
Jean, Ratu dan Ravindra tengah duduk bersantai di ruang keluarga, karena hari ini weekend waktu bersama keluarga. Tiba-tiba suara bel rumah terdengar sangat nyaring berbunyi.
"Siapa sih bertamu pagi-pagi begini?" tanya Jean.
"Mungkin Mommy dan Daddy atau tidak Medina. Coba Daddy bukakan pintu," ucap Ratu.
Jean mengangguk, "Aku buka pintu dulu ya, Mom?"
"Iya, Dad."
Jean berjalan menuju ke arah pintu utama untuk membukakan pintu. Baru saja membuka pintu, suara pekikan gadis terdengar jelas di telinga Jean. Gadis itu datang bersama dengan mommy Zia dan daddy Marvin.
"Kak Jean!" Pekik seorang gadis yang usianya 1 tahun di atas Medina, lalu memeluk Jean. Dengan cepat Jean melepaskan pelukan gadis tersebut karena tak ingin istrinya salah paham nantinya.
"Sofia."
Nama gadis itu Sofia Wijaya, anak dari sahabat daddy Marvin. Diam-diam gadis itu menyukai Jean sejak dulu bahkan Sofia berharap ia kelak bisa menikah dengan Jean.
"Ada yang ingin Daddy dan Mommy sampaikan," ujar Daddy Marvin.
"Ah iya, silahkan masuk dulu Mom, Dad." Jean mempersilahkan orang tuanya untuk masuk.
"Istri dan anak kamu mana, Jean?" tanya mommy Zia.
"Hai Mom, Dad," sapa Ratu yang datang ke ruang tamu. Sofia menatap Ratu dari atas sampai bawah.
"Cih biasa saja, cantikan juga aku kemana-mana," batin Sofia sombong.
"Halo sayang," balas mommy Zia.
"Sini Oma gendong?" Mommy Zia merentangkan kedua tangannya pada Ravindra.
"Oma." Ravindra pun dengan senang hati digendong oleh omanya.
"Dia siapa, Mom?" tanya Ratu menatap Sofia yang sedari tadi menatapnya dengan tatapan orang yang tak suka.
"Oh iya, kenalin ini Sofia anak dari sahabat Daddy," ujar Daddy Marvin memperkenalkan Sofia pada Ratu.
"Hai Sofia aku Ratu," ucap Ratu memperkenalkan dirinya.
"Aku Sofia kak," balas Sofia tersenyum paksa.
"Oh ya kedatangan kami kesini untuk menitipkan Sofia kepada kalian," kata mommy Zia.
"Kok nitip ke kita sih Mom? Kita bukan dinas sosial!" ujar Jean kesal.
"Ih kak Jean kok gitu sih." Sofia memasang wajah sedihnya.
"Jean kamu tidak boleh berkata seperti itu, kami sengaja menitipkan Sofia disini karena Om Wijaya sedang pergi perjalanan bisnis ke Malaysia, mungkin dia disini hanya tinggal 2 bulan saja," ucap daddy Marvin. Wijaya adalah sahabat dari daddy Marvin.
"Ya kan dia bisa tinggal di rumah Daddy!" Entah mengapa hati Jean mengatakan gadis ini akan berbuat onar nantinya disini.
"Sofia tidak mau, Jean. Dan kebetulan juga kampus dia dekat rumah kamu," timpal mommy Zia.
"Aku sih terserah Ratu aja, kalau Ratu izinin dia tinggal disini, aku juga bakal izinin," ujar Jean. Mereka menatap Ratu, seperti meminta jawaban.
"Sofia boleh kok tinggal disini," ucap Ratu. Sofia sangat senang mendengarnya, ia pun sampai memeluk Ratu.
"Wah terima kasih, kak."
"Sama-sama, Sofia."
__ADS_1
"Kamu akan segera aku singkirkan dari rumah ini, karena kak Jean adalah milik aku," batin Sofia tersenyum evil. Dengan berat hati Jean juga menerima jika Sofia tinggal disini.
"Mbok Inah!" teriak mommy Zia. Mbok Inah tergopoh-gopoh menghampiri majikannya.
"Iya Nyonya besar, ada yang bisa saya bantu?" tanya mbok Inah.
"Tolong siapkan satu kamar ya untuk Sofia," titah mommy Zia.
"Baik, Nyonya."
Malam harinya saat jam makan malam tiba.
"Sayang ambilkan aku ayam goreng dong," pinta Jean pada Ratu. Saat Ratu akan mengambil ayam goreng untuk Jean, Sofia lah yang duluan menaruh ayam goreng di atas piring Jean.
"Ini kak."
"Aku suruh Ratu, bukan suruh kamu!" ketus Jean.
"Sayang nggak boleh gitu," tegur Ratu. Rasa lapar Jean langsung hilang seketika karena Sofia. Ia beranjak dari kursi makan, lalu pergi ke kamarnya.
"Maafkan kak Jean ya Fia, mungkin kak Jean lagi banyak pikiran makanya tadi emosi," ucap Ratu lembut.
Sofia tersenyum kecut. "Iya gapapa kak." Tangannya di bawah meja mengepal kuat, ia sangat kesal karena tadi Jean membentaknya.
"Aku akan membuatmu luluh kak Jean," batin Sofia bersungguh-sungguh.
Sore harinya Ratu dan Ravindra tengah berada di taman belakang rumah. Ravindra tengah bermain dengan kelinci-kelinci pemberian dari Medina, Tante jahilnya tapi berhati baik.
"Sore sayang," sapa Jean yang baru saja pulang dari kantor.
"Sore juga Daddy sayang," balas Ratu. Jean duduk di samping Ratu dan mencium puncak kepala istrinya.
"Daddy." Ravindra berjalan sempoyongan menuju papanya. Jean menggendong Ravindra dan menaruhnya di pangkuan, lalu mencium hampir seluruh wajah Ravindra.
"Heum harumnya anak Daddy, Ravindra sudah mandi?" Tanya Jean.
Ravindra mengangguk, "Sudah, Dad."
"Pantas anak Daddy sudah harum."
"Daddy, Ravin mau main sama kelinci." Jean pun menurunkan putranya, lalu Ravindra berjalan kandang kelincinya.
"Hai kak Jean, kak Ratu," sapa Sofia.
"Hai."
"Wah Ravindra lagi ngapain?" tanya Sofia basa-basi.
"Ravin lagi main sama kelinci Tante," jawab Ravindra.
"Boleh Tante ikut?" Ravindra manggut-manggut memperbolehkan Sofia untuk menemaninya bermain. Ravindra dan Sofia tertawa bersama, sedangkan Jean dan Ratu hanya tersenyum melihatnya, hati Jean sedikit luluh pada Sofia karena hal itu.
...****************...
Ratu dan Ravindra keluar dari rumah sakit, mereka kesana untuk menjenguk Vina yang baru saja melahirkan seorang anak perempuan yang sangat cantik. Kini Vina dan Abimana telah menjadi orang tua, setelah 1 tahun lebih menikah. Kemudian Ratu dan Ravindra pergi menuju ke salah satu restoran cepat saji untuk makan disana.
Kemana Jean? Pria itu tidak ikut karena sedang banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan di perusahaan.
"Ravindra, Mommy mau ke toilet sebentar. Ravin diam bentar ya disini? Jangan kemana-mana," titah Ratu.
"Iya Mom," jawab Ravindra manggut-manggut mengerti.
__ADS_1
Baru Ratu akan keluar dari dalam toilet, tiba-tiba ada seorang pria berjalan sambil memegang ponselnya tanpa melihat ke depan dan tidak sengaja menabrak Ratu.
BRUKKK!
Ratu hampir terjatuh, untungnya dengan cepat pria itu menahan pinggang Ratu agar tidak terjatuh. Ratu pun langsung berdiri dan segera melepas rangkulan dari pria itu dari pinggangnya.
"Eh sorry-sorry, kamu tidak apa-apa kan?" tanyanya.
"Iya saya tidak apa-apa kok Mas," ujar Ratu setelah ia membenarkan sedikit pakaiannya dan mendongak menatap pria yang menabraknya tadi.
"Oh my Lord! Dia sangat cantik seperti Dewi," batin pria tampan bermata sipit itu terkesima melihat kecantikan Ratu.
"Mas, Mas. Hey." panggil Ratu sambil melambaikan tangannya pada pria yang sedang bengong itu.
"Ah ya," ujar pria itu tersadar dari lamunannya.
"Mas tidak apa-apa kan?" tanya Ratu balik.
"Yeah, I'm okay. Beneran kamu tidak kenapa-napa? Biar aku bawa kamu periksa ke Dokter kalau ada yang sakit sama tubuh kamu," ujar pria itu.
"Astaga pria ini berlebihan sekali," ringis Ratu dalam hati.
"Iya beneran saya tidak apa-apa kok Mas," balas Ratu tersenyum.
"Oh Dewa! Tolong berikan aku satu perempuan seperti dia," batin pria itu, lagi-lagi ia terkesima dengan senyuman Ratu.
"Ya udah, kalau gitu saya permisi dulu ya Mas," pamit Ratu.
Pria itu hanya mengangguk seperti orang bodoh, karena ia masih terkesima oleh senyuman dan kecantikan yang dimiliki Ratu. Ratu yang melihat ekspresi pria itu hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Dasar pria aneh," batin Ratu.
"Aku berharap bisa bertemu kembali sama perempuan cantik tadi," gumam pria itu tersenyum.
Berbeda dengan Ratu dan Ravindra yang berada, Jean yang baru saja pulang kerja langsung mengernyitkan keningnya saat melihat kamarnya sepi. Biasanya suasana ramai tercipta di kamar ini dengan suara putranya. Ia merogoh sakunya, mengambil ponsel untuk menghubungi istrinya.
"Halo sayang, kamu dimana? Kok tidak ada di rumah."
"Aku dirumah sakit Dad, lagi jengukin Vina dan babynya, sekarang aku sama Ravindra lagi di restoran. Kamu udah pulang?"
"Iya aku sudah di rumah. Kok kamu tidak menunggu aku dulu sih kalau mau ke rumah sakit?"
"Iya maaf, soalnya tadi Daddy kan bilang kalau lagi sibuk di kantor dan pulangnya malam, makanya aku sama Ravindra rumah sakit saja berdua," jelas Ratu. Terdengar Jean menghela napasnya.
"Aku kesana sekarang ya. Ingat kamu itu tidak boleh kecapekan sayang, apalagi ini udah malam."
Memang Ratu dan Ravindra pergi ke rumah sakit tadi sekitar pukul 5 sore dan kini jam sudah menunjukkan pukul setengah 8 malam.
"Tidak usah Dad, ini aku dan Ravindra udah mau pulang kok."
"Bener udah mau pulang?"
"Iya Daddy sayang."
"Ya udah kamu hati-hati ya sayang. Love you."
"Iya love you too, Dad."
Jean mematikan ponselnya dengan senyum kecil. Ia beranjak menuju kamar mandi untuk mengganti pakaian kerjanya.
...----------------...
__ADS_1