
"Ya ampun kenapa mobilku berhenti sih?" kesal Medina karena tiba-tiba saja mobil kesayangannya berhenti mendadak, padahal ia harus buru-buru ke sekolah karena ada ujian hari ini. Medina mencoba starter mobilnya, namun nihil mobil tersebut tetap saja tidak menyala.
"Ya Allah, pagi-pagi aku udah dapat ujian saja. Mana ujiannya dapat double kill lagi, disini sama di sekolah nanti," keluh Medina. Ia keluar dari mobilnya, siapa tau nanti ada orang yang baik hati membantunya.
Banyak kendaraan yang berlalu lalang melewatinya, namun tak ada satu yang berhenti untuk menolongnya.
"Mau pesan taksi online, pasti nanti bakalan lama datangnya. Mau telpon Daddy sama kak Jean pasti juga udah di kantor, terus aku harus bagaimana?" Monolog Medina yang saat ini sedang resah.
Sebuah mobilĀ Ferrari GTC4Lusso T berwarna abu-abu datang menghampiri dan berhenti tepat di depan mobil Medina. Kemudian seorang pria keluar dari mobil tersebut.
"Mobil anda kenapa, Mbak?" tanya pria itu pada Medina. Betapa terkejutnya Medina ketika menatap Pria itu.
"Kak Putra!" pekik Medina. Yah, pria itu adalah Putra, sahabat Jean.
"Loh Medina!" pekik Putra yang juga tak kalah terkejutnya. Namun dengan cepat ia merubah ekspresi terkejutnya.
"Mobil kamu kenapa, Din?" tanya Putra.
"M-mobil aku mogok kak," jawab Medina sedikit gugup. Entah kenapa ketika menatap mata Putra, Medina langsung merasa gugup dan salah tingkah sedari dulu.
"Boleh kakak periksa?"
"Boleh, silahkan saja kak."
Putra pun membuka kap depan mobil Medina dan memeriksa mesin mobilnya.
"Yang kakak liat mesin mobil kamu baik-baik saja, tapi sepertinya konverter katalitik mobil kamu yang rusak, makanya mobil kamu tiba-tiba mogok kayak gini," jelas Putra setelah menutup kembali menutup kap mobil Medina.
"Yah terus gimana dong? Padahal hari ini aku ada ujian, kalau pun pesan taksi online pasti bakalan lama datangnya," ujar Medina lesu.
"Gimana kalau kakak antar kamu sekolah?" tawar Putra.
"Memangnya tidak ngerepotin kak Putra?" ujar Medina sungkan, tapi di dalam hatinya sangat bahagia karena bisa diantar oleh Putra.
"Tidak kok, kan kakak yang nawarin kamu," balas Putra tersenyum hingga lesung pipi pria itu tercetak jelas. Medina yang melihat senyuman Putra langsung salah tingkah dan hatinya meleleh dibuatnya.
"Tapi mobil aku bagaimana kak?"
"Kamu tenang saja, nanti kakak suruh bodyguard kakak untuk bawa mobil kamu ke bengkel," ujar Putra. Medina pun mengangguk menyetujui ajakan Putra.
Putra membukakan pintu mobilnya untuk Medina. "Ayo masuk," titahnya.
"Iya kak terima kasih," ujar Medina tersenyum dan dibalas dengan senyuman juga oleh Putra. Putra berlari menuju ke pintu pengemudi.
Hanya keheningan yang tercipta di dalam mobil tersebut setelah Putra melajukan mobilnya. Medina yang ingin membuka pembicaraan namun ia urungkan, sebab dirinya malu.
Sejak dulu Medina memang kurang akrab dengan Putra namun berbeda dengan Abimana, ia sudah seperti kucing dan tikus yang selalu ribut. Yah bisa dikatakan Medina dan Abimana itu sefrekuensi. Karena sifat Putra yang sedikit cuek membuat Medina sungkan dengan pria itu.
"Kamu apa kabar, Din?" tanya Putra membuka pembicaraan, ia menatap Medina sekilas lalu kembali fokus ke depan.
"Aku baik kak. Kalau kakak apa kabar? Kok tidak pernah main ke mansion Daddy lagi?" tanya Medina basa-basi.
"Iya Din, beberapa bulan belakangan ini kakak pergi ke Jepang untuk bantu perusahaan kakek disana dan balik lagi ke Indonesia 2 minggu yang lalu," jelas Putra. Medina manggut-manggut mengerti.
"Pantas saja tidak pernah kelihatan," gumam Medina.
"Kamu tadi bilang apa, Din?"
"Ah tidak ada kok kak," jawab Yuna cengengesan. Putra hanya geleng-geleng kepala dan tersenyum.
__ADS_1
...****************...
2 tahun kemudian..
Karena kemarin adalah hari ulang tahun Ravindra yang ke dua tahun, Jean mengajak keluarga kecilnya berlibur ke puncak, Bogor. Disana mereka akan menginap di villa milik daddy Marvin. Semalam Jean bersama Ratu telah mempersiapkan semua kebutuhan dan menaruhnya di dalam koper.
"Sudah siap semuanya sayang?" tanya Jean pada Ratu sambil menggendong Ravin.
"Sudah Dad," jawab Ratu.
"Ayo kita berangkat," seru Jean.
"Mau liat harimau sama singa Dad," pinta Ravin antusias.
"Iya nak, nanti kita sekalian pergi ke taman safari Indonesia liat harimau dan singa, oke?"
"Oke Daddy," balas Ravin manggut-manggut dengan semangatnya. Jean dan Ratu terkekeh melihat putranya yang begitu semangat jika sudah diajak ke kebun binatang.
Ratu ingin membawa koper, tapi langsung dicegah oleh Jean.
"Biar Daddy saja yang bawa koper, Mommy yang gendong Ravin," ujar Jean, Ratu pun mengikuti ucapan suaminya dan beralih menggendong Ravin.
Mereka bertiga keluar dari kamar, sesampainya di ruang keluarga disana mommy Zia terlihat membawa dua paper bag berukuran besar-besar.
"Mom kita berangkat dulu ya?" pamit Jean.
"Bentar ini kalian bawa," ujar mommy Zia memberikan paper bag tersebut pada putranya.
"Ini apaan, Mom?" tanya Jean bingung.
"Ini beberapa makanan untuk kalian selama liburan di puncak nanti," jawab mommy Zia. Jean dan Ratu sampai melongo mendengar ucapan mommy Zia.
Beberapa makanan kata mommy Zia? Ini sih untuk makanan untuk satu minggu malah lebih pikir Jean dan Ratu dalam hatinya.
"Bawa saja nak, Mommy tidak mau nanti kalian salah makan disana. Kita kan tidak tau bahan masakannya itu masih fresh atau tidak, apalagi badan Ravin belum fit 100% kayak gitu," ucap mommy Zia. Ravin memang sempat drop dua hari sebelum ulang tahunnya dan untungnya demam Ravindra cepat turun.
Jean dan Ratu menghela napas, mommy Zia yang memang selalu higenis dan pilah-pilih dalam bahan masakan. Jean menatap istrinya kemudian mengangguk berarti harus mengikuti kemauan mommy Zia.
"Ya sudah Mom ini kita bawa, makasih ya jadi ngerepotin deh," ujar Ratu tersenyum.
"Tidak ngerepotin Mommy kok, nak. Kamu ini kayak sama siapa saja," balas mommy Zia.
"Kalau gitu kami berangkat dulu ya, Mom?"
"Iya nak, kalian hati-hati di jalan. Tetap jaga dan awasi Ravin," titah mommy Zia.
"Siap Mom," jawab Jean.
Diperjalanan bocah tampan itu sangat riang sampai bernyanyi, saking bahagianya ia di ajak jalan-jalan oleh kedua orang tuanya.
"Bahagia banget sih nak," ujar Ratu sambil mencium puncak kepala Ravin yang berada di pangkuannya. Jean menatap sekilas ke samping dan tersenyum melihat raut wajah bahagia putranya.
"Besok kapan-kapan kita ke Disneyland yuk Mom," ajak Jean yang kembali fokus ke jalanan.
"Boleh Dad, mau ke Disneyland mana?"
"Terserah kamu sayang, mau ke Disneyland di California, Hongkong, Tokyo, Shanghai atau Paris biar sekalian aku pulang kampung ke Inggris. Pasti nenek dan kakek disana juga kangen pengen ketemu sama cicitnya," ujar Jean. Memang sudah lama ia tidak pergi menjenguk nenek dan kakeknya yang berada di Inggris mungkin sudah 4 tahun lebih. Jean berkomunikasi dengan nenek dan kakeknya disana hanya melalui via telpon dan video call.
"Ke Paris juga boleh Pa, aku juga kangen banget sama nenek Grace dan kakek Louise," balas Ratu. Nenek Grace dan kakek Louise adalah orang tua dari daddy Marvin sekaligus kakek dan nenek dari Jean serta Medina.
__ADS_1
"Oke sayang, nanti tinggal atur waktu yang tepat saja."
Ratu hanya mengangguk.
Setelah berkeliling ke Taman Safari Indonesia dan Taman Bunga Nusantara, pada pukul 9 malam mereka bertiga sampai ke villa milik daddy Marvin yang berada di puncak.
"Uh capeknya," ujar Jean sambil merenggangkan otot-ototnya yang kaku.
"Iya Dad, tapi seru banget," balas Ratu. Sedangkan Ravin, bocah itu tengah tertidur di pangkuan sang Mommy, mungkin karena lelah seharian jalan-jalan. Jean keluar dari mobil dan segera membukakan pintu untuk istrinya.
"Sini biar aku yang gendong Ravin sayang," ujar Jean mengambil alih Ravin dari Ratu.
"Terus siapa nanti yang bawa koper dan barang-barang kita yang lain?" tanya Ratu.
"Tenang saja sayang, nanti itu ada mereka." Jean menunjuk ketiga orang yang tengah menunggunya di depan pintu utama Villa. Ratu hanya mengangguk mengiyakan ucapan suaminya.
"Selamat malam Tuan dan Nyonya," sapa paman Saopi, bibi Pina dan Gilang serempak. Merek bertiga adalah penjaga Villa suruhan dari daddy Marvin.
"Malam," balas Jean dan Ratu tersenyum.
"Silahkan masuk," suruh bibi Pina dengan sopan.
"Iya Bi. Oh ya paman Saopi dan Gilang, saya minta tolong koper dan barang-barang di belakang mobil tolong dimasukkan ke dalam kamar kami ya?" titah Jean.
"Baik Tuan." Ratu dan Jean masuk ke dalam Villa dengan Ravin yang berada di gendongan papanya.
"Kamar untuk kami sudah di siapkan, Bi?" tanya Jean.
"Sudah Tuan. Tuan dan Nyonya mau dibuatkan minuman apa, biar bibi Pina buatkan?" tawar bibi Pina.
"Tidak usah Bi, terima kasih. Kami istirahat saja, soalnya badan kami sudah lelah sekali. Lebih baik bibi istirahat saja, pasti Bibi juga lelah kan?" balas Ratu dengan ramah.
"Baik Nyonya, Bibi ke rumah belakang dulu, kalau Nyonya dan Tuan butuh apa-apa tinggal telpon saja," ujar bibi Pina tersenyum. Ia bersama suami dan anaknya memang tinggal di rumah yang berada di belakang Villa.
"Baik Bi." Bibi Pina pun pergi dari hadapan majikannya.
"Ayo kita ke kamar sayang," ajak Jean. Ratu hanya mengangguk, lalu mereka pergi ke kamar yang sudah disiapkan oleh bibi Pina dan paman Saopi.
Sesampainya di kamar, Jean langsung merebahkan tubuh Ravin di atas ranjang.
"Sayang kamu mandi dulu gih. Aku mau keluar sebentar ada sesuatu yang harus aku bicarakan dengan paman Saopi," titah Jean pada Ratu.
"Iya sayang."
Ratu melangkahkan kakinya menuju ke koper, ia membuka dan mengambil dress tidurnya. Setelah itu Ratu pergi ke kamar mandi. Sedangkan Jean keluar dari kamar menemui paman Saopi.
Setelah selesai mandi, Ratu keluar dari kamar mandi dengan mengenakan dress tidur pendek di atas lutut yang ia ambil tadi. Terlihat di atas ranjang putranya masih tertidur sangat pulas dan Jean belum juga masuk ke kamar. Jadi, Ratu memutuskan pergi ke balkon kamar. Angin malam langsung menusuk sampai ke tulang Ratu.
"Wah dingin banget suasananya." Ratu menatap pemandangan malam hari dari balkon tersebut sangat damai dan sunyi tidak seperti di ibu kota.
Sebuah lengan kokoh tiba-tiba mendekap Ratu dari belakang, tak lain dia adalah Jean.
"Hei, kok disini sayang? Dingin loh," ujar Jean sambil mengecup leher Ratu yang beraroma parfum mawar.
"Aku disini cari angin sebentar, Dad." Ratu menyenderkan di dada bidang Jean.
"Nanti kamu bisa masuk angin loh sayang, apalagi kamu pakai dress tidur tipis seperti ini," ujar Jean.
"Iya aku tau, kamu mandi gih sana," titah Ratu membalikkan badannya menatap Jean.
__ADS_1
"Iya sayang, ya sudah aku mau mandi dulu," ujar Jean sambil mencuri ciuman di bibir Ratu, lalu berlari menuju ke kamar mandi. Ratu hanya terkekeh dan geleng-geleng dibuatnya.
...----------------...