Tragedi Satu Malam Dengan Sahabat

Tragedi Satu Malam Dengan Sahabat
Episode 37


__ADS_3

CEKLEK!


Tiba-tiba pintu operasi terbuka. Seorang suster keluar dengan tergesa-gesa. Beberapa detik kemudian, 3 orang suster keluar dengan mendorong ranjang beroda yang Ratu tiduri. Semua orang yang menunggu Ratu menatap dengan bingung.


"Mommy," panggil Ravindra yang terus menatap Ratu.


"Dokter istri saya kenapa dibawa keluar? Ada apa Dok?" tanya Jean sedikit panik, saat melihat Dokter yang biasa menangani Ratu juga keluar dengan melepas maskernya.


"Syukur Alhamdulillah. Istri anda sudah melewati masa komanya, tapi--" Ucapan Dokter Hanum menghentikan ucapannya sejenak.


"Tapi kenapa, Dok?" desak Jean, jantungnya berdegup kencang saat ini.


"Dengan berat hati kami katakan, jika kandungan istri tidak bisa kami selamatkan," sambung Dokter Hanum.


Tubuh Jean langsung limbung dan untungnya dijaga oleh Rivaldo. Air mata yang tadinya mengering, kembali luruh membasahi pipinya. Kenapa Ratu harus mendapat ujian besar seperti ini?


Mommy Zia, mama Hani serta yang lainnya pun tak kalah sedih mendengarnya.


"Kuatkan diri kamu, Jean!" tegur Rivaldo, ia mencoba untuk tidak menangis mendengar janin adiknya yang tidak bisa diselamatkan.


"Dokter bohong, kan?" tanya Jean masih tak percaya.


"Maaf Tuan, kami hanya bisa membantu tapi takdir Tuhan yang menghendaki." Dokter Hanum benar-benar merasa bersalah karena telah berbohong. Jean langsung terdiam dan menatap kosong ke depan.


"Tadi pasien sempat memanggil nama Jean dan ... Ravindra menurut suara samar yang saya dengar," ujar Dokter Hanum, ia sangat pandai juga dalam membuat skenario.


"Itu nama suami dan anaknya Dok," timpal Rivaldo karena Jean tak menjawab ucapan dari Dokter Hanum.


"Pasien sudah dipindahkan ke ruang rawat. Tolong setelah ini pasien disuruh makan dan diberikan obat, agar badannya kembali fit," ujar Dokter Hanum.


"Baik, terima kasih banyak, Dok," sahut daddy Marvin. Dokter Hanum mengangguk dan tersenyum kecil lalu pamit untuk pergi.


"Daddy, Ravin mau Mommy," ujar Ravindra tiba-tiba. Membuat Jean tersadar dan mengalihkan pandangannya ke arah Ravindra. Ia mengusap air matanya lalu mengambil alih Ravindra dari gendongan Medina.


"Iya, Nak. Ayo kita ke Mommy," ujar Jean seraya berjalan menuju ruang rawat Ratu.


"Ayo semuanya kita ke ruangan Ratu," ajak papa Arkana. Mereka semua mengangguk, lalu berjalan menuju ke ruang rawat Ratu.


Jean memasuki ruang rawat Ratu lebih dulu. Ia langsung duduk di atas ranjang samping Ratu yang masih tersisa sedikit. Dengan masih memangku Ravindra, ia langsung memeluk Ratu erat lalu sedikit menegakkan tubuhnya.


"Syukurlah kamu sudah sadar, sayang. Aku rindu banget sama kamu," ucap Jean lirih. Perlahan Ratu membuka matanya dan mendapati Jean yang sangat dekat dengan wajahnya, ia tengah tersenyum dengan mata sayu nya.


"Mommy," ucap Ravindra membuat pandangan Ratu beralih menatapnya.


"Re-Ravindra," ucap Ratu sangat pelan. Nyaris tak terdengar karena masih terhalang alat bantu pernafasan juga.


"Mommy." Ravindra merentangkan tangannya. Mungkin ia sangat merindukan Ratu. Karena sudah 5 hari ini ia tidak bersama dengan sang Mommy.


"Nanti ya sayang. Mommy masih sakit," ujar Jean lembut memberikan pengertian kepada putranya.


"Mommy," gumam Ravindra dengan wajah murungnya. Jean mencium kepala putranya lalu beralih menatap Ratu.

__ADS_1


"Aku seneng kamu udah sadar sayang," ujar Jean seraya mengusap kepala Ratu, karena ia tau kepala istrinya itu juga terluka akibat benturan. Namun, Ratu hanya diam membuang muka. Jean terdiam. Apakah Ratu masih marah atau ia mengetahui jika kandungannya tidak bisa diselamatkan? Pikir Jean.


Suara pintu terbuka, terlihat keluarga Ratu dan Jean masuk menghampiri mereka.


"Sayang." Mama Hani segera memeluk putrinya.


"Mama," ucap Ratu yang masih terdengar lemah.


"Apa, nak? Ratu mau apa, hem?" Mama Hani tak segan meneteskan air matanya melihat keadaan putri bungsunya seperti ini. Ratu hanya menggeleng pelan. Mama Hani menguraikan pelukannya.


"Mama buka ya alat pernafasan nya?"


Ratu hanya mengangguk pelan. Mama Hani tersenyum lalu membuka alat bantu pernapasan putrinya.


"Kamu makan dulu ya nak," tawar mama Hani duduk di tepi ranjang rawat Ratu.


"Gimana sama kandungan Ratu, Ma?" Bukannya menjawab Ratu malah bertanya pada mamanya. Semuanya langsung terdiam mendengar pertanyaan Ratu.


"Kenapa diam, Ma? Gimana sama kandungan Ratu, baik-baik saja kan?" tanya Ratu lagi. Ia berusaha untuk duduk, dengan sigap mama Hani membantu putrinya itu untuk duduk.


"Kandungan kamu tidak bisa diselamatkan kan, nak," jawab mama Hani dengan hati-hati.


"Mama pasti bohongi Ratu, kan?!" jerit Ratu.


Medina segera mengambil alih Ravindra dari gendongan Jean dan membawanya keluar karena kondisi di dalam ruangan Ratu tak cocok untuk Ravindra. Dan diikuti Karina sambil membawa Elwin.


Mama Hani menggelengkan kepalanya. "Mama tidak bohong. Kandungan kamu tidak bisa diselamatkan karena kandungan kamu sangat lemah."


"Kenapa harus seperti ini yang terjadi sama aku, Ma?" ujar Ratu sambil menangis meraung-raung. Mama Hani segera memeluk dan menenangkan putrinya.


"Kamu harus mengikhlaskan kepergian janin kamu, nak," timpal mommy Zia sedih.


Beberapa saat kemudian, tangisan Ratu mulai mereda namun masih sesenggukan.


"Ikhlaskan janin kamu itu, sayang. Mungkin Allah lebih menyayanginya," ujar mama Hani sambil mengelus rambut Ratu. Ratu hanya diam.


"Kamu makan dulu ya?" tawar mama Hani lagi.


"Tidak mau, Ma," jawab Ratu menggeleng.


"Tapi kamu harus makan agar badan kamu cepat pulih kembali, sayang," pungkas mommy Zia. Dengan berat hati Ratu pun mengangguk.


"Biar Jean yang suapi Ratu, Ma," ucap Jean. Mama Hani tersenyum dan mengangguk, ia beranjak dari ranjang Ratu.


Jean meraih semangkuk bubur di atas meja kecil samping ranjang dan duduk di samping Ratu.


"Mama," panggil Ratu pelan.


"Kenapa sayang?" tanya mama Hani mengusap rambut putrinya.


"Aku mau disuapi Mama aja," lirih Ratu. Suara Ratu benar-benar terdengar lemah. Mama Hani menatap Jean.

__ADS_1


Jean tersenyum kecut. "Gapapa, Ma. Ini, Mama aja yang suapi Ratu," ujarnya memberikan mangkok tersebut pada mama mertuamu. Lalu mundur memberikan tempat mama Hani untuk menyuapi istrinya.


"Kamu yang sabar, Jean. Dia butuh waktu buat bicara sama kamu lagi," bisik Rivaldo. Jean hanya bisa tersenyum getir.


"Aku tau itu kak," lirihnya.


Selesai menyuapi Ratu, mama Hani mengambil 1 butir obat dan 1 butir vitamin serta tentunya segelas air putih yang sudah tersedia bersamaan dengan bubur tadi.


"Nih, diminum dulu obat sama vitaminnya." Mama Hani menyodorkan obatnya ke mulut Ratu.


"Makasih, Ma," balas Ratu. Mama Hani tersenyum lalu mencium kening Ratu.


"Sama-sama, sayang."


"Kamu istirahat lagi ya, dek," titah Rivaldo. Ratu mengangguk.


"Em sepertinya Papa lapar. Ratu, Papa pinjam Mama dulu ya," ujar papa Arkana pada putrinya. Ratu hanya mengangguk.


"Opa ikut. Papi ayo ikut sama Opa," timpal Elwin menatap Rivaldo. Karina mengedipkan matanya agar Rivaldo menyetujuinya. Seakan memberi isyarat agar Jean bisa menyelesaikan masalahnya dengan Ratu.


"Oh ayo Papi anter," balas Rivaldo menggendong Elwin dan menggandeng tangan Karina untuk keluar dari ruang rawat Ratu.


"Mommy, Medina haus. Pengen beli yang seger-seger," rengek Medina dengan nada manja. Setelah kondisi di dalam ruangan sudah kondusif, Medina langsung membawa Ravindra kembali masuk ke dalam ruang rawat Ratu.


"Kamu ini, ya sudah ayo kita ke kantin dulu," ujar mommy Zia mengajak putri dan sekalian suaminya untuk keluar. Ratu sedikit mengerutkan keningnya. Ada apa ini sebenarnya?


"Mommy keluar dulu ya sayang," pamit Mommy Zia. Ratu tersenyum dan mengangguk.


Tinggal lah di dalam ruangan itu Ratu, Jean dan Ravindra.


"Mommy," panggil Ravindra pelan.


"Sini sayang." Ratu sedikit merentangkan tangannya. Jean menurunkan Ravindra di samping Ratu.


"Mom ..." Ravindra langsung memeluk perut Ratu erat. Ratu tersenyum lalu ikut memeluknya.


"Mommy sakit, Ravin jadi sendirian," lirih Ravindra.


"Masa sih Ravindra sendirian? Kan ada Oma, Opa, Tante, Om, sama--" Ratu menggantungkan ucapannya dan melirik Jean dengan ekor matanya.


"Ndak mau Mom, Ravin mau sama Mommy." Ravindra menggelengkan kepalanya. Ratu tersenyum.


Tiba-tiba saja Jean meraih jemari Ratu yang tengah memeluk Ravindra. Ratu pun langsung tersentak dan segera melepasnya. Namun, Jean menahannya.


"Sedalam itukah luka yang aku beri? Sampai kamu acuhkan aku selama ini," tanya Jean lirih. Ratu hanya diam tanpa menatapnya.


"Jawab aku, Ratu!" desak Jean. Tiba-tiba air mata Ratu menetes. Bukannya Ratu marah, tapi Ratu kecewa karena kepercayaan Jean untuknya tidak ada sama sekali. Apalagi Jean sampai berbuat kasar padanya karena membela Sofia waktu itu. Ratu mulai pun terisak membuat Jean kelimpungan.


"Please jangan nangis, sayang. Air mata kamu bisa membunuh ku." Jean mencoba menghapus air mata Ratu. Namun, dengan cepat Ratu menepisnya.


"Aku tidak mau punya suami kayak kamu! hiks," isak Ratu membuat Jean tercengang. Jantung Jean pun sempat berhenti sejenak.

__ADS_1


"Ma-maksud kamu apa?" tanya Jean dan napasnya pun mulai sesak saat ini.


"Aku ingin kita bercerai!"


__ADS_2