi saya tidak suka jika perempuan dilecehkan seperti itu oleh laki-laki brengsek seperti kamu!" hardik Putra.


"Lebih baik sekarang kamu pergi dari sini atau saya akan laporkan kamu ke polisi atas tindakan pelecehan!" Ancam Putra. Alex menatap Putra dengan tatapan kebencian, lalu ia langsung pun pergi.


Setelah Alex pergi, Putra menatap Medina.


"Ck, merepotkan saja!" Decak Putra, tak lama kemudian ia menggendong Medina ala bridal style menuju pintu keluar Club.


"Yey Medina terbang," racau Medina di setengah kesadarannya. Gadis itu kesenangan saat ia merasakan tubuhnya seperti mengembang di udara.


"Medina diam!" ucap Putra. Medina menatap orang yang menggendongnya itu.


"Ini kak Putra kan?" tanya Medina sambil mengelus rahang Putra.


"Hem." Putra menjawabnya dengan singkat. Sesampainya di depan mobil, Putra membuka pintu untuk penumpang, lalu mendudukkan Medina disana. Setelah itu Putra pun juga ikut masuk ke dalam mobilnya, untung saja dia tidak terlalu minum banyak, jadi dia bisa mengendarai mobilnya dengan kondisi sadar.


"Hiks." Tiba-tiba saja Medina terisak. Membuat Putra sedikit terkejut.


"Hei, kamu kenapa Din?" tanya Putra bingung.


"Aku suka sama kak Putra, tapi kak Putra tidak pernah suka sama aku hiks," racau Medina membuat Putra terkejut sampai mengerem mobilnya dengan mendadak.


"Maksud kamu apa Medina?" tanya Putra menatap Medina. Kata orang, biasanya orang mabuk itu jika bicara itu suka jujur. Apakah benar?

__ADS_1


"Aku suka sama kak Putra dari aku masih kelas 3 SMP, tapi mungkin karena aku masih kecil karena itu aku tidak berani ungkapin perasaan aku ke kak Putra. Tapi saat aku tahu kalau kak Putra playboy sering gonta-ganti pacar, dan kakak suka bawa pacar kakak ke mansion Daddy, entah kenapa hatiku selalu sakit melihatnya," isak Medina sambil memegang dadanya. Putra hanya diam membiarkan Medina mengeluarkan semua unek-uneknya.


"Dari situlah aku mulai melupakan rasa suka aku sama kak Putra, tapi sangat susah sampai sekarang pun aku masih suka dan cin--" Medina menghentikan ucapan dan tiba-tiba saja dia tertidur.


Putra menghela napas. "Apa benar yang dikatakannya tadi?" gumamnya sambil menatap Medina. Tak munafik, adik dari sahabatnya itu memanglah sangat cantik dengan wajah blasteran nya, kulit putih bersih, hidung mancung dan bulu matanya yang lentik.


Setelah mengatakan itu Putra kembali melajukan mobilnya.


Putra membawa Medina ke mansion orang tua gadis itu. Mommy Zia sangat terkejut melihat Putra yang tengah menggendong putrinya.


"Medina kenapa nak, Putra? Setahu Tante tadi Medina sama teman-temannya, kok sekarang dia bisa sama kamu?" tanya mommy Zia heran. Putra sangat gugup saat ini, ia takut menjawab dengan salah.


"Tadi aku ketemu Medina di Mall Tante, terus aku ajak dia pulang samaan. Eh Medina malah ketiduran, aku mau bangunin tapi kasian. Makanya aku gendong saja ke dalam," jelas Putra berbohong.


"Oh gitu, kirain Medina kenapa," ujar mommy Zia lega.


"Oh ya, kamar Medina di sebelah mana ya Tan?" tanya Putra.


"Kamar Medina di lantai dua di kamar yang ketiga," jawab mommy Zia.


"Baik Tan, Putra mau bawa Medina ke kamarnya dulu."


"Iya nak Putra, makasih sudah mau repot-repot gendong anak Tante sampai dibawa ke kamar," ujar mommy Zia sungkan.


"Tidak ngerepotin kok, Tan," balas Putra tersenyum tipis. Dia berjalan membawa Medina ke kamarnya yang berada di lantai dua. Setelah sampai, Putra membaringkan tubuh Medina di ranjang.


Putra memandangi wajah Medina. "Apa ini waktunya aku untuk move on dari Raisa dan mulai serius dengan gadis kecil ini?" gumamnya. Raisa adalah mantan kekasih Putra dan dialah yang telah membuat Putra menjadi lelaki yang suka gonta-ganti pasangan dan brengsek. Putra memajukan wajahnya dan mencium puncak kepala Medina.


"Good night little bunny." Setelah itu Putra keluar dari kamar Medina.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2