
Ratu tengah mengemas barang-barangnya. 1 jam lagi ia akan melakukan penerbangan jauh sekitar kurang lebih 8 jam dari Beijing ke Jakarta bersama kedua putranya. Juga tak lupa membawa satu bodyguard yang siap siaga menjaga mereka selama di penerbangan nanti dan itu perintah dari Jean yang tak ingin terjadi sesuatu pada istri dan kedua putranya.
"Nak, sering-seringlah main kemari, kakek dan nenek sudah sangat tua. Sekarang setengah dari perusahaan serta aset-aset kakek akan menjadi milik Ravindra dan Revan. Sementara itu Sean yang akan mengurusnya. Mereka akan mendapatkannya setelah usia mereka 18 tahun," ucap kakek Wang.
Lusa sebelum keberangkatan Ratu serta kedua putranya, kakek Wang dan nenek Putri menjelaskan tentang pembagian harta milik kakeknya. Betapa terkejutnya Ratu saat kakek Wang mengatakan jika setengah perusahaan dan beberapa aset-aset milik kakeknya akan menjadi milik Ravindra dan Revan. Ingin menolaknya, tapi kakek dan neneknya terus memaksa. Dengan berat hati dan sungkan, Ratu pun menerimanya.
"Terima kasih banyak Kek, Nek. Terima kasih untuk segalanya, kalian sudah mau menerima kami dan mengajarkan ku banyak hal hingga aku bisa seperti ini. Maaf jika selama ini, kami telah menyusahkan kalian," ucap Ratu tulus memeluk kakek Wang dan nenek Putri secara bergantian.
"Jangan berterima kasih, nak. Kalian itu cucu dan cicit-cicit kami, kalian tidak pernah menyusahkan kami. Bahkan kami sangat terhibur saat kalian disini, mansion yang biasanya sepi menjadi ramai dengan suara anak-anak. Tapi sedihnya sebentar lagi mansion ini menjadi sepi seperti sedia kala," ujar nenek Putri dengan nada sedih dan getir.
"Ratu janji akan sering-sering kesini bersama Jean, Ravin dan Ken," kata Ratu menenangkan kedua pasangan paruh baya di hadapannya ini.
"Baiklah, kakek dan nenek pegang janjimu. Sekarang apa kamu sudah siap?" tanya kakek Wang.
Ratu mengangguk. "Kakek dan nenek jaga kesehatan, jangan terlalu lelah, jika ada apa-apa segera hubungi Ratu. Oke?" ucap Ratu menahan tangisnya .
"Kami mengerti. Nenek dan kakek mu ini bukan anak kecil lagi," sahut nenek Putri terkekeh.
Mereka berjalan keluar kamar Ratu menyuruh pelayan mengambil barang-barang yang sudah di packing untuk dibawa ke dalam mobil yang sudah terparkir di pekarangan mansion megah itu.
Di bawah sudah ada Kendrick yang sedang tidur di pangkuan Sean dan Ravindra yang tengah membaca buku sambil menunggu sang Ibu.
"Nenek, Kakek, aku pamit. Tolong jaga diri dan kesehatan kalian," ucap Ratu dan kembali memeluk kakek neneknya.
"Iya, nak. Hati-hati dan jaga cicit-cicit ku dengan baik," ucap kakek Wang tersenyum berat melepas kepergian Ratu dan kedua cicit-cicitnya.
"Tentu kek," jawab Ratu tersenyum lembut pada kakeknya itu.
Kakek Wang berjongkok di depan Ravindra seraya memegang kedua tangan cicitnya, "Jangan nakal-nakal disana, jadi anak penurut dan pintar, buat kakek bangga disini."
Ravindra mengangguk patuh, "Baik kek."
__ADS_1
Nenek Putri pun ikut memberikan wejangan kepada Ravindra sambil mencium pipi dan memeluk erat tubuh cicitnya itu. Rasanya tidak rela membiarkan cucu dan kedua cicitnya pergi meninggalkannya.
Ratu tak lupa pamit pada Sean sambil mengambil alih Revan dari pangkuan pria flamboyan itu.
"Apa aku boleh memelukmu?" pinta Sean. Ratu tersenyum dan mengangguk. Sean membawa Ratu dalam dekapannya walaupun ada Kendrick di tengah-tengah mereka.
"Kamu jaga diri dan anak-anak disana. Kalau ada apa-apa atau Jean menyakitimu lagi, langsung bilang ke aku. Biar aku membawa kalian pergi jauh dari sisinya sampai Jean nangis darah mencari keberadaan kalian," ucap Sean sungguh-sungguh.
Ratu terkekeh kecil, "Tenang saja, kak. Jean takut menyakiti aku lagi, karena dia trauma aku tinggalin," balasnya.
Sean tersenyum lega dan melepaskan dekapannya, "Kapan-kapan aku akan mengunjungi kalian disana," ujarnya sambil mengelus rambut Kendrick yang tertidur.
Ratu mengangguk "Aku tunggu kehadiran kakak di Indonesia. Kalau gitu kami pamit, sampai jumpa kek, nek dan kak Sean." ucap Ratu.
Setelah melakukan perjalanan yang cukup melelahkan akhirnya mereka sampai di Beijing Capital International Airport .
Ratu menghirup napas dalam-dalam. "lndonesia, i'am back," lirihnya.
"Sam, saya dan kedua putra saya akan tinggal di hotel. Dan ketika kami sampai, kau jangan mengatakan apapun kepada Jean atau kau bisa memberikan alasan agar Jean mempercayaimu, karena kami ingin memberikannya kejutan," ucap Ratu.
"Dan tolong siapkan mobil, kita akan langsung ke hotel," ucap Ratu lagi.
Sam mengangguk dan menyuruh supir mengantarkan Ratu dan kedua anaknya ke hotel.
Jam 10 malam mereka tiba di Golden palace hotel. Mereka turun dari mobil dan di bantu pak supir membawa kan barang-barang. Sedangkan Sam membantu menggendong Ravindra yang tertidur.
Karena kedua putranya tertidur Ratu dan Sam meletakkan kedua bocah laki-laki tampan itu di atas ranjang.
"Pak letakan saja disitu, biar nanti saya yang membereskannya" perintah Ratu.
"Baik, Nyonya. Saya permisi dulu," ucap pak supir. Sam pun ikut pamit, ia akan tidur di kamar hotel lainnya.
__ADS_1
"Oh ya, Sam. Besok pagi tolong siapkan mobil dan kita besok akan ke perusahaan suami saya," perintah Ratu.
"Baik, Nyonya."
Setelah kepergian Sam, Ratu memilih membersihkan badannya terlebih dahulu sebelum tidur bersama kedua putranya.
Ratu memeriksa ponselnya, terdapat ratusan pesan dan panggilan tak terjawab dari Jean, beberapa panggilan tak terjawab dari kakek Wang serta Sean.
Ratu tersenyum geli melihat pesan Jean yang mengatakan jika dirinya khawatir dan rindu pada Ratu sambil mengirimkan foto dengan wajah cemberutnya. Ratu tidak membalasnya dan membiarkan Jean misuh-misuh tidak jelas disana.
...****************...
Pagi ini seperti biasa Jean bersiap ke kantornya. Hari ini ia terlihat sangat tampan, namun raut wajahnya terlihat menunjukkan jika pria itu tidak baik-baik saja. Semalam Jean sangat khawatir saat Ratu tidak menghubungi atau membalas pesannya. Jean tidak tau apakah Ratu dan kedua anaknya itu telah sampai di Indonesia atau belum.
Tapi Sam, bodyguard yang ia suruh menjaga Ratu dan kedua anaknya mengatakan jika mereka akan sampai di Indonesia pada siang hari, diakibatkan kemarin ada kendala cuaca membuat penerbangan sedikit bermasalah. Padahal itu hanya akal-akalan Sam saja, karena itu perintah dari Ratu.
"Mbok saya sarapan di kantor saja,"ucap Jean pada mbok Inah tanpa menunggu jawaban mbok Inah, ia berlalu begitu saja membawa tas kerjanya. Memasuki mobil sportnya dan membawanya dengan kecepatan sedang .
Saat tiba di kantor Jean segera masuk ke ruangannya di sambut Rico yang juga sudah berada di kantor.
"Apa jadwal saja schedule saya hari ini, Co?" tanya Jean
"Jam 9 ada rapat dengan dewan direksi, makan siang di restoran X ada temu janji dengan putri dari tuan Smith disana. Setelah itu Anda tidak mempunyai jadwal lagi," jela Rico.
Jean menghela napas panjang, putri dari salah satu partner bisnisnya yang bernama Alice itu selalu saja mengejar-ngejarnya. Padahal Jean selalu menolaknya, dengan alasan jika dirinya masih mempunyai istri dan Alice tidak mempercayainya.
"Batalkan saja makan siang dengan Alice! Saya tidak ingin bertemu dengan wanita manapun jika itu tidak berkaitan dengan pekerjaan!" ucap Jean tegas.
"Baik, Tuan." Rico pun keluar dari ruangan Jean.
Jean memeriksa ponselnya dan tidak ada satupun notifikasi panggilan atau pesan dari istrinya membuat Jean mendesah kasar.
__ADS_1
"Semoga kalian baik-baik saja," ucapnya lirih.
...----------------...