
Kediaman Alexander.
Jean pergi menuju ke ruang kerja daddy Marvin yang ada di rumah. Ia mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk.
"Daddy," panggil Jean.
"Ada apa, son?" tanya daddy Marvin mengalihkan pandangannya ke arah putranya yang baru masuk ruang kerjanya itu.
"Apa Daddy sibuk?" tanya balik Jean.
"Sedikit, memangnya kenapa? Tumben sekali kamu bertanya seperti itu," ucap daddy Marvin heran.
"Ada yang ingin aku bicarakan dengan Daddy," ujar Jean.
Marvin berdiri, berjalan ke sofa yang ada di dalam ruang kerjanya dan menyuruh Jean untuk duduk.
"Apa yang ingin kamu bicarakan dengan Daddy?" tanya daddy Marvin. Jean mengambil napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan, ini pertama kalinya ia merasa gugup untuk berbicara pada Daddy nya.
"Aku ingin menikahi Ratu, Dad," ucap Jean dengan hati-hati. Sontak membuat daddy Marvin terkejut mendengar ucapan putranya itu.
"Are you kidding me?" pekik daddy Marvin.
Jean menggeleng, "Tidak Dad, aku serius ingin menikahi Ratu," imbuh Jean agar daddy Marvin percaya dengannya.
"Apa alasan kamu ingin menikahi Ratu? Dia kan sahabat kamu sendiri," ucap daddy Marvin.
Jean pun menceritakan kejadian dirinya mabuk-mabukan lalu tanpa sengaja mengambil kehormatan gadis yang ternyata sahabatnya sendiri. Daddy Marvin yang mendengar itu betul-betul sangat syok, kecewa dan marah mendengar cerita dari putranya itu. Saking marahnya, daddy Marvin melayangkan tamparannya di pipi Jean.
PLAKKK!
"Daddy kan pernah bilang sama kamu, jangan pernah mabuk-mabukan tidak jelas lagi! Karena mabuk itu membuat orang jadi hilang akal pikirannya, bahkan kamu sampai tega merenggut masa depan sahabat kamu sendiri dan sekarang tengah mengandung! Daddy sangat kecewa padamu, Jean!" ucap daddy Marvin berapi-api.
Jean langsung menundukkan kepala, "Maafkan aku, Daddy. Aku khilaf malam itu," ucapnya lirih sambil memegang pipinya yang terasa panas akibat tamparan daddy Marvin.
Daddy Marvin memijit pelipisnya yang terasa berdenyut akibat perbuatan putranya yang diluar nalar, "Pasti Om Arkana sangat kecewa padamu, terutama pada Daddy. Pasti dia berpikiran jika Daddy tidak bisa mendidik kamu dengan baik," ucap daddy Marvin lirih.
Jean duduk bersimpuh di lantai sambil memegang paha daddy Marvin, "Aku benar-benar minta maaf, Daddy. Maaf sudah buat Daddy malu dan kecewa dengan tingkah laku dan perbuatanku," ucapnya dengan suara yang penuh rasa bersalah, mata Jean pun langsung berkaca-kaca.
__ADS_1
Daddy Marvin menghela napas berat, nasi sudah menjadi bubur, takdir tidak bisa dikembalikan lagi. Mungkin Ratu lah yang ditakdirkan menjadi istri dari Jean, malah daddy Marvin dari dulu memang menginginkan Ratu menjadi menantunya.
"Daddy tidak bisa berkata-kata lagi, mungkin Ratu memang jodohmu, nak. Besok pagi kita pergi ke rumah Om Arkana untuk meminta maaf sekaligus meminang Ratu sebagai istrimu," ucap daddy Marvin sambil mengelus rambut Jean.
PRANGG!
"Siapa yang akan Jean jadikan istri?" tanya mommy Zia yang datang tiba-tiba ke dalam ruang kerja suaminya dan mendengar sedikit ucapan daddy Marvin hingga membuat cangkir kopi yang ia bawa jatuh ke lantai dan pecahan cangkir tersebut sampai berserakan.
"Mommy!"
"Mommy tanya sekali lagi, siapa gadis yang akan dipinang oleh Jean?" tanya mommy Zia selidik.
"Ratu, Ma," jawab daddy Marvin.
"Hah, kok bisa?!" pekik mommy Zia.
"Jean, ceritakan semua kepada mommy mu!" perintah daddy Marvin.
Jean mengangguk, lalu menceritakan seperti yang ia ceritakan tadi kepada daddy Marvin dan sekarang ia menceritakan kembali pada mommy Zia.
Sama seperti ekspresi saat daddy Marvin di ceritakan, begitulah ekspresi wajah mommy saat ini. Terkejut, marah dan kecewa pada putranya, sampai-sampai mommy Zia memegang dadanya saking terkejutnya.
"Mommy sangat terkejut dan tidak percaya, Dad. Jean begitu tega melakukan itu pada Ratu, pasti Ratu sangat terpukul karena kehilangan masa depannya dan sekarang dia sedang mengandung akibat perbuatan putra kita sendiri," ucap mommy Zia sambil menangis. Daddy Marvin segera memeluk sambil menenangkan istrinya. Sedangkan Jean, semakin timbul rasa bersalahnya.
Mommy Zia menatap tajam putranya, "Pokoknya besok pagi kita ke rumah om Arkan dan kamu harus bertanggung jawab atas perbuatanmu kepada Ratu!"
"Baik Mom," ucap Jean mengangguk lemah.
Kediaman Wang.
Keesokan paginya, Jean beserta kedua orang tua dan adiknya yang bernama Medina pergi ke rumah orang tua Ratu. Bahkan mereka kini sudah di sambut dengan hangat.
"Assalamualaikum," ucap daddy Marvin dan mommy Zia.
"Waalaikumsalam," jawab semuanya.
Jean melihat Ratu yang tengah tertunduk dan terlihat sangat tegang dengan kedatangannya bersama keluarga.
__ADS_1
"Ayo silahkan duduk," suruh papa Arkana. Jean dan keluarganya mengangguk.
"Ada hal apa ini yang akan kamu sampaikan, Vin. Sehingga pagi-pagi gini kamu datang ke rumahku," tanya papa Arkana penasaran.
Daddy Marvin menatap ke arah istrinya dan mommy Zia hanya mengangguk yang berarti menyuruh suaminya itu untuk menjelaskan tujuan mereka datang kesini.
"Kedatangan kami kesini untuk meminta maaf sekaligus akan meminang Ratu sebagai istri Jean," ucap daddy Marvin dengan suara tegas membuat keluarga Ratu terkejut mendengarnya.
"Kamu tidak sedang bercanda kan, Vin?" tanya Arkana.
"Tidak Om, kami kesini memang untuk meminang Ratu untuk menjadi istriku," sela Jean menjawab pertanyaan papa Arkana.
"Kenapa tiba-tiba seperti ini? Yang Om tau kalian itu hanya bersahabat bukan berpacaran," ucap papa Arkana yang masih bingung dengan situasi ini.
"Sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan juga ke Om," ujar Jean.
"Apa itu nak?" sahut mama Hani.
Dengan berani Jean menceritakan kejadian malam itu pada keluarga Ratu. Mendengar cerita Jean membuat semua syok berat dan Ratu hanya bisa menangis.
BUGH!
“Brengsek kamu, Jean! Kenapa kamu lakukan hal itu sama adikku, hah! Kenapa Jean? Bahkan sekarang adikku sedang hamil akibat perbuatan bejatmu itu!” bentak Rivaldo emosi setelah Jean menyelesaikan ceritanya. Jean hanya diam ketika di pukuli oleh Rivaldo.
"Maafkan aku kak Aldo," ucap Jean.
"Apa dengan kata maaf bisa mengembalikan semua? Tidak kan? Aku tidak habis pikir dengan jalan pikiranmu!" balas Rivaldo.
"Sudah cukup! Jangan memperbesar masalah lagi. Jean, Om benar-benar sangat kecewa dengan perbuatanmu pada Ratu. Padahal Om sudah percayakan sepenuhnya kepada kamu untuk menjaga Ratu, tapi apa yang kamu lakukan pada putri Om? Om benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan kamu, Jean," ucap papa Arkana kecewa dengan Jean.
"Maafkan aku Om," ucap Jean menunduk.
"Benar kata Rivaldo tadi, kata maaf tidak bisa mengembalikan semuanya dan kamu harus bertanggung jawab atas apa yang kamu lakukan ini. Om, Tante dan orang tua kamu akan segera mempersiapkan untuk pernikahan kalian secepatnya." Ucapan papa Arkana sontak membuat Ratu semakin menangis di pelukan mamanya.
Jean hanya bisa mengangguk pasrah, namun matanya melihat Ratu yang sedang menangis di pelukan mama Hani.
"Maafkan aku, Ratu. Karena kejadian itu membuatmu harus kehilangan masa depanmu," batin Jean.
__ADS_1
...----------------...