Tragedi Satu Malam Dengan Sahabat

Tragedi Satu Malam Dengan Sahabat
Episode 44


__ADS_3

"Bagaimana, kalau sekarang kita pergi lunch?" tawar Jean. Ratu ingin menolak, tapi apa daya ini adalah pekerjaannya. Ia harus profesional dan harus menyampingkan urusan pribadinya.


"Dengan senang hati tuan Jean," sahut Yuzen.


Sesampainya di restoran, Ratu duduk di samping kanan Jean. Sedangkan di samping kiri Ratu ada Liu. Ia semakin canggung dibuatnya, ingin pindah takutnya nanti Jean bisa tersinggung dan bisa menyebabkan pekerjaannya di ambang batas. Mau tak mau Ratu harus duduk bersampingan dengan pria itu.


"Oh ya. Kalian jangan canggung anggap saja kita ini teman, saya yakin kita ini seumuran," usul Jean sambil menatap Ratu. Ratu yang ditatap langsung menunduk.


"Baik Tuan," balas Yuzen tersenyum.


"Permisi Tuan-tuan dan Nona-nona, ini menunya silahkan," ujar seorang waiters pria menyodorkan buku menu.


"Saya pesan wagyu steak, sebotol red wine dan jangan lupa air putihnya," pesan Jean. Ratu langsung menatap Jean ketika pria itu memesan sebotol wine.


"Apa dia masih suka minum-minum seperti dulu?" batin Ratu bertanya-tanya. Ia segera mengalihkan pandangannya jangan sampai Jean melihatnya.


"Baik, Tuan." Waiters itu mencatat pesanan Jean.


"Nyonya- eh Nona Reyfa ingin memesan apa?" tanya Jean membuat Ratu tersentak dan menatapnya.


"Panggil Reyfa saja, Tuan," jawab Ratu sopan.


"Tidak sopan jika saya memanggil nama saja. Atau kamu panggil sayang, hem?" bisik Jean lembut ditelinga Ratu. Napas Ratu langsung tercekat dan tubuhnya meremang saat napas Jean menyapu telinganya. Jean benar-benar menguji dirinya.


"Tidak apa-apa panggil saya Reyfa saja, Tuan. Oh ya, saya pesan tomahawk steak yang medium rare dan jus strawberry no sugar," pesan Ratu.


"Ternyata kesukaan kamu masih sama," batin Jean tersenyum tipis.


Setelah semua makanan di pesan, beberapa saat kemudian makanan yang mereka tunggu datang dan mulai menyantapnya.


"Silahkan di makan," titah Jean. Semuanya mengangguk.


"Oh ya, tuan Jean saya ingin bertanya," ucap Yuzen di kala keheningan.


"Mau tanya apa tuan Yuzen?" tanya Jean.


"Apa tuan Jean sudah menikah?"


UHUK! 


UHUK! 


UHUK!


Ratu langsung tersedak saat mendengar pertanyaan dari Yuzen. Dengan refleks, Jean segera menyodorkan air putih miliknya pada Ratu dan menepuk-nepuk punggungnya dengan pelan.


"Ini minum, lain kali kalau itu makan harus hati-hati. tidak ada orang yang akan mengambil makanan kamu!"


Ratu menerima air putih tersebut dan meminumnya. Yuzen, Liu dan Mingmei melongo menatap Jean dan Ratu seperti orang yang sudah kenal lama. Sedangkan Rico hanya biasa saja dan tetap fokus pada makanannya.

__ADS_1


"Terima kasih, tuan Jean," ucap Ratu.


Jean mengangguk dan segera menetralkan raut wajah khawatirnya, lalu menatap Yuzen.


"Saya sudah menikah di umur 22 tahun, Tuan." Jean menjawab pertanyaan dari Yuzen. Jantung Ratu berdegup kencang saat ini, semoga saja Jean tidak membocorkan rahasia tentang pernikahan mereka.


"Wah ternyata anda nikah muda, terus sudah memiliki anak?" tanya Yuzen.


"Sudah, tapi karena saya ada problem dengan istri saya dan sekarang dia pergi ninggalin saya sendirian bersama anak saya," jelas Jean sambil menatap sendu Ratu. Ratu yakin, perkataan Jean itu tertuju padanya.


Mata Ratu pun mulai berkaca-kaca setelah mendengar perkataan Jean tadi, sedikit terselip rasa bersalah pada dirinya.


"Ya Tuhan. Saya turut perihatin, Tuan," sahut Mingmei.


Jean tersenyum kecut. "Terima kasih, Mingmei. Tapi sebentar lagi saya akan membawa mereka kembali ke Indonesia."


"Memangnya istri anda ada dimana sekarang?" tanya Yuzen dengan keingintahuan yang besar. Rico geram dengan laki-laki itu yang terlalu ingin tau pada urusan orang lain.


"Dia sekarang dia ada di--"


"Maaf semuanya, saya permisi ke toilet sebentar." Ratu langsung memotong ucapan Jean, karena sudah tak bisa menahan air matanya lagi. Ia segera berlari menuju ke toilet dan nangis sejadi-jadinya di depan cermin wastafel.


"Hiks, kenapa harus kita bertemu sekarang?"


"Aku belum siap kehilangan anak-anak ku," isak Ratu. Itulah yang Ratu takutkan, jika Jean akan mengambil anak-anaknya dan membawa jauh dari dirinya. Beberapa menit kemudian Ratu segera meredakan tangisannya dan membasuh wajahnya di air keran wastafel.


Ratu memejamkan mata sejenak, lalu mengambil napas dan menghembuskan secara perlahan. Ratu langsung tersentak saat dua lengan kokoh tiba-tiba memeluknya dari belakang.


"Tuan Jean! Apa yang anda lakukan di toilet wanita!" teriak Ratu mencoba menghindar.


Jean tersenyum sinis. "Jangan panggil aku dengan sebutan Tuan, karena aku bukan majikan kamu, Ratu!" Jean mendekati Ratu. Ratu pun berjalan mundur.


"Anda jangan mendekat!" sentak Ratu.


"Memangnya kenapa kalau aku mendekat, hem?" tanya Jean terus mendekati Ratu, sampai tubuh Ratu terbentur tembok.


"Nanti istri anda bisa marah!"


"Aku tidak peduli, Ratu!" Ucapan Jean membuat Ratu salah paham.


"Berarti benar jika dia sudah menikah lagi," batin Ratu sedih.


"Mundur atau aku teriak sekarang?" Ancam Ratu.


"Teriak saja, aku tidak akan takut!" Jean menghimpit tubuh Ratu.


"Tol-- eumpttt ..." Belum selesai Ratu berteriak, bibirnya langsung dibungkam oleh ciuman Jean dengan rakus. Ratu memberontak dan memukul dada Jean. Dengan cepat Jean mengambil kedua tangan Ratu dan menguncinya di atas kepala Ratu.


Lidah Jean menjelajahi setiap rongga di mulut Ratu. Menyesap dan mereguk manisnya membuat Ratu sedikit demi sedikit mulai goyah. Ia mulai hanyut dalam permainan Jean. Perasaan ingin memberontak hilang seketika dari pikirannya.

__ADS_1


Ratu pun mulai membalas ciuman Jean. Merasa mendapat balasan, Jean melepas cekalan tangannya pada tangan Ratu. Ratu mengalungkan tangannya ke leher Jean dan semakin memperdalam ciuman mereka.


Tangan nakal Jean mulai bergerilya meraba-raba punggung, pinggang bahkan sampai merem*s bokong Ratu. Ratu terkesiap, akal sehatnya mulai kembali saat itu juga. Ia melepaskan pagutan bibirnya dan mulai mendorong tubuh Jean.


PLAKKK!


"Anda sudah melampaui batas, Tuan muda Alexander!" sentak Ratu emosi setelah menampar pipi Jean.


Jean mengeluarkan senyum smirknya. "Salah gitu menyentuh istri sendiri?"


"Hah istri? In your dream, jerk!" teriak Ratu.


Setelah itu Ratu berlari keluar dari toilet tanpa menanggapi panggilan Jean.


"Tuan Yuzen, saya izin pulang cepat hari ini." Ratu meminta izin untuk pulang karena moodnya hari ini benar-benar hancur. Rico menatap ada yang tidak beres dengan Ratu, apalagi melihat mata Ratu yang memerah.


"Kenapa Reyfa?" tanya Yuzen bingung.


"Saya kurang enak badan Tuan," elak Ratu.


"Ya ampun, apa perlu saya antar kamu ke rumah sakit?" tawar Yuzen khawatir.


"Tidak perlu, Tuan. saya cuma butuh istirahat saja."


"Ya sudah kamu boleh pulang apa perlu saya antar?" tawar Yuzen lagi. Jean yang baru datang langsung mendelik tak suka ke arah Yuzen, ia yakin laki-laki itu menyukai Ratu.


"Tidak usah, Tuan. Saya pulang dengan taksi saja. Kalau begitu saya permisi," ucap Ratu melenggang pergi dari restoran tanpa menatap Jean.


Malam harinya, Jean tengah berada di balkon kamarnya. Ia membeli sebuah rumah berlantai dua di Beijing dengan alasan malas tinggal di hotel atau apartemen. Jean mengotak-atik ponselnya untuk menelpon Rico.


"Selamat malam, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Rico di ujung telpon sana, pria dingin itu tinggal di apartemen pemberian dari Jean.


"Kamu cari alamat tempat tinggal istri dan anak saya, sekarang!"


"Baik Tuan, mohon tunggu 10 menit."


"Oke Rico."


Ting!


Setelah menunggu kurang dari 10 menit, Jean mendapat pesan dari Rico, berisi dokumen tentang keberadaan Ratu.


"Ternyata selama ini mereka tinggal di mansion milik kakek Wang. Kenapa aku bisa lupa dengan kakek tua itu," ucap Jean setelah membaca dokumen tersebut. Rico juga mengirimkan beberapa foto Ratu, Ravindra dan anak laki-laki yang Jean tidak ketahui.


"Siapa anak laki-laki selain Ravindra ini? Tapi aku sedikit familiar dengan wajah anak ini."


"Apa Ratu sudah menikah lagi disini?" Monolog Jean sedih.


"Tidak akan aku biarkan, Ratu itu selama menjadi milik Jean Alexander!" Jean meremas kuat ponsel di tangannya. Ia harus kembali mendapatkan Ratu kembali secepatnya, jiwa iblis dalam tubuhnya seketika keluar.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2